Share

Terjebak Gairah Siluman
Terjebak Gairah Siluman
Author: Lincooln

1. Namamu Wulan

Author: Lincooln
last update publish date: 2025-10-13 17:58:34

Lidah senja menjilat pucuk-pucuk pohon jati, mewarnai langit dengan palet jingga dan nila. Ningsih menepuk pelan gundukan tanah merah di hadapannya, jemarinya yang kapalan mengusap nisan kayu yang mulai lapuk.

Seribu hari. Genap seribu hari ia mengunjungi pusara suaminya, membawa serta aroma tanah basah dari kebun dan sepi yang membusuk di dalam dada.

Angin petang berdesir, membawa harum kembang kenanga dari pekarangan warga, tetapi bagi Ningsih, hanya bau tanah kuburan yang melekat di ujung hidungnya.

"Sudah seribu hari, Kangmas," bisiknya pada angin, suaranya serak ditelan gemerisik daun kering. "Apa kau baik-baik saja di sana? Aku di sini... sendiri."

Ia menarik napas panjang, udara dingin menusuk paru-parunya.

Sepi bukan lagi sekadar kata. Ia adalah selimut yang membungkusnya setiap malam, hantu yang duduk menemaninya di meja makan, dan beban yang menekan pundaknya saat ia mencangkul di kebun.

Ningsih merapikan kain jariknya, lalu bangkit dengan lutut yang terasa ngilu. Jalan setapak yang biasa ia lalui tampak lebih gelap dari biasanya, seolah hutan larangan di sisinya telah merayap maju, mencuri sisa-sisa cahaya.

Baru beberapa langkah meninggalkan area pemakaman, sebuah suara mengoyak keheningan.

"Ooeeeeekkk.."

Tangisan bayi. Melengking, tajam, dan penuh keputusasaan.

Ningsih berhenti. Jantungnya berdebar kencang, menabuh rusuknya seperti genderang perang.

Ia menajamkan pendengaran, memutar kepalanya ke segala arah. Suara itu datang dari arah batu besar legam yang menjadi patok batas antara jalan setapak dan hutan larangan.

Batu Wingit, begitu orang desa menyebutnya. Tempat yang selalu ia lewati, tetapi tak pernah sekalipun ia hiraukan. Siang tadi, saat ia berangkat ke kebun, tempat itu sunyi senyap.

"Siapa di sana?" Suaranya bergetar, lebih lemah dari yang ia harapkan.

Hanya gema tangis yang menjawab, semakin kencang dan menyayat hati. Rasa takut yang semula mencengkeramnya perlahan terkikis oleh naluri aneh.

Ia melangkah ragu, kakinya yang terbiasa menapaki tanah gembur kini terasa berat di atas kerikil. Semakin dekat, tangisan itu semakin memekakkan telinga.

Di balik punggung batu yang dingin, tergeletak buntalan kain putih. Bukan putih bersih, melainkan putih yang ternoda oleh bercak-bercak darah yang mulai menghitam.

Dari dalam buntalan itulah suara tangis berasal. Ningsih berjongkok, tangannya yang gemetar terulur untuk menyingkap kain itu.

Tangisan itu berhenti seketika saat jemari Ningsih menyentuh kulit mungil di dalamnya. Hening yang tiba-tiba terasa lebih mencekam daripada hiruk pikuk barusan.

Di hadapannya, sepasang mata kecil menatapnya tanpa berkedip. Wajah bayi perempuan yang luar biasa cantik, bahkan di tengah remang senja dan noda darah yang mengotorinya.

"Ya Gusti... Anak siapa ini?" Ningsih mengangkat buntalan itu dengan hati-hati. Bayi itu diam dalam dekapannya, seolah menemukan tempat paling aman di dunia.

Ia berdiri, matanya menyapu sekeliling. Pohon-pohon rimbun di tepi hutan larangan tampak seperti raksasa-raksasa hitam yang mengawasinya. Jalan setapak menuju desa sepi tak berpenghuni.

"Woooiii! Ada orang di sini?" teriaknya sekuat tenaga. "Ini anak siapa?"

Gema suaranya dipantulkan kembali oleh dinding hutan, seolah-olah mengejek usahanya. Ia bahkan memberanikan diri berteriak ke arah hutan yang gelap, tempat yang selalu ia hindari bahkan di siang hari bolong.

Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian dan tatapan sepasang mata bayi di pelukannya.

Langit menggelap dengan cepat. Warna nila telah sepenuhnya menelan sisa jingga. Meninggalkan bayi ini di sini sama saja dengan menyerahkannya pada binatang buas atau pada apa pun yang bersemayam di dalam hutan larangan.

Ningsih menatap wajah mungil itu lagi. Wajah damai yang seolah tidak peduli pada dunia yang baru saja membuangnya. Ada iba yang menjalari hatinya, perasaan hangat yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Aku tidak bisa meninggalkanmu, Nduk," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. "Ayo ikut Mbok pulang."

Dengan langkah mantap, ia memeluk buntalan itu erat-erat dan bergegas menyusuri jalan setapak menuju gubuknya, meninggalkan kuburan, batu legam, dan hutan larangan di belakang punggungnya.

Di dalam gubuk bambu yang hanya diterangi satu lampu teplok, Ningsih bekerja dengan cekatan. Air hangat di dalam baskom tembaga ia gunakan untuk membersihkan tubuh mungil itu dengan hati-hati.

Noda-noda darah yang lengket perlahan luntur, menampakkan kulit yang putih bersih, nyaris pucat seperti porselen. Ia membuang kain pembungkus yang berbau anyir itu ke tungku, membiarkan api melahapnya hingga menjadi abu.

Sebagai gantinya, ia mengambil kain jarik terbaik miliknya, kain batik dengan motif parang yang lembut, lalu membungkus tubuh bayi itu dengan hangat.

Setelah bersih dan hangat, bayi itu ia letakkan di atas dipan bambu miliknya.

Perlahan, sepasang kelopak mata itu terbuka. Matanya lebar dan indah, hitam pekat seperti malam tanpa bintang.

Cahaya bulan purnama yang bulat sempurna menyelinap masuk dari celah jendela, memantulkan sinarnya yang pucat di kedua bola mata itu.

Ningsih terpesona. Ia belum pernah melihat bayi secantik ini.

Kulitnya mulus tanpa cela, bulu matanya lentik alami, dan rambutnya hitam legam, tebal untuk ukuran bayi yang baru lahir.

Ia duduk di tepi dipan, mengamati setiap detail dari makhluk kecil di hadapannya.

"Kamu cantik sekali, Nduk," bisiknya lembut. Jemarinya mengelus pipi gembil itu.

Sebuah senyum tipis, entah disadari atau tidak, terukir di bibir mungil sang bayi. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam seribu hari, Ningsih tidak merasakan kekosongan.

Lubang menganga di jiwanya yang ditinggalkan oleh kematian suaminya, perlahan mulai terisi. Bukan terisi oleh kenangan, tetapi oleh sesuatu yang baru. Sesuatu yang hidup.

Kasih sayang yang tumpah ruah, yang selama ini tidak tahu harus ia alirkan ke mana, kini menemukan muaranya.

Ia menoleh ke arah jendela, menatap bulan purnama yang menggantung agung di langit. Cahayanya seolah ikut menyambut kedatangan si bayi, merestui kehadirannya di gubuk sederhana itu.

"Karena kau datang bersama bulan, aku akan memanggilmu Wulan." Ningsih tersenyum, senyum tulus yang pertama kali menghiasi wajahnya setelah sekian lama. "Wulanku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Gairah Siluman   185. Terjebak.. Selamanya?

    Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...

  • Terjebak Gairah Siluman   184. Mengepung

    Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha

  • Terjebak Gairah Siluman   183. Berpura-pura

    Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der

  • Terjebak Gairah Siluman   182. Bus malam

    Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.

  • Terjebak Gairah Siluman   181. Perjalanan baru

    Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku

  • Terjebak Gairah Siluman   180. Jangan lengah (long chapter)

    Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status