MasukHari-hari Wulan kini memiliki ritme yang berbeda. Pagi di kebun bersama Ningsih, menanam dan menyiangi, lalu sore hari menjadi miliknya seorang. Ia tidak lagi bergegas pulang.
Sebaliknya, ia sengaja berlama-lama di wilayah abu-abu antara desa dan hutan larangan. Tepi hutan menjadi panggungnya, dan sungai adalah cerminnya.
"Kau mau ke mana lagi, Nduk? Sudah mau petang." Suara Ningsih terdengar cemas dari ambang pintu gubuk, tangannya yang keriput memegang erat gagang sabit.
Wulan yang baru saja menaruh keranjang berisi singkong, menoleh. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Cari ikan sebentar, Mbok. Di hulu airnya sedang jernih."
"Jangan terlalu ke sana. Dekat sekali dengan Batu Wingit. Tidak baik."
"Sebentar saja, Mbok."
Ia lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Kain jariknya yang berwarna cokelat pudar ia lilitkan lebih rendah dari biasanya, sengaja membiarkan pusarnya yang mungil dan dalam menjadi pusat perhatian, terbuka begitu saja di atas ikatan kain.
Punggungnya yang tegak menjauh, meninggalkan Ningsih dengan helaan napas berat dan tatapan yang tak lepas dari siluet putrinya hingga ditelan rimbun pepohonan.
Wulan tidak langsung menuju sungai. Langkahnya membawanya ke sebuah pohon jambu air yang tumbuh miring di pinggir jalan setapak.
Ia tahu pohon ini. Buahnya tidak banyak, tetapi selalu ada beberapa yang matang, tergantung rendah, menggoda untuk dipetik. Ia juga tahu, dari titik ini, tatapan-tatapan itu mulai terasa.
Seperti sengatan halus di kulit. Awalnya satu, dari arah rumpun bambu yang biasa. Lalu dua, tiga, dari balik pohon nangka di seberang.
Ia tidak perlu menoleh untuk memastikan. Ia merasakannya, seperti ia merasakan hangat matahari di punggungnya. Kehadiran mereka menjadi bagian dari alam di sekelilingnya.
Ia mendekati pohon jambu itu. Dengan pura-pura acuh, ia menjulurkan tangan kanannya, mencoba menggapai buah merah yang paling ranum. Jarinya kurang sedikit lagi.
"Hhh… tinggi sekali."
Gumamannya lebih mirip desahan. Ia berjinjit, seluruh tubuhnya menegang.
Gerakan itu membuat perutnya yang rata dan putih tertarik ke atas, otot-otot halusnya menegang dengan indah.
Pusarnya seolah menjadi mata lain yang menantang para penontonnya. Kain jarik yang melilit pinggulnya tertarik kencang, menjiplak lekuk bokongnya yang padat.
Ia bisa mendengar suara napas yang tercekat dari persembunyian mereka. Suara ranting yang tak sengaja terinjak.
Kepuasan menjalari dirinya, hangat dan memabukkan. Ia meraih buah itu, memutarnya perlahan sebelum menariknya lepas dari tangkai.
Ia tidak langsung memakannya. Ia bersandar di batang pohon, membelakangi para pengintipnya. Ia menggigit buah itu dengan pelan.
Suara renyah daging buah yang pecah terdengar jelas di keheningan sore. Sari buah yang manis menetes dari sudut bibirnya, mengalir turun melewati dagunya, menuju leher jenjangnya.
Ia tidak menyekanya. Ia membiarkan tetesan itu menelusuri lekuk di antara tulang selangkanya, lalu hilang di balik kebaya tipisnya.
Setelah buah itu habis, ia melanjutkan perjalanannya. Bukan lagi menyusuri jalan setapak, melainkan memotong jalan melewati semak belukar, semakin dekat ke arah hulu sungai yang sepi.
Di sini, bebatuan lebih besar dan air lebih dingin. Sebuah batu ceper yang lebar dan halus terhampar di tepi air, sebagian terendam, sebagian lagi kering dihangatkan sisa mentari. Tempat favoritnya.
Tanpa ragu, ia menanggalkan kebayanya, melemparkannya begitu saja ke atas rumput kering. Kini ia hanya berbalut kain jarik yang diikat tinggi di dada.
Ia melangkah masuk ke dalam air, membiarkan dinginnya menjalar dari mata kaki, betis, hingga ke pangkal paha. Ia bergidik, tetapi bukan karena dingin.
Ia menelungkup di atas batu ceper itu, membiarkan setengah tubuhnya terendam air dan setengahnya lagi terpanggang matahari senja.
Kain jarik yang basah menempel erat di kulitnya, menjadi lapisan tipis transparan yang tak menyembunyikan apa-apa.
Bentuk punggungnya yang melengkung, pinggangnya yang ramping, hingga gundukan bokongnya yang kenyal dan basah, semuanya terpahat dengan jelas.
Air sungai yang mengalir membelai perut dan dadanya dari bawah, sementara mata-mata liar itu membelainya dari kejauhan. Kombinasi yang membuatnya pusing oleh kenikmatan.
Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya. Rambutnya yang hitam panjang terurai di dalam air, mengambang seperti sulur-sulur gelap.
Ia bisa merasakan tatapan itu sekarang lebih intens, lebih lapar. Mereka pasti sudah bergerak lebih dekat, merayap dari satu pohon ke pohon lain, mencari sudut pandang yang lebih baik.
"Apa yang kalian lihat?" bisiknya pada angin. "Apa kalian menyukainya?"
Ia menggeliat pelan di atas batu, seperti kucing malas yang berjemur.
Gerakannya membuat kain basah itu bergeser, sedikit menyingkap sisi payudaranya.
Ia tahu. Ia sengaja. Ia ingin tahu sejauh mana ia bisa memancing mereka. Seberapa jauh ia bisa menari di tepi jurang kewarasan mereka.
Puas berbaring, ia bangkit. Ia berdiri di tengah aliran air setinggi pinggang. Kali ini, ia menghadap langsung ke arah hutan, tempat ia yakin sebagian besar mata itu bersembunyi.
Dengan gerakan yang lambat dan teatrikal, ia membungkuk, menangkupkan kedua telapak tangan, dan menyiramkan air ke wajah dan lehernya. Air mengalir turun membasahi dadanya yang terikat kain, membuatnya semakin berat dan transparan.
Lalu, ia mengangkat kedua tangannya, menyisir rambutnya yang basah ke belakang. Gerakan itu mengangkat payudaranya, membuatnya tampak lebih penuh dan menantang.
Ia meregangkan tubuhnya, memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan, seolah sedang melemaskan otot yang kaku.
Padahal, setiap gerakannya telah diperhitungkan. Setiap putaran pinggul, setiap lengkungan punggung, adalah undangan tanpa suara.
Ia adalah misteri yang terpampang nyata. Tubuh telanjang dalam selubung kain basah, keindahan yang dipersembahkan untuk mata-mata tak bernama di balik kegelapan yang mulai merayap.
Ia tidak tahu siapa mereka, dan ia tidak peduli. Yang ia tahu hanyalah sensasi berkuasa saat puluhan pasang mata itu menelannya bulat-bulat, terperangkap dalam pesonanya, tak berdaya.
Berhari-hari berlalu sejak malam di angkot itu. Wulan menjadi boneka Ano, setiap sentuhannya, setiap rintihannya, setiap kehancurannya direkam dan dijual sehingga memberikan keuntungan bagi peretas nakal itu.Wulan tak lagi menghitung waktu. Dia hanya merasakan denyut gairah hitam yang semakin pekat di setiap aliran darahnya.Kristal-kristal jiwa siluman itu kini menumpuk di dalam tas kecilnya, terasa dingin dan berat, seperti beban yang ia pikul sendiri. Malam ini, purnama menggantung penuh di langit, memanggilnya.Wulan meninggalkan kamar kos Ano yang pengap menuju apartemen mewah milik Broto. Tempat yang jauh dari jangkauan Ano ini menjadi tujuannya karena ingin melakukan ritual wajibnya, melayani Batara Durja saat purnama.Apartemen itu sunyi, dingin, hanya suara napas Wulan yang berdesir di antara dinding-dinding kaca yang menjulang. Tidak ada tanda-tanda Bro
Lampu neon restoran cepat saji 24 jam itu berkedip-kedip gelisah, memantulkan cahaya pucat ke kap mesin mobil van putih milik Ano yang masih berderu halus. Di kejauhan, terminal bayangan di salah satu sudut Bekasi tampak hening dan mencekam, dipenuhi remang cahaya kuning dan kepulan asap dari knalpot tua."Kau siap, Lan? Ingat, penonton di forum sudah membayar deposit besar untuk adegan ini."Ano menyesuaikan posisi tas selempangnya, memastikan lensa kamera ponselnya menyembul sedikit dari balik lubang kecil yang sudah ia modifikasi. Matanya yang cekung tampak berkilat, bukan karena lelah, melainkan karena gairah yang menggila.Wulan merapatkan jaket parka hitam selututnya, membiarkan kain sintetis itu bergesekan dengan kulit polosnya yang mulai merinding karena angin malam yang menusuk. Ia mengulas senyum sayu, menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil."Gairah mereka sudah terasa sampai sini, No. Bau alkoho
Cahaya biru dari monitor kembar di sudut kamar kos itu berdenyut, membiaskan bayangan panjang yang menari di dinding yang lembap. Aroma kopi basi dan sisa-sisa keringat yang mengering menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang pengap namun entah bagaimana terasa intim bagi Wulan.Sudah tujuh hari ia terperangkap di sini—atau mungkin, ia sengaja membiarkan dirinya terperangkap.Wulan merayap di atas kasur yang berderit, hanya mengenakan kaos oblong hitam milik Ano yang sangat kebesaran. Kain katun tipis itu menggantung longgar, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha, namun setiap kali ia bergerak, ujung kaos itu tersingkap dan menyingkapkan pinggulnya yang polos tanpa sehelai benang pun di baliknya.Rambut hitam bergelombangnya berantakan, membingkai wajahnya yang kini tampak lebih sayu namun memancarkan binar yang liar."Kau masih betah menatap angka-angka
Tidak butuh waktu lama, postingan Ano mendapatkan berbagai komentar. Suara kipas prosesor komputer menderu kencang, beradu dengan bunyi pings dari notifikasi yang masuk bertubi-tubi.Ano menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang berderit, jemarinya yang kurus mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu yang dipenuhi remahan abu rokok."Lihat ini, Wulan. Semua berebutan berkomentar, kekeke."Wulan yang tengah mengatur nafasnya menoleh ke arah Ano, lalu bergeser di atas kasur, membiarkan selimut yang melilit tubuhnya merosot hingga memperlihatkan punggungnya yang polos. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Ano dengan tangan mendekap bagian depan tubuhnya, sementara lekuk belakang tubuhnya terlihat tanpa lilitan selimut.Ia membungkuk dan menyandarkan dagunya di bahu Ano, membiarkan rambut hitam gelombangnya jatuh menutupi sebagian punggung pria itu."Apa kata mereka, No? Apa mereka takut?"
Dengung di kepala Wulan terasa seperti ribuan lebah yang terperangkap di dalam tengkoraknya. Saat kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit kosan Ano menusuk tajam, memaksa Wulan merintih dan membuang muka.Ia mencoba duduk, namun otot-otot di sekujur tubuhnya memprotes. Punggungnya kaku, dan area di antara kedua pahanya masih menyisakan denyut nyeri yang aneh—sisa-sisa dari invasi energi yang merobek kewarasannya di klinik tua itu.Sprei katun yang kasar menggesek kulitnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Wulan menarik selimut tipis hingga menutupi dadanya yang padat, merasakan puncak payudaranya yang masih sensitif bergesekan dengan kain. Di sudut ruangan, suara klik mouse yang repetitif dan tawa kecil yang serak memecah keheningan."Kau harus lihat ini, Wulan. Rekor baru. Bahkan video di pabrik kemarin tidak ada apa-apanya dib
Bayangan di dinding itu tidak lagi statis. Siluet Wulan yang terikat di kursi kini terlihat jelas, namun ada lebih dari satu sosok hitam yang menindihnya.Ano terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba mengarahkan kameranya lebih dekat, ingin menangkap setiap detail, namun kakinya seolah terpaku di lantai.Di balik kabut pekat itu, Wulan menjerit. Bukan jeritan takut sepenuhnya, melainkan lolongan panjang yang bercampur dengan erangan kepuasan yang menyakitkan.Tubuhnya melengkung ke atas, punggungnya menegang seperti busur panah yang ditarik maksimal. Ia merasakan ribuan lidah dingin menjilat setiap inci kulitnya, menghisap sisa-sisa udara dari paru-parunya.Tangan-tangan tak kasat mata itu tidak lagi meraba; mereka mencengkeram, meremas, menusuk paksa setiap lubang di tubuhnya."Ahhh... tidak... terlalu banyak!" Wulan melolong, kepalanya terlempar ke belakang,







