MasukPusaran waktu yang menginjak dua puluh lima tahun meniupkan bisikan aneh ke dalam jiwa Wulan.
Setiap kali ia dan ibunya menyusuri jalan setapak sepulang dari kebun, sebuah panggilan tanpa suara menggema dari arah hutan larangan.
Panggilan itu seperti senandung lirih, menarik-narik kesadarannya, mengundangnya masuk ke dalam kungkungan bayang-bayang pepohonan rapat.
Awalnya ia menepisnya sebagai angan-angan kosong, kelelahan setelah seharian membanting tulang di bawah matahari. Tetapi bisikan itu menolak pergi, justru semakin menguat setiap senja merayap turun.
Di kolam pancuran langganannya, tempat ia biasa memamerkan tubuhnya pada tatapan-tatapan lapar dari seberang sungai, sebuah sensasi baru yang mengerikan mulai menjalar.
Ia masih merasakan mata-mata para lelaki desa yang bersembunyi di balik rumpun bambu, tetapi kini ada tatapan lain yang ikut bergabung.
Jauh di belakang mereka, dari kedalaman hutan larangan yang gelap, beberapa pasang mata baru mengawasinya.
Tatapan itu kelam, hampa, dan memancarkan aura dingin yang membuat dadanya sesak. Tidak seperti tatapan para lelaki yang penuh nafsu duniawi, tatapan ini terasa menguliti tubuh dan jiwanya.
Setiap sore, saat matahari semakin tergelincir ke ufuk barat, mata-mata kelam itu terasa merayap mendekat.
Sehari sebelumnya mereka mengintip dari balik pohon beringin raksasa di kejauhan, hari ini mereka seolah telah berpindah ke pohon randu alas yang lebih dekat ke tepi sungai.
Rasa takut yang menusuk bercampur dengan gairah aneh yang lebih pekat dari biasanya. Napasnya memburu, puncak dadanya menegang bukan hanya karena dinginnya air, tetapi juga karena teror yang menggairahkan itu.
Ia hampir larut, tubuhnya mulai lunglai di dalam air, matanya setengah terpejam.
"Wulan! Nduk, ayo mentas!"
Teriakan Ningsih yang sarat kekhawatiran menyentaknya kembali ke dunia nyata. Ibunya berdiri di tepi sungai, wajah tuanya pias pasi, tangannya melambai-lambai panik.
"Cepat naik! Sudah mau malam!"
Wulan tergagap, segera meraih kain jariknya dan melilitkannya ke tubuh dengan tergesa. Ia bergegas naik ke darat, tetesan air dari tubuhnya membasahi tanah kering.
Ningsih langsung menyambar lengannya, menariknya menjauh dari bibir sungai.
"Kamu kenapa, to, Nduk? Melamun saja dari tadi. Mbok panggil-panggil tidak dengar."
Ningsih memeluknya erat, tubuh ringkih itu bergetar hebat. Air mata mulai membasahi pipinya yang keriput. "Jangan sekali-kali melamun di sini. Hutan itu angker, Nduk. Bahaya."
Wulan hanya bisa diam dalam pelukan ibunya, jantungnya masih berdebar kencang. Ia ingin menceritakan tentang tatapan-tatapan aneh itu, tetapi lidahnya terasa kelu.
Dalam hati Ningsih, ketakutan yang lebih dalam mencengkeram. Ia teringat buntalan kain penuh darah yang ia temukan bertahun-tahun lalu di tepi hutan itu.
Firasat buruk membisikinya bahwa bahaya yang dulu membuang Wulan kini telah kembali untuk menjemputnya.
"Kita harus ke tempat Mbah Broto," putus Ningsih setelah melepaskan pelukannya, suaranya tegas bercampur cemas.
"Untuk apa, Mbok?"
"Kamu ini kesambet. Harus diobati sebelum terlambat." Ningsih menarik tangan Wulan, setengah menyeretnya menyusuri jalan setapak menuju gubuk sang dukun di kaki Gunung Halimun.
Gubuk Mbah Broto berdiri menyendiri, dikelilingi pagar bambu dan kepulan asap dupa yang aromanya menusuk hidung.
Broto, dengan tubuh tambunnya yang hanya berbalut sarung setinggi dada, sedang duduk di bale-bale depan saat mereka tiba. Matanya yang sipit langsung tertuju pada Wulan.
Tatapannya menelusuri Wulan dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang tebal. Anak kecil jelita yang dulu ia lihat kini telah menjadi perempuan ranum yang siap dipetik.
"Ada apa, Ningsih? Tumben sore-sore kemari." Suara Broto berat dan serak.
"Tolong anakku, Mbah." Ningsih mendorong Wulan sedikit ke depan. "Akhir-akhir ini dia sering melamun. Saya takut dia kena sawan dari hutan larangan."
Broto mengangguk pelan, matanya tak lepas dari Wulan. "Masuklah. Biar saya lihat."
Di dalam gubuk yang remang dan pengap, Broto menyuruh Wulan berbaring di atas dipan kayu. Wulan menurut dengan ragu, jantungnya berdebar tak karuan di bawah tatapan sang dukun.
"Tenang saja, Nduk. Pejamkan matamu."
Broto berdiri di samping dipan. Jemarinya yang gemuk dan berkuku kotor terulur. Ujung jari telunjuknya yang dingin menyentuh dagu Wulan, lalu menelusuri turun dengan perlahan.
Jari itu melewati leher jenjangnya, berhenti sejenak di lekukan di antara tulang selangka, lalu melanjutkan perjalanannya ke bawah, tepat di celah kedua payudaranya yang padat.
Wulan menahan napas, tubuhnya menegang. Jari itu terus merayap turun, melewati perutnya yang rata, lalu berhenti tepat di pusarnya, menekannya dengan lembut.
"Sshh..."
Sebuah desahan lirih lolos dari bibir Wulan. Tubuhnya menggelinjang tanpa ia sadari. Sensasi aneh menjalar dari pusarnya, panas dan menggelitik, membangkitkan gairah yang selama ini hanya ia rasakan di sungai.
Broto menarik tangannya, matanya menyipit penuh perhitungan. Ia melihat aura yang aneh menyelubungi Wulan.
Indah, menggoda, tetapi juga kosong. Sebuah wadah sempurna yang siap diisi oleh kekuatan besar. Ia menoleh ke arah Ningsih yang menunggu dengan cemas di ambang pintu.
"Ningsih, kemari. Biarkan dia istirahat sejenak." Broto memberi isyarat agar Ningsih mengikutinya keluar.
Di beranda depan, Broto menatap tajam ke arah Ningsih. "Anakmu tidak kesambet biasa."
"Lalu kenapa, Mbah?"
"Ada yang mengincarnya. Sesuatu dari hutan itu." Broto menghela napas berat. "Sesuatu yang besar menginginkannya sebagai wadah. Sejak dulu aku sudah curiga, sejak kau ceritakan asal-usulnya. Tapi aku tak menyangka potensinya sebesar ini."
Wajah Ningsih semakin pucat. "Lalu... apa yang harus saya lakukan, Mbah?"
"Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia dekat-dekat hutan itu lagi, terutama saat sandekala. Bawa dia pulang sekarang. Hati-hati di jalan."
Ningsih mengangguk patuh. Kekhawatiran kini telah berubah menjadi teror yang nyata.
Ia membangunkan Wulan yang masih setengah linglung, lalu bergegas pamit pulang, menarik tangan anaknya seolah takut direnggut dari sisinya.
Langit sudah berubah warna menjadi ungu pekat saat mereka kembali menyusuri jalan setapak yang diapit hutan larangan.
Peringatan Broto masih terngiang-ngiang di telinga Ningsih. Ia mempercepat langkahnya, menggenggam tangan Wulan semakin erat.
Namun, tepat saat mereka melewati batu legam tempat Wulan pertama kali ditemukan, langkah Wulan tiba-tiba melambat.
Genggamannya melemah. Tatapannya menjadi kosong, terpaku pada kegelapan di antara pepohonan.
Bisikan itu kini bukan lagi senandung lirih, melainkan perintah yang tak bisa ia bantah.
"Wulan?" Ningsih menarik tangannya, tetapi Wulan tidak merespons.
"Nduk, ayo jalan! Jangan berhenti di sini!"
Wulan melepaskan genggaman ibunya. Dengan gerakan seperti boneka tali, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam hutan larangan, menembus barisan semak belukar pertama.
"Wulan! Jangan!" Ningsih menjerit panik. Ia berlari mengejar dan berhasil meraih lengan anaknya. "Sadarlah, Nduk! Kita harus pulang!"
Ia menarik sekuat tenaga, tetapi tubuh Wulan terasa berat seperti batu.
Tatapannya tetap kosong, kakinya terus melangkah, menyeret Ningsih yang terseok-seok mengikutinya semakin dalam ke jantung hutan yang gelap dan menyesakkan.
Langit di atas mereka nyaris tak terlihat, tertutup kanopi daun yang rapat.
Tiba-tiba, Wulan tersentak dan jatuh ke depan. Akar-akar sebesar lengan dari pohon beringin tua raksasa di hadapan mereka melilit pergelangan tangan dan kakinya, mencengkeramnya dengan kekuatan luar biasa.
Rasa sakit yang tajam akhirnya menyadarkan Wulan. Matanya yang semula kosong kini membelalak ngeri.
Ia melihat dirinya terjerat, tak bisa bergerak. Di sampingnya, ibunya berteriak-teriak histeris, menebas-nebas akar yang melilitnya dengan sabit kecil yang selalu ia bawa dari kebun.
"Lepaskan anakku! Jangan kau ambil dia!"
Tebasan sabit itu sia-sia. Akar-akar itu terlalu liat dan kuat. Sesaat kemudian, sebuah akar lain yang lebih besar melesat dari kegelapan seperti ular, melilit leher Ningsih dan menariknya ke atas.
"Ohokk Ohokk!"
Ningsih terbatuk, kakinya menendang-nendang udara, matanya melotot. Sabitnya jatuh ke tanah.
"Mbok!" Wulan menjerit, mencoba bangkit tetapi jeratan di tubuhnya semakin kencang.
Dengan sisa napas terakhirnya, Ningsih menatap Wulan. Wajahnya membiru.
"Mbah... Broto..." desisnya terbata-bata. "Minta... tolong... Mbah Broto... Lari, Nduk... lari!"
Akar-akar yang menjerat Wulan tiba-tiba mengendur, seolah sengaja melepaskannya. Tanpa berpikir dua kali, didorong oleh teror dan perintah terakhir ibunya, Wulan bangkit dan berlari.
Ia berlari membabi buta, tak peduli ranting yang mencakar wajah dan kakinya. Ia hanya punya satu tujuan: gubuk Mbah Broto.
Teriakan Wulan yang membelah keheningan malam terdengar bahkan sebelum ia mencapai kaki gunung.
"Mbah! Mbah Broto, tolong! Tolong ibuku!"
Broto yang sedang bersiap untuk ritual malamnya langsung berdiri tegak. Ia mengenali nada keputusasaan dalam jeritan itu. Sesuatu yang ia takutkan telah terjadi. Ia segera menyambar tombak pendek dari sudut gubuknya dan berlari keluar.
Tubuh tambunnya bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia bertemu Wulan yang tersungkur kelelahan di tengah jalan. Tanpa banyak bicara, Broto membantunya berdiri.
"Di mana ibumu?" tanyanya cepat.
"Di... di dalam hutan... beringin tua..." jawab Wulan terengah-engah.
"Ayo!"
Mereka berdua berlari kembali, membelah malam menuju tepi hutan larangan. Deru napas Broto yang berat dan isak tangis Wulan menjadi satu-satunya musik pengiring langkah panik mereka.
Tepat saat mereka tiba di perbatasan hutan, di dekat batu legam itu, sebuah benda besar terlempar dengan keras dari kegelapan, mendarat dengan bunyi gedebuk basah di atas tanah.
Brukk
Itu adalah tubuh Ningsih. Tanpa kepala.
Sesaat kemudian, benda lain menggelinding keluar dari semak-semak, berhenti tepat di kaki Wulan. Kepala Ningsih. Matanya masih terbuka lebar, memantulkan cahaya bulan yang pucat, ekspresinya membeku dalam teror abadi.
Wulan menatap pemandangan itu. Otaknya menolak untuk memproses. Kemudian, sebuah teriakan yang bukan lagi milik manusia keluar dari tenggorokannya.
"MBOOOKKK!!!"
Teriakan yang merobek langit malam, penuh kengerian dan kehilangan. Matanya memutih, dan tubuhnya yang lunglai jatuh ke belakang.
Sebelum kepalanya membentur tanah, sepasang lengan besar dan kokoh milik Broto menangkapnya. Ia memeluk tubuh Wulan yang pingsan, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan hutan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Berhari-hari berlalu sejak malam di angkot itu. Wulan menjadi boneka Ano, setiap sentuhannya, setiap rintihannya, setiap kehancurannya direkam dan dijual sehingga memberikan keuntungan bagi peretas nakal itu.Wulan tak lagi menghitung waktu. Dia hanya merasakan denyut gairah hitam yang semakin pekat di setiap aliran darahnya.Kristal-kristal jiwa siluman itu kini menumpuk di dalam tas kecilnya, terasa dingin dan berat, seperti beban yang ia pikul sendiri. Malam ini, purnama menggantung penuh di langit, memanggilnya.Wulan meninggalkan kamar kos Ano yang pengap menuju apartemen mewah milik Broto. Tempat yang jauh dari jangkauan Ano ini menjadi tujuannya karena ingin melakukan ritual wajibnya, melayani Batara Durja saat purnama.Apartemen itu sunyi, dingin, hanya suara napas Wulan yang berdesir di antara dinding-dinding kaca yang menjulang. Tidak ada tanda-tanda Bro
Lampu neon restoran cepat saji 24 jam itu berkedip-kedip gelisah, memantulkan cahaya pucat ke kap mesin mobil van putih milik Ano yang masih berderu halus. Di kejauhan, terminal bayangan di salah satu sudut Bekasi tampak hening dan mencekam, dipenuhi remang cahaya kuning dan kepulan asap dari knalpot tua."Kau siap, Lan? Ingat, penonton di forum sudah membayar deposit besar untuk adegan ini."Ano menyesuaikan posisi tas selempangnya, memastikan lensa kamera ponselnya menyembul sedikit dari balik lubang kecil yang sudah ia modifikasi. Matanya yang cekung tampak berkilat, bukan karena lelah, melainkan karena gairah yang menggila.Wulan merapatkan jaket parka hitam selututnya, membiarkan kain sintetis itu bergesekan dengan kulit polosnya yang mulai merinding karena angin malam yang menusuk. Ia mengulas senyum sayu, menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil."Gairah mereka sudah terasa sampai sini, No. Bau alkoho
Cahaya biru dari monitor kembar di sudut kamar kos itu berdenyut, membiaskan bayangan panjang yang menari di dinding yang lembap. Aroma kopi basi dan sisa-sisa keringat yang mengering menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang pengap namun entah bagaimana terasa intim bagi Wulan.Sudah tujuh hari ia terperangkap di sini—atau mungkin, ia sengaja membiarkan dirinya terperangkap.Wulan merayap di atas kasur yang berderit, hanya mengenakan kaos oblong hitam milik Ano yang sangat kebesaran. Kain katun tipis itu menggantung longgar, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha, namun setiap kali ia bergerak, ujung kaos itu tersingkap dan menyingkapkan pinggulnya yang polos tanpa sehelai benang pun di baliknya.Rambut hitam bergelombangnya berantakan, membingkai wajahnya yang kini tampak lebih sayu namun memancarkan binar yang liar."Kau masih betah menatap angka-angka
Tidak butuh waktu lama, postingan Ano mendapatkan berbagai komentar. Suara kipas prosesor komputer menderu kencang, beradu dengan bunyi pings dari notifikasi yang masuk bertubi-tubi.Ano menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang berderit, jemarinya yang kurus mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu yang dipenuhi remahan abu rokok."Lihat ini, Wulan. Semua berebutan berkomentar, kekeke."Wulan yang tengah mengatur nafasnya menoleh ke arah Ano, lalu bergeser di atas kasur, membiarkan selimut yang melilit tubuhnya merosot hingga memperlihatkan punggungnya yang polos. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Ano dengan tangan mendekap bagian depan tubuhnya, sementara lekuk belakang tubuhnya terlihat tanpa lilitan selimut.Ia membungkuk dan menyandarkan dagunya di bahu Ano, membiarkan rambut hitam gelombangnya jatuh menutupi sebagian punggung pria itu."Apa kata mereka, No? Apa mereka takut?"
Dengung di kepala Wulan terasa seperti ribuan lebah yang terperangkap di dalam tengkoraknya. Saat kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit kosan Ano menusuk tajam, memaksa Wulan merintih dan membuang muka.Ia mencoba duduk, namun otot-otot di sekujur tubuhnya memprotes. Punggungnya kaku, dan area di antara kedua pahanya masih menyisakan denyut nyeri yang aneh—sisa-sisa dari invasi energi yang merobek kewarasannya di klinik tua itu.Sprei katun yang kasar menggesek kulitnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Wulan menarik selimut tipis hingga menutupi dadanya yang padat, merasakan puncak payudaranya yang masih sensitif bergesekan dengan kain. Di sudut ruangan, suara klik mouse yang repetitif dan tawa kecil yang serak memecah keheningan."Kau harus lihat ini, Wulan. Rekor baru. Bahkan video di pabrik kemarin tidak ada apa-apanya dib
Bayangan di dinding itu tidak lagi statis. Siluet Wulan yang terikat di kursi kini terlihat jelas, namun ada lebih dari satu sosok hitam yang menindihnya.Ano terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba mengarahkan kameranya lebih dekat, ingin menangkap setiap detail, namun kakinya seolah terpaku di lantai.Di balik kabut pekat itu, Wulan menjerit. Bukan jeritan takut sepenuhnya, melainkan lolongan panjang yang bercampur dengan erangan kepuasan yang menyakitkan.Tubuhnya melengkung ke atas, punggungnya menegang seperti busur panah yang ditarik maksimal. Ia merasakan ribuan lidah dingin menjilat setiap inci kulitnya, menghisap sisa-sisa udara dari paru-parunya.Tangan-tangan tak kasat mata itu tidak lagi meraba; mereka mencengkeram, meremas, menusuk paksa setiap lubang di tubuhnya."Ahhh... tidak... terlalu banyak!" Wulan melolong, kepalanya terlempar ke belakang,







