LOGIN.Di kamar utama yang luas dengan ranjang king-size menghadap kota, Sonya mendorong Jonathan duduk di tepi ranjang. Ia berlutut di antara kaki pemuda itu, menatapnya dengan mata penuh godaan.“Malam ini… aku yang akan melayani kamu sebaik mungkin,” bisik Sonya.Ia membuka celana Jonathan perlahan, mengeluarkan batangnya yang sudah tegang. Sonya menjilat bibirnya, lalu mencondongkan wajahnya.Pertama, ia menjilat pelan dari bawah hingga ujung batang Jonathan dengan lidah yang panas dan basah. Jonathan langsung mendesah. Sonya tersenyum, lalu mengulum kepala batangnya ke dalam mulut yang hangat.“Uhh… Sonya…” desah Jonathan.Sonya mulai bekerja dengan ahli. Ia menggerakkan kepalanya maju-mundur secara perlahan, semakin dalam setiap kali. Lidahnya berputar di sekitar kepala batang, menghisap kuat sambil tangannya mengocok pangkal yang tidak muat masuk ke mulutnya.“Gluck… gluck… gluck…”Bunyi basah mengisap memenuhi kamar mewah. Sonya semakin rakus. Ia menelan lebih dalam hingga batang Jo
Pesawat pribadi keluarga Tan mendarat mulus di Hong Kong International Airport. Sonya turun dari pesawat dengan perasaan campur aduk—masih belum percaya dengan semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.Jonathan menarik tangannya dengan antusias. "Ayo, Kak! Aku mau tunjukin rumah kita!"Mereka dijemput oleh konvoi mobil mewah yang membawa mereka melintasi kota Hong Kong yang gemerlap. Sonya menatap keluar jendela—gedung-gedung pencakar langit, lampu-lampu neon, hiruk pikuk kota metropolitan yang tidak pernah tidur.Hingga mobil berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi—47 lantai, dengan arsitektur modern yang megah. Fasad kaca yang berkilauan memantulkan cahaya sore."Ini... rumahmu?" tanya Sonya tidak percaya.Jonathan tersenyum lebar. "Rumah kita sekarang. Seluruh gedung ini milik keluarga kita. Kakek tinggal di lantai paling atas. Papa Mama punya beberapa lantai. Aku punya lantai 20 sampai 25 untuk aku sendiri."Sonya menelan ludah. Enam lantai untuk satu orang?M
Pagi ini Jonathan tidak mau melepaskan Sonya."Kak Sonya, jangan pulang dulu," kata Jonathan dengan mata berbinar. "Aku mau kenalin kamu ke Mama Papa."Sonya tertawa kecil, mengira itu hanya gurauan anak muda yang terlalu antusias. "Jonathan, kamu bercanda kan? Kita baru kenal—""Aku serius, Kak!" Jonathan menggenggam tangan Sonya dengan erat. "Ayo ikut aku. Please?"Karena tidak ada yang harus dilakukan dan tidak punya tempat yang harus didatangi, Sonya akhirnya mengiyakan.---Pagi itu, Sonya naik mobil Jonathan—sebuah sedan mewah yang tidak dia sangka dimiliki oleh pemuda culun ini. Mereka melaju melewati jalanan Jakarta yang padat, menuju kawasan bisnis.Sonya masih berpikir keluarga Jonathan mungkin kelas menengah—cukup berada, tapi tidak istimewa.Hingga mobil berhenti di depan gedung pencakar langit yang sangat Sonya kenal.Gedung itu adalah markas dari **Tianlong Group**—konglomerasi raksasa yang berpusat di Hong Kong dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara
---Windy masih terbaring lemas di sofa ruang CEO, cairan putih kental Gito masih menetes pelan dari vaginanya. Ia tersenyum lelah sambil mengusap perutnya yang penuh.“Om… Windy ke toilet dulu ya, bersihin badan sebentar,” katanya manja sambil mencium pipi Gito.Gito mengangguk, matanya masih penuh nafsu melihat tubuh telanjang Windy yang berjalan ke toilet pribadi di dalam ruangannya. Toilet itu mewah, dengan shower rain dan bathtub kecil.Windy masuk, menyalakan shower air hangat, dan berdiri di bawah guyuran air. Ia menyabuni tubuhnya perlahan, membersihkan sisa-sisa percintaan tadi. Air mengalir deras di kulitnya yang mulus.Tak sampai satu menit, pintu toilet terbuka. Gito masuk telanjang bulat, batangnya sudah kembali keras tegak karena obat kuat yang masih bekerja di tubuhnya.“Om…!” Windy tersentak sambil tersenyum genit. “Belum puas ya?”Gito tidak menjawab. Ia langsung masuk ke bawah shower, berdiri di belakang Windy, dan memeluknya dari belakang dengan kasar. Batangnya yan
Fatika masih terengah-engah setelah orgasmenya, tapi matanya berkilat penuh nafsu. Ia menarik Reva naik ke atas tubuhnya, mencium bibirnya dalam-dalam sambil tangannya mengusap punggung Reva yang basah keringat.“Mbak… masih mau belajar yang lain?” bisik Fatika di bibir Reva, suaranya manja tapi penuh godaan.Reva mengangguk pelan, wajahnya masih merah malu. “Apa lagi…?”Fatika tersenyum nakal. Ia membalikkan posisi mereka hingga Reva berbaring telentang lagi. Fatika naik ke atas, tapi kali ini ia memutar tubuhnya hingga posisi mereka saling bertolak belakang.“Kita coba **69**, Mbak,” kata Fatika sambil menjilat bibirnya. “Kita bisa saling menjilat bersamaan.”Fatika naik ke atas tubuh Reva dengan posisi terbalik. Wajahnya tepat di atas vaginanya Reva, sementara vaginanya sendiri tepat di atas wajah Reva.“Mbakk cuma ikutin apa yang Fatika lakukan ya,” bisik Fatika.Tanpa menunggu jawaban, Fatika langsung menunduk dan menjilat celah Reva yang masih sangat basah dengan lidahnya yang p
Fatika mencium bibir Reva lagi, kali ini lebih dalam dan penuh kasih sayang. Lidahnya menyusup lembut, membiarkan Reva merasakan rasa dirinya sendiri yang masih menempel di mulut Fatika. Reva mendesah pelan di antara ciuman, tubuhnya masih gemetar sisa orgasme yang kuat.“Mbak… masih mau lanjut?” bisik Fatika di bibir Reva, suaranya lembut tapi penuh harap.Reva tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, matanya setengah terpejam, wajahnya memerah malu dan gairah. Fatika tersenyum senang.Ia turun sedikit, mencium leher Reva, lalu turun ke payudara lagi. Kali ini ia tidak terburu-buru. Ia menghisap puting Reva dengan lembut, bergantian kiri dan kanan, lidahnya menari pelan di ujungnya sambil tangan kanannya kembali turun ke antara paha Reva.Jari Fatika mengusap celah yang masih sangat basah dengan gerakan melingkar yang lambat. Ia memasukkan dua jarinya perlahan ke dalam vaginanya, bergerak maju mundur dengan ritme yang lembut tapi dalam.“Ahh… Fatika…” desah Reva, p