MasukSari masih berbaring miring dalam pelukan Beni, napasnya perlahan mereda. Batang kejantanan masih tertanam di dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa saat dia berbisik pelan,“Sekarang dari atas. Saya mau melihat wajahmu.”Beni menarik batang kejantanan keluar dengan hati-hati. Sari berbalik terlentang, pahanya terbuka lebar, matanya menatap Beni dengan lembut. Beni menempatkan dirinya di antara kedua kaki Sari. Dia menopang tubuh dengan kedua tangan di samping kepala wanita itu. Ujung batang kejantanan menekan liang kewanitaannya yang masih basah, lalu masuk kembali dalam satu dorongan yang dalam dan pelan.Sari mengerang panjang, tangan langsung memeluk punggung Beni. Kuku-kukunya menekan kulit. Beni mulai bergerak. Pinggulnya naik turun dengan tempo yang mantap. Setiap hentakan membuat payudara Sari bergoyang. Mereka saling menatap tanpa memalingkan wajah.“Lebih dalam…” desah Sari, suaranya serak. “Saya mau merasakan kamu sampai ke ujung sambil melihatmu.”Beni menurut. Geraka
Sari tidak berlama-lama. Dia mendorong dada Beni hingga pria itu terjatuh duduk di tepi kasur. Tangannya bergerak cepat, membuka kancing kemeja Beni satu per satu, lalu menariknya turun dari bahu. Celana dan kain dalaman ikut ditarik turun dalam gerakan yang hampir buru-buru.Ketika batang kejantanan Beni yang sudah setengah tegang terbebas, Sari menelan ludah. Matanya menatap benda itu beberapa detik, lalu dia berlutut di antara kedua kaki Beni.“Ini karena menolongku,” katanya pelan, suaranya serak.Dia menunduk. Bukan langsung ke batang kejantanan. Sari mulai dari bawah. Lidahnya menyentuh bola-bola kejantanan Beni, menjilat pelan, lalu mengulum salah satunya dengan mulut yang hangat. Dia mengisap lembut, lidah berputar, sebelum berpindah ke yang satunya. Tangan kanannya memegang pangkal batang kejantanan, mengusap naik-turun pelan sambil terus memberikan perhatian pada bagian bawah.Beni menahan napas. Jari-jarinya menyentuh rambut Sari. Wanita itu tidak terburu-buru. Dia menikmat
Alphard itu melaju keluar dari pusat kota, masuk ke kawasan industri yang sepi. Akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah gudang besar dengan halaman luas. Taksi Beni berhenti agak jauh."Pak, berhenti di sini.""Mas yakin mau turun? Tempat ini serem.""Saya tanggung jawab, Pak. Ini ongkos plus bonus."Beni membayar cepat, lalu keluar. Dia berjalan mendekati Alphard. Wanita muda itu baru saja turun dari mobil. Pria-pria hitam itu berdiri di sekelilingnya."Mbak! Tunggu!" teriak Beni.Wanita itu menoleh. "Mas? Kenapa kamu ikut?"Beni menghampiri. "Mbak, jangan serahkan diri. Ini berbahaya. Bisa saja mereka sindikat penjual organ. Mereka belum tentu menolong anak Mbak setelah organmu diambil."Salah satu pria hitam langsung marah. "Heh! Lo bilang kita sindikat?!""Ini pencemaran nama baik!" tambah yang lain.Mereka bertiga langsung menghampiri Beni. Beni berdiri tegak. "Saya cuma minta kalian lepaskan wanita ini. Dia butuh solusi, bukan jebakan.""Mampus lo!"Pukulan pertama datang. B
Pagi ini Beni terbangun sendirian di ranjang hotel. Sinar matahari sudah masuk lewat celah gorden, menimpa seprai yang berantakan. Di sampingnya kosong. Loreta sudah tidak ada. Di meja kecil dekat televisi, ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi."Mas Beni, maaf aku pergi diam-diam. Aku sudah janji ketemu pengacara jam tujuh pagi untuk urus laporan suamiku. Semalam terima kasih banyak. Kamu penyelamatku. Aku titip nomorku di bawah ini. Kalau butuh apa-apa, kabari. Loreta."Beni membaca pesan itu sambil tersenyum. Dia melipat kertas itu dan menyimpannya di saku. "Setidaknya dia tidak kabur seperti Vera," gumamnya. "Dia cuma pergi urus masa depannya."Beni bangkit, meregangkan badan, lalu berjalan ke kamar mandi. Dia menyalakan shower, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya. Setelah mandi, dia berdiri di depan wastafel, menggosok gigi dengan sikat hotel yang terbungkus plastik.Tepat saat busa sabun memenuhi mulutnya, sebuah suara berat menyapa dari dalam kepala."Pagi, Be
Loreta membuka pintu kamar dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Kunci elektronik berbunyi pelan, lalu pintu terbuka. Cahaya lembut dari lampu meja menyinari kamar suite yang luas. Ranjang king-size dengan seprai putih bersih menempati bagian tengah, sementara jendela kaca besar menampilkan lampu-lampu kota yang masih berkelip di kejauhan.Beni menutup pintu di belakang mereka. Begitu kunci berbunyi terkunci, sesuatu di dalam dirinya bergeser.Kebijaksanaan tingkat 2.Bukan hanya pengetahuan tentang hukum atau strategi. Tiba-tiba, setiap gerakan, setiap titik di tubuh wanita, setiap cara napas berubah, setiap getaran kecil otot, semuanya menjadi jelas baginya. Seolah dunia melambat dan ia bisa membaca bahasa tubuh Loreta lebih dalam dari kata-kata.Loreta berdiri di tengah kamar, masih memegang tangan Beni. Matanya basah, tapi bukan lagi karena putus asa. Ada kerentanan yang dalam, bercampur rasa ingin dilindungi, ingin dipegang, ingin dilupakan sejenak dari segala rasa sakit.Ben
"Aku diselingkuhi suamiku," katanya akhirnya. Suaranya bergetar. "Padahal dulu dia cuma bekas karyawan di perusahaanku. Aku jatuh cinta, menikahinya, mengangkatnya jadi direktur. Tapi dia mulai licik. Dia buat aku menandatangani banyak surat. Aku tidak paham hukum. Sekarang perusahaan warisan ayahku itu sepenuhnya atas namanya. Lalu dia selingkuh. Dia bilang aku sibuk, tidak bisa kasih anak, dan dia butuh wanita yang lebih perhatian."Beni mendengarkan dengan saksama."Aku merasa seperti sampah," lanjut Loreta. "Aku kehilangan perusahaan, kehilangan suami, kehilangan harga diri. Aku datang ke hotel ini untuk... untuk...""Untuk apa?" tanya Beni lembut.Loreta tidak menjawab. Tapi Beni sudah tahu jawabannya. Dia melihat kunci kamar di genggaman Loreta. Wanita itu memegangnya erat-erat, seolah kunci itu adalah jalan terakhir."Mbak Loreta," kata Beni pelan, "Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya tahu satu hal. Apa yang Mbak rasakan sekarang, saya juga pernah ada di titik itu. Dan orang yang
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







