Compartilhar

Terjebak Hasrat Sang Pemburu
Terjebak Hasrat Sang Pemburu
Autor: Best Siallagan

Hujan Es

last update Data de publicação: 2026-06-25 19:13:29

Hujan es tidak lagi terasa seperti air dari langit, melainkan ribuan jarum tajam yang menusuk setiap jengkal kulit wajah Avery. Di dalam sarung tangan kain murahan seharga beberapa sen, jemarinya sudah lama mati rasa. Kaku, beku, dan kikuk saat dipaksa menggenggam gagang palu besi yang berat.

Untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit, Avery mengayunkan lengan yang gemetar, mencoba menghantam kepala paku, dan kembali meleset total. Palu justru menghantam kayu lapuk, menimbulkan bunyi berdebum basah disertai serpihan busuk yang mencuat ke mana-mana.

"Ayolah," desis Avery dengan gigi yang saling gemeletuk parah melawan amukan angin. "Masuklah ke dalam kayu itu. Kumohon, kali ini saja."

Paku baja di hadapannya seolah mengejek ketidakberdayaan Avery. Posisinya membungkuk miring empat puluh lima derajat, menancap setengah jalan di atas permukaan kayu abu-abu yang basah kuyup—persis seperti gigi berkarat yang mencuat dari gusi yang membengkak.

Gubuk tua di Pine Valley ini seharusnya menjadi awal yang baru baginya. Sebuah tempat perlindungan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota yang sempat menghancurkan sisa-sisa semangat hidupnya.

Ketika pengacara menelepon seminggu lalu mengabarkan tentang warisan sebidang tanah dari paman yang bahkan tidak pernah dikenal seumur hidup, fantasi indah sempat menari di kepalanya. Rumah panggung estetis, perapian batu yang hangat, dan karpet bulu domba tebal. Avery tidak membayangkan kenyataan pahit ini.

Bangunan ini berdiri miring dalam sudut yang berbahaya, seolah siap menyerah pada hukum gravitasi kapan saja. Namun, gubuk tua ini adalah miliknya. Satu-satunya hal di dunia ini yang sepenuhnya menjadi hak pribadinya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun sejarah hidupnya yang telantar, berpindah-pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain.

Avery akhirnya memiliki sesuatu yang tidak bisa direnggut oleh siapa pun. Meskipun, miliknya yang satu ini sedang berusaha membuatnya mati perlahan karena hipotermia.

Hembusan angin kencang menderu dari lereng atas gunung, hampir mengempaskan Avery dari bangku kayu kecil tempatnya berpijak.

"Oke, Avery," gumamnya, menyeka titik air di mata dengan lengan baju yang basah. "Fokus. Kamu bisa selamat dari sistem panti asuhan kota. Kamu pasti bisa menjinakkan sepotong kayu tua ini."

Avery menarik lengankanya jauh ke belakang, memejamkan mata sejenak untuk menghalau terpaan angin malam, lalu menghantamkan palu besi ke depan sekuat tenaga.

KRETEK.

Itu bukan suara paku yang menancap dalam. Itu adalah suara patahan kayu penyangga yang terbelah menjadi dua.

Seketika itu juga, pagar teras tempatnya bertumpu berderit keras, condong ke arah luar beranda, siap ambruk ke atas tumpukan salju di bawah sana. Avery menjerit panik. Palu besi di tangannya terlepas, jatuh ke halaman dengan bunyi cipratan kuat. Tanpa sempat berpikir, dia melemparkan seluruh tubuh ke depan, menyergap sisa bilah pagar dengan kedua tangan, menahan beban strukturnya agar tidak hancur berkeping-keping.

Pagar itu luar biasa berat karena kayunya telah mengisap air hujan selama puluhan tahun. Ujung sepatu bot karetnya terpeleset di atas lantai teras yang mulai terlapisi es tipis. Pinggulnya menghantam dinding kabin dengan bunyi benturan keras, menyisakan rasa nyeri yang menjalar ke sepanjang sendi.

"Jangan! Jangan roboh sekarang!" geramnya melalui celah gigi yang mengatup rapat.

Namun, kayu tua yang rapuh itu terus berderit parah. Avery tidak cukup kuat menahannya sendirian. Dengan tinggi badan seadanya, dia jelas kalah telak dalam pertarungan fisik ini.

Tepat di saat keputusasaannya berada di titik tertinggi, Avery mendengarnya. Bukan suara angin atau hujan es, melainkan derap langkah kaki yang berat, solid, dan berirama konstan. Seperti sepasang sepatu bot militer tebal yang menggilas tanah membeku.

Avery menolehkan kepala dengan susah payah, membiarkan rambut hitamnya yang basah menempel berantakan di pipi. Tubuhnya seketika membeku.

Seorang pria berdiri tegak di tepi batas hutan pinus. Sosoknya di tengah kegelapan tampak seperti bongkahan batu gunung yang mendadak memutuskan untuk berjalan tegak. Tubuhnya luar biasa besar dan tinggi menjulang, dibalut mantel kanvas gelap tebal yang kedap air. Tudungnya ditarik jauh ke depan, menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan. Namun, Avery bisa merasakan tatapan intens dari balik tudung itu terkunci lurus padanya.

Sorot mata tak kasat mata itu terasa jauh lebih menusuk ketimbang hujan es yang merusak kulitnya. Sensasi asing yang mendadak membuat bulu kuduk Avery meremang hebat.

Pria itu tidak bergerak selama beberapa saat. Dia hanya berdiri diam, mengamati Avery yang kepayahan bergulat dengan runtuhan kayu di tengah amukan badai.

"Tolong!" teriakku sekuat tenaga, membuang harga diri ke dalam pusaran angin. "Bisa bantu aku menahan ini?!"

Pria itu tidak menunjukkan kepanikan. Dia mulai melangkah maju dengan ketenangan yang menyerupai pergerakan seekor predator puncak di teritorinya sendiri. Begitu sosoknya melangkah semakin dekat ke sorot lampu teras yang temaram, ukuran tubuhnya yang raksasa mengirimkan sinyal ngeri sekaligus getaran aneh ke kepala Avery. Tingginya berada jauh di atas rata-rata pria normal, dengan bentangan bahu yang begitu lebar hingga mampu menghalangi seluruh pemandangan langit abu-abu di belakangnya.

Dia menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Kayu tua itu langsung berderit pasrah di bawah bobot tubuh raksasanya.

"Lepaskan," katanya.

Suaranya bergemuruh rendah, berat, dan dalam, menyerupai bunyi gesekan dua lempeng batu di dasar bumi. Getaran frekuensi suaranya merambat menembus udara dingin, menghantam langsung ke dalam rongga dada Avery dan menghantarkan hawa panas yang asing.

"Kamu gila?!" balas Avery berteriak dengan napas terengah-engah. Otot kedua lenganku sudah menjerit kesakitan menahan beban pagar kayu yang semakin miring. "Kalau aku melepaskannya sekarang, seluruh struktur teras ini akan hancur!"

Kini, pria raksasa itu sudah berdiri tepat di samping Avery. Jarak di antara mereka mengikis drastis. Dari kedekatan ini, kehadirannya membawa aroma khas yang sangat jantan: perpaduan pohon pinus basah, asap kayu bakar yang pekat, dan aroma tajam oli mesin.

Sosoknya menjulang tinggi di atas Avery, menciptakan dinding pembatas yang kokoh dan luar biasa hangat di tengah kekacauan badai. Insting Avery berbisik bahwa pria asing ini adalah perwujudan dari bahaya murni—namun di saat yang sama, kedekatan fisik mereka yang intimidatif ini mendadak memicu detak jantung Avery berpacu gila karena alasan yang berbeda.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu mengulurkan satu tangan kekarnya ke depan. Telapak tangannya luar biasa besar, terbungkus sarung tangan kulit tebal berwarna hitam. Dia mencengkeram bilah kayu pagar tepat di atas posisi jemari Avery sendiri yang sudah memutih pucat akibat kehabisan tenaga.

Kulit tangan mereka yang terbalut pembatas tipis sempat bergesekan, mengirimkan sensasi sengatan panas yang membuat napas Avery tertahan di tenggorokan. Mata Avery melebar saat menyadari betapa ringkih dan mungil tubuhnya di bawah kungkungan bayangan pria ini.

"Kubilang," pria itu mengulang. Wajahnya yang tersembunyi di balik tudung kini sedikit menunduk menatap Avery. Nadanya bergeser menjadi lebih rendah, tebal, penuh dominasi, dan tidak menerima bantahan. "Lepaskan, Avery."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Penolakan

    Avery tidak menyukai pagi itu.Bukan karena cuacanya.Bukan karena jalan menuju markas Broken Halos yang licin akibat salju yang baru mencair.Tetapi karena semalaman ia terus memikirkan satu kalimat yang diucapkan Logan melalui radio.Samuel Voss tidak pernah dinyatakan meninggal.Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.Jika Samuel tidak pernah meninggal, lalu ke mana pria itu pergi?Dan kenapa seseorang berusaha menghapus keberadaannya dari hampir setiap catatan yang mereka temukan?Oliver mengemudikan truk dalam keheningan yang nyaman. Satu tangannya berada di setir, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh punggung tangan Avery yang berada di kursi tengah.Sentuhan kecil.Hampir tidak berarti.Namun cukup untuk membuat Avery merasa sedikit lebih tenang."Aku tidak suka ini," katanya akhirnya."Kau sudah mengatakannya tiga kali.""Aku tetap tidak suka.""Itu tidak berubah."Avery mendengus pelan.Oliver meliriknya sekilas."Logan akan

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Tamu Tak Diundang

    Oliver tidak bergerak.Ia tetap berdiri di depan jendela, memperhatikan SUV hitam yang terparkir di ujung jalan masuk kabin.Mesinnya sudah mati.Lampunya juga.Namun tak seorang pun keluar.Avery berdiri beberapa langkah di belakangnya."Apa kita mengenalnya?""Tidak."Jawaban itu langsung membuat suasana berubah.Karena Oliver mengenal hampir semua kendaraan yang biasa melewati Grizzly Peak.Truk pengangkut kayu.Petugas kehutanan.Penduduk setempat.Pendaki langganan.Bahkan wisatawan yang terlalu sering tersesat.Jika Oliver berkata tidak mengenalnya, berarti kendaraan itu memang asing.Benar-benar asing.Lima menit berlalu.SUV itu tetap diam.Tidak ada gerakan.Tidak ada suara.Tidak ada tanda-tanda kehidupan.Oliver mengambil jaketnya dari sandaran kursi."Aku akan keluar."Avery ikut berdiri."Aku ikut.""Tidak.""Aku tidak akan bersembunyi di dalam rumah."Oliver menatapnya.Avery membalas tatapan itu tanpa mengalah.Mereka sudah cukup lama bersama untuk mengetahui kapan sebu

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Pria yang Menghilang

    Ruangan tetap sunyi beberapa detik setelah Logan membalik buku registrasi itu.Samuel Voss.Nama yang sama.Nama yang muncul di dokumen Nathaniel.Nama yang terukir di batu tua di tengah hutan.Dan sekarang...seorang anggota tim survei yang menghilang empat puluh lima tahun lalu.Austin menjadi orang pertama yang memecah keheningan."Yah."Ia bersandar di kursinya."Itu tidak menyeramkan sama sekali."Tidak ada yang tertawa.Bahkan Austin tampak menganggap leluconnya gagal kali ini.Logan mengambil buku registrasi itu dan kembali membacanya dengan lebih perlahan."Ada lima anggota tim."Jarinya bergerak menyusuri halaman."Dua ahli topografi.""Satu operator radio.""Satu teknisi geologi.""Dan Samuel Voss.""Apa pekerjaannya?" tanya Avery.Logan mengernyit."Itu aneh.""Apa?""Kolom pekerjaannya kosong."Oliver berdiri di dekat jendela.Tatapannya mengarah ke hutan gelap di luar markas."Kosong seperti catatan pengiriman Nathaniel.""Ya."Jawaban Logan terdengar pelan.Terlalu pelan

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Penanda di Antara Pohon

    Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.Mereka berdiri mengelilingi patok tua itu, membiarkan kenyataan baru perlahan meresap ke dalam pikiran masing-masing.Simbol lingkaran bersilang itu nyata.Bukan gambar di atas peta.Bukan coretan di arsip.Bukan petunjuk yang tersimpan dalam surat.Seseorang telah mengukirnya di sini.Di tengah hutan.Bertahun-tahun lalu."Jadi kita tidak sedang mengejar cerita hantu," gumam Austin.Logan meliriknya."Kau ikut sejak kapan?"Austin muncul dari balik batang pinus dengan secangkir kopi di tangannya."Aku bosan menunggu di markas.""Tidak mungkin kau membawa kopi mendaki sejauh ini.""Aku pria penuh bakat.""Aku ingin memukulnya," kata Tristan datar."Aku mendukung ide itu," sahut Oliver.Austin tersenyum bangga seolah baru menerima pujian.Avery menggeleng pelan.Beberapa hal tampaknya memang tidak akan pernah berubah.Logan berjongkok di dekat patok kayu.Dengan hati-hati ia membersihkan lumut yang menempel di permukaan ukiran.Simbol itu

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Jalur yang Tidak Tercatat

    Avery hampir tidak tidur malam itu.Tulisan tangan yang ditemukan di sudut dokumen tua itu terus berputar di dalam kepalanya.Jalur Utara. Rahasia.Tiga kata sederhana.Namun cukup untuk mengubah semuanya.Setiap kali memejamkan mata, Avery membayangkan Nathaniel Nolan duduk di meja yang sama puluhan tahun lalu, menandatangani dokumen yang kini terbentang di dapurnya.Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?Dan kenapa?Di sampingnya, Oliver masih tertidur. Salah satu lengannya terentang melewati pinggang Avery, seolah bahkan dalam tidur pria itu tetap memastikan tidak ada yang bisa mengambil sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.Avery tersenyum kecil.Lalu perlahan melepaskan diri dari pelukannya.Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit saat dia turun ke dapur.Kabut pagi menggantung rendah di antara pepohonan pinus.Udara dingin.Sunyi.Damai.Avery menyeduh kopi lalu membuka kembali salinan dokumen yang dibawanya dari toko.Ia memeriksa setiap sudut halaman.Setiap kode.Setiap catat

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Nama di Balik Kode

    Logan tiba kurang dari lima menit kemudian.Itu saja sudah cukup menjadi tanda bahwa situasinya serius.Biasanya pria itu akan menyelesaikan apa pun yang sedang dia kerjakan terlebih dahulu sebelum merespons panggilan siapa pun. Namun kali ini pintu ruang arsip langsung terbuka dengan hentakan keras."Apa yang kalian temukan?"Tatapannya berpindah dari Oliver ke Avery.Lalu ke tumpukan dokumen yang memenuhi meja.Avery menggeser beberapa lembar kertas ke arahnya."Ini."Logan mengambil berkas teratas.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Satu halaman.Dua halaman.Tiga halaman.Semakin lama dia membaca, semakin dalam kerutan yang muncul di dahinya."Kenapa aku baru melihat ini sekarang?" gumamnya."Karena tidak ada yang pernah mencarinya," jawab Avery.Logan mengangkat kepala."Itu bukan jawaban yang kusukai.""Tapi itu benar."Oliver tetap berdiri di samping Avery.Diam.Mengamati.Menunggu.Seperti biasa.Logan membolak-balik halaman berikutnya."SV-17..."Jarinya mengetuk salah sa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status