LOGINPria itu mengambil alih beban kayu dengan kemudahan yang terasa seperti penghinaan bagi Avery. Di saat seluruh otot lengan Avery menjerit lumpuh, pria raksasa itu menahan struktur pagar yang basah kuyup hanya dengan satu tangan, longgar dan santai.
Begitu Avery menarik tangannya, sensasi linu yang perih seketika menyerang pergelangan tangannya saat aliran darah memaksa masuk ke pembuluh yang membeku. Avery terhuyung mundur, hampir terjungkal jika saja tidak cepat-cepat mencengkeram dinding kabin yang kasar.
"Siapa kamu?" Napas Avery memburu, meninggalkan uap putih di udara. Jantungnya berdentum terlalu keras, dan hawa dingin bukan satu-satunya pemicu.
Pria itu tidak menyahut. Hanya dengan satu dorongan bahu yang kuat—gerakan masif yang sempat membuat seluruh papan beranda bergetar—dia mengembalikan posisi pagar ke porosnya. Tangan kirinya mengunci kayu itu, sementara tangan kanannya merogoh saku mantel kanvas. Sebatang paku baja hitam yang tebal kini berada di antara jemarinya. Dengan gerakan efisien, dia menarik sebilah palu godam pendek dari gantungan sabuk kulitnya.
TAK! TAK! TAK!
Tiga pukulan pendek yang presisi. Paku raksasa itu ambles sepenuhnya, menembus kayu lapuk hingga mengunci mati ke tiang utama. Dalam waktu sepuluh detik, keputusasaan yang melumpuhkan Avery selama satu jam selesai tanpa sebutir peluh pun di kening pria itu.
Pria itu menurunkan palunya, lalu menyibak tudung mantelnya ke belakang. Avery menahan napas di tenggorokan.
Pria di depannya memiliki rahang kaku yang ditumbuhi janggut tebal dan gelap, berkilauan oleh titik-titik hujan es yang mencair. Wajahnya keras, dibentuk oleh kerja kasar bertahun-tahun di bawah cuaca ekstrem. Namun, sepasang mata di balik alis tebal itu yang membuat Avery terpaku. Warna hijau lumut pekat, sedalam interior hutan Grizzly Peak. Tajam, cerdas, dan saat ini sedang menyipit menatap Avery dengan kejengkelan yang kentara.
"Kamu sengaja mau bunuh diri, ya?" Suara pria itu bergemuruh rendah, serak seperti gesekan batu.
Avery menyilangkan kedua lengan di depan dada, mencoba menahan tubuhnya yang bergetar. "Aku cuma sedang memperbaiki teras rumahku. Semuanya aman-aman saja sampai angin sialan tadi bertiup."
Pria itu mendengus dingin. "Kamu hampir saja meremukkan kakimu sendiri dan mati membeku di sini. Siapa yang mengajarimu pakai palu? Anak balita?"
"Hei!" Harga diri Avery terusik. Dia melangkah maju, terpaksa mendongak kelewat tinggi hanya untuk menantang tatapan pria itu. "Aku ini sedang belajar! Dan asal kamu tahu, ini properti milikku. Kamu sudah lancang masuk tanpa izin."
Bukannya mundur, pria raksasa itu justru mengambil satu langkah besar ke depan. Jarak di antara mereka mengikis habis. Hawa panas yang memancar dari tubuh besarnya terasa begitu masif, mendesak udara dingin di sekitar Avery.
Logika Avery meneriakkan bahaya—pria ini asing dan memancarkan otoritas yang menindas. Namun, tubuh Avery justru bereaksi aneh. Ada tarikan berat di ulu hatinya yang membuat lututnya terasa semakin lemas karena kedekatan fisik yang terlalu intim ini.
"Propertimu ini berbatasan langsung dengan tanah Gunnar," geram pria itu, menunjuk ke arah kegelapan hutan pinus tempat dia muncul tadi. "Itu artinya, kalau kamu mulai menjerit karena tertimpa balok kayu, itu akan menjadi masalah di wilayahku."
"Aku tidak menjerit," bantah Avery parau. "Aku cuma memanggil bantuan."
Mata hijau itu bergerak turun, menyapu wujud Avery tanpa kehalusan. Avery tahu dia terlihat seperti tikus got yang tenggelam dengan baju kodok loak berlapis sweter berantakan. Namun, cara tatapan pria itu bergerak terasa begitu berat. Pandangan pria itu sempat tertahan lama di lekuk pinggul Avery—tempat kain basah itu mengetat—sebelum akhirnya kembali mengunci wajahnya.
"Kamu basah kuyup," suara pria itu mendadak merendah. "Bibirmu sampai membiru."
"Aku m-baik-baik saja," kata Avery. Sialnya, gigi yang saling gemeletuk langsung mengkhianati dustanya.
Pria itu mengumpat pelan, lalu menyentak sarung tangan kulitnya hingga lepas. Tangannya yang polos terlihat besar, kasar, dan penuh kapalan. Tanpa peringatan, telapak tangan panas itu terulur dan menangkup pipi Avery.
Avery tersentak dengan mata membelalak. Kulit pria itu luar biasa panas, sangat kontras dengan rahang Avery yang sudah membeku. Ibu jarinya yang tebal bergerak lambat, mengusap garis rahang Avery yang kaku. Sentuhan itu murni untuk memeriksa suhu tubuh, tetapi cara telapak tangan itu mengunci wajahnya membuat Avery merasa terintimidasi.
"Sedingin es," gumam pria itu. Ibu jarinya bergeser naik, menekan pelan bibir bawah Avery yang gemetar. Sepasang mata hijaunya menggelap. "Kamu sama sekali tidak punya naluri bertahan hidup, ya, Burung Kecil?"
"Namaku Avery," bisik Avery susah payah di bawah tekanan ibu jari pria itu.
"Aku tahu siapa kamu," potongnya dingin. "Gadis kota sok tahu yang mengira bisa menaklukkan gunung hanya dengan modal gergaji karatan."
Pria itu menarik kembali tangannya, meninggalkan rasa dingin yang mendadak kembali menyerang kulit Avery.
"Malam ini badai besar akan datang," lanjut pria itu sembari menatap bangunan kabin Avery dengan pandangan meremehkan. "Kamu punya pemanas di dalam?"
"Ada kompor kayu," jawab Avery. "Hanya saja... asapnya agak mengepul ke dalam."
Pria itu memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya yang tinggi. "Jadi, kamu tidak punya penghangat. Badanmu basah. Dan kamu sendirian di tengah badai terburuk bulan ini."
Pria itu melangkah lebih dekat, mendesak Avery mundur hingga punggung gadis itu membentur pagar yang baru saja diperbaiki. Tubuh besarnya yang menjulang tinggi kini menciptakan tameng alami, menghalangi terpaan angin gunung.
"Kamu tidak akan tinggal di sini malam ini. Kabinku ada satu mil di atas bukit. Di sana ada generator dan pemanas ruangan."
"Aku tidak mau pergi ke kabinmu," Avery menolak, suaranya naik satu oktav karena cemas. "Aku bahkan tidak kenal siapa kamu. Bisa saja kamu ini psikopat."
Sudut mulut pria itu berkedut samar, kelam dan berbahaya. "Kalau aku memang berniat menyakitimu, Burung Kecil, kamu tidak akan berdiri di sini untuk mendebatku."
Pandangan pria itu turun ke arah tangan Avery yang kini gemetaran hebat. Tanpa peringatan, pria itu menyergap kedua tangan Avery sekaligus, membungkus jemari kecil yang membeku itu di dalam satu telapak tangannya yang besar dan panas. Gelombang kehangatan langsung berpindah ke kulit Avery, memaksa napasnya tercekat.
"Lihat dirimu. Kamu gemetaran parah. Kamu hampir hipotermia," katanya serak, matanya menatap lurus ke dalam mata Avery.
Pria itu melepaskan genggamannya, berbalik lalu menutup kotak perkakas Avery dengan bunyi klik yang nyaring, kemudian menentengnya begitu saja.
"Hei! Apa yang kamu lakukan? Itu milikku!" protes Avery tidak terima.
"Aku amankan dulu," sahut pria itu tanpa beban, menaruh kotak tersebut di area lantai yang kering di bawah lindungan atap. "Biar kamu tidak usil membuat seluruh rumah ini roboh."
Avery melangkah maju, berniat merebut kembali kotaknya. Namun, pria itu mendadak berbalik, memotong langkah Avery.
Pria itu menunduk, merapatkan tubuhnya hingga Avery bisa merasakan dada bidang pria itu menyentuh ujung sweternya. Tangan besar pria itu bergerak ke belakang pinggang Avery, mencengkeram pembatas pagar di sisi kiri dan kanan tubuh Avery, mengunci gadis itu sepenuhnya di dalam kukungan tubuh raksasanya. Avery terperangkap, napas hangat pria itu menerpa langsung di atas bibirnya yang membiru.
"Namaku Oliver," bisik pria itu, suaranya begitu rendah dan bergetar tepat di depan wajah Avery. "Dan malam ini, kamu ikut denganku, suka atau tidak."
Samuel tidak bergerak dari ambang pintu.Tangannya masih bertumpu pada dinding batu tua.Di dalam bangunan, dokumen-dokumen berserakan di atas meja.Di luar, matahari perlahan turun di balik pegunungan.Tidak ada yang berbicara.Karena kalimat terakhir Samuel masih menggantung di udara."Nathaniel tidak pernah ingin kalian melihat ini."Logan memecah keheningan lebih dulu."Aku mulai bosan mendengar kalimat itu."Samuel tidak menoleh."Bagus.""Apa?""Berarti kau mulai merasakan yang kurasakan selama empat puluh tahun."Oliver menghela napas pelan."Itu bukan jawaban.""Bukan."Samuel menyentuh salah satu rak kayu yang nyaris roboh."Jawabannya jauh lebih buruk."Keheningan kembali turun.Avery melihat sesuatu tergeletak di bawah rak yang miring.Bukan kotak.Bukan map.Sebuah papan kayu kecil.Sudutnya patah.Tertutup debu.Ia membungkuk dan mengambilnya.Debu beterbangan saat papan itu dibalik.Tulisan pudar mulai terlihat.KEPUTUSAN REGISTRASI TANAHDi bawahnya terdapat beberapa ta
Langkah terakhir Samuel berhenti tepat di batas lereng berbatu.Tidak ada pagar.Tidak ada gerbang.Tidak ada tanda peringatan.Hanya deretan pinus tua yang tumbuh terlalu rapat, seolah alam sendiri berusaha menyembunyikan sesuatu.Angin sore bergerak pelan.Tak seorang pun berbicara.Karena setelah bertahun-tahun menjadi rumor, dokumen, dan rahasia...Site B kini berada tepat di depan mereka.Tristan bergerak lebih dulu.Ia menyingkirkan cabang-cabang yang menutupi jalan sempit di antara pepohonan.Logan mengikuti di belakangnya.Kemudian Avery.Oliver.Chase.Austin.Samuel berjalan paling akhir.Dan itu sendiri terasa aneh.Seolah pria tua itu sedang menunda sesuatu.Jalan setapak itu terus menurun.Semakin jauh mereka masuk, semakin jelas bahwa tempat ini pernah digunakan manusia.Bukan sekali dua kali.Melainkan selama bertahun-tahun.Avery melihat batu-batu yang sengaja disusun.Tiang kayu yang hampir membusuk.Bekas pondasi."Bukan gua."gumam Austin."Bukan.""Bukan bunker jug
Hujan berhenti menjelang pagi.Namun ketegangan di dalam kabin Nolan tidak ikut reda.Semalam tidak ada keputusan.Tidak ada kesepakatan.Hanya percakapan yang berubah menjadi perdebatan.Dan perdebatan yang berubah menjadi keheningan.Avery terbangun lebih dulu.Buku para penjaga masih terbuka di atas meja.Halaman dengan secarik catatan tua masih berada di tempat yang sama.Rahasia ini tidak diciptakan untuk disimpan.Tetapi juga tidak diciptakan untuk dimiliki.Ia membaca kalimat itu sekali lagi.Kemudian menutup buku tersebut.Ketika keluar ke beranda, ia menemukan Oliver sudah berada di sana.Secangkir kopi mengepul di tangannya.Tatapannya tertuju ke pegunungan."Kau juga tidak tidur?"tanya Avery."Tidur."jawab Oliver."Kau berbohong.""Kau terlalu mengenalku."Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri berdampingan.Memandang Grizzly Peak yang perlahan mulai diterangi matahari pagi."Apa yang kau pikirkan?"tanya Avery.Oliver tidak langsung menjawab."Aku memikirkan Nathaniel.
Pintu markas Broken Halos masih terbuka ketika suara mesin SUV Richard akhirnya menghilang dari jalan utama.Tidak ada yang bergerak.Tidak ada yang berbicara.Hanya bunyi jam dinding tua yang terdengar dari sudut ruangan.Tick.Tick.Tick.Austin yang pertama memecah keheningan."Aku benci kalau dia melakukan itu."Logan masih berdiri menghadap pintu."Apa?""Datang."Austin menunjuk keluar."Mengatakan sesuatu yang mengganggu."Lalu menunjuk kepalanya sendiri."Kemudian pergi."Keheningan tetap bertahan.Karena kali ini Richard berhasil.Ia meninggalkan sesuatu.Keraguan.Logan berbalik.Tangannya bertumpu pada meja."Kita tidak mengubah rencana."Samuel yang sedang duduk dekat jendela mengangkat alis."Rencana yang mana?""Menjauh dari Site B."Samuel tertawa pendek."Itu bukan rencana.""Itu keputusan Nathaniel.""Nathaniel sudah meninggal."Ruangan langsung sunyi.Avery melihat rahang Logan mengeras.Kalimat itu mungkin benar.Tetapi tetap terdengar salah."Nathaniel meninggalkan
Suara mesin kendaraan terdengar bahkan sebelum mereka melihatnya.Dalam kota kecil seperti Grizzly Peak, suara itu cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.Dan cukup untuk membuat Logan berhenti berbicara.Mereka sedang berada di markas Broken Halos ketika suara itu mendekat.Austin yang sedang bermain kartu langsung menengok ke jendela.Chase meletakkan cangkir kopinya.Tristan mengangkat kepala.Tidak ada yang berkata apa-apa.Namun ruangan perlahan menjadi sunyi.Karena semua orang mengenali kendaraan itu.SUV hitam."Astaga."gumam Austin.Logan sudah berdiri sebelum kendaraan itu sepenuhnya berhenti.Pintu terbuka.Seseorang turun.Bukan karena mereka melihat wajahnya.Belum.Tetapi karena reaksi Logan.Rahangnya mengeras.Oliver yang sedang berdiri dekat meja langsung bergerak sedikit ke depan.Bukan agresif.Refleks.Austin mengembuskan napas."Oh bagus."Pintu markas terbuka.Richard Hale masuk.Namun ada sesuatu yang berbeda hari ini.Tidak ada senyum santai.Tidak ada ma
Kabut masih menggantung di antara pepohonan ketika Samuel mengetuk pintu kabin.Tiga ketukan.Tidak lebih.Tidak kurang.Avery membuka pintu.Samuel sudah berdiri di beranda.Mengenakan jaket tua yang sama.Topi yang sama.Dan ekspresi yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang lebih suka berada di tempat lain."Ada apa?"tanya Avery.Samuel tidak menjawab.Ia hanya berbalik dan mulai berjalan menuju truk tua yang terparkir di depan kabin."Samuel."Pria tua itu berhenti."Kau mau ikut atau tidak?"Itu bukan undangan.Lebih mirip tantangan.Dari dalam rumah, Oliver muncul.Tatapannya langsung berpindah dari Samuel ke Avery."Ke mana?"Samuel membuka pintu truk."Jalan-jalan.""Aku tidak percaya itu."kata Oliver."Itu karena kau punya insting yang sehat."Keheningan singkat.Samuel menunjuk kursi penumpang."Avery."Oliver melangkah maju."Aku ikut.""Tidak."Jawaban Samuel datang terlalu cepat.Rahang Oliver mengeras."Kenapa?"Samuel membuka pintu truk lebih lebar."Karena kali







