MasukJejak sepatu itu masih terlihat saat seluruh orang berdiri di belakang kabin Nolan.Tidak jelas.Tidak sempurna.Namun cukup untuk memberi arah.Ke utara.Selalu ke utara.Avery berdiri dengan kedua tangan terselip di dalam saku jaketnya. Angin sore bertiup di antara pepohonan pinus, membuat cabang-cabang tua bergoyang perlahan di atas kepala mereka."Tidak mungkin kebetulan lagi."Logan mengangguk."Tidak."Tristan masih berjongkok di dekat jejak tersebut.Saat pria itu fokus pada sesuatu, seluruh dunia seolah menghilang dari perhatiannya.Jarinya menyentuh tanah yang mulai mengering setelah salju mencair."Berapa lama?" tanya Oliver."Tiga hari.""Akurat?""Aku tidak pernah memberi angka kalau tidak yakin."Austin mengembuskan napas."Itu berarti seseorang masuk ke rumah Avery beberapa hari sebelum kita menemukan kompartemen rahasia itu.""Tepat," kata Logan."Dan mereka sudah tahu apa yang dicari."Mereka mengikuti jejak itu beberapa ratus meter ke arah hutan.Awalnya cukup mudah.
Avery tidak bisa menghilangkan kalimat terakhir Richard Hale dari pikirannya.Mungkin Anda ingin bertanya pada Nathaniel kenapa dia begitu takut.Kalimat itu terus mengikutinya sepanjang perjalanan pulang.Nathaniel takut.Paman yang selama ini ia kenal sebagai pria keras kepala, pendiam, dan hampir tidak pernah meminta bantuan siapa pun.Takut pada apa?Atau siapa?Oliver mematikan mesin truk di depan kabin Nolan.Bangunan tua itu berdiri sunyi di lereng bawah, sebagian besar lapisan salju di sekitarnya kini telah mencair dan memperlihatkan fondasi batunya yang tua.Avery turun lebih dulu."Aku ingin memeriksa lagi."Oliver mengangguk."Aku ikut.""Aku tidak meminta izin.""Kau tidak mendapatkannya."Avery memutar mata.Meski begitu, ia tidak berdebat lebih lanjut.Sudah hampir dua minggu sejak terakhir kali mereka benar-benar memeriksa kabin warisan itu.Sebagian besar waktu mereka habiskan di kabin utama milik Oliver atau di markas Broken Halos.Kunci berputar.Pintu terbuka.Aroma
Avery tidak menyukai pagi itu.Bukan karena cuacanya.Bukan karena jalan menuju markas Broken Halos yang licin akibat salju yang baru mencair.Tetapi karena semalaman ia terus memikirkan satu kalimat yang diucapkan Logan melalui radio.Samuel Voss tidak pernah dinyatakan meninggal.Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.Jika Samuel tidak pernah meninggal, lalu ke mana pria itu pergi?Dan kenapa seseorang berusaha menghapus keberadaannya dari hampir setiap catatan yang mereka temukan?Oliver mengemudikan truk dalam keheningan yang nyaman. Satu tangannya berada di setir, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh punggung tangan Avery yang berada di kursi tengah.Sentuhan kecil.Hampir tidak berarti.Namun cukup untuk membuat Avery merasa sedikit lebih tenang."Aku tidak suka ini," katanya akhirnya."Kau sudah mengatakannya tiga kali.""Aku tetap tidak suka.""Itu tidak berubah."Avery mendengus pelan.Oliver meliriknya sekilas."Logan akan
Oliver tidak bergerak.Ia tetap berdiri di depan jendela, memperhatikan SUV hitam yang terparkir di ujung jalan masuk kabin.Mesinnya sudah mati.Lampunya juga.Namun tak seorang pun keluar.Avery berdiri beberapa langkah di belakangnya."Apa kita mengenalnya?""Tidak."Jawaban itu langsung membuat suasana berubah.Karena Oliver mengenal hampir semua kendaraan yang biasa melewati Grizzly Peak.Truk pengangkut kayu.Petugas kehutanan.Penduduk setempat.Pendaki langganan.Bahkan wisatawan yang terlalu sering tersesat.Jika Oliver berkata tidak mengenalnya, berarti kendaraan itu memang asing.Benar-benar asing.Lima menit berlalu.SUV itu tetap diam.Tidak ada gerakan.Tidak ada suara.Tidak ada tanda-tanda kehidupan.Oliver mengambil jaketnya dari sandaran kursi."Aku akan keluar."Avery ikut berdiri."Aku ikut.""Tidak.""Aku tidak akan bersembunyi di dalam rumah."Oliver menatapnya.Avery membalas tatapan itu tanpa mengalah.Mereka sudah cukup lama bersama untuk mengetahui kapan sebu
Ruangan tetap sunyi beberapa detik setelah Logan membalik buku registrasi itu.Samuel Voss.Nama yang sama.Nama yang muncul di dokumen Nathaniel.Nama yang terukir di batu tua di tengah hutan.Dan sekarang...seorang anggota tim survei yang menghilang empat puluh lima tahun lalu.Austin menjadi orang pertama yang memecah keheningan."Yah."Ia bersandar di kursinya."Itu tidak menyeramkan sama sekali."Tidak ada yang tertawa.Bahkan Austin tampak menganggap leluconnya gagal kali ini.Logan mengambil buku registrasi itu dan kembali membacanya dengan lebih perlahan."Ada lima anggota tim."Jarinya bergerak menyusuri halaman."Dua ahli topografi.""Satu operator radio.""Satu teknisi geologi.""Dan Samuel Voss.""Apa pekerjaannya?" tanya Avery.Logan mengernyit."Itu aneh.""Apa?""Kolom pekerjaannya kosong."Oliver berdiri di dekat jendela.Tatapannya mengarah ke hutan gelap di luar markas."Kosong seperti catatan pengiriman Nathaniel.""Ya."Jawaban Logan terdengar pelan.Terlalu pelan
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.Mereka berdiri mengelilingi patok tua itu, membiarkan kenyataan baru perlahan meresap ke dalam pikiran masing-masing.Simbol lingkaran bersilang itu nyata.Bukan gambar di atas peta.Bukan coretan di arsip.Bukan petunjuk yang tersimpan dalam surat.Seseorang telah mengukirnya di sini.Di tengah hutan.Bertahun-tahun lalu."Jadi kita tidak sedang mengejar cerita hantu," gumam Austin.Logan meliriknya."Kau ikut sejak kapan?"Austin muncul dari balik batang pinus dengan secangkir kopi di tangannya."Aku bosan menunggu di markas.""Tidak mungkin kau membawa kopi mendaki sejauh ini.""Aku pria penuh bakat.""Aku ingin memukulnya," kata Tristan datar."Aku mendukung ide itu," sahut Oliver.Austin tersenyum bangga seolah baru menerima pujian.Avery menggeleng pelan.Beberapa hal tampaknya memang tidak akan pernah berubah.Logan berjongkok di dekat patok kayu.Dengan hati-hati ia membersihkan lumut yang menempel di permukaan ukiran.Simbol itu







