Home / Romansa / Terjebak Hasrat Sang Pemburu / Benteng yang Terancam

Share

Benteng yang Terancam

last update publish date: 2026-07-18 13:22:35

Keheningan pagi membangunkan Oliver.

Bukan suara yang membangunkannya.

Justru karena tidak ada suara sama sekali.

Badai besar selalu meninggalkan kesunyian semacam ini. Tebal. Menekan. Seolah seluruh gunung menahan napas.

Di sampingnya, Avery bergeser pelan.

Tubuh mungil itu masih meringkuk di bawah selimut, rambut hitamnya berantakan di atas bantal. Salah satu tangannya terjulur ke sisi kasur yang kosong, mencari kehangatan tanpa benar-benar terbangun.

Untuk sesaat Oliver hanya memandanginya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Warisan yang Terkubur

    Angin sore menerpa halaman markas Broken Halos saat Avery melangkah turun dari truk Oliver.Kalimat Logan masih bergema di dalam kepalanya."...ada kemungkinan pamammu mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kabin reyot itu."Avery mengikuti Logan masuk ke dalam bangunan utama. Aroma kopi, asap kayu, dan kulit tua memenuhi udara. Suasana di dalam jauh lebih tenang dibanding penampilan para penghuninya yang selalu tampak siap menghadapi perang.Austin sedang bersandar di meja panjang sambil memegang secangkir kopi.Chase duduk di dekat jendela.Tristan berdiri di belakang ruangan dengan kedua tangan terlipat.Tak seorang pun tampak sedang bercanda.Itu saja sudah cukup membuat Avery gugup."Baik," kata Austin sambil meletakkan cangkirnya. "Kalau semua orang sudah di sini, mari kita membuat hidup jadi sedikit lebih rumit.""Berhenti bicara dan tunjukkan," geram Oliver.Austin menyeringai."Senang melihatmu juga, sepupu."Logan menjatuhkan sebuah map tua ke atas meja.Map it

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu    Nama yang Tertinggal

    Desis statis dari radio itu hanya berlangsung sepersekian detik.Namun cukup untuk mengubah seluruh sikap Oliver.Senyumnya menghilang.Bukan karena marah.Karena waspada.Avery memperhatikan perubahan itu dengan saksama.Oliver tidak bergerak selama beberapa saat. Tatapannya tertuju pada perangkat radio yang tergeletak di sudut meja kerja, seolah mencoba memutuskan apakah gangguan itu penting atau tidak.Lalu radio kembali berbunyi.Kali ini lebih jelas."Vanguard. Jawab."Suara Logan.Oliver mengembuskan napas pelan."Kurasa kita tidak akan menikmati sore yang tenang."Avery menyandarkan pinggulnya ke meja kerja."Berita buruk?" muka tegang dan kepanikan terpancar dari wajahnya"Logan jarang menelepon hanya untuk menyapa."Oliver mengambil radio."Masuk."Suara statis kembali terdengar sebelum suara Logan muncul."Kami menemukan sesuatu."Avery melihat rahang Oliver mengencang."Tentang apa?""Tentang tanah milik Avery."Ruangan mendadak terasa lebih dingin.Avery berdiri lebih tega

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Jejak di Bengkel

    Avery mendorong pintu ruang kerja itu sedikit lebih lebar.Suara gerinda yang meraung nyaring langsung menyambutnya.Percikan api berhamburan dari meja kerja di sudut ruangan, menerangi wajah Oliver dalam kilatan cahaya oranye yang pendek dan berulang.Untuk beberapa saat, Avery hanya berdiri di ambang pintu.Mengamati.Ruang kerja itu terasa persis seperti pemiliknya.Kasarnya teratur.Berantakan dengan cara yang terencana.Ratusan perkakas tergantung rapi di dinding. Rak-rak logam dipenuhi baut, mur, pelat baja, dan potongan kayu yang telah dipotong dengan ukuran berbeda-beda.Di tengah semuanya berdiri Oliver.Fokus.Tenang.Membangun sesuatu.Avery tidak mengganggunya.Ia hanya melangkah masuk perlahan sampai suara sepatu wolnya menarik perhatian pria itu.Oliver mematikan mesin.Keheningan langsung memenuhi ruangan."Kau seharusnya beristirahat.""Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu."Oliver mengangkat satu bahu."Aku sedang istirahat."Avery mengangkat alis.Pria itu menunju

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Lelah Kenikmatan

    Oliver menahan tubuhnya untuk tetap diam selama beberapa detak jantung, tertanam sangat dalam, membiarkan tubuh mereka menyatu dan terbiasa satu sama lain. Dia menempelkan dahinya di dahi Avery, membiarkan embusan napas mereka yang memburu saling berbaur. "Kamu pas," bisik Oliver dengan suara yang terdengar pecah. "Kamu terasa begitu pas di tubuhku.""Bergeraklah. Tolong, Oliver. Bergerak." Kuku-kuku jemari Avery bergerak mencakar bahu Oliver hingga menorehkan luka kemerahan.Oliver menarik tubuhnya mundur hingga hanya menyisakan bagian ujungnya yang tertinggal, lalu dia kembali menghantam masuk ke dalam. Benturan fisik itu membuat meja kayu ek yang berat di bawah mereka bergetar solid.Mereka menemukan sebuah ritme yang sama sekali tidak bisa dikatakan lembut—itu adalah sebuah hantaman yang konstan. Sebuah pengklaiman yang mutlak. Suara benturan kulit mereka terdengar menggema berirama, memantul di antara deretan perkakas logam yang tergantung di dinding ruangan. Oliver terus merangse

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   "Aku Milikmu Oliver"

    Oliver menjulurkan kedua tangannya, mencengkeram pinggang mungil Avery dengan mantap. Dia bisa merasakan panas tubuh gadis itu yang membakar di balik kain katun yang tipis. "Aku ingin memastikan kamu tahu persis di mana kamu berada saat ini."Oliver mengangkat tubuh gadis itu. Avery tersedak napas saat Oliver mengangkat tubuhnya tanpa usaha berarti, berat badan gadis itu sama sekali bukan tandingan bagi kekuatannya. Oliver mendudukkan Avery dengan hentakan tegas di atas tepian meja kerja. Peralatan di sekitarnya berdenting keras dan sebuah wadah berisi sekrup kuningan terguling, menumpahkan isinya ke atas lantai beton dalam kekacauan yang bising, namun Oliver sama sekali tidak peduli. Dia merangsek masuk di antara kedua kaki Avery, memaksa lutut gadis itu terbuka lebar menggunakan kedua pahanya sendiri, mengunci Avery sepenuhnya di dalam teritorinya."Oliver—""Diam." Oliver condong ke depan hingga hidung mereka saling bersentuhan. Dia bisa menghirup aroma tubuh Avery sekarang, sebuah

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Apa Yang kau Inginkan Oliver?

    Suara melengking dari mesin gerinda tangan merobek keheningan ruang kerjanya yang sempit, melemparkan percikan bunga api berwarna oranye terang yang menghantam lantai beton bernoda pelumas. Kebisingan itu memenuhi seluruh isi kepala Oliver, menenggelamkan suara lolongan angin yang bertiup kencang menembus deretan pohon pinus di luar sana. Suara mesin itu sekaligus membungkam insting di dalam otaknya yang terus-menerus memerintahkan untuk memeriksa perimeter, memeriksa selot kunci, dan memantau area perbukitan.Di tempat ini, di tengah aroma baja panas, seruk gergaji, dan pelumas yang memenuhi paru-parunya, Oliver hanyalah seorang pria biasa yang bekerja dengan sepasang tangannya. Bukan seorang Vanguard. Bukan seorang mantan tentara yang hancur. Hanya seorang pria yang sedang membangun sesuatu yang solid.Oliver mematikan daya listrik pada mesin gerinda. Keheningan seketika merangsek kembali, terasa berat dan berdengung di telinganya.Dia mengangkat pelat besi penyangga yang baru saja d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status