Masuk"Apa katamu?" Gelar meraung marah, suaranya terdengar menggelegar melalui sambungan telepon yang dipegang erat oleh Jerry. Kemarahan Gelar begitu nyata dan mencekam, membuat jantung Jerry berdegup kencang.
"Bapak bisa bertanya langsung pada Bu Sabita mengenai kronologi lengkapnya," jawab Jerry, Manajer Hotel, sedikit gemetar. Baru kali ini ia mendengar CEO-nya, Gelar Aditama, semarah itu. Jerry berusaha menjelaskan, namun Gelar tidak memberinya kesempatan."Tidak perlu," potong Gelar cepat. "Aku malu pada Bu Sabita. Kau segera pecat Tomas sialan itu. Sekarang juga! Pecat dengan tidak hormat!""Ba-baik, Pak," Jerry tergagap. Ia mengakhiri telepon dengan Gelar dan mengembalikan ponsel Bita yang sempat ia pinjam.Jerry menatap Tomas dengan ekspresi marah yang meluap-luap. Tatapannya kini penuh kebencian. "Sesuai perintah langsung dari Pak Gelar, mulai detik ini, kau dipecat dengan tidak hormat, Pak Tomas!"Tomas langsung kaget. Wajahnya yangPagi hari menyapa gudang lembap di pinggiran Yogyakarta itu dengan cahaya suram yang menerobos dari celah-celah atap seng yang berkarat. Suasana mencekam masih menyelimuti Gelar dan Bita yang terikat tak berdaya. Suara derit pintu besi yang dibuka paksa memecah keheningan, memicu detak jantung Bita yang kian kencang. Pemimpin penculik itu melangkah masuk dengan angkuh, tangannya bergerak ke belakang kepala, lalu dengan satu gerakan kasar, ia menyentak masker hitam yang menutupi wajahnya.Gelar, yang sejak tadi berusaha menajamkan indranya meski kepalanya masih terasa berat akibat sisa pembiusan, seketika membelalakkan mata. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menonjol seketika saat mengenali wajah pria di hadapannya."Satria?" desis Gelar dengan nada suara yang bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya. "Jadi kau bajingan di balik semua ini?"Satria, pria yang lima tahun lalu tertangkap basah oleh Gelar sedang bermesraan dengan Rima di apartemen rahasianya, kini berdiri
Waktu seolah terbang begitu cepat di tengah balutan kebahagiaan yang mereka bangun di Yogyakarta. Tanpa terasa, tujuh hari telah berlalu sejak kedatangan mereka di kota ini. Agenda bulan madu yang awalnya terasa begitu panjang, kini sudah mendekati garis akhir. Di dalam kamar Diamond Suite, Bita sedang melipat beberapa pakaian dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, sementara Gelar sedang sibuk memeriksa jadwal kepulangan mereka melalui ponselnya."Mas, tidak terasa ya? Lusa kita sudah harus kembali ke Jakarta. Aku mulai rindu berat pada Thomas dan Thomson," ujar Bita sambil memasukkan oleh-oleh mainan kayu ke dalam koper.Gelar berjalan mendekat, memeluk bahu istrinya dari samping. "Aku juga, Sayang. Jakarta sudah menunggu kita, begitu juga dengan anak-anak. Tapi aku janji, kehidupan kita di sana tidak akan lagi penuh tekanan seperti dulu. Aku akan memastikan kalian aman dan bahagia."Namun, takdir yang manis itu mendadak berubah menjadi pahit dalam sekejap mata. Sore hari, menj
Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan mereka di kota gudeg ini. Dari rencana awal satu minggu agenda bulan madu yang telah disusun rapi oleh tim asisten Gelar, sebagian besar waktu justru mereka habiskan di dalam kedapnya dinding Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Ruangan mewah itu telah menjadi saksi bisu bagaimana dua jiwa yang lama dahaga akan kasih sayang saling menuntaskan rindu dengan cara yang paling primitif sekaligus paling suci.Pagi itu, Bita berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk kendaraan yang mulai memenuhi jalanan di bawah sana. Ia merasa fisiknya sedikit letih, namun hatinya jauh lebih tenang. Trauma yang di awal berangkat sempat menyergap kini perlahan terkikis oleh perhatian dan kasih sayang tanpa henti yang diberikan Gelar.Gelar menghampirinya, mengenakan jubah mandi putih yang senada dengan milik Bita. Ia memeluk istrinya dari belakang, menciumi pundaknya yang masih menyisakan beberapa tanda kemerahan akibat percintaan mereka semalam. "Bita, ini sudah
Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam dinding-dinding mewah Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Setelah tiga jam tenggelam dalam lautan gairah yang meluap-luap sejak fajar menyingsing, Bita akhirnya terjaga saat matahari sudah berada tepat di atas kepala. Tubuhnya terasa lemas namun ringan, sebuah perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Di sampingnya, Gelar sudah terjaga lebih dulu, bersandar pada tumpukan bantal sambil menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan kemenangan dan cinta yang tak terukur."Selamat siang, Nyonya Aditama. Apakah tidurmu nyenyak setelah petualangan panjang kita pagi tadi?" tanya Gelar dengan suara bariton yang serak namun terdengar sangat lembut.Suara itu mengingatkan Bita saat pertama kali mereka bertemu dan berkenalan 5 tahun yang lalu. Kalau itu Bita langsung terkesan mendengar suara bariton Gelar Aditama yang menurutnya sangat dewasa dan bernuansa mengayomi.Bita hanya bisa tersenyum malu-malu, menarik ujung selimut untuk menutupi dada
Gelar merasakan darahnya berdesir hebat saat jemari Bita bertautan di tengkuknya. Binar kekaguman di mata Gelar perlahan berubah menjadi api gairah yang dalam dan gelap, namun tetap sarat dengan pemujaan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Bita, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Aroma parfum vanilla yang 'gurih' bercampur dengan wangi alami kulit Bita seolah menjadi candu yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri Gelar."Bita... kamu benar-benar ingin menyiksaku, hm?" bisik Gelar dengan suara serak, napasnya terasa panas di permukaan kulit pipi Bita.Bita tidak menjawab, namun ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gelar, menghirup aroma maskulin yang selama lima tahun ini hanya mampu ia bayangkan dalam mimpi. "Aku hanya ingin menjadi milikmu seutuhnya, Mas. Tanpa ada bayang-bayang siapa pun lagi. Aku ingin kamu menghapus semua ketakutanku," jawab Bita dengan suara yang bergetar namun penuh determinasi.Gelar tidak menunggu lebih lam
Pagi menyapa Yogyakarta dengan cahaya matahari yang menyelinap malu-malu di balik tirai sutra Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Udara pegunungan yang terbawa hingga ke jantung kota memberikan kesegaran tersendiri bagi siapa pun yang menghirupnya. Gelar terbangun lebih dulu, menatap wajah Bita yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Meskipun malam tadi mereka tidak melakukan hal sakral yang biasa dilakukan pasangan pengantin baru pada umumnya, Gelar sama sekali tidak merasa kecewa. Baginya, bisa melihat Bita bernapas dengan tenang tepat di sampingnya sudah merupakan kemenangan terbesar dalam hidupnya.Perlahan, Bita membuka matanya. Ia tersenyum tipis saat mendapati Gelar sedang menatapnya tanpa kedip. "Sejak kapan Mas bangun?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur yang justru terdengar sangat seksi di telinga Gelar."Cukup lama untuk menyadari betapa beruntungnya aku memilikimu kembali," jawab Gelar sambil mengecup kening Bita lembut.Bita beranjak dari tempat tidur dengan seman







