LOGINKekey tampak sedang bersembunyi di dalam lemari pakaiannya yang besar, duduk di antara tumpukan baju sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Cahaya dari layar tablet menyinari wajah cerianya yang penuh rahasia."Papa!" bisik Kekey pelan, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Fahmi jangan berisik. "Papa, kok Papa nggak pulang-pulang? Kekey kangen!"Fahmi seolah kehilangan kata-kata. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Ia menoleh ke arah Rina dan Bram, lalu kembali menatap layar ponselnya. Kekey tampak sehat walafiat. Tidak ada tanda-tanda sakit sedikit pun, apalagi demam tinggi yang membuatnya mengigau."Kekey ... Sayang ... kamu nggak apa-apa, Nak? Kamu nggak sakit?" tanya Fahmi dengan suara bergetar hebat, antara lega luar biasa dan amarah yang mulai menyulut di dasar hatinya, karena merasa telah dibohongi babysister.Kekey menggeleng dengan polosnya. "Nggak, Pa. Tapi tadi Mama sama Mbak Yati suruh Kekey tidur, terus ditaruh tempelan di jidat Kek
Fahmi menatap manik mata Rina dengan saksama. Ada getaran hebat di sana, sebuah ketakutan akan kehilangan yang begitu nyata. Namun, Fahmi tahu bahwa membawa Rina kembali ke Jakarta saat ini sama saja dengan menyerahkan wanita itu kembali ke dalam sangkar emas Ervan yang beracun."Rin, dengar aku," suara Fahmi merendah, mencoba memberikan ketenangan di tengah badai emosi yang berkecamuk. "Kalau kamu ikut aku sekarang, kita berdua dalam bahaya besar. Jakarta itu wilayah Ervan. Begitu kamu menginjakkan kaki di sana, dia akan langsung tahu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa setelah sejauh ini kita berjuang.""Tapi aku takut, Fahmi... Aku takut ini terakhir kalinya aku bisa pegang tangan kamu," isak Rina. Air matanya jatuh mengenai punggung tangan Fahmi yang masih menangkup wajahnya. Rasa hangat air mata itu seolah membakar kulit Fahmi, menyalurkan kepedihan yang mendalam.Fahmi menggeleng perlahan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga. "Aku janji cuma sebentar. Begitu aku pastikan Kekey b
Ketukan di jendela itu seolah bergaung di dalam kepala Bram, memicu detak jantung yang kian tak beraturan. Di kursi belakang, Fahmi segera menarik Rina untuk merunduk lebih rendah, hingga tubuh mereka nyaris rata dengan jok mobil. Keheningan di dalam kabin begitu pekat, hanya menyisakan deru nafas yang tertahan.Fahmi bersuara lirih tepat di telinga Rina, suaranya sangat kecil namun tegas. "Bram, menurutku lebih baik kamu buka saja jendelanya sedikit. Jangan sampai bapak itu curiga dan malah memanggil orang lain. Aku dan Rina sembunyi di bawah sini, jangan biarkan dia melihat ke belakang."Bram menelan ludah, tangannya yang gemetar perlahan meraih tombol power window. Kaca jendela itu turun perlahan, menyisakan celah yang cukup untuk melihat wajah pria di luar. Hawa dingin kabut pagi Sukabumi merangsek masuk, membawa aroma tanah basah.Wajah pria itu mendekat. Guratan-guratan di kulitnya yang terbakar matahari tampak jelas. Awalnya terlihat seram di bawah tudung jas hujan plastik, nam
Fahmi tidak menjawab peringatan Rina. Bibirnya terkatup rapat, menciptakan garis tegas yang menyiratkan beban pikiran yang luar biasa berat. Namun, genggaman tangannya pada jemari Rina berbicara jauh lebih banyak dari pada kata-kata. Ia meremas tangan wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, realitas pahit tentang Kekey yang demam akan menyeretnya pulang dan memisahkannya dari Rina selamanya.Mereka bergerak seperti bayangan di antara barisan pohon karet yang batangnya tampak putih pucat tersapu kabut pagi. Tanah merah yang becek akibat hujan semalam membuat langkah mereka terasa berat, namun adrenalin yang memompa di setiap detak jantung membuat rasa lelah itu seolah mati rasa.Bram berada di paling depan, bergerak dengan sangat taktis. Sesekali ia berhenti, mengangkat tangannya memberi kode agar Fahmi dan Rina membeku di tempat. Telinganya tajam menangkap setiap suara patahan ranting, kepakan sayap burung, hingga deru motor yang sayup-sayup t
Di tangan Fahmi, ponsel itu masih terasa panas, seolah-olah gema suara Mbak Yati dan rintihan palsu Kekey masih tertinggal di sana.Fahmi melangkah kembali ke kamar dengan bahu yang merosot. Di ambang pintu, ia melihat Rina sudah duduk di tepi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, sisa-sisa kebahagiaan semalam masih membekas di wajahnya yang cantik, namun matanya langsung menyipit saat melihat wajah Fahmi yang pucat pasi."Fahmi? Ada apa? Kamu kelihatan ... kusut banget. Ada masalah lagi?" tanya Rina lembut. Ia berdiri, menghampiri Fahmi dan menyentuh lengan pria itu. "Tadi ada telepon?"Fahmi menatap mata Rina. Ia ingin berbohong. Ia ingin mengatakan semuanya baik-baik saja agar mereka bisa menikmati sisa waktu di persembunyian ini. Namun, ia tahu ia tidak bisa. Kejujuran adalah satu-satunya pondasi yang mereka miliki di tengah badai ini."Mbak Yati telepon, Rin," suara Fahmi serak. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang sesak. "Kekey ... Kekey sakit demam tingg
"Anu, Pak ... Kekey. Kekey sakit dari semalam. Demamnya tinggi sekali, Pak. Dia mengigau terus, panggil-panggil 'Papa ... Papa ...'. Saya takut, Pak," ucap Mbak Yati dengan suara yang pecah oleh isak tangis. Suasana di latar belakang telepon itu terdengar sunyi yang mencekam, hanya menyisakan suara hembusan nafas Mbak Yati yang tidak beraturan.Harapan dan kedamaian yang baru saja Fahmi rasakan bersama Rina di kamar sebelah mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. "Sakit? Kekey sakit apa? Sudah dibawa ke dokter?" tanya Fahmi beruntun. Suaranya gemetar, ada kepanikan yang luar biasa yang kini menguasai nadinya."Belum, Tuan. Nyonya ... Mm ... Nyonya bilang tunggu Papanya Kekey pulang saja. Katanya cuma Papa yang bisa bikin Kekey tenang. Tapi Kekey badannya panas sekali, Tuan. Ini, Tuan lihat sendiri," ucap Mbak Yati lirih sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah ranjang kecil Kekey.Di layar ponsel yang kini jernih karena siny







