Mag-log inKeheningan di dalam villa kayu itu terasa lebih menusuk dari pada angin malam yang merayap masuk lewat celah pintu. Rina berdiri mematung di belakang tubuh Fahmi, jemarinya mencengkeram erat pinggiran jaket parka milik Fahmi. Dunianya seolah jungkir balik saat melihat pria yang duduk di sofa kulit itu.Pria itu bangkit berdiri. Perawakannya tegap, dengan rambut sedikit gondrong yang diikat asal-asalan. Ia mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi kemeja flanel terbuka. Wajahnya memiliki garis rahang yang serupa dengan Ervan, namun dengan sorot mata yang jauh lebih liar dan bebas."Bram?" sapa Fahmi, suaranya mengandung kelegaan namun juga keheranan. "Katanya kamu di luar kota? Tadi aku telepon nggak diangkat."Pria bernama Bram itu tersenyum tipis. "Jadwal pemotretan batal karena cuaca buruk, Mi. Ponselku mati kehabisan baterai." Pandangannya kemudian beralih ke arah Rina. Ada kilatan aneh di matanya. Sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu.Bram menatap Rina cukup lama. Matan
Hening kembali merayap, jauh lebih menyesakkan daripada suara raungan mesin mobil tadi. Ponsel di tangan Rina terasa seperti bongkahan es yang membekukan jemarinya. Ancaman Ervan bukan sekadar gertakan kosong, itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja ingin mereka bangun."Fahmi ... dia benar-benar akan melakukannya," bisik Rina, suaranya pecah. Ia menatap Fahmi dengan mata yang basah oleh air mata yang baru. "Penculikan ... membawa kabur istri orang ... Itu hukuman penjara, Mi. Kariermu sebagai penulis, namamu, semuanya akan hancur hanya karena aku."Rina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang tertahan. "Turunkan aku di depan, Mi. Biarkan aku kembali. Aku tidak mau menghancurkan hidupmu. Biar aku saja yang membusuk di rumah itu, asal kamu tetap aman."Fahmi terdiam sejenak, menatap lurus ke arah kegelapan di depan kaca mobil. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu bergeser mendekat ke arah Rina. Ia menarik tangan Rina d
Raungan mesin mobil SUV Fahmi membelah kesunyian jalan tol yang lengang. Di belakangnya, sepasang lampu depan mobil sedan mewah milik Ervan tampak seperti mata monster yang sedang kelaparan, terus mendekat dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ervan mengemudi seperti orang gila, seolah ia tidak peduli lagi jika mobilnya harus terguling asalkan ia bisa menghentikan pelarian Rina."Dia gila, Mi! Dia benar-benar mengejar kita!" teriak Rina sembari mencengkeram pegangan di atas pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya terus melirik ke spion samping.Fahmi tidak menjawab. Rahangnya mengeras, urat-urat di tangannya menonjol saat ia memutar kemudi untuk menyalip sebuah truk besar di depannya. Ia melirik speedometer yang kini sudah menyentuh angka 140 km/jam. Getaran mobil terasa hingga ke tulang, namun Fahmi tidak menurunkan kecepatannya."Pegang yang kuat, Rin. Aku tahu apa yang harus kulakukan," ucap Fahmi dengan suara rendah yang berusaha menenangkan.Di belakang mereka, Ervan terus mengklaks
“Pokoknya ikut saja dulu … Ayo ….”Rina mengangguk patuh. Saat ini, ia tidak punya kekuatan untuk berpikir atau menentukan arah. Ia hanya ingin mengikuti ke mana pun Fahmi membawanya. Baginya, ke mana pun Fahmi melangkah, itulah arah keselamatannya."Cepat, Rin. Jangan sampai Ervan melihat kamu ikut denganku," ucap Fahmi sembari mempercepat langkah. Matanya waspada menyisir jalanan di belakang mereka. "Bukannya aku takut sama dia. Tapi aku cuma mikirin kamu. Kalau dia melihat ini, dia pasti akan semakin brutal padamu, dan aku nggak mau kamu terluka lagi."Rina hampir berlari kecil mengikuti langkah lebar Fahmi. Ketakutan itu masih ada, membayangi setiap jengkal langkahnya. Ia bisa membayangkan wajah merah padam Ervan jika suaminya itu menyadari bahwa "miliknya" benar-benar telah dicuri oleh pria yang paling ia benci."Iya, Mi ... aku mengerti," sahut Rina parau. "Tapi ... kita mau ke mana? Kamu nggak bisa membawaku ke rumahmu, kan? Ada Aqila di sana."Fahmi berhenti tepat di depan pin
"Rin, ini aku ...."Suara itu. Suara bariton yang tenang, berat, dan selalu berhasil memberikan rasa aman itu seketika memecah kabut ketakutan yang menyelimuti pikiran Rina. Rina perlahan membuka matanya. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, ia melihat wajah Fahmi. Wajah yang juga tak kalah berantakan dengan sudut bibir yang pecah dan luka memar di pipi akibat pukulan Ervan tadi. Namun sorot matanya tetap memancarkan kehangatan yang sama.Rina langsung berhenti meronta. Tubuhnya yang tadi kaku seperti es mendadak mencair. Ia menatap Fahmi yang kini sudah setengah masuk ke dalam taksi, menghalangi pintu agar tidak tertutup. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling bertatapan dalam diam. Rina bisa melihat kekhawatiran yang luar biasa di mata Fahmi, sementara Fahmi bisa melihat kehancuran di wajah Rina.Tanpa aba-aba, Rina menghambur ke pelukan Fahmi. Ia tidak peduli lagi pada sopir taksi yang menonton dengan bingung, tidak peduli pada air yang masih sedikit menetes dari ra
Fahmi berdiri di tengah ruang tamu, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia sengaja menekan suaranya sedalam mungkin agar tidak menimbulkan kebisingan yang bisa membangunkan Kekey. Namun, bagi Aqila, ketenangan Fahmi justru menjadi bahan bakar untuk meledakkan amarahnya lebih besar lagi."Kenapa? Takut anakmu dengar?" tantang Aqila dengan suara melengking. Ia berdiri dengan berkacak pinggang, masih mengenakan gaun yang sama dengan yang ia pakai di perjamuan maut tadi. "Bagus kalau dia dengar! Biar dia tahu kalau Papanya lebih memilih membela Pelakor dari pada menjaga harga diri istrinya sendiri!""Jaga bicaramu, Aqila," desis Fahmi. Matanya menatap tajam, penuh kilat peringatan. "Jangan bawa-bana Kekey ke dalam urusan ini. Dan jangan pernah menyebut Rina dengan sebutan itu."Aqila tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Oh, lihatlah! Sang pahlawan sedang membela permaisurinya. Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tidak tahu apa arti kalung itu? Kamu memberikan k







