Masuk"Anu, Pak ... Kekey. Kekey sakit dari semalam. Demamnya tinggi sekali, Pak. Dia mengigau terus, panggil-panggil 'Papa ... Papa ...'. Saya takut, Pak," ucap Mbak Yati dengan suara yang pecah oleh isak tangis. Suasana di latar belakang telepon itu terdengar sunyi yang mencekam, hanya menyisakan suara hembusan nafas Mbak Yati yang tidak beraturan.Harapan dan kedamaian yang baru saja Fahmi rasakan bersama Rina di kamar sebelah mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. "Sakit? Kekey sakit apa? Sudah dibawa ke dokter?" tanya Fahmi beruntun. Suaranya gemetar, ada kepanikan yang luar biasa yang kini menguasai nadinya."Belum, Tuan. Nyonya ... Mm ... Nyonya bilang tunggu Papanya Kekey pulang saja. Katanya cuma Papa yang bisa bikin Kekey tenang. Tapi Kekey badannya panas sekali, Tuan. Ini, Tuan lihat sendiri," ucap Mbak Yati lirih sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah ranjang kecil Kekey.Di layar ponsel yang kini jernih karena siny
Fahmi melumat bibir Rina dengan penuh kelembutan, sebuah ciuman yang tidak lagi terburu-buru oleh rasa takut atau kepanikan. Ini adalah ciuman yang menuntut pengakuan atas perasaan yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik dinding kepura-puraan. Tidak ada lagi ketergesaan pelarian, yang ada hanyalah kerinduan yang akhirnya menemukan muaranya.Rina membalasnya dengan intensitas yang sama, seolah seluruh tenaganya ia tumpahkan dalam sentuhan itu. Tangannya yang melingkar di leher Fahmi menarik pria itu semakin dekat, merapatkan tubuh mereka hingga ia bisa merasakan detak jantung Fahmi yang berdegup kencang, seirama dengan miliknya. Di atas kasur kapuk yang sesekali berderit karena pergerakan mereka, segalanya terasa begitu jujur. Di dalam gubuk kayu di tengah perkebunan karet itu, semua label sosial luruh seketika. Tidak ada lagi "istri dokter ternama" yang harus menjaga martabat, tidak ada lagi "penulis yang sedang naik daun" yang harus menjaga citra. Yang ada hanyalah dua
"Kamu istirahat ya, Rin. Aku akan berjaga di sampingmu," bisik Fahmi dengan nada suara yang begitu lembut, hampir menyerupai desau angin malam. Ia membungkuk, mencoba merapikan bantal yang sudah agak mengeras agar Rina bisa mendapatkan sedikit kenyamanan yang layak.Namun, Rina tidak segera berbaring. Tangannya yang lembut itu justru terjulur, meraih pergelangan tangan Fahmi dengan genggaman yang kuat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, pria itu akan menguap menjadi kabut. Rina menariknya perlahan, memberi isyarat agar Fahmi duduk di tepi ranjang bersamanya. Matanya yang jernih, yang kini memantulkan binar lampu pijar, menatap Fahmi dengan intensitas yang membuat jantung pria itu bergedup lebih kencang, lebih liar dari pada saat mereka berlari menghindari kejaran anak buah Ervan."Jangan berjaga di luar, Fahmi. Aku butuh kamu di sini ... tepat di dekatku," ucap Rina lirih. Suaranya mengandung kerentanan yang dalam, sebuah permohonan dari jiwa yang telah lama terkoyak ol
Ervan melepaskan cengkeramannya dari rahang Claudia dengan sentakan kasar, seolah-olah kulit wanita itu baru saja membakar telapak tangannya. Ia berbalik memunggungi Claudia, napasnya memburu berat dan tidak beraturan, menciptakan siluet yang tegang dan mengerikan di bawah temaram lampu penginapan yang berkedip-kedip. Bahunya yang lebar tampak naik turun, menahan badai emosi yang siap meledak kapan saja.Keheningan yang mengikuti begitu dalam. Jenis keheningan yang membuat telinga berdenging. Claudia tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mengusap rahangnya yang kini memerah dan terasa sedikit berdenyut, namun matanya tidak lepas dari punggung Ervan. Pertanyaannya tadi, tentang apa yang sebenarnya disembunyikan Ervan hingga ia begitu alergi pada polisi, menggantung di udara seperti bom waktu yang detiknya terus berjalan. Claudia tahu dia telah menyentuh saraf yang sangat sensitif."Aku tidak punya rahasia apa pun," sahut Ervan akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang
Keheningan di dalam kamar itu terasa begitu berat, seolah udara mendadak membeku meski hujan di luar sana masih mengguyur deras. Suara rintik yang menghantam atap seng menciptakan irama monoton yang justru menambah ketegangan. Fahmi masih berdiri kaku, matanya tidak lepas dari sosok Pak Jaja yang masih menatap ke jendela, membelakangi mereka.Fahmi meremas jemari Rina yang dingin. Di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan skenario terburuk. Jika Pak Jaja menolak, ia akan meminta Bram membawa Rina lari lewat jendela sementara ia akan keluar menemui warga dan menyerahkan diri untuk mengulur waktu. Apapun, asal Rina selamat."Dua ratus juta ya ...." Pak Jaja berbalik perlahan. Ia menatap Fahmi dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu beralih menatap Rina yang wajahnya masih sembab.Fahmi mengangguk cepat. "Saya akan pastikan uang itu masuk ke rekening Bapak besok pagi. Tolong, Pak. Hanya Bapak harapan kami sekarang."Pak Jaja terdiam cukup lama, seolah ada peperangan besar di dalam kepal
Langkah kaki di teras rumah itu mendadak berhenti. Suara gesekan jas hujan plastik milik anak buah Pak Jaja terdengar sangat nyata di telinga Bram yang berdiri hanya beberapa inci dari balik pintu."Pak Jaja! Bagaimana? Ada yang mencurigakan di dalam?" teriak suara dari luar, menembus dinding papan yang tipis.Pak Jaja masih membungkuk, matanya terkunci pada tatapan memohon Rina dan sikap siaga Fahmi di bawah kolong ranjang. Tangannya yang memegang sprei tampak bergetar sedikit. Sedetik kemudian, ia berdiri tegak, menyembunyikan wajah Fahmi dan Rina kembali di balik kain kusam itu."Kosong! Tidak ada siapa-siapa di sini!" sahut Pak Jaja dengan suara lantang, berusaha menutupi getaran di tenggorokannya. "Kalian pergilah dulu ke arah gudang bawah. Periksa area sana. Aku mau mencari korek apiku yang jatuh di sekitar sini tadi. Nanti aku menyusul!""Tapi Pak, anjingnya tadi seperti mengendus sesuatu di pintu belakang," sela anak buahnya ragu."Sudah, jangan banyak tanya! Mungkin cuma bau







