Share

Ervan amat murka!

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2025-12-27 19:05:18
"Kurang ajar kamu! Aku ini suamimu! Aku yang menghidupimu!" Ervan berteriak kalap. Sebagai pria dengan ego setinggi langit, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia disamakan dengan istrinya. Baginya, perselingkuhannya adalah hak, sementara perselingkuhan Rina adalah dosa besar yang tak termaafkan.

Aqila yang menonton dari kursinya tersenyum sinis. Ia merasa sangat puas melihat Rina ditampar. Baginya, itulah hukuman yang pantas bagi wanita yang mencoba merebut 'miliknya', meskipun ia sendiri sejak dulu tidak pernah menghargai keberadaan Fahmi.

Namun, kepuasan Aqila tidak bertahan lama.

Fahmi, yang sejak tadi menahan diri agar tidak memperkeruh suasana, akhirnya meledak melihat Rina disakiti di depan matanya. Dengan langkah seribu, ia menerjang Ervan.

"Jangan pernah sentuh dia dengan tangan kotormu!" seru Fahmi.

BUGH!

Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Ervan, membuat Dokter bedah itu tersungkur menabrak meja makan. Gelas-gelas kristal pecah berserakan, cairan anggur merah tum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Rasa bersalah pada Kekey

    Ketukan di jendela itu seolah bergaung di dalam kepala Bram, memicu detak jantung yang kian tak beraturan. Di kursi belakang, Fahmi segera menarik Rina untuk merunduk lebih rendah, hingga tubuh mereka nyaris rata dengan jok mobil. Keheningan di dalam kabin begitu pekat, hanya menyisakan deru nafas yang tertahan.Fahmi bersuara lirih tepat di telinga Rina, suaranya sangat kecil namun tegas. "Bram, menurutku lebih baik kamu buka saja jendelanya sedikit. Jangan sampai bapak itu curiga dan malah memanggil orang lain. Aku dan Rina sembunyi di bawah sini, jangan biarkan dia melihat ke belakang."Bram menelan ludah, tangannya yang gemetar perlahan meraih tombol power window. Kaca jendela itu turun perlahan, menyisakan celah yang cukup untuk melihat wajah pria di luar. Hawa dingin kabut pagi Sukabumi merangsek masuk, membawa aroma tanah basah.Wajah pria itu mendekat. Guratan-guratan di kulitnya yang terbakar matahari tampak jelas. Awalnya terlihat seram di bawah tudung jas hujan plastik, nam

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Berusaha lolos

    Fahmi tidak menjawab peringatan Rina. Bibirnya terkatup rapat, menciptakan garis tegas yang menyiratkan beban pikiran yang luar biasa berat. Namun, genggaman tangannya pada jemari Rina berbicara jauh lebih banyak dari pada kata-kata. Ia meremas tangan wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, realitas pahit tentang Kekey yang demam akan menyeretnya pulang dan memisahkannya dari Rina selamanya.Mereka bergerak seperti bayangan di antara barisan pohon karet yang batangnya tampak putih pucat tersapu kabut pagi. Tanah merah yang becek akibat hujan semalam membuat langkah mereka terasa berat, namun adrenalin yang memompa di setiap detak jantung membuat rasa lelah itu seolah mati rasa.Bram berada di paling depan, bergerak dengan sangat taktis. Sesekali ia berhenti, mengangkat tangannya memberi kode agar Fahmi dan Rina membeku di tempat. Telinganya tajam menangkap setiap suara patahan ranting, kepakan sayap burung, hingga deru motor yang sayup-sayup t

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Celaka

    Di tangan Fahmi, ponsel itu masih terasa panas, seolah-olah gema suara Mbak Yati dan rintihan palsu Kekey masih tertinggal di sana.Fahmi melangkah kembali ke kamar dengan bahu yang merosot. Di ambang pintu, ia melihat Rina sudah duduk di tepi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, sisa-sisa kebahagiaan semalam masih membekas di wajahnya yang cantik, namun matanya langsung menyipit saat melihat wajah Fahmi yang pucat pasi."Fahmi? Ada apa? Kamu kelihatan ... kusut banget. Ada masalah lagi?" tanya Rina lembut. Ia berdiri, menghampiri Fahmi dan menyentuh lengan pria itu. "Tadi ada telepon?"Fahmi menatap mata Rina. Ia ingin berbohong. Ia ingin mengatakan semuanya baik-baik saja agar mereka bisa menikmati sisa waktu di persembunyian ini. Namun, ia tahu ia tidak bisa. Kejujuran adalah satu-satunya pondasi yang mereka miliki di tengah badai ini."Mbak Yati telepon, Rin," suara Fahmi serak. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang sesak. "Kekey ... Kekey sakit demam tingg

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Rencana licik Aqila

    "Anu, Pak ... Kekey. Kekey sakit dari semalam. Demamnya tinggi sekali, Pak. Dia mengigau terus, panggil-panggil 'Papa ... Papa ...'. Saya takut, Pak," ucap Mbak Yati dengan suara yang pecah oleh isak tangis. Suasana di latar belakang telepon itu terdengar sunyi yang mencekam, hanya menyisakan suara hembusan nafas Mbak Yati yang tidak beraturan.Harapan dan kedamaian yang baru saja Fahmi rasakan bersama Rina di kamar sebelah mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. "Sakit? Kekey sakit apa? Sudah dibawa ke dokter?" tanya Fahmi beruntun. Suaranya gemetar, ada kepanikan yang luar biasa yang kini menguasai nadinya."Belum, Tuan. Nyonya ... Mm ... Nyonya bilang tunggu Papanya Kekey pulang saja. Katanya cuma Papa yang bisa bikin Kekey tenang. Tapi Kekey badannya panas sekali, Tuan. Ini, Tuan lihat sendiri," ucap Mbak Yati lirih sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah ranjang kecil Kekey.Di layar ponsel yang kini jernih karena siny

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Kekey sakit

    Fahmi melumat bibir Rina dengan penuh kelembutan, sebuah ciuman yang tidak lagi terburu-buru oleh rasa takut atau kepanikan. Ini adalah ciuman yang menuntut pengakuan atas perasaan yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik dinding kepura-puraan. Tidak ada lagi ketergesaan pelarian, yang ada hanyalah kerinduan yang akhirnya menemukan muaranya.Rina membalasnya dengan intensitas yang sama, seolah seluruh tenaganya ia tumpahkan dalam sentuhan itu. Tangannya yang melingkar di leher Fahmi menarik pria itu semakin dekat, merapatkan tubuh mereka hingga ia bisa merasakan detak jantung Fahmi yang berdegup kencang, seirama dengan miliknya. Di atas kasur kapuk yang sesekali berderit karena pergerakan mereka, segalanya terasa begitu jujur. Di dalam gubuk kayu di tengah perkebunan karet itu, semua label sosial luruh seketika. Tidak ada lagi "istri dokter ternama" yang harus menjaga martabat, tidak ada lagi "penulis yang sedang naik daun" yang harus menjaga citra. Yang ada hanyalah dua

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sentuhan yang kini terasa bebas

    "Kamu istirahat ya, Rin. Aku akan berjaga di sampingmu," bisik Fahmi dengan nada suara yang begitu lembut, hampir menyerupai desau angin malam. Ia membungkuk, mencoba merapikan bantal yang sudah agak mengeras agar Rina bisa mendapatkan sedikit kenyamanan yang layak.Namun, Rina tidak segera berbaring. Tangannya yang lembut itu justru terjulur, meraih pergelangan tangan Fahmi dengan genggaman yang kuat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, pria itu akan menguap menjadi kabut. Rina menariknya perlahan, memberi isyarat agar Fahmi duduk di tepi ranjang bersamanya. Matanya yang jernih, yang kini memantulkan binar lampu pijar, menatap Fahmi dengan intensitas yang membuat jantung pria itu bergedup lebih kencang, lebih liar dari pada saat mereka berlari menghindari kejaran anak buah Ervan."Jangan berjaga di luar, Fahmi. Aku butuh kamu di sini ... tepat di dekatku," ucap Rina lirih. Suaranya mengandung kerentanan yang dalam, sebuah permohonan dari jiwa yang telah lama terkoyak ol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status