LOGIN"Hujan bukan hanya menimbulkan genangan, tetapi juga membangkitkan kenangan". Sayangnya kenangan yang cukup susah dihapus oleh Sakhi, justru kembali disuguhkan saat ia mulai belajar ikhlas. "Nggak masalah sementara jagain jodoh orang, asal kamu yang bawa aku ke pelaminan". Ucapan saat remaja dulu sepertinya akan segera diwujudkan Kama sang pria idaman. Sayangnya, Keenan akan selalu hadir di tengah kisah mereka sebagai mantan terindah Sakhi, sekaligus rival terberat Kama. Kembali ke mantan yang selalu ada saat dibutuhkan, ataukah mengambil kesempatan kedua untuk bersanding dengan sang pujaan? Dijamin baper sama ke-uwuwan dan keabsurdan 3 makhluk ini.
View MoreSuasana menjadi sedikit canggung. Bagaimanapun Erlan adalah kakak Sakhi. Meski mereka cukup dekat, tetapi tidak dalam membahas hal-hal pribadi juga intim seperti ciuman atau aktivitas berpacaran lainnya."Kenapa lo, Yik? Santuy aja, gue masih waras buat ngelaporin kelakuan lo ama dosen cabul ke Mama," seru Erlan sambil melirik Kama dengan ekor matanya.”Mampus! Abang beneran lihat,” batin Sakhi."Eh, itu kenapa pada kompak, sih, Pak Kama sama Bang Erlan?" tanya Mayra tiba-tiba.Sakhi menatap Erlan dan Kama bergantian. Benar saja, sudut bibir mereka sama-sama ada bekas luka kecil."Abang berdua abis berantem?" tanya Sakhi to the point."Biar dosen lo tahu adat, nggak main nyosor anak perawan di pinggir jalan," tuka Erlan sambil menggeser mangkok mie ayam yang baru datang.Sakhi bergeming, ia tak bisa berucap apapun. Bukan kesalahan Kama sepenuhnya, toh dia juga tak menghindar atau menolak kala Kama menciumnya. Sayangn
Sampai di pelataran parkiran, Sakhi sudah melihat Keenan yang berdiri sambil bersandar di bagian depan kap mobilnya. Memandang lurus ke arah mobil Kama yang baru saja datang dan tengah bersiap parkir. Sakhi melirik sekilas ke arah Kama. Tak ada yang berubah, masih dengan sikapnya yang tenang, bahkan ia masih sempat mengulas senyum ke arah Sakhi sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda wanita pujaannya. Sakhi hanya bisa tersipu dengan pipi merona dengan sikap Kama tersebut. Sungguh jauh dari sosok Kama yang selama ini dikenalnya. Dingin, datar dan cenderung kaku ketika berada di luar rumah. Sakhi tak menyangka jika lelaki itu bisa bersikap lembut, manis bahkan sedikit norak. Aah ... Sakhi harus merasakan jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada sosok pria yang sama. Namun sekarang, ia harus memikirkan bagaimana harus menghadapai Keenan. "Jangan takut, bersikap biasa aja! Keenan juga nggak akan kelihatan kalau kamu kasih Abang sedikit senyuman manis kamu, Dek
Setelah drama keributan antara Erlan dan Sakhi, keluarga Nugraha beserta Kama salat Subuh berjamaah dan setelahnya para lelaki berkumpul di ruang tengah. Sementara Mama Mayang dan juga Sakhi berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Tidak ada lagi rasa canggung dalam interaksi Kama dengan keluarga Nugraha. Bahkan untuk sesaat ia sudah membayangkan bagaimana bahagianya jika ia benar-benar menjadi menantu di keluarga ini. Pukul 05.30 Kai tiba-tiba muncul dari kamar Sakhi dan mencari Sang Mimma. "Mimma, Kai sudah bangun!" Sakhi yang mendengar suara Kai segera menghampiri. Ia langsung mencium gemas pipi gembil bocah 5 tahun itu. Segera diajaknya Kai mandi dan mengganti bajunya dengan baju yang ada di mobil Kama. Sarapan berjalan dengan tenang, bahkan Kai juga sudah duduk dan makan sendiri tanpa dipangku atau disuapi oleh Sakhi lagi. Sesaat setelah sarapan usai, Pak Bagas berpamitan berangkat ke kantor bersama Erlan. Sementara Sakhi, sud
Setelah sempat bersi tegang dengan Erlan, akhirnya Kama mulai mencoba menguasai emosinya. Semua sudah terlanjur terjadi. Benar kata Erlan tidak ada yang bisa diubah, tetapi bisa diperbaiki. Mungkin, Kama harus mempertimbangkan tawaran sahabatnya itu untuk menjadikannya kandidat terkuat calon suami Sakhi. "Trus, apa rencana lo?" Masih dengan tatapan menghunus, Kama bertanya pada Erlan. "Aelah, tertarik juga, kan Lo! Issh ... gitu pake ngebogem gue segala lagi," jawab Erlan Santai. Sesaat kemudian dua pria dewasa itu justru terbahak bersama. Seolah tengah menertawakan kebodohan mereka di masa lalu dan beberapa saat lalu. Kama meninju bahu Erlan pelan dan meminta maaf. "Sory!" "It's ok, mumpung lo belum resmi jadi adek ipar gue," seloroh Erlan dengan cengiran khas yang nampak seperti bocah. Erlan mengalihkan pandangan ke diary berwarna biru yang berada di tangan Kama. Sesaat kemudian Kama pun mengikuti arah pandang sahabatnya tersebut. Ia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews