Share

Bab 101 - Renov Ruko Sendiri

Author: Ve
last update publish date: 2026-10-24 21:58:55

Pagi ini Blok C No 12 terang tapi kompor mati lagi. Dua hari berturut-turut gak goreng.

Bukan karena males. Karena mau bongkar ruko.

Velia, Arga, Bima yang udah kelas lima, sama Arka yang udah umur dua tahun pas, berempat jalan kaki ke depan SD. Gak naik motor listrik. Jalan kaki sambil gendong ember, cat, sama kuas.

Ruko biru merah yang kemarin baru dibeli seratus juta itu kelihatan jelek kalau diliat deket-deket. Catnya ngelotok, atapnya bocor di pojok, lantai semennya pecah-pecah. Dulu sewa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Nikah dengan Komandan Duda Arogan   Bab 103 - Tabungan Kuliah Bima

    Di ruko biru merah yang catnya masih wangi, ada kaleng baru.Kalengnya warna biru, bekas biskuit lebaran kemarin. Tapi tulisannya baru, tulisan Bima kelas lima pakai spidol hitam tebel: TABUNGAN KULIAH BIMAVelia yang nyuruh ganti tulisan. Dulu tulisannya TABUNGAN RUKO, sekarang ruko udah kebeli seratus juta, jadi ganti.Pagi jam dua, sebelum siram kebun, Bima buka kaleng itu dulu. Isinya baru dua juta dari untung tiga juta kemarin."Bu, kalau kuliah berapa Bu?" tanya Bima pelan sambil masukin receh lima ratusan.Velia lagi ngulek bumbu, berhenti. "Jauh Kak, masih lama. Kakak baru kelas lima.""Tapi nabung dari sekarang ya Bu?" Bima ngot.Velia angguk. "Iya, dari sekarang."Arka yang udah umur dua tahun pas bangun tidur, nyeret ember merahnya, denger kata kuliah."Kuliah apa Bu?" katanya polos."Kuliah Kakak Bima nanti jadi guru," jawab Velia ngawur, biar Arka diem.Jam dua lewat, ritu

  • Terjebak Nikah dengan Komandan Duda Arogan   Bab 102 - Jualan Perdana di Ruko Bagus

    Jam satu pagi Blok C No 12 udah rame, padahal ruko udah punya sendiri. Harusnya bisa santai.Tapi Velia bangun jam satu, lebih pagi dari biasanya. Bukan karena takut telat, karena gak sabar."Yah bangun, hari pertama jualan di ruko bagus," bisik Velia bangunin Arga.Arga yang biasanya ngorok kenceng langsung duduk. Bima kelas lima juga udah bangun, padahal alarmnya belum bunyi. Seragam sekolahnya udah disetrika semalam, celemek biru merah barunya udah digantung rapi.Cuma Arka yang masih pulas. Umur dua tahun pas, tidurnya masih meluk ember merah sama kuas cat kemarin. Kakinya masih agak merah bekas ngecat.Velia gendong Arka yang masih ngantuk ke motor listrik. Embernya ikut.Sebelum ke ruko, mampir kebun dulu. Udah jadi ritual.Enam pohon pisang di tanah dua puluh meter itu sekarang udah pada gede-gede. Daunnya lebar-lebar kena lampu jalan.Arka yang udah umur dua tahun pas, walaupun masih ngantuk, turun dari motor langsung nyeret ember merah kecilnya."Siram dulu Bu, baru jualan!"

  • Terjebak Nikah dengan Komandan Duda Arogan   Bab 101 - Renov Ruko Sendiri

    Pagi ini Blok C No 12 terang tapi kompor mati lagi. Dua hari berturut-turut gak goreng.Bukan karena males. Karena mau bongkar ruko.Velia, Arga, Bima yang udah kelas lima, sama Arka yang udah umur dua tahun pas, berempat jalan kaki ke depan SD. Gak naik motor listrik. Jalan kaki sambil gendong ember, cat, sama kuas.Ruko biru merah yang kemarin baru dibeli seratus juta itu kelihatan jelek kalau diliat deket-deket. Catnya ngelotok, atapnya bocor di pojok, lantai semennya pecah-pecah. Dulu sewa jadi biarin aja, sekarang punya sendiri jadi gatel pengen benerin."Cat biru lagi Bu apa ganti warna?" tanya Bima."Tetep biru sama merah," jawab Velia, "itu udah rezeki kita."Jam enam pagi udah mulai ngecat. Arga naik kursi, ngecat bagian atas yang biru. Velia bagian bawah yang merah. Bima kelas lima kebagian ngecat kusen pintu pakai kuas kecil.Arka umur dua tahun pas kebagian paling penting. Dia duduk di ember cat merah kecil, kuasnya kebesaran, ngecat lantai. Yang kecat malah kakinya sendir

  • Terjebak Nikah dengan Komandan Duda Arogan   Bab 100 - Beli Ruko Biru dan Merah

    Pagi ini gak ada yang goreng. Kompor mati.Velia pakai baju paling bagus, yang lengan panjang bunga-bunga kecil, yang biasanya cuma dipakai pas lebaran. Bima gak pakai seragam, gak pakai celemek. Pakai baju koko putih yang dulu dipakai pas ngaji. Arka umur dua tahun pas pakai baju baru warna biru, masih kegedean, ember merahnya ditinggal di rumah pertama kali."Bukunya jangan lupa Bu," bisik Bima.Velia gendong tas hitam kecil isinya dua benda: buku tabungan 102 juta sama surat tanah kebun. Arga di depan pakai helm, motor listrik putihnya dicuci semalam, kinclong.Jam sembilan pas berangkat. Bukan ke pasar. Ke depan SD. Ke ruko biru sama merah yang udah tiga tahun mereka sewa tiga juta setahun per ruko.Pak Haji pemilik ruko udah duduk di warung biru merah. Mejanya masih meja Velia, tapi hari ini kosong gak ada pisang."Dateng juga kalian," kata Pak Haji sambil senyum.Velia salim, agak gemetar. Dulu tiap bayar sewa tiga juta Velia nunduk, sekarang mau beli.Bima langsung duduk di kur

  • Terjebak Nikah dengan Komandan Duda Arogan   Bab 99 - Tabungan Seratus Juta

    Jam dua pagi Blok C No 12 terang lagi. Tapi yang bangun pertama bukan Velia.Arka.Anak yang hari ini pas dua tahun itu nyeret dua ember merah kecil ke belakang. Kiri kanan. Airnya tumpah-tumpah, celananya basah semua belum juga nyiram.Velia ngintip dari dapur, "Eh belum goreng udah basah?"Arka noleh, masih ngantuk banget, "Buat pisang Bu."Ada enam pohon pisang di kebun dua puluh meter itu sekarang udah tinggi semua. Dulu waktu ditanam Arka baru bisa merangkak, sekarang dia udah dua tahun dan pohonnya udah berbuah terus tiap minggu. Kadang satu sisir, kadang barengan.Dia siram sambil mencoba menghitung tapi malah ngitungnya ngawur, "Tatu... nam!" Velia tertawa mendengarnya.Pagi ini Bima beda. Biasanya jam segini udah pakai celemek warna biru merah, sudah mengikat es. Tapi hari ini dia pakai seragam putih dan merah.Seragam barunya kelonggaran, lengannya kepanjangan nutupin tangan. Sepatu baru masih bunyi nyit-nyit kalau jalan di semen."Bu, hari pertama kelas lima," bisiknya malu

  • Terjebak Nikah dengan Komandan Duda Arogan   Bab 98 - Buku Baru Penuh 45 Juta dan Rencana Beli Ruko Biru Merah

    Jam dua pagi Blok C No 12 terang lagi. Lampu neon putih baru terang banget, goreng empat nampan donat, iket es empat kali lipat, kangkung empat karung, tumpeng empat puluh, pisang goreng delapan puluh dari kebun sendiri yang berbuah terus tiap minggu tanpa putus.Kebun pisang Velia tanah sendiri dua puluh meter persegi di belakang rumah yang dulu sewa sekarang udah punya sendiri, ada enam bibit pisang berjejer udah berbuah gantian tiap minggu. Tiap minggu ada satu sisir gede berbuah delapan puluh sampai seratus biji, jadi tiap hari ada pisang goreng gratis buat empat warung biru merah hijau kuning, gak usah beli pisang di pasar lagi.Arka umur satu tahun delapan bulan pas hari ini, bangun jam dua pagi juga ikut siram kebun pisang dulu pakai ember kecil merah sebelum goreng. Ember kecilnya hadiah dari panen kemarin."Pisang siram!"Velia gendong Arka umur satu tahun delapan bulan yang udah bisa ngomong lima kata jelas banget."Ibu Ayah Kakak Bima kebun pisang berbuah!"Lima kata lengka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status