LOGINHampa.Itulah yang Natasha rasakan ketika dia membuka mata pagi ini dan hanya ruang kosong yang dia dapati di sebelahnya. Di kamarnya yang ada di rumah mertuanya.Tiga kali pagi berturut-turut bangun dalam pelukan Bian membuat Natasha merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya pagi ini.Mungkinkah dirinya merindukan pria itu?Tidak. Tidak.Natasha menggeleng cepat lalu bangkit duduk perlahan. Dia tidak boleh merindukan Bian.Perasaan itu adalah sesuatu yang terlarang.Namun, semakin dia berusaha menekan perasaannya, rasa rindunya justru semakin menggebu.Drrt! Drrt!Ponsel Natasha di atas nakas bergetar singkat. Natasha meraihnya. Seulas senyum kecil seketika terbit di bibirnya saat melihat sebuah pesan dari pria yang sedang memenuhi benaknya.Mereka baru sampai di Jakarta kemarin siang.Bian Arkananta: Sudah bangun?“Tumben banget pagi-pagi sudah menghubungiku?” gumam Natasha. Apalagi ini adalah hari libur.Natasha Samantha: Sudah, Pak. Ada yang bisa saya bantu?Bian Arkananta: Tid
“Apa kabur dari saya memang hobimu, Natasha?”Natasha berjengit kaget ketika mendengar suara Bian di belakangnya. Sontak dia memutar tubuhnya dan mendapati Bian tengah menatapnya tajam.“Saya tidak sengaja kabur, kok,” elak Natasha, “tadi saya sudah izin ke Bapak waktu Bapak lagi bayar makan malam di kasir.”Sudut mata Bian menyipit. “Saya tidak mendengarmu.”Natasha berdehem pelan. Dia memang meminta izin dalam gumaman sebelum pergi dari restoran.Yah… yang penting dia sudah bilang walau tidak sampai ke telinga pria itu, bukan?Sisi licik Natasha membenarkan hal itu.“Dengarkan saya baik-baik, Natasha.” Bian menarik pinggang Natasha dan meremasnya cukup kuat. Lalu berbisik di dekat telinganya, “Lain kali pastikan saya mendengar izinmu kalau tidak ingin ‘sesuatu’ terjadi padamu.”Cara Bian menekankan kata ‘sesuatu’ membuat Natasha meremang dan otaknya otomatis membayangkan hal yang tidak-tidak.Ugh! Natasha benci pikiran kotornya.“Saya nggak kabur kemana-mana kok, Pak. Saya cuma tert
“Ada apa ini?”Natasha seketika menegang saat mendengar suara Bian yang baru saja keluar dari kamar.Namun, saat melihat pintu di hadapannya masih tertutup rapat, sontak Natasha menoleh ke arah sumber suara.Mata Natasha terbelalak karena ternyata Bian keluar dari pintu kamar yang berdampingan dengan kamar mereka.Ada apa ini?Kenapa Bian tiba-tiba keluar dari sana?Bukankah kamar itu sebelumnya telah dibatalkan oleh pihak hotel?Natasha bertanya-tanya dalam hati seraya menatap Bian dengan bingung. Lalu diam-diam menghela napas lega.“Oh?” Stella hanya membeku ketika kenyataan tidak sesuai dugaannya. Sialan. Ternyata mereka benar-benar berbeda kamar.“Pak Bian, apa obrolan kami barusan mengganggu Bapak?” tanya Natasha dengan nada profesional.Bian melangkah mendekat. Sorot matanya yang kelam menatap Natasha dan Stella bergantian.“Saya membayar mahal untuk mendapat ketenangan di kamar ini,” ujar Bian dingin. Tatapan tajamnya berakhir pada Stella. “Bukan untuk mendengar keributan yang
“Babe, kamu tahu Natasha dan Om Bian ada di sini?”Haikal yang baru saja keluar dari kamar mandi menjawab, “Iya, Honey. Om Bian ada konferensi dan dia bawa Natasha. Kamu tahu sendiri Natasha itu asisten pribadinya Om Bian.”Haikal menghampiri Stella yang duduk di tepian ranjang, lantas mencium bibirnya sejenak. “Kenapa kamu tahu mereka ada di Singapura?”“Tadi aku ketemu Natasha di cafe.”“Mereka menginap di hotel ini juga?” tanya Haikal terkejut.“Iya, kayaknya begitu.” Stella mengerutkan kening. “Kenapa kamu kayak kaget begitu?”“Kalau Om Bian ada di hotel ini dan bertemu aku, dia pasti bertanya-tanya kenapa aku ada di sini.”Haikal mengembuskan napas lalu duduk di samping Stella.Stella langsung memeluknya dan mengusap dada Haikal dengan seduktif. “Kan kamu bisa bilang kamu lagi memantau proses syuting untuk iklan terbaru Wijaya Land.”Ya, itu memang benar. Stella sebagai Brand Ambassador Wijaya Land memang sedang syuting di Singapura.Namun, tentu saja kedatangan Haikal ke sini bu
Natasha menggeliat. Tetapi dia merasakan tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang berat dan keras. Kemudian dia membuka kelopak matanya yang terasa lengket.Seketika Natasha menahan napas karena pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Bian yang masih terlelap dengan damai.Perlahan Natasha menunduk, dia mendapati tubuhnya tenggelam dalam pelukan lengan kekar dan besar milik pria itu.Bahkan mereka masih sama-sama tampil polos setelah sesi terakhir percintaan panas mereka–yang entah untuk ke berapa kalinya malam itu.Pipi Natasha seketika memanas ketika memori tadi malam kembali berkeliaran di kepalanya.Dia pun mendongak, memandangi setiap inci wajah Bian yang terpahat sempurna. Lekukan samar di tengah bibir bawahnya membuat bibir pria itu terlihat… seksi?Jantung Natasha seketika berdebar-debar saat teringat semalaman penuh bibir itu menciumnya.Natasha kembali menunduk, perlahan jemarinya terulur pada dada Bian yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat semakin gagah
Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Bian memenjarakan Natasha di daun pintu. Dia kembali melahap rakus bibirnya. Melanjutkan ciuman yang sempat terjeda sejak turun dari mobil hingga keluar dari lift.Ciuman panas itu membuat kaki Natasha gemetar dan nyaris kehilangan tenaga. Tubuhnya terasa limbung dan lemas.Natasha seketika lupa dengan rasa sedih yang sempat dialaminya. Kini yang memenuhi benaknya hanya pria ini, seakan-akan Bian telah berhasil mencuri seluruh dunianya.“Saya bantu melepas jas Bapak,” ucap Natasha dengan napas terengah-engah saat Bian menempelkan dahi mereka.Dengan jemari gemetar, Natasha melepaskan jas hitam dari tubuh pria itu. Lalu melepaskan butir demi butir kancing kemeja putihnya, meski beberapa kali jarinya sempat terpeleset.Kemeja itu akhirnya terlempar. Natasha menelan saliva ketika pemandangan di hadapannya berubah menjadi dada bidang yang dipenuhi otot-otot liat.Bayangan tubuh kekar itu yang berada di atasnya dan menggagahinya membuat jantung Natasha







