Masuk“Jadi, maukah kamu menikah dengan saya, Natasha?”Natasha benar-benar membeku. Dunia di sekitarnya terasa seperti berhenti berputar.Dia merasa sedang bermimpi. Mimpi yang begitu indah hingga rasanya mustahil untuk menjadi kenyataan.Tidak. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak berani berharap Bian akan mengucapkan kalimat tersebut kepadanya.Apalagi Natasha tahu bahwa Bian tidak ingin terikat dengan pernikahan.Sementara itu, Bian yang masih berlutut di samping Natasha menantikan jawaban dari perempuan itu dengan dada yang berdebar kencang.Tak pernah dia sangka bahwa melamar seorang wanita ternyata segugup ini. Bahkan lebih gugup daripada ketika dia berhadapan dengan para pebisnis besar.“Natasha,” gumam Bian seraya meremas lembut tangan Natasha, mengeluarkan perempuan itu dari kebekuannya. “Jawab saya.”Natasha menelan salivanya dengan berat. Tanpa sadar air matanya pun terjatuh, membuat Bian terkejut melihatnya.“Kenapa kamu menangis? Apa saya menyakitimu?”Seketika Natasha terkekeh se
Ternyata Raditya membawa Natasha ke sebuah restoran mewah yang berada di lantai 67 sebuah gedung pencakar langit.Natasha disambut oleh suara musik jazz yang mengalun merdu di seluruh penjuru restoran.Namun, Natasha tidak melihat pengunjung lain di restoran itu selain dirinya. Seorang pelayan lantas membawanya ke sebuah kursi di dekat jendela kaca.Meja itu sudah dihiasi dengan taplak putih, bunga mawar merah serta lilin di atasnya. Dari meja itu Natasha bisa melihat pemandangan kota yang gemerlap di bawah sana.“Pak Bian sebentar lagi akan sampai,” ucap Raditya.Natasha mengangguk. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Ngomong-ngomong, kenapa restorannya sepi?”Raditya tersenyum kecil. “Pak Bian sudah mereservasi semuanya malam ini.”“Apa?” Natasha terkejut, tapi belum sempat dia bertanya lebih jauh, Raditya langsung pamit dan pergi dari hadapannya.Natasha merasakan jantungnya seketika berdetak kencang saat menyadari sebentar lagi dia akan bertemu Bian, setelah sekian lama
Tiga bulan kemudian.Jemari lentik Natasha menari-nari di atas keyboard. Tatapannya fokus ke arah layar. Sesekali dia menyesap teh yang mulai dingin di samping laptop. Lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.Tiga bulan berlalu sejak kehidupannya jungkir balik. Kini Natasha sudah mulai terbiasa menjalani hari-hari dengan tenang.Dia sudah resmi bercerai dari Haikal. Sementara kandungannya terus bertumbuh seiring perutnya yang mulai membulat.Selama tiga bulan terakhir, Natasha mengisi waktunya dengan bekerja sebagai penerjemah freelance. Dan kini dia tengah sibuk dengan sebuah proyek, yaitu menerjemahkan sebuah buku berbahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia.Bel tiba-tiba berbunyi.Jemari Natasha berhenti bergerak. Dia hendak bangkit.“Biar Ibu yang buka pintu,” ucap Mutia seraya bergegas menuju pintu, membuat Natasha urung untuk berdiri.Natasha tersenyum melihat ibunya sudah bisa berjalan dengan normal. Kondisi kesehatannya semakin membaik dari hari ke hari.“Kiriman makan siang
Natasha merasa dirinya tengah bermimpi, karena semuanya terjadi begitu cepat dan tanpa diduga-duga.Skandalnya dengan Bian yang terungkap. Disusul dengan skandal Stella dan Haikal. Lalu kasus penipuan dan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan ayahnya, yang sempat menjadi berita menggemparkan beberapa hari terakhir.Dan sekarang… hari persidangan perceraiannya dengan Haikal.Natasha sama sekali tidak pernah mengira semuanya akan terjadi dalam waktu bersamaan.Rasanya seperti baru kemarin dia masih terjebak dalam pernikahan yang menyiksa. Namun kini semuanya telah berubah.Natasha menunduk, meremas jemari tangannya di atas pangkuan. Ada perasaan lega yang kini memenuhi dadanya.“Sidang dinyatakan selesai. Para pihak dipersilahkan meninggalkan ruang sidang.”Suara hakim menyadarkan Natasha dari lamunannya.Natasha menghela napas lega. Kemudian mengangkat wajah, menatap hakim yang mulai merapikan berkas-berkas di hadapannya.Sidang perceraian mereka akhirnya ditutup setelah seluruh p
Natasha terbangun dari tidurnya saat dia merasakan usapan lembut di pipinya.Ketika matanya terbuka, pemandangan pertama yang dia dapati adalah ibunya yang tengah menatapnya.Natasha sempat membeku. Tatapan itu terasa begitu lembut dan hangat. Padahal sebelumnya Mutia bahkan enggan melihatnya.“Ibu ganggu tidur kamu, ya?” tanya Mutia lembut.Natasha bangkit. “Nggak, Bu. Ada apa?”“Makan dulu. Kamu ‘kan belum makan siang.” Mutia mengelus puncak kepala Natasha, yang membuat Natasha lagi-lagi membeku.“Ibu kenapa? Sepertinya aku sedang bermimpi?” gerutu Natasha.Seulas senyum penuh rasa bersalah terbit di wajah Mutia. Perlahan dia menarik Natasha ke dalam pelukannya.“Maafin Ibu, Nak.”“Ibu….”“Ibu sudah mendiamkanmu tanpa memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Ibu,” ujar Mutia lirih seraya mengusap-usap punggung Natasha. Air matanya terjatuh. Betapa malangnya nasib putrinya selama ini. “Maafin Ibu.”Mata Natasha terasa memanas. Dia balas memeluk Mutia dengan erat. Natas
Natasha memaklumi jika ibunya marah dan kecewa. Tetapi melihat sang ibu terus menerus mendiamkannya membuat Natasha merasa benar-benar sedih dan bersalah.Mutia menolak bicara dengannya. Bahkan keesokan harinya Mutia meminta mereka keluar dari rumah Bian.Karena tak ingin membuat ibunya semakin marah, akhirnya Natasha membawanya pulang ke rumah mereka.Tetapi diam-diam Bian menyewa beberapa bodyguard untuk berjaga di rumah Natasha, karena khawatir media masih akan terus mengejar mereka.Siang ini, Natasha membawa segelas air minum dan beberapa butir obat ke dalam kamar ibunya. Tetapi yang dia dapati ibunya justru tengah tidur sambil membelakanginya.“Ibu, minum obat dulu, ya,” ucap Natasha pelan seraya menaruh nampan di atas nakas. Kemudian duduk di tepian ranjang. “Sudah waktunya Ibu minum obat.”Namun, Mutia tetap bergeming. Natasha tertunduk lesu karena sampai saat ini ibunya masih mendiamkannya. Dia yakin ibunya tidak benar-benar tidur.“Maafin aku, Bu. Aku sudah mengecewakan Ibu.







