INICIAR SESIÓN“Apa sebenarnya yang Ayah inginkan?” Bian menatap Wira dengan tatapan dingin tanpa menyapanya terlebih dulu.Wira yang sudah tahu Bian akan datang, tampak tidak terkejut saat Bian membuka pintu tanpa permisi.“Duduklah. Ayah sudah menyiapkan kudapan untukmu,” ujar Wira tenang.Bian melirik makanan yang memenuhi meja, bahkan sudah terdapat dua cangkir minuman di sana seolah-olah Wira tahu dirinya akan datang. Lalu pandangan Bian kembali tertuju pada Wira.“Tolong tarik kembali berita itu,” ucap Bian tegas. Dia tetap berdiri di samping sofa. “Jangan jadikan seseorang yang tidak bersalah sebagai alat untuk memenuhi keinginan Ayah.”Pria berambut memutih itu menghembuskan napas kasar. “Ini bukan keinginan Ayah, tapi ini demi masa depanmu.”Sudut mata Bian menyipit.“Menikah dengan Stella adalah pilihan yang terbaik untuk masa depanmu, Bian.” Wira menatap Bian serius. “Kalau kamu ingin melindungi Natasha, lakukan apa yang Ayah perintahkan.”Tangan Bian perlahan mengepal hingga urat-uratnya
“Katakan kepada saya apa yang terjadi?” tanya Bian dengan sorot mata tajam.Natasha meremas lengan Bian tanpa sadar.Tatapan Bian turun pada tangan Natasha sejenak, lalu menatap wajahnya kembali.“Bapak pernah bilang… kalau Bapak tidak berniat menikah dan tidak menyukai anak-anak,” ucap Natasha gugup.“Ya. Lalu?”“Lalu bagaimana jika nanti Bapak memiliki anak?” Natasha menghela napas sepelan mungkin. “Apa Bapak tetap tidak akan menyukainya?”Tampak kerutan di kening Bian. Matanya masih meneliti ekspresi Natasha. “Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba membahas hal itu,” ucapnya, “tapi memiliki anak tidak ada dalam rencana hidup saya.”Mendengarnya, Natasha seketika membeku. Dadanya terasa sesak. Bian tidak menginginkan anak. Lalu bagaimana dengan janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya saat ini?Apa pria itu akan marah?Apa dia akan membuangnya dan menghentikan biaya pengobatan ibunya?Atau justru… Bian akan menyuruhnya untuk menggugurkannya?Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi
Natasha terbangun dari tidurnya pagi itu dan perutnya langsung bergejolak. Dia seketika bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi. Berusaha mengeluarkan isi perutnya di wastafel.Mual yang terasa begitu hebat, yang tak pernah Natasha alami sebelumnya. Bahkan kini tubuhnya mendadak lemas, wajahnya pucat.“Apa yang terjadi denganku?” gumam Natasha setelah mencuci wajahnya. “Mungkin masuk angin?”Natasha menatap pantulan wajahnya di cermin. Kemudian keluar dari kamar mandi dengan langkah sedikit sempoyongan.Saat akan mematikan alarm dari ponsel yang terus berbunyi di atas nakas, pandangan Natasha tanpa sengaja tertuju pada kalender.Seketika itu juga Natasha membeku. Dia baru sadar bahwa sudah lama tidak menstruasi.Buru-buru Natasha membuka aplikasi kalender menstruasi di ponselnya.Jantung Natasha terasa mencelos, ternyata dia sudah terlambat menstruasi selama sepuluh hari!“Ini pasti cuma kebetulan aja.” Natasha meletakkan kembali ponsel itu. Wajahnya tampak menegang. “Nggak. Itu ngg
Saat bersama Bian, Natasha bisa melupakan segala permasalahan dalam hidupnya.Dia merasa menjadi dirinya sendiri, yang selama ini terkubur di dalam dirinya karena tekanan hidup yang begitu berat.Bersama pria itu, Natasha tidak perlu menjadi istri yang selalu berusaha memenuhi semua keinginan keluarga suaminya.Pagi itu Natasha terbangun dalam pelukan Bian. Natasha menyadari bahwa perasaannya sudah tumbuh semakin dalam untuk pria itu.Ini benar-benar berbahaya.Tetapi meski sudah berusaha, Natasha tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.Natasha lalu membuatkan sarapan sederhana untuk mereka.Bahkan ketika mereka sarapan bersama, Natasha merasakan ketenangan yang tidak dia dapatkan dari rumah keluarga suaminya.“Hari ini apa saja jadwal saya?” tanya Bian setelah menghabiskan sandwich miliknya.Natasha meneguk air putih terlebih dulu, sebelum menjawab, “Tidak ada jadwal di luar, Pak. Hari ini Bapak hanya ada satu rapat secara daring dengan tim dari New York. Selebihnya kosong.”Bi
“Bapak bisa memasak?”Natasha terperangah ketika melihat Bian sedang berjibaku dengan alat masak di dapur.Bian menoleh sejenak. “Kamu berpikir saya pria manja yang tidak bisa apa-apa?”“Bukan begitu maksud saya,” ralat Natasha cepat, dia bergegas menghampiri Bian. “Bapak ‘kan bisa menyuruh saya melakukannya kalau Bapak tidak mau ada orang lain di rumah ini.”Bian tidak menjawab. Dia justru fokus mengaduk sesuatu di dalam wajan.Natasha berdiri di sampingnya, melihat pasta yang tengah dimasak Bian.“Biar saya lanjutkan, Pak,” ucap Natasha tak enak hati. Pasalnya, Bian adalah atasannya. Mana mungkin dia membiarkan CEO perusahaan besar memasak untuk makan malam mereka? “Bapak duduk saja, saya yang akan melanjutkan–”“Duduk,” potong Bian dengan suara rendah.“Tapi, Pak–”“Duduk, Natasha.” Bian mengulangi perintahnya dengan lebih tegas. “Saya memang ingin membuat makanan untukmu.”Natasha seketika tertegun. Detak jantungnya mendadak meningkat dua kali lebih cepat. Lalu pada akhirnya dia d
Bian menarik dirinya, berguling ke samping Natasha lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.Natasha sempat tertegun sesaat, lalu menyembunyikan senyum kecil dan melesakkan wajahnya di antara ceruk leher dan dada pria itu.“Bagaimana perasaan Bapak sekarang? Sudah lebih baik?” gumam Natasha dengan pipi memanas.“Hmm. Lebih baik.” Bian meremas pinggang Natasha, lalu menunduk mencari bibir perempuan itu, menciumnya lembut setelah menemukannya.Natasha menahan napasnya sesaat sebelum membalas ciuman Bian.“Kamu membuat suasana hati saya lebih baik,” aku Bian, membuat wajah Natasha semakin memerah.“Saya rasa sudah malam untuk Bapak kembali bekerja. Bapak terlalu sibuk belakangan ini.” Natasha berdehem pelan. “Sesekali Bapak juga harus istirahat lebih banyak.”Sudut mata Bian menyipit, menatap Natasha lekat. “Kamu sedang perhatian kepada saya?”“Tidak,” timpal Natasha cepat. “Bukan begitu. Sebagai seorang asisten pribadi bukankah harus mengingatkan atasannya yang gila kerja? Kalau terj







