Share

Bab 7

Author: Ling Rezeki
Selanjutnya, mereka jalan-jalan berkeliling dan kemudian makan malam bersama.

Aveline terus memikirkan tentang pergi ke rumah Cecilia untuk mengambil kalungnya, tetapi tidak bisa menemukan alasan yang tepat.

Dia hanya bisa menghibur dirinya sendiri, mengatakan pada dirinya agar jangan terburu-buru, akan ada kesempatan lain.

Tanpa disadari, sudah pukul sembilan malam.

Cecilia mengantar Aveline sampai ke gerbang kompleks apartemennya.

Agar lebih mudah pergi dan pulang kerja, Aveline menyewa apartemen satu kamar tidur di dekat kantor. Meski kecil, itu sudah lebih dari cukup untuk dia tinggali sendirian.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Cecilia, Aveline berjalan menuju kompleks apartemen dan kebetulan bertemu dengan pemilik apartemennya yang sedang turun untuk membuang sampah.

Ibu pemilik apartemen memanggilnya. "Wah, Aveline, kamu keluar semalam ini?"

Aveline menjawab santai, "Jalan-jalan dengan teman."

Ibu pemilik apartemen melihat-lihat sekeliling. "Teman? Laki-laki atau perempuan?"

Aveline menjawab, "Perempuan."

Mendengar jawabannya, ibu pemilik apartemen tersenyum. "Nggak masalah kalau teman perempuan."

"Kamu masih muda dan cantik, jangan sembarangan keluar dengan laki-laki. Hati-hati nanti nggak sadar ditipu."

Aveline hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Saat dia hendak pergi, ibu pemilik apartemen menghentikannya.

"Aveline, yang kubilang kemarin itu, sudah dipikirkan belum?"

Aveline terkejut sejenak, tidak ingat. "Soal apa, ya?"

Ibu pemilik apartemen berseru dan menarik lengan Aveline dengan antusias, "Soal kamu menikah dengan anakku!"

"Kamu kan baru lulus kuliah, masih muda dan cantik, usia yang pas untuk menikah dan memulai rumah tangga."

"Anakku suka kamu, ingin menikah denganmu. Kenapa nggak kamu terima saja? Keluarga kita nanti bersatu, hidup rukun dan bahagia!"

Akhirnya, Aveline pun teringat pada anak pemilik apartemen yang gemuk dan pemalas itu.

Beberapa kali, mereka bertemu secara kebetulan, dan dia bahkan pernah digoda dengan kata-kata yang tidak senonoh.

Membayangkan harus menikah dengan orang seperti itu, dia serasa ingin muntah berember-ember.

"Maaf, aku nggak tertarik dengan anak Ibu."

"Kenapa nggak tertarik? Anakku itu baik loh!"

"Jangan menilai dari gemuknya saja, badannya itu kuat, wajahnya tampan, dan pembawa keberuntungan juga!"

"Keluarga kami kan punya banyak properti yang disewakan. Kalau kamu menikah dengan anakku, hidupmu dijamin enak dan mewah, tinggal santai menikmati hidup."

"Kamu juga nggak perlu kerja lagi. Di rumah saja merawat anakku, memberiku cucu-cucu laki-laki yang gemuk dan sehat. Keluarga kami nggak akan pelit kepadamu!"

Ibu pemilik apartemen sangat puas dengan penampilan Aveline. Karena putranya kurang tampan, dia harus mendapat menantu secantik Aveline sebagai penyeimbang. Dengan begitu, wajah cucu laki-lakinya kelak bisa terselamatkan.

Ditambah lagi, putranya sendiri sangat menyukai Aveline, sering membicarakan dengannya betapa dia ingin menikahi Aveline.

Jika Aveline suka, putranya juga suka, bukankah semua akan sempurna?

Aveline mendengarkan kata-kata ibu pemilik apartemen. Jika bukan karena didikan yang baik, dia pasti sudah mengumpat habis-habisan.

Orang tuanya telah membesarkannya dengan sepenuh hati, bukan agar dia menjadi alat berkembang biak setelah menikah.

"Tante, cari yang lain saja untuk anakmu. Aku nggak punya keberuntungan menikmati hidup mewah di keluargamu."

Ibu pemilik apartemen mengentakkan kakinya kesal. "Aduh, kenapa nggak mau mendengarkan!"

"Nggak sembarang orang bisa jadi menantu keluargaku. Banyak orang-orang di sini yang mau menjodohkan anak mereka dengan anakku. Kalau bukan karena anakku suka kamu dan ngotot cuma mau menikah denganmu, mana pantas kamu jadi menantu keluarga kami?"

"Jangan terlalu pilih-pilih. Menjadi pilihan anakku itu berkah tujuh turunan. Mumpung masih muda, nikah saja!"

Siapa pun yang mendengar ini juga akan kesal.

Aveline bahkan terlalu malas untuk menanggapi. "Maaf, aku benar-benar nggak tertarik."

"Aku pulang dulu, masih ada urusan."

Tanpa menunggu ibu pemilik rumah itu berkata apa-apa lagi, Aveline menarik tangannya, lalu melangkah pergi.

Ibu pemilik apartemen menyahut di belakangnya, "Membuang kesempatan mendapatkan anakku, kamu pasti menyesal nanti!"

Aveline mengabaikannya dan mempercepat langkah.

…

Cecilia membawa pulang banyak tas belanjaan. Saat hendak menaiki tangga, dia bertemu kakaknya yang keluar dari dapur.

Cecilia seolah melihat penyelamat. "Kak, cepat sini, bantu bawa ke kamar."

Marcell memegang segelas air putih yang setengah diminum, berdiri tegak tanpa bergerak.

"Kamu pergi jalan-jalan dengan siapa lagi? Belanja sebanyak ini?"

"Tentu saja dengan sahabatku, Aveline!" seru Cecilia.

Alis Marcell berkedut saat mendengar nama Aveline, lalu dia berjalan menghampirinya.

"Kamu beli apa saja dengan dia?"

Begitu melihat Marcell berjalan mendekat, Cecilia segera melepaskan beberapa tas besar dan menggantungkannya ke tangan Marcell.

Dia berkata, "Dia nggak beli apa-apa, semuanya aku yang beli."

Marcell dengan enggan menerima tas-tas yang dilemparkan Cecilia kepadanya, mengangkat alisnya, dan berkomentar dengan nada yang sedikit malas, "Oh?"

Cecilia mendengus. "Salahmu sih, belum bayar gajinya. Dia jadi nggak punya uang buat belanja apa-apa!"

Bibir Marcell tersungging setengah tersenyum, suaranya santai. "Dia komplain ke kamu?"

Cecilia membantah, "Nggak lah, dia nggak pernah ngomong yang jelek-jelek tentangmu. Aku yang ngomong."

Marcell bergumam pelan, dan setelah mendengarkan dengan perhatian, dia merasa sedikit kekecewaan.

Aveline tidak bercerita sedikit pun tentang dia kepada adiknya.

Termasuk kejadian bersamanya malam itu.

Mulut kecilnya itu rupanya tertutup rapat.

Cecilia memanfaatkan kesempatan itu untuk berkata, "Kak, sahabatku itu anak buahmu. Demi aku, kamu harus jaga dia baik-baik, jangan abaikan dia, oke?"

Marcell terpikir sesuatu yang tampaknya lucu, dan tawa kecil keluar dari bibirnya. "Oke, aku akan jaga dia baik-baik."

Setelah mengantarkan barang-barang Cecilia ke kamarnya, Marcell pun kembali ke kamarnya sendiri.

Kamar dan tempat tidurnya bersih seperti baru setelah dirapikan.

Namun entah mengapa, aroma lembut tubuh seorang wanita masih samar-samar tercium.

Aroma ini agak memabukkan.

Marcell mengeluarkan ponsel, melirik foto profil kartun yang jelek itu di daftar obrolannya.

Dia juga tidak membuat status.

Kosong.

Mengingat betapa wanita itu berusaha menghindarinya hari ini, yang sangat berbeda dari wanita-wanita lain yang berusaha mendekatinya dengan menyenangkannya dan bisa dibilang melemparkan diri padanya.

Jadi, sebenarnya ... wanita seperti apa Aveline itu?

Namun dia pikir, pasti cukup menarik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status