Share

Bab 2 Aku Bosnya Aku Bebas

"Celine, Presdir memanggilmu!"

"Lagi?"

Sedikit kesal rasanya mendengar kalimat perintah yang sama berulang kali. Sudah dua minggu dari kejadian di toko kue itu, tetapi agaknya dendam sang presdir belum surut juga.

Berulang kali Celine dipanggil. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya. Padahal dirinya baru keluar dari ruangan itu sepuluh menit yang lalu.

Tak ingin mendapat masalah, Celine pun segera pergi ke ruangan Presdir yang terkenal diktator itu.

"Kali ini dia ingin aku mengerjakan apa lagi?" gumam Celine dengan bahu yang melorot.

Kendati begitu, gadis itu tetap mengulas senyum ketika menghadap sang presdir. Sementara Earl, pria itu hanya tersenyum tipis seraya menyodorkan sebuah map kepada Celine.

"Aku sudah mengatur posisi baru untukmu!" kata Earl.

Celine pun menerima map itu dan membacanya perlahan. Semuanya baik-baik saja sampai Celine tahu ke mana Earl melemparnya sekarang.

"Presdir, tolong jangan bercanda!" Matanya refleks memelotot.

Tentu saja kabar ini kabar buruk. Sebab, Earl berencana mengirimnya ke lapangan, di mana sedang terjadi konflik di sana.

Kabarnya, warga memiliki temperamen yang buruk karena menolak tanahnya dibeli oleh LLOYD GROUP. Mereka bahkan menyewa preman untuk menghalau siapapun yang masuk.

Dan sekarang Earl malah mengirimnya ke sana dan meminta Celine menyelesaikan masalah yang bahkan tak bisa diselesaikan oleh tim lapangannya yang elit. Kalau bukan bercanda, apa pria itu benar-benar berencana membunuhnya?

"Oh, kamu menolak?" Alis pria itu menukik tajam menatap Celine.

Tidak mau kalah, wajah gadis itu mengeras. Kali ini, dia bersikukuh menolak. "Tentu saja aku menolak. Kenapa kamu selalu memintaku menyelesaikan hal yang mustahil kulakukan?"

Hilang sudah sopan santun yang Celine pertahankan sebelumnya. Tapi Earl tidak peduli. Dia adalah pengambil keputusan sekaligus pemilik perusahaan. Dia bebas mengatur semuanya sesuka hatinya, bukan?

"Terserah aku memerintah kamu melakukan apa." Pria itu mendengus. “Di sini, aku bosnya.”

Pria itu pun bangkit dan mendekati Celine yang langsung terkena serangan mental hanya dengan mendengar suara sol sepatunya.

Tepat di samping Celine, Earl berhenti. Dia meletakkan tangannya di saku celana sembari berbisik pelan di telinga karyawan itu, "Tak apa kalau kamu menolak. Tapi bereskan barangmu dan angkat kaki dari tempat ini secepatnya!"

Setelah mengatakan kata-kata itu, Earl pun pergi meninggalkan Celine dengan kekesalannya.

Pada akhirnya, gadis itu memang tidak punya pilihan lain, selain menuruti bosnya yang otoriter. "Sialan!"

**

Keesokan harinya, Celine bergabung dengan timnya yang baru. Mereka akan melakukan negoisasi terakhir sesuai arahan Felix. Sayangnya tak ada kata sepakat meskipun mereka telah berdiskusi cukup lama.

Tepat saat itulah seorang pria yang merupakan pemilik lahan terluas dan berwatak paling keras berdiri.

Di saat Earl bersedia menambah biaya ganti rugi agar warga bersedia menjual tanahnya, pria itu justru menjanjikan sebaliknya.

“Aku yang akan membayar kalian, asalkan kalian tidak menjualnya pada mereka!” ujar pria itu begitu lantang.

Melihat semua orang sangat patuh padanya, Celine yakin bahwa pria itulah yang menjadi tetuanya di sini.

Pria itu kemudian memindai satu per satu utusan perusahaan, seraya berkata, "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kami tidak akan pernah menjualnya meskipun kalian menaikkan harganya!"

Seketika, Celine mulai ketakutan. Diskusi yang semula alot dan dingin itu kini berubah panas dengan orasi warga yang kompak mengusir mereka.

"Gawat, apa mereka akan membuat onar?"

Apa yang ditakutkan Celine pun terjadi. Hanya dengan satu aba-aba dari pria tetua itu, preman-preman yang sejak tadi menunggu di luar merangsek masuk untuk mengusir perawakilan perusahaan.

Di saat itulah, ketika dirinya nyaris terdorong … Celine berteriak. "Tunggu, mari kita bicarakan baik-baik!"

Sayang, suaranya yang tidak seberapa lantang dibanding berpuluh-puluh warga yang sedang mengamuk. Kericuhan pun tak dapat dihindari.

Tubuh Celine yang kecil pun terjepit di antara pria-pria berbadan besar. Salah satu sepatunya hilang entah ke mana dan dia terpisah dari timnya.

Lalu entah apa yang terjadi, tapi yang jelas Celine tersungkur setelah mendapat dorongan dari belakang.

"Hentikan!" teriak Celine.

Sayangnya, tak ada yang mendengar teriakannya. Karena kesal diperlakukan seperti itu, Celine pun melepas sepatunya yang tersisa.

Kemudian, dia menggunakan sepatu itu untuk memukul lantai sebagai ekspresi untuk menunjukkan kekesalannya.

"Kenapa kalian sangat kasar. Lihat saja nanti, aku pasti akan mengadukan perbuatan kalian pada papaku!" teriak Celine lagi.

Volume suara itu sebenarnya tidak lebih lantang dari sebelumnya. Tapi pria tetua itu justru memberikan respon tak terduga.

Hanya dengan mengangkat satu tangannya ke atas, tak ada seorang pun lagi yang berani bergerak. Pria itu bahkan mencari sumber suara dan mendapati Celine duduk melantai dengan wajah cemberut dan kondisi mengenaskan. Lututnya berdarah, seluruh tubuhnya sakit dan penampilannya acak-acakan.

Pandangan pria itu seketika berubah. Tidak ada pandangan garang seperti tadi dia memandang perwakilan perusahaan yang lain.

Namun, didekati tetua preman—setidaknya begitu Celine berpikiran, jantung gadis itu mulai berdegup cepat. Ada perasaan takut, kalau-kalau pria itu akan berbuat hal jahat padanya.

"Mau apa pria ini?" batin Celine.

Tidak lama, pria itu berlutut hadapan Celine dan menyibak poni untuk melihat sesuatu di pucuk rambutnya. Semua warga yang melihat kompak menunjukkan ekspresi bingungnya melihat sang pemimpin bersikap tidak biasa.

Sebuah senyum pun terukir di sudut-sudut bibir pria itu ketika melihat sebuah bekas luka di dahi Celine. Ada sorot kerinduan yang terpancar di sana, seolah mereka pernah mengenal dan terpisah cukup lama.

‘K-kenapa dia memandangku seperti itu?’ Celine tidak kuasa bertanya-tanya.

Di luar dugaan, pria itu mengulurkan tangannya yang penuh dengan bekas luka ke kepala Celine. Tatapan matanya semakin melembut, seiring suaranya yang begitu menenangkan. "Celine, bagaimana kabar ayahmu?"

"I-itu … darimana paman tahu namaku?"

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status