Share

Bab 3 Kenalan Lama

"Ayahmu."

Celine termangu mengetahui ada seseorang yang mengenal ayahnya.

"P-paman kenal ayahku?" Mata gadis itu mengerjap tidak percaya.

Pria tersebut tersenyum tipis sembari terus memperhatikan Celin tanpa berkedip.

“Namaku Jehian, dan ya, aku mengenal dekat ayahmu.” Jehian kemudian mengerutkan dahinya, menyadari sesuatu. “Di mana ayahmu sekarang? Lalu, apa kamu bekerja sama dengan mereka?” tunjuk pria itu ke arah perwakilan perusahaan.

Tiba-tiba ekspresi Celine berubah. Calon air mata bahkan sudah menggenang di sudut-sudut matanya. Dia jadi punya sebuah ide brilian, kendati dia terus berdoa supaya ayahnya merestui karena ia akan menggunakan ayahnya sebagai dalih.

"A-ayah sakit.” Dia mulai terisak pelan. “Aku kerja di perusahaan itu, Paman. Dan ini proyek penentuan untukku. Aku bisa dipecat jika gagal dalam Upaya pembebasan lahan ini. Sedangkan … Aku butuh banyak uang untuk biaya rumah sakit.”

Sesaat, Celine menghentikan ucapannya. Dia menatap lekat-lekat Jehian dan ekspresi di wajahnya.

Ketika dilihat pria itu masih menatapnya dengan lembut, Celine kembali melanjutkan. “Presdirku bersedia menambah uang ganti rugi, untuk itu … bisakah Paman mempertimbangkannya?”

Mata gadis itu mengerjap-ngerjap, tatapannya menyorot polos dengan ekspresi ingin dikasihani.

Tidak lama, ekspresi ramah Jehian menghilang, berganti dengan rahangnya yang mengetat.

Bahkan, Celine bisa melihat aura kebengisan yang menguar dari wajah Jehian saat ini. Dan itu sanggup membuatnya kembali takut.

“Di mana ayahmu?” ujarnya lebih tegas. “Ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya.”

“A-ayah ada di ….”

Setelah itu, Jehian membawanya pergi secara paksa. Pria itu mengajak Celine untuk melihat langsung kondisi ayahnya, Hans yang kini terbaring koma di rumah sakit.

“Siapa yang melakukan ini padanya?” tanya Jehian, lagi-lagi menunjukkan aura bengis.

“M-mantan suamiku.” Dengan gagap, Celine lantas bercerita jika Hans begini karena dikeroyok oleh pria bayaran yang disewa oleh mantan menantunya sendiri.

Setelah melihat kondisi Hans yang menyedihkan dan Celine yang ternyata mengalami kesulitan, akhirnya Jehian pun memutuskan untuk melepas lahan itu.

"Baiklah, paman akan menjual tanah itu untukmu!" kata Jehian membuat ekspresi Celine cerah bukan main.

"Paman serius??” Binar di matanya tidak bisa ditutupi jika dia begitu senang.

"Tentu," jawab Jehian yakin. “Apa kamu tidak mengingat Paman?” Kerutan di dahi pria itu timbul kemudian.

Celine menelengkan kepala. Dia mencoba memutar memori yang lalu, mencari figure Jehian dalam tiap kenangan. Namun, kosong. Dia tidak menemukan apa pun tentang pria itu.

Gadis itu menggeleng, kepalanya menunduk lesu. “Maaf, Paman….”

Jehian kemudian tersenyum, kendati wajahnya masih menunjukkan sedikit keheranan. “Ayahmu tidak pernah bercerita?” Lagi, gadis itu menggeleng. Jehian mengembuskan napas panjang. “Lalu, apa kamu tahu kenapa ayahmu membawamu pergi dan tidak memberi paman kabar?"

“Tidak juga, Paman.”

Dari semua pertanyaan Jehian, tidak satupun dia bisa menjawab. Apalagi, terlihat Jehian seperti menahan kesal karena dia bagai tidak berguna.

Melihat Jehian begitu frustasi, Celine pun merasa bersalah. Beruntung Celine mengingat satu hal yang belum sempat ia ceritakan.

"Tunggu dulu, Paman. Ada satu hal yang ingin kusampaikan!" kata Celine.

"Apa itu?" tanya Jehian, satu alisnya menukik dengan tatapan menilai.

"Sebenarnya….” Ragu, Celine memintal ujung pakaiannya. “Ayah amnesia!"

"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?" protes Jehian disertai decakan.

Gadis itu tertawa kosong, "Hehe. Celine lupa!"

Tepat saat itu, seorang wanita muncul. Dialah orang yang membantu Hans merawat Celine sewaktu kecil dan kini membantunya merawat Hans saat pria itu koma.

"Celine, siapa dia?" tanya perempuan itu.

"Bibi Hilda, kenalkan, ini Paman Jehian. Dia temannya Ayah!"

"Teman?" Hilda tampak tidak langsung percaya.

"Benar. Kami berteman sewaktu muda.” Jehian menyengir tipis, menatap ke arah Hans yang masih berbaring tidak berdaya. “Kupikir dia sudah mati karena tidak ada kabar setelah."

Kemudian, mereka bertiga terlibat nostalgia. Jehian bercerita seputar hubungan pertemanannya denan Hans, dan Hilda menceritakan kenapa Hans hilang hingga berakhir malang. Sementara Celine, menjadi pendengar baik sambil sesekali menimpali cerita bibinya.

20 tahun lalu, Celine yang masih kanak-kanak itu ditemukan tengah menangis di samping ayahnya yang tidak sadarkan diri. Dibantu warga, Hilda melarikan Hans ke rumah sakit.

Malang, ketika sadar pria itu tidak mengingat apa pun. Satu-satunya yang dia ingat hanyalah Celine—anak semata wayangnya.

Celine kecil kemudian mengalami trauma. Melihat ayahnya sekarat dan nyaris meregang nyawa membuat Celine yang ceria berubah jadi pendiam. Dia juga sulit percaya dengan orang. Hanya Hildalah satu-satunya orang asing yang berhasil mendekatinya.

"Jadi begitu ceritanya."

Jehian itu melirik Hans yang terbaring di ranjang. Pria itu sempat melamun sampai pertanyaan Hilda membuyarkan lamunannya.

"Apa kamu tahu siapa keluarganya?"

Suasana menjadi hening seketika. Entah itu Hilda maupun Celine, keduanya sangat penasaran dengan jawaban Jehian.

Jehian kemudian menatap Celine dengan pandangan sulit terbaca. Dia berkata dengan lirih, "Dia tidak punya keluarga. Satu-satunya yang dia punya hanyalah Celine.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status