ANMELDENKelly masih menatapku dengan ekspresi tidak percaya.“Dia bukan cuma merebut warisanmu.”Tangannya perlahan turun dari mulutnya.“...dia memang sengaja menghancurkan hidupmu.”Aku mengembuskan napas panjang.“Kurasa begitu.”“Kurasa?”Kelly menatapku tajam.“Evy, adik tirimu membuat wajahmu terluka sampai kau harus melakukan operasi. Dia berselingkuh dengan tunanganmu. Dia mendapatkan warisan keluargamu. Lalu sekarang kau bilang ‘kurasa begitu’?”Aku mengangkat bahu.“Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.”“Penghancur hidup.”“Kelly.”“Manipulator.”“Kelly.”“Perempuan gila.”Aku akhirnya tertawa.“Sudahlah.”“Tidak ada kata sudahlah untuk hal seperti ini.”Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Setidaknya sekarang aku tahu kenapa kau menghilang.”Aku menatapnya.“Aku tidak menghilang.”“Kau tidak membalas pesanku selam
"Bellucci."Aku mengulang nama itu perlahan."Mattheo Bellucci."Kelly mengangguk."Iya."Aku menatapnya beberapa detik."Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?""Secara tidak sengaja."Aku menyipitkan mataku."Secara tidak sengaja?""Iya."Kelly kembali menyeruput minumannya."Jadi waktu itu aku sedang berada di Paris untuk menghadiri sebuah konferensi. Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan acaranya karena pembicaranya membosankan.""Kelly.""Apa?""Ceritakan saja.""Iya, iya."Ia meletakkan gelasnya."Jadi aku keluar sebentar dari ruangan konferensi. Aku pergi ke area lounge hotel untuk mencari tempat yang lebih tenang."Aku mengangguk."Lalu aku melihat seorang pria.""Pria?""Pria yang sangat tampan."Aku langsung menghela napas."Kelly...""Aku serius."Ia tertawa."Pria itu tinggi, men
"Siapa?" "Saya tidak tahu, Donna. Ia bersikeras meminta bertemu dengan Donna." "Memangnya dimana dia?" "Dia ada di depan gerbang, kami tidak bisa mengizinkannya masuk jika identitasnya belum terverifikasi dari anda ataupun Don Mattheo." "Tunjukkan padaku." "Silahkan ikuti saya, Donna." Aku akhirnya kembali menutup pintu mobil dan berjalan mengikuti Fabio. Dan Anthonio mengikuti di belakangku. Kami berjalan melewati ruang tamu dan masuk ke ruang staf. Di dalamnya terdapat ruang kontrol CCTV yang merekam banyak sudut ruangan yang ada di Estate ini. Aku melongo melihatnya. Terkadang aku masih sering lupa bahwa Keluarga Bellucci ini sangat kaya. Ralat. Mattheo-lah yang sangat kaya. "Nah, ini dia." Fabio menunjuk ke salah satu layar dari sekian banyak layar. Aku mengikuti arah telunjuknya. "Kelly?" "Apa anda mengenalnya?" tanya Anthonio. "Iya. Dia teman dekatku di Amerika. "Apa saya harus membukanya?" tanya Fabio. Aku akan membuka mulutku. Namun, A
Pintu itu tertutup.Klik.Suaranya pelan.Namun, entah kenapa terdengar jauh lebih keras dibandingkan bentakanku beberapa detik yang lalu.Aku menatap pintu itu tanpa berkedip.Dadaku masih naik turun.Tanganku mengepal erat di atas selimut rumah sakit."Brengsek...."Air mata kembali jatuh."Dasar mafia menyebalkan."Aku meraih bantal di sampingku.Bruk.Bantal itu kulempar tepat ke arah pintu yang sudah tertutup."Tidak punya hati!"Aku mengambil bantal yang lain.Bruk."Kenapa kau diam saja?!"Seolah Mattheo masih berdiri di balik pintu.Seolah ia masih mendengarkanku."Balas aku!"Suara isak tangisku memenuhi seluruh ruangan.Aku menarik infus di tanganku hingga terasa nyeri.Semua ini salahnya.Kalau saja aku tidak datang ke Italia...Kalau saja aku tidak bertemu keluarga Bellucci...Kalau saja aku tidak menandatangani kontrak itu...Aku masih bisa menjadi Evelyn Laurent yang dulu.Seorang pemain cello.Instruktur balet.Putri keluarga Laurent.Bukan wanita dengan wajah penuh jahi
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dingin.Ia masih memelukku dari belakang dan menempelkan tubuhnya kepadaku."Mi manchi e ti penso sempre.""Lepaskan aku," ucapku datar."Semenjak kau bersama gadis itu, kau melupakanku.""Tidak ada yang ingin kukatakan kepadamu.""Evan, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" tanyanya.Evan menatapku."Tidak perlu. Katakan saja apa urusanmu."Ia tersenyum sinis di telingaku. "Baiklah, jika kau inginnya begitu."Lalu ia melepaskan tangannya yang semula melingkar di balik tubuhku.Ia duduk di antara aku dan Evan sambil berusaha memegang tanganku.Namun, aku berhasil menarik tanganku lebih dulu."Apa yang salah denganmu?" tanyanya."Apa yang salah denganmu?" ucapku, balik bertanya."Aku melakukan hal yang seharusnya karena kau milikku," ujarnya."Wuooo. Hmm, a
"Tungguuuuu!!!" ucap Nathaniel memohon.Aku berhenti di ujung pintu dan berbalik perlahan."Wanita ini menyebut dirinya Mrs. J," imbuhnya."Lalu?""Dia bilang ia mengenal Don Giovanni dengan baik.""Apa kalian pernah bertemu langsung dengannya?""Aku tidak pernah," elak Nathaniel. "Tapi Sophia pernah."Sophia meringis ketakutan, "Hanya sekali."Aku menggerakkan alisku untuk memberi gestur aba-aba.Anthonio maju dan membuka layar iPad-nya, lalu menunjukkan sebuah foto pada Sophia."Apakah wanita ini?"Sophia menatap foto di layar itu.Cukup lama, mimik wajahnya sedikit ragu."Jangan berani kau berbohong padaku," timpalku. "Aku bisa menemukanmu sekalipun kau di ujung dunia.""Jika aku membuat pengakuan, akankah ibuku selamat?"Aku terkekeh pelan. "Kalian pun belum tentu melihat hari esok.""Katakan sejuj







