LOGIN“Kau benar-benar mirip ibumu, Evelyn.”Aku tidak langsung memahami apa yang baru saja kudengar.Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat.Diculik.Dibawa ke tempat bawah tanah yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya.Mendengar bahwa ayahku mungkin tidak meninggal seperti yang selama ini kukira.Kemudian mengetahui bahwa Mattheo memiliki paman yang selama ini dianggap tidak ada.Dan sekarang—Don Giovanni berdiri di hadapanku.Menatapku.Lalu mengatakan bahwa aku mirip dengan ibuku.“Apa?”Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.Mattheo langsung berdiri sedikit di depanku.Tubuhnya seperti sebuah dinding yang sengaja ditempatkan untuk menghalangi siapa pun mendekatiku.Namun aku masih bisa melihat Don Giovanni dari sisi bahunya.Pria tua itu tidak menjawab.Tatapannya masih tertuju kepadaku.Terlalu lama.Seolah-olah ia
“Mattheo... siapa itu?”Evelyn masih berada di bawah lenganku.Tubuhnya menempel erat padaku ketika suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.Dor!Aku menariknya semakin dekat ke dinding batu.“Diam di sini.”“Mattheo.”Aku menatapnya.“Aku tidak akan pergi jauh.”“Kau mengenal suara itu.”Aku terdiam.Tentu saja aku mengenalnya.Terlalu mengenalnya.Suara itu sudah mengisi masa kecilku.Suara yang membuat seluruh anggota keluarga Bellucci menundukkan kepala.Suara yang selama ini menjadi simbol kekuasaan.Don Giovanni.Kakekku.Namun bagaimana mungkin suaranya berada di tempat ini?Di bangunan tua yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga kami.“Kau mengenalnya, bukan?” Evelyn kembali bertanya.Aku mengangguk pelan.“Ya.”“Siapa?”Aku menarik napas.“Don Giovanni.”Mata Evelyn langsung membesar.“Kakekmu?”“Ya.”“Kenapa dia ada di sini?”“Aku belum tahu.”Itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.Aku belum tahu.Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,
“MATTHEO!”Suara Evelyn kembali terdengar.Tidak keras.Namun cukup.Cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat mengambil keputusan.Aku berlari.Tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Dante.Tidak peduli siapa sebenarnya dia.Tidak peduli rahasia apa yang selama ini disembunyikan keluargaku.Satu hal lebih penting daripada semuanya.Evelyn.“MATTHEO!”Aku mengikuti suara itu melewati lorong panjang di bawah tanah.Dinding batu di kanan dan kiriku lembap.Lampu-lampu tua yang menempel di langit-langit berkedip beberapa kali.Tempat ini seperti labirin.Aku tidak tahu sudah berapa lama Dante menggunakan bangunan ini.Namun jelas, dia mengenalnya jauh lebih baik daripada aku.“Evelyn!”“Mattheo!”Aku berhenti.Suara itu datang dari sebelah kanan.Aku langsu
“MATTHEO! JANGAN MASUK!”Suara Evelyn menggema dari dalam bangunan.Seluruh tubuhku langsung menegang.Tidak.Aku tidak mungkin salah mendengarnya.Itu Evelyn.“Evelyn!”Aku bergerak maju.Namun baru dua langkah, Luke langsung menarik lenganku.“Tuan!”Aku menoleh tajam.“Lepaskan.”“Jangan masuk!”“Evelyn ada di dalam.”“Kami tahu.”“Kalau begitu, apa yang masih kau lakukan?”Luke tidak melepaskan tatapannya dariku.“Pesan tadi jelas mengatakan jangan masuk melalui pintu depan.”Aku menatap bangunan tua itu.Pintu utama berada tepat di hadapanku.Terbuka.Sedikit.Gelap.Dan terlalu sunyi.Sial.Aku benci mengakuinya, tetapi Luke benar.Jika Dante benar-benar mengirimkan pesan itu, berarti pintu d
“Selamat malam, Mattheo.”Aku membeku.Suara itu.Suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.Namun beberapa suara tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.Kau bisa mencoba melupakannya.Menguburnya.Membiarkan waktu menenggelamkannya.Tapi ketika suara itu kembali terdengar...kau akan langsung tahu siapa pemiliknya.Rahangku mengeras.“Siapa kau?”Suara tawa pelan terdengar dari seberang telepon.“Kau masih sama.”“Jawab pertanyaanku.”“Tidak sabaran.”Tanganku mengepal.Di belakangku, Luke dan Anthonio saling menatap.Mereka tahu sesuatu sedang terjadi.Namun tidak ada yang berani berbicara.Aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga.“Berikan Evelyn.”“Tenang saja.”Suaranya terdengar santai.Terlalu santai.“Dia masih hidup.”Jantungku seperti berhenti sesaat.Masih hidup.Berarti...Aku langsung membuang pikiran itu.“Kalau kau menyentuhnya—”“Ah.”Ia memotong ucapanku.“Mattheo Bellucci.”Nada suaranya berubah.“Kau masih suka mengancam orang.”“Aku akan mengulanginya s
Malam itu terlalu tenang.Dan justru itu yang membuatku tidak menyukainya.Aku berdiri di depan jendela ruang kerja dengan segelas bourbon di tangan. Dari lantai dua, sebagian besar estate terlihat jelas.Lampu-lampu taman masih menyala.Beberapa pengawal berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan.Semuanya tampak normal.Terlalu normal.Aku menyesap bourbon perlahan.Pikiranku seharusnya berada pada pekerjaan.Pada Manhattan.







