Share

Bab 19

Author: Other_side
last update publish date: 2026-09-21 23:22:29

Sambil menunggu Abian bangun Sera berinisiatif merapikan apartemen Abian yang tampak berantakan. Setelah selesai Sera menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia.

Dari dalam lemari pendingin Sera menemukan ayam potong dan beberapa jenis sayur serta bahan makanan yang lain.Tak menunggu lama Sera segera mengeksekusi bahan-bahan itu menjadi masakan rumahan sederhana.

“Lemari pendingin ini cukup lengkap untuk seorang pemuda yang tinggal sendiri,” monolog Sera heran melihat isi kulkas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 19

    Sambil menunggu Abian bangun Sera berinisiatif merapikan apartemen Abian yang tampak berantakan. Setelah selesai Sera menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia. Dari dalam lemari pendingin Sera menemukan ayam potong dan beberapa jenis sayur serta bahan makanan yang lain.Tak menunggu lama Sera segera mengeksekusi bahan-bahan itu menjadi masakan rumahan sederhana.“Lemari pendingin ini cukup lengkap untuk seorang pemuda yang tinggal sendiri,” monolog Sera heran melihat isi kulkas yang cukup komplit.Selesai berkutat di dapur dia kembali menemani Abian. Tak kuasa menahan kantuk Sera tertidur dengan posisi duduk di atas karpet berbulu dengan bantalan tepian ranjang tempat pemuda tengil itu berbaring.“Hari Minggu yang melelahkan,” keluh Sera sambil memandangi wajah tenang Abian sebelum matanya terpejam.Hampir satu jam keduanya berada dalam keheningan ruangan itu. Sampai dering panggilan dari ponsel Abian membangunkan pemiliknya. Sayangnya pemilik ponsel tidak bisa merespo

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 18

    “Sera, kenapa lama sekali?” tanya Abian begitu Sera kembali ke taman.“Dan … hey, ada apa dengan wajahmu? Apa ayah menakutimu?” lanjut Abian yang reflek menyentuh wajah Sera yang tampak murung.“Tidak … ayahmu baik,” jawab Sera tidak bersemangat. “Lalu kenapa?” Tanpa aba-aba Abian menangkup wajah Sera. “Ck.” Sera menepis tangan Abian. “Aku baik-baik saja, aku hanya lapar.” “Lapar? Kau yakin?” tanya Abian ragu. Sementara Sera hanya mengangguk sebagai jawaban.“Baiklah, ayo kita makan di luar! Dan ceritakan padaku apa yang ayah katakan.” Abian merangkul Sera dan menuntunnya menuju mobil.“Kau tidak perlu tahu urusan orang dewasa,” balas Sera sedikit bercanda.“Hey! Apa maksudmu? Aku sudah dewasa. Jangan menganggapku seperti anak kecil!” Abian memasang muka sebalnya tidak terima.Sera selalu dibuat tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Abian. Canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan mereka.Hari ini Abian berencana membawa Sera ke sebuah pantai. Ah, lebih tepatnya Abian ingin men

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 17

    Keduanya sampai di mansion Arkatama. Rumah besar yang sama dari yang Sera kunjungi Minggu lalu. Mansion yang tampak lebih indah saat pagi hari dengan taman bunga yang menyambutnya saat tiba.Tampak Tuan Arka, ayah Abian sedang duduk seorang diri di tengah taman. Terlihat sedang membaca sesuatu dari gadgetnya dengan didampingi secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Tak ingin berlama-lama Abian segera menggandeng tangan Sera hendak membawanya mendekat pada ayahnya.“Ayah, aku membawa Sera sesuai permintaan ayah!” seru Abian begitu sampai di depan ayahnya.Tuan Arka mendongak sedikit terkejut dengan kehadiran putranya yang tiba-tiba. Alisnya mengerutkan bergantian melihat Abian dan Sera.“Sepagi ini? Ayah kira nanti sore.” Sebetulnya Tuan Arka tidak menyuruh Abian secara pasti kapan harus membawa Sera menghadap dirinya, tapi ya sudahlah tidak masalah.“Tidak apa-apa, Ayah. Karena setelah dari sini aku ingin membawa Sera jalan-jalan,” jawab Abian santai.Sera meringis. Merasa tidak e

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 16

    Sera memasuki Hardian Group. Sementara Abian kembali menjalankan mobilnya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempatnya menurunkan Sera. Tampak seorang wanita memeluk Abian dari arah belakang. Sepertinya wanita itu ingin mengejutkan Abian yang baru keluar dari mobil. Wanita berbeda dari yang Rey lihat kemarin.Rey tersenyum miring melihat semua itu. “Dia seorang pemain.”Rey tidak lagi memedulikan hal itu. Dia ingin segera memasuki perusahaan. Penasaran dengan reaksi seseorang.Sepanjang perjalanan menuju ruangannya Rey tidak bisa melunturkan senyum miringnya. Rasanya Rey ingin segera menartawakan Sera.“Selamat pagi, Pak!” sapa Sera begitu Rey memasuki ruangan.“Hmm.” Rey langsung duduk di kursi kebesarannya.Dari mejanya Rey memperhatikan Sera yang kembali fokus pada pekerjaan. Tak sedikitpun Rey mengalihkan pandang dari Sera.“Berapa lama kau mengenal teman lelakimu itu?” ucap Rey tiba-tiba.Sera reflek mengangkat pandangan. Mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti kemana arah p

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 15

    “Sera, kamu yakin kita makan di tempat seperti ini?” tanya Sinta ragu pasalnya tempat yang mereka datangi terkenal elit.“Yakin, tenang aja!” Sera menunjukkan black card yang Abian berikan padanya.“Wah! Kamu kok bisa punya itu, Ser?” seru Vina tidak menyangka.“Kita ditraktir Abian.”“Widih, baik banget dia. Dalam rangka apa ni?” sahut Sinta.“Nggak tahu. Ulang tahun kali,” jawab Sera asal.“Royal banget ya dia. Boleh ni aku jadiin gebetan. Eh, tapi beneran bukan pacar kamu kan, Ser?” canda Vina.“Bukan, tapi kayaknya dia playboy deh , Vin,” jelas Sera santai.“Soal itu gak papa, Ser. Kalau aku bisa buat dia jatuh cinta aku yakin dia bakal setia. Kapan lagi bisa dapet cowok spek kayak gitu. Udah ganteng, tajir, royal lagi.” Sepertinya Vina terlalu sering menonton drakor.“Tapi berpotensi nyakitin ati,” lanjut Sinta menambahkan.“Iihh, kamu ma! Aku kan lagi halu,” rengek Vina sebal.Sera hanya tersenyum menanggapi keduanya. Wajar Vina mengidolakan Abian. Yang Vina katakan memang benar

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 14

    “Aku akan mengantarmu pulang,” kata Rey memecah keheningan.Sera reflek menoleh pada Rey yang duduk di sampingnya. Mereka berada dalam satu mobil hendak pulang dari acara makan malam sebelumnya.“Terima kasih, Pak.” Hari sudah malam. Tidak memungkinkan bagi Sera untuk pulang sendiri.Hening kembali hadir di antara mereka. Setengah jam lagi mereka akan sampai. Untung masih ada sopir kantor. Kalau tidak Sera akan merasa sangat canggung satu mobil dengan Rey.“Lain kali jangan bicara pada sembarang orang, apalagi yang tidak kau kenal,” ucap Rey tiba-tiba tanpa melihat Sera.Sera mengerutkan kening berusaha mencerna ucapan Rey. “Maksud Anda Leon?” “Aku tidak peduli siapa namanya.” Rey masih melihat ke arah jendela.“Tapi dia asisten Nona Briella, kita akan melakukan kerja sama dengan mereka kedepannya.” Sera benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Rey.“Aku tidak suka di bantah,” balas rey dingin.Sera tidak ingin berdebat, dia sudah lelah. “Baik.” “Dimana alamat tempat tinggalmu?” ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status