MasukBagi sebagian orang berada di tengah dua pria yang menyukai kita adalah suatu kebahagiaan. Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk seorang Seraphina. Trust issue pada lelaki membuatnya tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Dia hanya ingin hidup tenang. Sayangnya kedua pria itu adalah Reyshaka, CEO baru tempat Sera bekerja yang juga adalah mantan kekasih Sera saat SMA yang memiliki dendam dan terobsesi padanya. Sementara pria satunya lagi adalah seorang Abian, pemuda playboy tengil yang ingin ayahnya jodohkan dengannya untuk kepentingan bisnis. Akankah Sera memilih salah satu di antara keduanya?
Lihat lebih banyak"Setampan apa sih CEO baru Hardian Group?” Sera bergumam terheran-heran melihat kehebohan satu kantor.
Empat tahun Sera bekerja di Hardian Group baru kali ini Sera menyaksikan kehebohan seisi kantor. Bahkan acara ulang tahun perusahaan saja tidak seheboh ini. Kabarnya CEO baru ini adalah pewaris utama dari keluarga Hardian. Entah apa yang spesial dari CEO baru ini selain masih muda dan tampan. Sera jadi sedikit penasaran, tapi juga tidak terlalu peduli. Menurutnya semua lelaki tampan apalagi yang memiliki kuasa pasti sama saja. “Kamu ini bicara apa, tentu saja sangat tampan. Apa kamu nggak pernah lihat majalah bisnis? Dia sangat terkenal di kalangan pebisnis,” sahut Vina rekan satu divisi yang tidak sengaja mendengar gumaman Sera. Sementara Sera hanya melengos tidak peduli sebagai tanggapan. “Aku memang tidak pernah membaca majalah bisnis. Aku tidak tertarik.” “Pantas saja.” Vina melanjutkan kegiatannya merias diri tidak lagi memedulikan Sera. Sera yang merasa jenuh melihat semua rekan wanita sibuk merias diri lebih memilih menuju balkon untuk menenangkan diri. Di dalam sangat berisik. Semua orang sedang bergosip membicarakan kedatangan CEO baru. Hari ini perusahaan membebaskan seluruh karyawan dari pekerjaan. Diganti dengan acara penyambutan CEO baru. Karenanya, mereka memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri, tapi bagi Sera hal tersebut justru menjadi sesuatu yang membosankan. “Sera! Sedang apa di sini? Aku mencarimu sedari tadi. Ayo kita segera ke aula! Bu Risma menyuruh kita berkumpul di sana, CEO kita akan segera tiba.” Suara Sinta membuyarkan lamunan Sera. “Kamu kenapa di sini sendiri? Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Sinta lagi khawatir melihat sahabatnya tampak tidak bersemangat. “Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Pergilah dulu! Aku akan ke toilet sebentar, nanti aku menyusul,” ungkap Sera tersenyum tidak ingin melihat sahabatnya khawatir. “Baiklah, aku duluan.” Sera berjalan perlahan menuju toilet di dekat aula, sekedar membasuh wajah supaya terlihat lebih segar. Tidak perlu terburu-buru, Sera memang berniat datang belakangan. Berdiri di barisan paling belakang tidak ingin terlihat menonjol. Hanya sekedar ingin memuaskan rasa penasarannya. Tak disangka begitu Sera tiba di pintu masuk aula ternyata CEO baru itu sudah datang. Berada di depan barisan para karyawan. Menjadi pusat perhatian. Sera pun membenarkan apa yang Vina katakan tentang ketampanan CEO baru itu. Kharismanya mampu menyilaukan mata. “Perkenalkan saya Reyshaka Michael Hardian, pemimpin baru di perusahaan ini.” Hanya satu kalimat yang terdengar dari acara perkenalan CEO baru ini, selebihnya diteruskan oleh asisten CEO baru itu. Sera yang sebelumnya terdiam di pintu masuk aula berjalan mendekat hendak masuk dalam barisan. Namun, pergerakannya di belakang kerumunan karyawan yang sedang tenang mendengarkan pidato mengalihkan atensi seorang Reyshaka yang sedang berdiri dengan gagahnya di atas panggung. Mata tajamnya mengikuti setiap pergerakan Sera. Sera termasuk orang yang peka pada sekitar, sehingga tak butuh waktu lama bagi Sera untuk menyadari ada yang sedang memperhatikannya. Sera menautkan alis mendapati seorang Reyshaka yang sedang menatap lurus tepat ke arahnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan. Mata elang itu begitu mengintimidasi seakan bisa menguliti setiap inci tubuhnya. “Sinta, apa penampilanku tampak aneh hari ini?” tanya Sera pada Sinta yang berdiri di sebelahnya hanya untuk memastikan. “Tidak, kamu tampak baik seperti biasa, Sera. Memangnya kenapa?” Sinta pun merasa heran karena tidak biasanya Sera menanyakan penampilan. “Ah, tidak ada. Aku hanya bertanya,” ucap Sera santai. Sera sendiri merasa yakin tidak ada yang salah pada dirinya. Dengan riasan natural, penampilan Sera termasuk yang paling sederhana di kantor ini. Kemeja polos yang dipadukan rok span selutut, rambut panjang terurai, tidak lupa kacamata yang selalu membingkai wajah cantiknya saat bekerja menjadi ciri khas Sera. Sera tidak lagi peduli dengan tatapan Pak Rey. Dia lebih memilih menikmati acara yang diselingi sedikit hiburan dan dilanjut dengan perjamuan makan siang. Sera berpikir mungkin Pak Rey memperhatikannya karena kedatangannya yang terlambat. *** BRUKK “Eh, maaf saya tidak sengaja … biar saya bersihkan sebentar.” Sera tidak sengaja menabrak seseorang saat berbalik dan menumpahkan sedikit kuah sup pada jas orang tersebut. Tanpa sempat melihat wajah orang yang dia tabrak, Sera segera berinisiatif membersihkan jas yang basah itu dengan tisu yang tersedia di atas meja prasmanan. Namun, gerakan tangannya terhenti saat sebuah suara yang datar dan sarat akan ketegasan menginterupsinya. “Tidak perlu.” Sera segera mendongak melihat sumber suara itu. Di sana Sera mendapati mata elang yang menatapnya tanpa berkedip. Aura orang berkuasa yang dimilikinya begitu dominan. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil, tapi anehnya Sera justru betah berlama-lama menatap mata itu. Mata elang yang tidak tahu kenapa tiba-tiba terasa sangat familiar bagi Sera. “Tidak seharusnya kau menyentuhku.” Suara yang sarat akan kesombongan itu membuyarkan lamunan Sera, membuat Sera tiba-tiba tidak menyukai pemilik suara itu. “Sekali lagi maafkan saya, Pak Rey. Saya benar-benar tidak sengaja.” Tanpa merespon permintaan maaf Sera, Reyshaka berlalu begitu saja setelah beberapa saat mempertahankan wajah dinginnya. Sera kembali ke meja makan dengan perasaan kesal. Namun, tetap mampu mempertahankan wajah tenangnya. “Sera, apa kamu baik-baik saja?” tanya Sinta turut khawatir melihat kejadian itu. “Aku baik, tenang saja itu hanya hal sepele,” jawab Sera tenang memberikan senyuman. “Aduh, Sera! Untung pak Rey tidak memperpanjang masalah. Dan lagi bagaimana bisa kamu selalu terlihat tenang seperti ini bahkan saat berhadapan dengan lelaki seperti Pak Rey, memangnya kamu nggak grogi?” sela Vina yang tiba-tiba ikut mengoceh. “Maklum, Vin. Efek nggak pernah pacaran, jadi santai banget hidupnya,” sahut Sinta dengan nada bercanda. “Hah! Masak sih, Ser. Orang secantik kamu nggak pernah pacaran sama sekali?” tanya Vina kaget. Sera terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Vina. Dia jadi teringat seseorang dari masa lalunya. Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka turut menunggu jawaban Sera. “Tidak pernah. Tidak pernah sama sekali,” jawab Sera tanpa keraguan memutus obrolan mereka. Selesai acara perjamuan, Pak Riyan asisten CEO menghampiri Sera dan memerintahkan Sera menghadap Pak Rey di ruangannya. Sejujurnya Sera heran karena tidak merasa memiliki urusan dengan Pak Rey, kecuali saat di aula tadi. Meskipun demikian, Sera yang sadar akan posisinya tetap melaksanakan perintah tersebut. “Permisi! Bapak memanggil saya?” tanya Sera sopan. Namun, hanya sahutan dingin yang Sera dapatkan. “Hmm.” “Kalau boleh tahu, ada perlu apa anda memanggil saya kemari?” tanya Sera tetap mempertahankan kesopanan. Sayangnya tidak ada jawaban dari Rey. Rey hanya diam menatap dingin pada Sera. Tatapan mengintimidasi yang membuat Sera risih. “Jika anda memanggil saya karena masalah di aula tadi, saya sudah meminta maaf sebelumnya dan berusaha untuk bertanggung jawab, jadi saya harap anda tidak memperpanjang masalah ini,” ungkap sera berinisiatif memulai percakapan supaya bisa segera pergi dari situasi ini. Setelah beberapa saat menunggu dan tetap tidak mendapat jawaban, Sera bersiap meninggalkan ruangan itu. Sampai sebuah pertanyaan dari Rey menghentikan pergerakannya. Membuat Sera terdiam mematung. “Apa kau tidak mengingatku, Seraphina Roselin Ferdian …?”Setelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya. “Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu.“Iya?” “Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor.“Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan
Senin pagi yang cerah. Waktunya menghadapi realita yang tak seindah ekspektasi. Sera tahu mulai sekarang di setiap harinya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha mewujudkan kemudahan itu.Begitu tiba di mejanya, Sera disuguhkan dengan berkas yang hampir memenuhi mejanya. Rasanya belum memulai pun dia sudah lelah duluan. Dan tentu saja tak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya. “Apa-apaan ini! Apa sebegitu bencinya dia padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf?” Sera bermonolog pada dirinya sendiri merasa heran dengan tingkah Rey. “Ya ampun, Ser! Kamu yakin mau ngerjain ini semua?” seru Vina yang baru datang ikut kaget melihat tumpukan berkas di meja Sera. “Ya … mau bagimana lagi,” ucap Sera pasrah. “Yang sabar ya, Ser! Maaf nggak bisa bantu, kerjaanku juga lagi banyak, ini juga nggak tahu bisa selesai apa enggak,” ungkap Vina merasa kasihan pada Sera. “Iya, Vin. Nggak papa santai aja!”Dengan pekerjaan sebanyak ini Sera tidak yakin bisa pulang tepat waktu. Untungnya dia sud
Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Sera. Tidak hanya lelah fisik, hatinya pun sebenarnya lelah menghadapi kenyataan hidup. “Mama! Aku Pulang!” seru Sera sambil membuka pintu kontrakan sempit yang ia tinggali bersama ibunya. “Ma! Mama dimana?!” panggil Sera lagi karena tidak ada sahutan.“Mama di sini, Nak!” Sera menemukan ibunya sedang membuat sesuatu di dapur. “Mama lagi bikin apa?” tanya Sera pada wanita dengan wajah pucat itu.“Mama lagi bikin kue, mau coba jualan di depan rumah siapa tahu ada yang suka,” ucap Liana, wanita berusia setengah abad yang telah melahirkan seorang Seraphina. “Kenapa mama mau jualan? Kan udah ada aku yang kerja, lagian mama harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek.” Sera mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit. “Mama nggak capek kok, ini juga sambil duduk. Mama kasihan lihat kamu kerja terus buat mama, mama pengen bantuin kamu. Lagian mama juga bosan nggak ngapa-ngapain seharian.” Sera terharu masih ada
Entah Sera harus merasa beruntung atau tidak karena Rey melepaskannya begitu saja. Sera berharap Rey bersedia memenuhi keinginannya untuk memulai semua dari awal. Namun, yang tidak Sera ketahui adalah Rey tidak akan membiarkan Sera hidup dengan tenang. Beberapa hari ini Sera merasa tugasnya semakin banyak. Sera heran banyak pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya harus ia kerjakan, membuatnya jadi harus sering lembur. Sera berusaha tetap berpikir positif. Mungkin karena akhir bulan sehingga banyak yang sibuk membuat laporan. “Sera, kamu kok jadi sering lembur sih sekarang?” tanya Vina heran melihat Sera yang begitu sibuk. “Oh, iya nih nggak tahu juga Bu Risma sering kasih tugas tambahan,” jawab Sera yang juga tidak tahu kenapa. “Mana lihat, ngerjain apasih kok nggak selesai-selesai?” Vina mengambil salah satu berkas yang akan Sera kerjakan. “Loh, Ser. Inikan bukan tugas kamu, ini tugas satu divisi kok kamu kerjakan sendiri?” tanya Vina yang merasa aneh. “Nggak tahu, Vin. Bu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.