Share

2. Lelaki Itu....

Penulis: ReyNotes
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 12:09:56

Tiga tahun sudah, Stefhani berjuang sendirian di negeri orang. Bulan-bulan pertama, ia terpuruk. Menangis, jarang membersihkan diri sendiri dan malas makan.

Setelah melewati stress berkepanjangan, Stefhani mulai bangkit. Terutama kala sadar, tabungannya semakin menipis. Ia mulai mencari pekerjaan.

“Selamat datang di BlueVortex International.”

Stefhani menatap kalung nametag-nya. Langkah awal yang bagus, meski diawali menjadi staf administrasi. Stefhani memulai tugasnya mendampingi karyawan senior.

Lalu, suasana kantor yang nyaman itu mendadak sedikit ramai dengan suara bisik-bisik. Stefhani iku menoleh pada sosok yang baru datang. Lelaki tampan, tegap, dan memancarkan wibawa tanpa perlu banyak bicara.

Langkahnya terukur dan tenang. Postur tingginya berjalan tanpa menoleh, satu tangan masuk ke saku celana, sementara yang lain menggenggam ponsel seolah dunia hanya angka dan jadwal.

Dahi Stefhani berkerut dalam. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Tidak seperti karyawan lain yang memandang dengan penuh kekaguman. Ia malah merasakan amarah yang bertahun-tahun disimpan kembali muncul.

“Lelaki itu.... “ gumamnya dalam hati.

Penglihatan itu membuat Stefhani tidak fokus pada pekerjaan. Wajah lelaki itu terus terbayang. Saat jam kantor usai dan suasana sepi, ia menghadang dengan wajah murka.

Kamu... yang mengambil keperawananku!" Stefhani menuding lelaki di depannya yang tampak terkejut. Beberapa detik kemudian, lelaki itu menjawab dingin.

"Kamu salah orang!"

"Tidak. Minggir.... " Stefhani tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena sudah dihadang dua lelaki kekar.

Matanya memicing kesal kala melihat lelaki tinggi itu bergegas pergi.

"Aku tidak salah orang!" teriak Stefhani. "Tiga tahun lalu, Hotel Royal Swiss, kamar 713."

Debar jantung Stefhani menguat. Ia mendengus pelan kala akhirnya lelaki itu berhenti berjalan lalu membalik tubuh. Matanya mengamati Stefanie dari ujung rambut hingga kaki. Lalu kembali menatap wajahnya cukup lama.

"Bawa dia ke ruanganku!" titah si lelaki pada dua lelaki kekar di belakangnya.

Lelaki itu berjalan mendahului. Stefhani digiring ke sebuah ruangan mewah. Ia membaca papan nama di meja hitam pekat.

Blue Lucien Arsenio Willson. CEO.

Stefani menggigit bibir bawahnya. Lelaki ini... CEO? Orang yang menidurinya bertahun-tahun lalu ternyata seorang pimpinan tertinggi perusahaan internasional?

"Siapa kamu?" Suara tegas itu membuat Stefhani tersadar dari lamunan.

Meski sedikit gentar, Stefhani tak mau memperlihatkannya. Ia menatap lelaki di depannya dengan sikap menantang.

"Stefhani Louisa."

Lelaki di depan Stefhani sedikit mengerutkan dahi. Ia lalu berkacak pinggang dan bertanya datar. "Kamu mau apa?"

Dari jarak dekat, lelaki itu sangat tampan. Parfum mahal beraroma maskulin membuai penciuman Stefani. Matanya... yaa mata biru itu, Stefhani ingat sekali tatapannya.

Sesaat, Stefhani terdiam lalu dengan cepat mengalihkan pandangan.

"Aku... aku mau hidupku kembali sebelum kamu mengambil keperawananku." Mata Stefhani berkilat kala ia mengangkat kepala dan menatap lelaki di depannya. "Kamu harus tanggung jawab!"

Blue terlihat mengerutkan kening. "Mengambil keperawananmu? Aku tidak melakukan apa pun!"

Wajah Stefhani yang semula sendu kini berubah garang. "Aku sudah ternoda! Kamu bilang nggak melakukan apa pun? Dasar bajingan!"

"Berani kamu memakiku!" Blue menggeram dengan nada tinggi.

Stefhani mundur satu langkah. Ia tau dirinya sangat nekat menghadapi lelaki ini. Apalagi ternyata ia seseorang yang berkuasa.

Tetapi, ia tidak mau kehilangan kesempatan.

"Aku bisa menyebarkan berita di media sosial bahwa Tuan Blue, CEO terkenal memiliki skandal di masa lalu dan enggan bertanggung jawab!"

"Aku bisa melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan pencermaran nama baik dan tuduhan yang tidak beralasan!" Blue membalas dengan mengancam sambil mengangkat teleponnya.

"Jangan!" Stefhani memohon sambil spontan memegangi lengan Blue. "Hidupku akan bertambah hancur jika di penjara."

Stefhani lalu tertegun sesaat kala sadar ia memegangi lengan berotot. Perlahan ia melepas genggamannya dan kembali menunduk.

Entah karena kasihan atau kenapa, Stefhani melihat Blue memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Lelaki itu kini menatap Stefhani.

"Malam itu... seperti kubilang tadi, aku tidak melakukan apa pun padamu. Pergi lah. Anggap itu semua tidak pernah terjadi."

"Apa?! Anggap semuanya tidak terjadi?" Stefhani berteriak murka. "Asal kamu tau, aku diusir dari keluarga karena bukti foto-foto kita di ranjang tersebar."

"Atau kamu lebih suka aku posting di media sosial, Tuan Blue yang terhormat?" Stefhani menambahkan dengan kalimat ancaman.

Lelaki di depan Stefhani diam. Matanya mengerjap beberapa kali lalu mengerutkan kening dalam-dalam.

"Kamu... punya buktinya?" Blue menurunkan nada suaranya. "Aku mau lihat."

"Akan kuberikan copynya."

"Aku beri waktu satu jam. Kembali ke sini dengan foto-foto itu."

"Kamu gila? Satu jam? Aku tidak bisa."

"Artinya kamu bohong. Kamu hanya mengulur waktu."

"Aku tidak bohong! Atau kamu ikut saja biar tau perjalananku ke tempat ini lebih dari satu jam."

Blue tampak berpikir. Stefhani tau lelaki di depannya sangat ingin melihat bukti itu.

"Kamu mau menjebakku dengan ikut denganmu?" Blue tersenyum sinis. "Aku tunggu di sini. Itu pun kalau kamu punya buktinya."

"Baik. Aku akan ke apartemenku di daerah Casadona. Aku akan kembali." Stefhani membalik tubuhnya namun baru dua langkah lelaki itu menahannya.

"Casadona? Kamu tinggal di sana?" Blue melirik name tag yang melingkar di leher Stefhani.

Sambil merengut, Stefhani menyahut, "Sudah kubilang perjalananku jauh."

Blue menatap Stefhami sejenak, lalu memutuskan. "Aku akan minta supirku mengantarmu."

Stefhani mengangguk.

Dalam waktu hampir dua jam, Stefhani kembali. Ia menyerahkan satu map pada Blue.

“Aku tidak bohong!” ucapnya tegas.

Perlahan, lelaki itu mengeluarkan isi map. Stefhani melihat mata lelaki itu memicing pada lembaran-lembaran bukti yang ia simpan rapi.

“Kamu tidak bisa mengelak lagi.” Stefhani mendengus kasar.

Wajah lelaki itu tetap datar. Lalu, ia membuka laci dan mengeluarkan buku kecil persegi panjang.

Dengan pena di tangan, siap menulis angka di atas kertas, lelaki itu bertanya, “Berapa yang kamu mau? Tiga milyar?”

Stefhani mengerjap. “Maksudmu?”

“Lupakan kejadian itu. Akan kuberikan jumlah yang kamu mau. Sebutkan!”

“Tidak. Aku tidak mau uang.” Stefhani menggeleng tegas.

“Lalu? Apa maumu?”

“Nikahi aku!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   8. Jangan Macam-Macam!

    “Kamu?! Aku pikir Blue.”Tubuh Stefhani terlonjak ketika melihat Darla sudah berdiri dengan angkuh di depan pintu apartemen Blue. Berarti Darla tau password unit Blue ini.“Selamat pagi, Nona Darla,” sapa Stefhani ramah. Di hadapannya, Darla menatap Stefhani dengan tatapan sengit. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini di kediaman tunanganku?”“Mm… hanya mengecek Tuan Blue saja karena semalam kan mabuk.” Stefhani mencoba untuk tetap tenang. “Oh, sok perhatian sekali.” Darla mendekat selangkah, mencoba semakin mengintimidasi Stefhani. “Kamu tahu kan, konsekuensi seperti apa yang akan kamu dapatkan kalau sampai aku melapor ke kantormu? Bahwa kamu menggoda atasanmu?”“Aku tidak melakukan apa pun yang kamu pikirkan.”Darla tersenyum tipis. “Mungkin lebih tepatnya, belum. Aku tahu pasti, kamu mencoba memanfaatkan kondisi Blue yang mabuk semalam”Darla hendak membuka mulut lagi ketika sebuah suara berat terdengar dari belakang. “Stefhani membantuku. Justru aku yang memanfaatkannya.”Blue berdi

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   7. Mabuk

    “Apa maksudmu, Blue?”Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar. “Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.Blue benar-benar mabuk.Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu. Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara. Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang d

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   6. Pesta Bujang

    Sabtu malam, Grey dibuat terpukau oleh pesta bujang yang diatur Stefhani. Seharusnya Blue yang urus, tapi lelaki itu terlalu malas dan menyerahkannya pada Stefhani dengan iming-iming uang tambahan yang besar.Dan, di sinilah mereka sekarang… sebuah bar eksekutif yang salah satu ruangannya telah dibooked untuk acara pesta bujang Grey.Minuman-minuman mahal dan langka, pilihan musik yang sesuai selera, hingga penari-penari striptease yang Stefhani seleksi sendiri, siap menghibur teman-teman Grey yang diundang ke acara ini.“Kerjamu luar biasa, Stefhani!” Grey memujinya untuk kesekian kali.Stefhani tersenyum. Ia senang karena jerih payahnya tampak begitu memuaskan di mata Grey.“Tentu. Aku tidak akan mengecewakan. Tuan Blue sudah membayarku mahal untuk ini,” sahut Stefhani.“Blue, Kerja sekretarismu mengagumkan!” puji Grey lagi, kali ini tertuju untuk Blue yang tetap diam sedari masuk ke ruangan ini.Di antara semua lelaki yang datang memenuhi bar eksekutif ini, hanya ada satu lelaki ya

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   5. Semakin Dekat

    “Bukankah ini keputusan yang gegabah, Tuan? Tuan pasti tahu kalau ini bisa memicu kecemburuan internal.” Kepala HRD berusaha berkata dengan hati-hati.Stefhani terdiam. Ia tak berani berkomentar, sementara belasan pasang mata kini tengah menatap ke arahnya.“Kamu butuh alasan?” tanya Blue. “Aku mengenalnya sejak lama. Stefhani adalah teman Grey. Bukan begitu, Grey?” lempar Blue pada kembarannya.Beruntung, Grey cepat beradaptasi. “Ya, benar. Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu.”Pria yang punya wajah identik dengan Blue itu bahkan memberikan kedipan mata ke arah Stefhani. Gadis itu memberikan senyuman santai, mendukung pernyataan Grey.Kepala HRD berdeham pelan. “Kalau begitu … tentu kami menghargai penilaian Tuan,” putusnya, meski nada suaranya masih terdengar keberatan. “Namun saya harap Nona Stefhani bisa beradaptasi dengan cepat. Tanggung jawab sekretaris CEO bukan hal ringan.”“Saya paham,” jawab Stefhani tenang. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Saya aka

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   4. Bukti Baru

    “Anda masih perawan.”Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia ban

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   3. Bukan Aku

    “Menikahimu? ulang Blue. Detik berikutnya, rahang lelaki itu mengeras. “Itu... tidak mungkin.”“Dan aku akan memaksamu.” Stefhani mengambil selembar kertas di meja yang belum disentuh Blue. “Kamu sudah menodaiku.”Blue mengerutkan kening membaca apa yang tertera di kertas. Berkali-kali lelaki itu mengembuskan napas berat. Lalu, ia mengangkat ponselnya dan memberi perintah melalui benda komunikasi itu.“Ke ruanganku. Sekarang!”Stefhani bingung. Ia mulai tidak sabar kala Blue hanya diam dan tampak melamun.“Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aku juga tau kamu mengenaliku karena kamu langsung berhenti saat aku menyebutkan nomer kamar hotel itu.”“Bukan aku yang bersamamu malam itu.” Blue menggeleng kesal.Kalimat itu pelan, hampir tak terdengar. Meski begitu, telinga Stefhan masih menangkap ucapan itu.“Terus saja menyangkal! Aku sudah memperbanyak dokumen-dokumen ini dan.... “Pintu terbuka. Stefhani menoleh dan ternganga melihat siapa yang masuk. Seorang lelaki berwajah sama dengan Blue y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status