Mag-log inTiga tahun sudah, Stefhani berjuang sendirian di negeri orang. Bulan-bulan pertama, ia terpuruk. Menangis, jarang membersihkan diri sendiri dan malas makan.
Setelah melewati stress berkepanjangan, Stefhani mulai bangkit. Terutama kala sadar, tabungannya semakin menipis. Ia mulai mencari pekerjaan.
“Selamat datang di BlueVortex International.”
Stefhani menatap kalung nametag-nya. Langkah awal yang bagus, meski diawali menjadi staf administrasi. Stefhani memulai tugasnya mendampingi karyawan senior.
Lalu, suasana kantor yang nyaman itu mendadak sedikit ramai dengan suara bisik-bisik. Stefhani iku menoleh pada sosok yang baru datang. Lelaki tampan, tegap, dan memancarkan wibawa tanpa perlu banyak bicara.
Langkahnya terukur dan tenang. Postur tingginya berjalan tanpa menoleh, satu tangan masuk ke saku celana, sementara yang lain menggenggam ponsel seolah dunia hanya angka dan jadwal.
Dahi Stefhani berkerut dalam. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Tidak seperti karyawan lain yang memandang dengan penuh kekaguman. Ia malah merasakan amarah yang bertahun-tahun disimpan kembali muncul.
“Lelaki itu.... “ gumamnya dalam hati.
Penglihatan itu membuat Stefhani tidak fokus pada pekerjaan. Wajah lelaki itu terus terbayang. Saat jam kantor usai dan suasana sepi, ia menghadang dengan wajah murka.
Kamu... yang mengambil keperawananku!" Stefhani menuding lelaki di depannya yang tampak terkejut. Beberapa detik kemudian, lelaki itu menjawab dingin.
"Kamu salah orang!"
"Tidak. Minggir.... " Stefhani tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena sudah dihadang dua lelaki kekar.
Matanya memicing kesal kala melihat lelaki tinggi itu bergegas pergi.
"Aku tidak salah orang!" teriak Stefhani. "Tiga tahun lalu, Hotel Royal Swiss, kamar 713."
Debar jantung Stefhani menguat. Ia mendengus pelan kala akhirnya lelaki itu berhenti berjalan lalu membalik tubuh. Matanya mengamati Stefanie dari ujung rambut hingga kaki. Lalu kembali menatap wajahnya cukup lama.
"Bawa dia ke ruanganku!" titah si lelaki pada dua lelaki kekar di belakangnya.
Lelaki itu berjalan mendahului. Stefhani digiring ke sebuah ruangan mewah. Ia membaca papan nama di meja hitam pekat.
Blue Lucien Arsenio Willson. CEO.
Stefani menggigit bibir bawahnya. Lelaki ini... CEO? Orang yang menidurinya bertahun-tahun lalu ternyata seorang pimpinan tertinggi perusahaan internasional?
"Siapa kamu?" Suara tegas itu membuat Stefhani tersadar dari lamunan.
Meski sedikit gentar, Stefhani tak mau memperlihatkannya. Ia menatap lelaki di depannya dengan sikap menantang.
"Stefhani Louisa."
Lelaki di depan Stefhani sedikit mengerutkan dahi. Ia lalu berkacak pinggang dan bertanya datar. "Kamu mau apa?"
Dari jarak dekat, lelaki itu sangat tampan. Parfum mahal beraroma maskulin membuai penciuman Stefani. Matanya... yaa mata biru itu, Stefhani ingat sekali tatapannya.
Sesaat, Stefhani terdiam lalu dengan cepat mengalihkan pandangan.
"Aku... aku mau hidupku kembali sebelum kamu mengambil keperawananku." Mata Stefhani berkilat kala ia mengangkat kepala dan menatap lelaki di depannya. "Kamu harus tanggung jawab!"
Blue terlihat mengerutkan kening. "Mengambil keperawananmu? Aku tidak melakukan apa pun!"
Wajah Stefhani yang semula sendu kini berubah garang. "Aku sudah ternoda! Kamu bilang nggak melakukan apa pun? Dasar bajingan!"
"Berani kamu memakiku!" Blue menggeram dengan nada tinggi.
Stefhani mundur satu langkah. Ia tau dirinya sangat nekat menghadapi lelaki ini. Apalagi ternyata ia seseorang yang berkuasa.
Tetapi, ia tidak mau kehilangan kesempatan.
"Aku bisa menyebarkan berita di media sosial bahwa Tuan Blue, CEO terkenal memiliki skandal di masa lalu dan enggan bertanggung jawab!"
"Aku bisa melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan pencermaran nama baik dan tuduhan yang tidak beralasan!" Blue membalas dengan mengancam sambil mengangkat teleponnya.
"Jangan!" Stefhani memohon sambil spontan memegangi lengan Blue. "Hidupku akan bertambah hancur jika di penjara."
Stefhani lalu tertegun sesaat kala sadar ia memegangi lengan berotot. Perlahan ia melepas genggamannya dan kembali menunduk.
Entah karena kasihan atau kenapa, Stefhani melihat Blue memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Lelaki itu kini menatap Stefhani.
"Malam itu... seperti kubilang tadi, aku tidak melakukan apa pun padamu. Pergi lah. Anggap itu semua tidak pernah terjadi."
"Apa?! Anggap semuanya tidak terjadi?" Stefhani berteriak murka. "Asal kamu tau, aku diusir dari keluarga karena bukti foto-foto kita di ranjang tersebar."
"Atau kamu lebih suka aku posting di media sosial, Tuan Blue yang terhormat?" Stefhani menambahkan dengan kalimat ancaman.
Lelaki di depan Stefhani diam. Matanya mengerjap beberapa kali lalu mengerutkan kening dalam-dalam.
"Kamu... punya buktinya?" Blue menurunkan nada suaranya. "Aku mau lihat."
"Akan kuberikan copynya."
"Aku beri waktu satu jam. Kembali ke sini dengan foto-foto itu."
"Kamu gila? Satu jam? Aku tidak bisa."
"Artinya kamu bohong. Kamu hanya mengulur waktu."
"Aku tidak bohong! Atau kamu ikut saja biar tau perjalananku ke tempat ini lebih dari satu jam."
Blue tampak berpikir. Stefhani tau lelaki di depannya sangat ingin melihat bukti itu.
"Kamu mau menjebakku dengan ikut denganmu?" Blue tersenyum sinis. "Aku tunggu di sini. Itu pun kalau kamu punya buktinya."
"Baik. Aku akan ke apartemenku di daerah Casadona. Aku akan kembali." Stefhani membalik tubuhnya namun baru dua langkah lelaki itu menahannya.
"Casadona? Kamu tinggal di sana?" Blue melirik name tag yang melingkar di leher Stefhani.
Sambil merengut, Stefhani menyahut, "Sudah kubilang perjalananku jauh."
Blue menatap Stefhami sejenak, lalu memutuskan. "Aku akan minta supirku mengantarmu."
Stefhani mengangguk.
Dalam waktu hampir dua jam, Stefhani kembali. Ia menyerahkan satu map pada Blue.
“Aku tidak bohong!” ucapnya tegas.
Perlahan, lelaki itu mengeluarkan isi map. Stefhani melihat mata lelaki itu memicing pada lembaran-lembaran bukti yang ia simpan rapi.
“Kamu tidak bisa mengelak lagi.” Stefhani mendengus kasar.
Wajah lelaki itu tetap datar. Lalu, ia membuka laci dan mengeluarkan buku kecil persegi panjang.
Dengan pena di tangan, siap menulis angka di atas kertas, lelaki itu bertanya, “Berapa yang kamu mau? Tiga milyar?”
Stefhani mengerjap. “Maksudmu?”
“Lupakan kejadian itu. Akan kuberikan jumlah yang kamu mau. Sebutkan!”
“Tidak. Aku tidak mau uang.” Stefhani menggeleng tegas.
“Lalu? Apa maumu?”
“Nikahi aku!”
Luna semakin memberengut. “Kak Blue nggak percaya dia ngomong gitu? Biar nggak sejenius Kak Blue, Kak Grey dan Sky, aku juga punya ingatan yang bagus.”“Eits…jangan ngambek. Oke, Kak Blue percaya.” Blue mengusak kepala Luna. “Terus? Tadi kalian ngobrolin apa?”“Dia minta maaf. Aku maafin tapi masih….” Luna berhenti bicara dan merintih sambil memegangi perutnya.“Luna!” Blue langsung panik dan memegangi sang adik. “Sakit lagi perutnya?”Tidak langsung menjawab, Luna berusaha mengatur pernapasannya. Blue hanya bisa mengusap punggung Luna sambil menunggu.“Sudah lebih baik?” Blue mengamati ekspresi Luna yang mulai tenang.Kepala Luna mengangguk. “Tiba-tiba saja terasa nyeri. Padahal tadi baik-baik saja.”“Ya sudah. Berbaring dulu.” Blue mengatur bantal untuk Luna agar lebih nyaman posisi tidurnya. “Kak Blue temenin sampai kamu tidur.”“Nggak usah.” Luna menggeleng keras. “Kak Blue kan lagi honeymoon. Luna nggak mau Kak Blue di sini.”Blue menghela napas sejenak. Lalu tiba-tiba mendapat i
Theodore mengetuk pintu dengan pelan."...Masuk," jawab suara Luna dari dalam, terdengar mengantuk.Theodore mengintip sebelum pintu perlahan. Luna berbaring miring dengan mata terpejam. Sepertinya tidak sadar siapa yang masuk—mungkin mengira hanya salah satu keluarganya.Dengan langkah pelan, Theodore masuk. Tidak ingin membuat suara yang mengganggu. Ia melihat stetoskopnya tergeletak di meja samping tempat tidur, persis seperti yang ia ingat.Ia meraih stetoskopnya dengan hati-hati, lalu berbalik untuk pergi. Tapi kemudian suara Luna membuatnya berhenti."Kak Theo?" Luna bangun dan terduduk."Iya?" jawab Theodore dengan hati-hati. “Maaf, aku cuma mau ambil ini.” Theo mengangkat stetoskop di tangannya.Luna terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan kata-katanya. "Oke.”Theodore tersenyum kecil, melangkah sedikit lebih dekat—tidak terlalu dekat, masih menjaga jarak yang profesional. "Kamu… k
Pintu kamar terbuka perlahan. Theodore masuk dengan tas kulitnya, diikuti oleh Grey, Blue, Stefhani, dan Daddy Geo yang ingin melihat perkembangan kondisi Luna. Mommy Bianca dan Sky berdiri di samping tempat tidur.Luna duduk bersandar di tumpukan bantal, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Pipinya bahkan sudah sedikit berwarna merah muda kembali. Matanya yang tadi sempat sayu kini sudah lebih fokus, meskipun masih terlihat lelah."Luna, sayang, dokter sudah datang untuk cek kondisimu," ucap Bianca dengan lembut sambil mengusap rambut putrinya.Luna mengangguk pelan, matanya melirik Theodore yang mendekat dengan senyum profesional."Halo, Luna. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Theodore sambil meletakkan tasnya di meja samping tempat tidur."Lebih baik," jawab Luna dengan suara yang masih sedikit serak tapi jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Tidak mual lagi. Perut juga tidak sakit.""Bagus sekali." Theodore tersenyum, mengeluarkan stetoskop dari tasnya. "Aku akan periksa detak jantu
Tidak tega rasanya Blue mengatakan Luna adalah anak yang ringkih dan sering sakit sejak kecil. Sementara itu, Theo menunggu Blue melanjutkan kalimatnya.“Paling… unik di antara kami berempat.” Blue menyelesaikan kalimatnya. “Maklum, anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Bungsu pula.”Theo mengangguk mengerti. “Lalu, sejak kapan Luna sensitif pencernaannya?”“Sejak kecil suka tiba-tiba sakit saat makan sesuatu yang menurut kami makanan normal saja.”“Oh ya?”Sedikit, Blue menceritakan masa kecil Luna yang sering demam jika salah makan. Keluarga berpikir seiring waktu berjalan, sakit itu akan hilang. Nyatanya sampai saat ini, pencernaan Luna masih sensitif.Itu pula sebabnya Daddy Geo dan Mommy Bianca memutuskan untuk tidak memiliki bayi lagi meskipun ingin. Mereka merasa perlu merawat dan mendampingi Luna pada saat-saat rapuhnya seperti ini.“Kalau kalian mau, aku akan melakukan beberapa tes untuk Luna. Siapa tau kita bisa identifikasi zat apa saja yang tubuh Luna tidak bisa to
Grey langsung mendongak, menatap Theodore dengan bingung. "Bertemu kembali?"Tapi Theodore tidak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju pintu. "Aku akan kembali dua jam lagi untuk memeriksa kondisinya."Luna yang masih sangat lemah tidak merespons ucapan Theodore. Matanya tetap terpejam, tubuhnya terlalu letih untuk bahkan menyadari ada yang berbicara padanya.Blue yang menangkap keanehan dalam ucapan Theodore langsung angkat bicara. "Dokter, biar aku antar ke bawah.""Terima kasih."Blue berjalan berdampingan dengan Theodore. Ketika mereka sampai di tangga dan cukup jauh dari kamar Luna, Blue akhirnya angkat bicara."Dokter Theodore," mulai Blue dengan hati-hati. "Tadi... kamu bilang 'senang bertemu kembali' pada Luna. Kalian pernah bertemu?"Theodore berhenti melangkah, berbalik menatap Blue dengan ekspresi yang agak terkejut—seperti tidak menyangka ucapannya didengar. Ia terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan
Luna keracunan makanan." Suara Grey terdengar panik—sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Blue, aku butuh kamu di sini. Sekarang."Wajah Blue langsung tegang. "Aku segera ke sana."“Luna kenapa?” Stefhani bicara sambil Bersiap pergi."Keracunan makanan," jawab Blue sambil cepat-cepat mengenakan celana jeans. "Kondisinya parah. Grey butuh kita di villa mereka sekarang.""Oh, Tuhan!" Stefhani tergesa meraih tasnya. "Luna... dia kan sensitif dengan obat-obatan. Aku ingat kamu pernah cerita soal itu.""Exactly." Blue sudah mengenakan sepatunya. "Makanya Grey panik. Ayo, Stef. Cepat."Lima menit kemudian, mereka sudah di mobil rental menuju villa keluarga Wilson yang berjarak sekitar 15 menit berkendara.Begitu mereka tiba, suasana di villa terasa sangat tegang."Di mana dia?" tanya Blue langsung pada Grey yang menyambutnya."Kamar atas. Kimmy sedang menjaganya." Grey memimpin mereka naik tangga dengan cepat. "Kondisinya semakin memburuk, Blue. Demamnya mencapai 39 derajat. Dia hampir tidak







