Mag-log in
Stefhani menggeliat pelan. Lalu, terkesiap menyadari dirinya tanpa busana. Spontan, ia menarik ujung selimut, menutupi dada.
Ia sedikit mengangkat kepala. Lalu, matanya bersirobok dengan lelaki tampan yang baru akan keluar dari kamar hotel tersebut.
“Tu—Tunggu!”
Terlambat. Lelaki itu sudah menutup pintu. Stefhani buru-buru turun dari ranjang, lalu mengumpat kala sadar ia telanjang.
Dengan cepat, Stefhani menarik selimut dan melillitkannya di tubuh. Segera memburu ke pintu. Dadanya berdebar kencang saat hendak mengejar lelaki yang baru saja keluar.
Namun, yang ia temukan hanya pintu lift yang tertutup. “Sial!” Stefhani memukul pintu besi di depannya.
Kepalanya menoleh ke kiri kanan lorong. Takut ada yang melihat dirinya hanya berbalut selimut, Stefhani kembali ke kamar. Ia tertegun di depan pintu menatap nomer kamar dan menggeleng samar.
“Aku bahkan tidak pernah membooking kamar ini.”
Dengan jantung berdebar kencang ia mengumpulkan pakaian yang bercecer di lantai kamar dan memakainya. Otaknya berpikir cepat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Selesai berpakaian, Stefhani berniat mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Namun, belum sempat mencari, pintu sudah digedor keras. Stefhani menoleh dan mengira lelaki itu kembali.
Cepat, ia membuka pintu dengan emosi tinggi.
“Kamu.... “ Jari Stefhani yang terangkat langsung perlahan turun melihat siapa yang ada di depannya.
Wanita berjas putih langsung masuk. Stefhani mengenalinya sebagai dokter keluarga. Sekilas terlihat mengamati sekeliling, lalu menatap Stefhani.
“Buka pakaian anda, Nona. Saya izin periksa.”
Stefhani mundur satu langkah dan menggeleng. “Ke—Kenapa?”
“Ini perintah Papa Anda.”
Mendengar ucapan tersebut Stefhani menurut. Selama pemeriksaan, ia hanya bisa menghela napas panjang berkali-kali.
Setelahnya, ia digiring beberapa lelaki kekar yang sudah menunggu di luar. Stefhani hanya bisa pasrah saat ia dihadapkan pada lelaki tua di depannya.
“Papa.” Stefhani menundukkan kepala santun.
“Kamu sudah mencoreng nama bersih keluarga!” Nada tinggi itu menyapa Stefhani.
Berlembar foto disebar di meja. Tampilan dirinya sedang pesta di sebuah klub malam hingga terlihat mabuk membuat Stefhani membelalakkan matanya. Lalu ia mengambil satu lembar secara acak.
Foto dirinya tanpa busana dengan seorang lelaki di kamar hotel. Lelaki itu hanya tampak samping dan tidak terlihat jelas wajahnya.
“Ini... sebuah jebakan,” gumamnya sambil mengamati seisi ruangan.
Papa, Mama dan kakak tirinya berdiri dengan wajah dingin. Meski begitu, ia bisa melihat mata papanya tampak terluka dan menampakkan kesedihan mendalam.
“Papa... semalam aku hanya.... “
“Papa tau. Kamu dan kakakmu, Margie memang izin ke pesta ulang tahun Holly. Tapi, Margie langsung pulang setelah memberikan hadiah. Sementara kamu.... “ Lelaki tua bernama Larry itu melirik foto-foto di meja dan menggeleng.
Suasana tegang itu semakin suram kala dokter wanita yang memeriksanya masuk. Ia memberikan selembar surat pada Larry sambil menundukkan kepala.
Larry membuka dan membacanya cepat. Stefhani melihat tangan sang papa bergetar hebat.
“Kamu.... “ Larry menunjuk wajah Stefhani. “Mulai hari ini, kamu bukan lagi putriku!”
Detik berikutnya, tanpa bisa membela diri, Stefhani diseret keluar. Koper besar dan satu map dilempar di sampingnya.
“Kamu hanya bisa kembali jika menemukan lelaki itu dan menikah dengannya!”
Dorongan kasar di bahu membuat Stefhani terhuyung keluar rumah. Kakinya nyaris kehilangan pijakan di anak tangga.
Detik berikutnya, BRUAAAK!
Pintu utama dibanting begitu keras sampai seluruh rangka rumah bergetar. Suaranya menggema panjang di halaman yang sepi. Stefhani berdiri dan menggedor pintu dengan perasaan kalut.
“Papaa!” jerit Stefhani.
Percuma. Sefhani tau teriakannya tidak akan mempengaruhi apa pun. Stefhani meraih map dan mengeluarkan isinya.
Selain foto-foto, terselip selembar kertas laporan dari dokter. Stefhani dengan cepat membaca. Tubuhnya melorot lemah mengetahui hasil pemeriksaan menunjukkan ia telah ternoda.
Stefhani lahir di keluarga yang menjunjung tinggi kesucian seorang wanita. Mamanya adalah istri kedua Papa yang menginginkan anak lelaki. Istri pertamanya tidak bisa hamil lagi karena masalah medis.
Kandungan Mamanya sempat dipaksa digugurkan begitu tau janin itu perempuan. Tetapi, Mama tetap mempertahankan. Rasanya sia-sia selama ini, ia membuktikan diri bahwa perempuan bisa setara dengan laki-laki dan akhirnya mendapat perhatian sang Papa.
Hanya satu malam saja semua citra yang ia bangun hancur total tanpa ia tau bagaimana semua bisa terjadi.
Dengan langkah gontai, Stefhani menggeret koper. Hanya ada satu tujuan saat ini. Rumah Paman yang biasanya melindunginya.
Namun, Paman Nael menggeleng lemah. “Dengan bukti-bukti yang ada, kamu memang bersalah.” Paman Nael menghela napas panjang.
“Bisakah Paman bicara pada Papa? Aku benar-benar dijebak. Tidak tau siapa lelaki itu dan bagaimana bisa aku ada bersamanya.” Stefhani memohon.
Embusan napas panjang terdengar dari hidung Nael, ia hanya mengangguk pelan meski tidak berjanji apa pun.
Esoknya, bukan kabar gembira yang Stefhani dapatkan. Paman Nael malah memberikan identitas baru pada Stefhani – tanpa nama keluarga yang selama ini dengan bangga disandangnya.
“Pergilah, Stef. Papamu tetap pada keputusannya. Paman pun akan kena masalah jika masih menampungmu di sini.”
Stefhani terisak. Ia memegang identitas barunya dengan tangan bergetar. “Ke—Ke mana aku pergi, Paman?”
Paman Nael mengelus lengan atas Stefhani. “Pergi lah ke tempat di mana kamu tidak dikenal sebagai wanita yang ternoda.”
Kepala Stefhani menggeleng sedih. Kedua tangannya menutup wajah dengan isakan yang lebih keras. Pernyataan Paman Nael mengisyaratkan bahwa ia harus keluar dari negaranya, di mana tidak ada seorang pun yang tau tentang dirinya.
Secara rutin keluarga Willson berkunjung ke kastil Ravenclaw di mana Stefhani, Blue dan anak-anaknya tinggal. Atau sebaliknya, Blue yang memboyong keluarganya berkunjung ke mansion The Willson.Larry semakin sehat dengan adanya cucu-cucu. Mike bahkan tidak selalu berada di sampingnya sekarang. Ia lebih sering mengurus aset bangsawan mewakili Larry.Sementara Gloria kini lebih perhatian. Ia yang merawat Larry dengan tulus.Hari ini, Ballroom kastil mewah disiapkan khusus untuk perayaan ulang tahun kedua si kembar. Dekorasinya sangat meriah.Setengah ruangan dengan tema "Princess Wonderland" dengan dominasi warna pink, ungu, dan emas, lengkap dengan kastil mini, balon-balon berbentuk mahkota dan kupu-kupu, serta meja dessert yang penuh dengan kue bertingkat dan cupcakes dengan topper princess.Setengah ruangan lainnya dengan tema "Little Businessman Empire" dengan dominasi warna hitam, silver, dan biru navy, dihias dengan miniatur gedung-gedung pencakar langit, meja-meja kerja mini, bahk
Dr. Hassan yang mendengar ucapan Blue tersenyum geli. Ia sudah sangat sering mendengar suami-suami yang bilang hal yang sama di ruang bersalin dan kemudian dua tahun kemudian, mereka kembali lagi dengan kehamilan kedua.Mommy mondar-mandir sejak pagi dan sekarang kakinya mulai pegal, tapi ia tidak bisa berhenti. Dari kamar Kimmy yang sudah pembukaan sembilan, ke kamar Stefhani yang pembukaan tujuh, lalu kembali lagi.Daddy Geo mencoba menariknya untuk duduk. "Bianca, sayang, kamu harus istirahat. Kamu sudah mondar-mandir seharian.""Aku tidak bisa istirahat!" jawab Mommy Bianca dengan cemas. "Kedua menantuku sedang kesakitan melahirkan cucu-cucuku! Bagaimana aku bisa tenang?!""Dengan duduk dan bernapas," jawab Daddy Geo dengan lembut tapi tegas, menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. "Kamu tidak akan bisa bantu siapa pun kalau kamu pingsan karena kelelahan."Larry juga terlihat sangat Lelah. Sejak pagi, ia sudah di rumah sakit dan menolak untuk pulang meski Gloria sudah menyuru
Bianca memberikan satu piring kecil kue lemon pada Gloria. “Silahkan. Ini salah satu menu favorit keluarga.”“Terima kasih.” Gloria menunduk sambil menerima piring itu. Ia mencicipi dan tertegun sejenak.“Bagaimana?” tanya Bianca.“Enak sekali. Pantas saja menjadi favorit.” Gloria mengamati tekstur kue. “Sangat lembut dan ringan sekali dimakan.”Bianca menceritakan bahwa semua makanan di mansion memang dibuat dengan bahan-bahan khusus yang ramah untuk penderita alergi seperti Luna. Mau tidak mau, semua anggota keluarga makan apa pun yang Luna bisa makan.“Tapi dengan begitu kalian jadi fit karena makanannya selalu sehat.” Gloria menyimpulkan.“Benar.”Mereka terdiam kemudian. Gloria meletakkan piringnya dan mengambil serbet. Mengelap ujung bibirnya dengan sikap elegan, kemudian setelah selesai menatap Bianca.“Aku mau minta tolong padamu.”Bianca mengerutkan kening. “Minta tolong apa?”“Aku… sadar selama ini tidak baik pada Stefhani dan terlalu memanjakan Margie. Melihatmu sukses meng
“Sudah jangan merengut begitu.” Blue menasehati kembarannya. “Kalau masih mau protes, sana ngomong sama Tuhan.”Grey menghela napas panjang. “Iyaa. Cuma aku tuh masih kepikiran kalau punya kembar lelaki dan perempuan kaya Sky dan Luna kan hemat. Sekali aja hamil udah punya sepasang.”“Maksudnya, kamu nggak mau Kimmy hamil lagi?”“Tadinya begitu. Kayanya kasihan aku sama Kimmy. Lemes banget dia selama hamil.”Keduanya spontan mengamati istri-istri mereka. Kimmy sedang duduk bersama orang tuanya. Demikian juga dengan Stefhani yang mengobrol dengan Larry dan Gloria.“Meski begitu, Kimmy tampak bahagia kok.”Grey mengangguk. “Dokter memang bilang trimester kedua, kesehatan Kimmy akan lebih baik. Tapi kenyataannya nggak tuh."“Mungkin karena anak yang di rahim Kimmy perempuan, bawaannya malas dan lemas. Jadi pengennya cuma rebahan.” Blue memberikan analisanya.Spontan Grey menoleh pada Blue. “Bisa jadi begitu, ya. Soalnya, Stefhani meski mual dan muntah tetap aktif. Pasti karena dia hamil
“Margie melahirkan anak perempuan.” Stefhani berkata pada suaminya yang sedang bekerja online.“Oh, oke.” Blue hanya membalas singkat. Tetapi, kemudian kepalanya mendongak dan menatap sang istri yang duduk termenung di sofa.Akhirnya Blue bangun dari kursi kerjanya dan menghampiri sang istri. Bibirnya mencium puncak kepala Stefhani sementara tangannya mengusap lembut perut yang mulai menonjol itu.“Kenapa? Kamu mau ke kastil Margie?”Stefhani menggeleng. “Kurasa Margie masih istirahat. Aku hanya kasihan pada Margie.”“Karena?”“Kedudukannya semakin terpuruk karena melahirkan anak perempuan sementara istri pertama Prince Axel telah memiliki dua putra.”Blue tidak mau berkomentar. Karena jika ia membuka mulut, maka ia yakin tidak bisa mengontrol kata-kata kasar yang akan keluar.Baginya para bangsawan itu memang sudah seharusnya terbuka pikirannya. Anak lelaki dan perempuan setara dan tidak adil rasanya terus-terusan mendeskriminasikan anak perempuan.Selang beberapa hari, pesta penyamb
Setelah insiden Gloria dan Margothie tersesat, keduanya memang langsung berubah. Mereka bersikap lebih baik tanpa menonjolkan diri. Terutama Gloria.Ancaman akan diceraikan merupakan pukulan telak baginya. Seorang putri bangsawan yang dicerai karena mempermalukan suami adalah tindakan sangat tercela di kalangan mereka.Bahkan jika itu terjadi, bisa jadi seorang putri bangsawan akan dikucilkan. Tentu Gloria tidak ingin hal tersebut menimpanya.Pesta kehamilan Stefhani dan Kimmy berlangsung meriah—meski hanya keluarga dekat saja yang hadir.“Aku berharap Stefhani melahirkan di kastil.” Larry berkata pada Geo.Mereka sedang mengamati sesi foto para ibu hamil dan suami-suami mereka. Blue yang biasanya berwajah datar, hari ini banyak tersenyum.Sementara Grey yang terlihat paling bahagia. Keinginannya agar istrinya dan istri Blue hamil berbarengan tercapai.“Aku mengerti keinginanmu. Tetapi, di sini fasilitas kesehatan lebih canggih.” Geo memberi saran, “Lagipula, biarkan Blue dan Stefhani
Hening total.Kimmy yang duduk di samping Grey langsung melirik suaminya. Ekspresinya campuran antara shock dan pasrah. Sebelumnya ia pernah bilang ahwa sebaiknya Blue dan Grey cerita pada orang tua mereka sebelum Geo dan Bianca tau dari orang lain.Grey terlihat panik, tetapi kemudian mendengus pe
Stefhani menatap ketiga tamunya. Blue, Grey dan Kimmy masih memakai pakaian yang sama saat jamuan makan malam. Pasti, mereka sangat penasaran dengan identitasnya hingga segera datang ke sini.Lalu, tatapannya berhenti pada Blue. “Sejak kapan Tuan tau aku putri bangsawan?”Blue menaikkan kedua alisn
"Daddy kenal?" Blue dan Grey serempak bertanya."Kalian meragukan relasi pertemanan Daddy?" Geo balik bertanya, lalu berdiri.“Aku permisi sebentar.” Sebelum pergi, Geo mengusap sayang punggung Bianca. “Kalian sarapan saja duluan.”Sambil berjalan, Geo menatap ponselnya dengan tatapan yang penuh no
#Bab sebelumnya sudah direvisi, ya. Terima kasih infonya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya#Grey mengangguk. “Vincent adalah teman satu kampus Blue, Sir. Larry.”“Sangat tak terduga,” gumam Larry.Ruangan itu kembali sunyi. Kini hanya terdengar aliran halus udara yang keluar dari masker oksigen y







