Masuk“Menikahimu? ulang Blue. Detik berikutnya, rahang lelaki itu mengeras. “Itu... tidak mungkin.”
“Dan aku akan memaksamu.” Stefhani mengambil selembar kertas di meja yang belum disentuh Blue. “Kamu sudah menodaiku.”
Blue mengerutkan kening membaca apa yang tertera di kertas. Berkali-kali lelaki itu mengembuskan napas berat. Lalu, ia mengangkat ponselnya dan memberi perintah melalui benda komunikasi itu.
“Ke ruanganku. Sekarang!”
Stefhani bingung. Ia mulai tidak sabar kala Blue hanya diam dan tampak melamun.
“Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aku juga tau kamu mengenaliku karena kamu langsung berhenti saat aku menyebutkan nomer kamar hotel itu.”
“Bukan aku yang bersamamu malam itu.” Blue menggeleng kesal.
Kalimat itu pelan, hampir tak terdengar. Meski begitu, telinga Stefhan masih menangkap ucapan itu.
“Terus saja menyangkal! Aku sudah memperbanyak dokumen-dokumen ini dan.... “
Pintu terbuka. Stefhani menoleh dan ternganga melihat siapa yang masuk. Seorang lelaki berwajah sama dengan Blue yang langsung berdiri di samping meja.
“Apa? Aku ada janji sebentar lagi. Cepat!” Lelaki itu berucap dengan nada tak sabar.
Tanpa banyak kata, Blue mengendik pada foto-foto dan kertas di meja. Seketika wajah lelaki itu pucat pasi.
“Kalian.... “ Stefhani tidak melanjutkan kalimatnya. Mulutnya terbuka dengan mata menatap wajah Blue dan Grey bergantian.
“Kami kembar.” Blue menyahut, menjawab kebingungan di wajah Stefhani. “Adikku ini – Grey, yang bersamamu malam itu.”
“Pagi itu, aku yang menjemput Grey di hotel. Saat akan keluar kamar, kamu terbangun dan kita memang saling bertatapan.” Blue menambahkan. “Itu sebabnya kamu hanya mengingat wajahku.”
Lelaki bernama Grey menatap wanita yang duduk di depan Blue. Ia mengamati foto lalu mengamati wajah Stefhani.
“Kamu... yang ada di foto ini?”
Stefhani mengangguk. Masih shock, karena ternyata ia salah mengancam orang.
“Dengar! Tidak ada yang terjadi di antara kita. Seseorang memasukkan obat tidur ke minuman kita.” Grey dengan tegas berkata. “Aku bahkan tidak melihat wajahmu malam itu.”
“Aku terkejut saat bangun dan langsung minta Blue datang,” imbuh Grey lagi.
“Ta—Tapi, laporan itu.... “ Terbata, Stefhani membalas.
Blue memberikan kertas dari dokter pada adik kembarnya dan membiarkan Grey membacanya.
“Oo, tidak. Ini salah. Kalaupun kamu ternoda, artinya bukan denganku. Coba ingat-ingat siapa yang pernah bersamamu.” Grey terlihat panik.
“Brakk!!”
Blue dan Grey berjengit melihat Stefhani menggebrak meja. Wanita itu memberikan tatapan membunuhnya pada Grey.
“Kamu pikir aku wanita apa? Hanya kamu lelaki yang pernah tidur denganku.”
Grey tetap menggeleng. “Aku tidak merasa melakukannya. Memangnya kamu merasa aku menerobos masuk? Saat bangun, kamu merasa sakit di area intimmu?”
Stefhani terdiam. Memang benar ia tidak merasakan apa pun. Pagi itu, ia hanya merasa sangat takut menghadapi keluarganya.
“Blue, tolong aku.” Grey memohon.
“Aku sudah menawarinya uang tiga milyar dan dia menolak. Wanita ini hanya mau kamu bertanggung jawab dengan menikahinya.” Blue menatap datar adik kembarnya.
“Gila!” Grey mendesis pada Stefhani. “Aku nggak bisa nurutin kemauanmu.”
Stefhani menatap wajah Grey dengan raut kesal. Ia menceritakan apa yang terjadi setelah malam itu. Hingga akhirnya ia berada di perusahaan ini.
“Kamu enak. Hidupmu tidak berubah sejak malam itu. Sementara aku... terusir dari keluarga.” Stefhani mendengus kasar.
Blue dan Grey menghela napas berat. Keduanya terdiam. Mereka saling berpandangan dengan dahi berkerut.
“Jadi, kamu harus membantuku,” imbuh Stefhani. “Papaku memberi syarat agar bisa kembali. Aku hanya bisa pulang bersama dengan lelaki yang seranjang denganku malam itu. Kamu!”
“Aku sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Membantumu adalah hal yang mustahil kulakukan.” Grey menggeram.
“Paling tidak, kamu ikut denganku dan menjelaskan pada keluargaku.” Stefhani tetap bersikeras.
Grey menatap kembarannya yang sejak tadi hanya diam.
“Blue, Bagaimana ini? Gara-gara dia mengenalimu, kita jadi terjebak masalah ini juga.”
Blue menghela napas. “Selama tiga tahun ini, kamu tidak tau siapa yang menjebakmu?” tanyanya pada Stefhani.
Stefhani menggeleng lemah. Bagaimana ia mencari tau kalau keluarga menutup semua akses komunikasi?
Blue menatap kertas dokter. Ia dan Grey memiliki ingatan yang kuat. Masih ada rasa tak percaya kejadian bertahun-tahun lalu ini muncul begitu saja. Ia mengamati Stefhani.
“Buka pakaian atasmu!” titah Blue tiba-tiba.
Jangankan Stefhani, Grey saja spontan terbelalak pada saudara kembarnya.
Tangan Blue mengibas cepat. “Jangan salah paham. Aku perlu bukti lagi kalau memang benar kamu yang ada di foto ini. Pagi itu, aku melihat tanda lahir di punggungmu. Tunjukkan padaku.”
Mendengar pernyataan Blue, Stefhani menghela napas lalu mengangguk. Ia berdiri membelakangi Blue dan Grey, membuka kancing dan menurunkan blus itu. Masalahnya sekarang, tanda lahirnya tertutup oleh tali bra hingga ia juga harus membukanya.
Grey memalingkan wajah saat punggung Stefhani terpampang jelas di depan mereka. Blue menatap tanda lahir berwarna biru itu. Persis sama seperti yang ia ingat.
“Cukup.” Blue menghela napas lalu bergumam pelan pada Grey. “Memang benar dia.”
Stefhani segera mengenakan lagi pakaiannya, lalu duduk. Ia baru akan membuka mulut kala Blue berkata cepat.
“Aku juga tidak yakin dengan hasil ini,” ucapnya sambil menunjuk surat dokter. “Kita periksa ulang.”
Stefhani terdiam. Ia tau bagaimana rasanya diperiksa keperawanan. Dan itu sangat tidak nyaman baginya.
Melihat keragu-raguan Stefhani, Blue berjanji, “Kalau hasilnya benar kamu ternoda, Grey akan bertanggung jawab.... “
“Blue! Tidak bisa!” potong Grey dengan panik.
Blue mendelik pada sang adik, lalu melanjutkan, “Kalau ternyata bukti ini salah, kamu urus sendiri masalahmu dengan keluargamu.”
Mendengar pernyataan Blue, Stefhani akhirnya mengangguk.
Hampir satu jam sudah, Blue dan Grey berada di depan pintu pemeriksaan. Berkali-kali Grey mengembuskan napas panjang saking gugupnya. Hingga kemudian pintu terbuka.
Dokter wanita dan Stefhani keluar. Blue dan Grey serentak berdiri dan menunggu pernyataan dokter dengan wajah tegang.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan.... “
Secara rutin keluarga Willson berkunjung ke kastil Ravenclaw di mana Stefhani, Blue dan anak-anaknya tinggal. Atau sebaliknya, Blue yang memboyong keluarganya berkunjung ke mansion The Willson.Larry semakin sehat dengan adanya cucu-cucu. Mike bahkan tidak selalu berada di sampingnya sekarang. Ia lebih sering mengurus aset bangsawan mewakili Larry.Sementara Gloria kini lebih perhatian. Ia yang merawat Larry dengan tulus.Hari ini, Ballroom kastil mewah disiapkan khusus untuk perayaan ulang tahun kedua si kembar. Dekorasinya sangat meriah.Setengah ruangan dengan tema "Princess Wonderland" dengan dominasi warna pink, ungu, dan emas, lengkap dengan kastil mini, balon-balon berbentuk mahkota dan kupu-kupu, serta meja dessert yang penuh dengan kue bertingkat dan cupcakes dengan topper princess.Setengah ruangan lainnya dengan tema "Little Businessman Empire" dengan dominasi warna hitam, silver, dan biru navy, dihias dengan miniatur gedung-gedung pencakar langit, meja-meja kerja mini, bahk
Dr. Hassan yang mendengar ucapan Blue tersenyum geli. Ia sudah sangat sering mendengar suami-suami yang bilang hal yang sama di ruang bersalin dan kemudian dua tahun kemudian, mereka kembali lagi dengan kehamilan kedua.Mommy mondar-mandir sejak pagi dan sekarang kakinya mulai pegal, tapi ia tidak bisa berhenti. Dari kamar Kimmy yang sudah pembukaan sembilan, ke kamar Stefhani yang pembukaan tujuh, lalu kembali lagi.Daddy Geo mencoba menariknya untuk duduk. "Bianca, sayang, kamu harus istirahat. Kamu sudah mondar-mandir seharian.""Aku tidak bisa istirahat!" jawab Mommy Bianca dengan cemas. "Kedua menantuku sedang kesakitan melahirkan cucu-cucuku! Bagaimana aku bisa tenang?!""Dengan duduk dan bernapas," jawab Daddy Geo dengan lembut tapi tegas, menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. "Kamu tidak akan bisa bantu siapa pun kalau kamu pingsan karena kelelahan."Larry juga terlihat sangat Lelah. Sejak pagi, ia sudah di rumah sakit dan menolak untuk pulang meski Gloria sudah menyuru
Bianca memberikan satu piring kecil kue lemon pada Gloria. “Silahkan. Ini salah satu menu favorit keluarga.”“Terima kasih.” Gloria menunduk sambil menerima piring itu. Ia mencicipi dan tertegun sejenak.“Bagaimana?” tanya Bianca.“Enak sekali. Pantas saja menjadi favorit.” Gloria mengamati tekstur kue. “Sangat lembut dan ringan sekali dimakan.”Bianca menceritakan bahwa semua makanan di mansion memang dibuat dengan bahan-bahan khusus yang ramah untuk penderita alergi seperti Luna. Mau tidak mau, semua anggota keluarga makan apa pun yang Luna bisa makan.“Tapi dengan begitu kalian jadi fit karena makanannya selalu sehat.” Gloria menyimpulkan.“Benar.”Mereka terdiam kemudian. Gloria meletakkan piringnya dan mengambil serbet. Mengelap ujung bibirnya dengan sikap elegan, kemudian setelah selesai menatap Bianca.“Aku mau minta tolong padamu.”Bianca mengerutkan kening. “Minta tolong apa?”“Aku… sadar selama ini tidak baik pada Stefhani dan terlalu memanjakan Margie. Melihatmu sukses meng
“Sudah jangan merengut begitu.” Blue menasehati kembarannya. “Kalau masih mau protes, sana ngomong sama Tuhan.”Grey menghela napas panjang. “Iyaa. Cuma aku tuh masih kepikiran kalau punya kembar lelaki dan perempuan kaya Sky dan Luna kan hemat. Sekali aja hamil udah punya sepasang.”“Maksudnya, kamu nggak mau Kimmy hamil lagi?”“Tadinya begitu. Kayanya kasihan aku sama Kimmy. Lemes banget dia selama hamil.”Keduanya spontan mengamati istri-istri mereka. Kimmy sedang duduk bersama orang tuanya. Demikian juga dengan Stefhani yang mengobrol dengan Larry dan Gloria.“Meski begitu, Kimmy tampak bahagia kok.”Grey mengangguk. “Dokter memang bilang trimester kedua, kesehatan Kimmy akan lebih baik. Tapi kenyataannya nggak tuh."“Mungkin karena anak yang di rahim Kimmy perempuan, bawaannya malas dan lemas. Jadi pengennya cuma rebahan.” Blue memberikan analisanya.Spontan Grey menoleh pada Blue. “Bisa jadi begitu, ya. Soalnya, Stefhani meski mual dan muntah tetap aktif. Pasti karena dia hamil
“Margie melahirkan anak perempuan.” Stefhani berkata pada suaminya yang sedang bekerja online.“Oh, oke.” Blue hanya membalas singkat. Tetapi, kemudian kepalanya mendongak dan menatap sang istri yang duduk termenung di sofa.Akhirnya Blue bangun dari kursi kerjanya dan menghampiri sang istri. Bibirnya mencium puncak kepala Stefhani sementara tangannya mengusap lembut perut yang mulai menonjol itu.“Kenapa? Kamu mau ke kastil Margie?”Stefhani menggeleng. “Kurasa Margie masih istirahat. Aku hanya kasihan pada Margie.”“Karena?”“Kedudukannya semakin terpuruk karena melahirkan anak perempuan sementara istri pertama Prince Axel telah memiliki dua putra.”Blue tidak mau berkomentar. Karena jika ia membuka mulut, maka ia yakin tidak bisa mengontrol kata-kata kasar yang akan keluar.Baginya para bangsawan itu memang sudah seharusnya terbuka pikirannya. Anak lelaki dan perempuan setara dan tidak adil rasanya terus-terusan mendeskriminasikan anak perempuan.Selang beberapa hari, pesta penyamb
Setelah insiden Gloria dan Margothie tersesat, keduanya memang langsung berubah. Mereka bersikap lebih baik tanpa menonjolkan diri. Terutama Gloria.Ancaman akan diceraikan merupakan pukulan telak baginya. Seorang putri bangsawan yang dicerai karena mempermalukan suami adalah tindakan sangat tercela di kalangan mereka.Bahkan jika itu terjadi, bisa jadi seorang putri bangsawan akan dikucilkan. Tentu Gloria tidak ingin hal tersebut menimpanya.Pesta kehamilan Stefhani dan Kimmy berlangsung meriah—meski hanya keluarga dekat saja yang hadir.“Aku berharap Stefhani melahirkan di kastil.” Larry berkata pada Geo.Mereka sedang mengamati sesi foto para ibu hamil dan suami-suami mereka. Blue yang biasanya berwajah datar, hari ini banyak tersenyum.Sementara Grey yang terlihat paling bahagia. Keinginannya agar istrinya dan istri Blue hamil berbarengan tercapai.“Aku mengerti keinginanmu. Tetapi, di sini fasilitas kesehatan lebih canggih.” Geo memberi saran, “Lagipula, biarkan Blue dan Stefhani
Setelah pembicaraan tentang kepulangan Stefhani selesai, Blue berdiri. Ia mengeluarkan dua gelas kristal dan anggur dari dalam lemari kaca. Lalu, mengambil tempat es.“Blue! Kamu sudah mulai mabuk.” Stefhani lebih khawatir sekarang. “Sudah cukup minumnya.”Blue malah menuangkan alkohol ke dalam gel
Stefhani berdiri tegang di depan taman, satu tangan menopang ponsel, tangan lainnya mengelus dada untuk meredakan debaran jantung yang menguat. Di luar, cahaya matahari semakin terik, tapi Stefhani tidak menghiraukan sinar matahari yang menyilaukan itu.Layar ponselnya menyala.Blue sedang mengetik
Larry Langdon tampak jauh lebih rapuh dari terakhir kali Stefhani melihatnya. Rambutnya memutih hampir seluruhnya, kulitnya mengendur, dan napasnya terdengar berat. Lelaki yang dulu mengusirnya tanpa ragu kini harus bersandar pada bantal tebal hanya untuk duduk tegak.Stefhani menunduk, sopan, sepe
Geo kembali bersama keluarganya. Setelah diam-diam memperlihatkan Stefhani melalui saluran video call, Mike percaya. Lalu, Geo meminta Mike mengatur pertemuannya dengan Laven.“Bagaimana, Dad?” Blue yang paling dulu merespons kala sang daddy kembali duduk.“Laven sedang tidak bisa menerima telepon.







