Share

3. Bukan Aku

Author: ReyNotes
last update Last Updated: 2025-12-26 12:20:36

“Menikahimu? ulang Blue. Detik berikutnya, rahang lelaki itu mengeras. “Itu... tidak mungkin.”

“Dan aku akan memaksamu.” Stefhani mengambil selembar kertas di meja yang belum disentuh Blue. “Kamu sudah menodaiku.”

Blue mengerutkan kening membaca apa yang tertera di kertas. Berkali-kali lelaki itu mengembuskan napas berat. Lalu, ia mengangkat ponselnya dan memberi perintah melalui benda komunikasi itu.

“Ke ruanganku. Sekarang!”

Stefhani bingung. Ia mulai tidak sabar kala Blue hanya diam dan tampak melamun.

“Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aku juga tau kamu mengenaliku karena kamu langsung berhenti saat aku menyebutkan nomer kamar hotel itu.”

“Bukan aku yang bersamamu malam itu.” Blue menggeleng kesal.

Kalimat itu pelan, hampir tak terdengar. Meski begitu, telinga Stefhan masih menangkap ucapan itu.

“Terus saja menyangkal! Aku sudah memperbanyak dokumen-dokumen ini dan.... “

Pintu terbuka. Stefhani menoleh dan ternganga melihat siapa yang masuk. Seorang lelaki berwajah sama dengan Blue yang langsung berdiri di samping meja.

“Apa? Aku ada janji sebentar lagi. Cepat!” Lelaki itu berucap dengan nada tak sabar.

Tanpa banyak kata, Blue mengendik pada foto-foto dan kertas di meja. Seketika wajah lelaki itu pucat pasi.

“Kalian.... “ Stefhani tidak melanjutkan kalimatnya. Mulutnya terbuka dengan mata menatap wajah Blue dan Grey bergantian.

“Kami kembar.” Blue menyahut, menjawab kebingungan di wajah Stefhani. “Adikku ini – Grey, yang bersamamu malam itu.”

“Pagi itu, aku yang menjemput Grey di hotel. Saat akan keluar kamar, kamu terbangun dan kita memang saling bertatapan.” Blue menambahkan. “Itu sebabnya kamu hanya mengingat wajahku.”

Lelaki bernama Grey menatap wanita yang duduk di depan Blue. Ia mengamati foto lalu mengamati wajah Stefhani.

“Kamu... yang ada di foto ini?”

Stefhani mengangguk. Masih shock, karena ternyata ia salah mengancam orang.

“Dengar! Tidak ada yang terjadi di antara kita. Seseorang memasukkan obat tidur ke minuman kita.” Grey dengan tegas berkata. “Aku bahkan tidak melihat wajahmu malam itu.”

“Aku terkejut saat bangun dan langsung minta Blue datang,” imbuh Grey lagi.

“Ta—Tapi, laporan itu.... “ Terbata, Stefhani membalas.

Blue memberikan kertas dari dokter pada adik kembarnya dan membiarkan Grey membacanya.

“Oo, tidak. Ini salah. Kalaupun kamu ternoda, artinya bukan denganku. Coba ingat-ingat siapa yang pernah bersamamu.” Grey terlihat panik.

“Brakk!!”

Blue dan Grey berjengit melihat Stefhani menggebrak meja. Wanita itu memberikan tatapan membunuhnya pada Grey.

“Kamu pikir aku wanita apa? Hanya kamu lelaki yang pernah tidur denganku.”

Grey tetap menggeleng. “Aku tidak merasa melakukannya. Memangnya kamu merasa aku menerobos masuk? Saat bangun, kamu merasa sakit di area intimmu?”

Stefhani terdiam. Memang benar ia tidak merasakan apa pun. Pagi itu, ia hanya merasa sangat takut menghadapi keluarganya.

“Blue, tolong aku.” Grey memohon.

“Aku sudah menawarinya uang tiga milyar dan dia menolak. Wanita ini hanya mau kamu bertanggung jawab dengan menikahinya.” Blue menatap datar adik kembarnya.

“Gila!” Grey mendesis pada Stefhani. “Aku nggak bisa nurutin kemauanmu.”

Stefhani menatap wajah Grey dengan raut kesal. Ia menceritakan apa yang terjadi setelah malam itu. Hingga akhirnya ia berada di perusahaan ini.

“Kamu enak. Hidupmu tidak berubah sejak malam itu. Sementara aku... terusir dari keluarga.” Stefhani mendengus kasar.

Blue dan Grey menghela napas berat. Keduanya terdiam. Mereka saling berpandangan dengan dahi berkerut.

“Jadi, kamu harus membantuku,” imbuh Stefhani. “Papaku memberi syarat agar bisa kembali. Aku hanya bisa pulang bersama dengan lelaki yang seranjang denganku malam itu. Kamu!”

“Aku sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Membantumu adalah hal yang mustahil kulakukan.” Grey menggeram.

“Paling tidak, kamu ikut denganku dan menjelaskan pada keluargaku.” Stefhani tetap bersikeras.

Grey menatap kembarannya yang sejak tadi hanya diam.

“Blue, Bagaimana ini? Gara-gara dia mengenalimu, kita jadi terjebak masalah ini juga.”

Blue menghela napas. “Selama tiga tahun ini, kamu tidak tau siapa yang menjebakmu?” tanyanya pada Stefhani.

Stefhani menggeleng lemah. Bagaimana ia mencari tau kalau keluarga menutup semua akses komunikasi?

Blue menatap kertas dokter. Ia dan Grey memiliki ingatan yang kuat. Masih ada rasa tak percaya kejadian bertahun-tahun lalu ini muncul begitu saja. Ia mengamati Stefhani.

“Buka pakaian atasmu!” titah Blue tiba-tiba.

Jangankan Stefhani, Grey saja spontan terbelalak pada saudara kembarnya.

Tangan Blue mengibas cepat. “Jangan salah paham. Aku perlu bukti lagi kalau memang benar kamu yang ada di foto ini. Pagi itu, aku melihat tanda lahir di punggungmu. Tunjukkan padaku.”

Mendengar pernyataan Blue, Stefhani menghela napas lalu mengangguk. Ia berdiri membelakangi Blue dan Grey, membuka kancing dan menurunkan blus itu. Masalahnya sekarang, tanda lahirnya tertutup oleh tali bra hingga ia juga harus membukanya.

Grey memalingkan wajah saat punggung Stefhani terpampang jelas di depan mereka. Blue menatap tanda lahir berwarna biru itu. Persis sama seperti yang ia ingat.

“Cukup.” Blue menghela napas lalu bergumam pelan pada Grey. “Memang benar dia.”

Stefhani segera mengenakan lagi pakaiannya, lalu duduk. Ia baru akan membuka mulut kala Blue berkata cepat.

“Aku juga tidak yakin dengan hasil ini,” ucapnya sambil menunjuk surat dokter. “Kita periksa ulang.”

Stefhani terdiam. Ia tau bagaimana rasanya diperiksa keperawanan. Dan itu sangat tidak nyaman baginya.

Melihat keragu-raguan Stefhani, Blue berjanji, “Kalau hasilnya benar kamu ternoda, Grey akan bertanggung jawab.... “

“Blue! Tidak bisa!” potong Grey dengan panik.

Blue mendelik pada sang adik, lalu melanjutkan, “Kalau ternyata bukti ini salah, kamu urus sendiri masalahmu dengan keluargamu.”

Mendengar pernyataan Blue, Stefhani akhirnya mengangguk.

Hampir satu jam sudah, Blue dan Grey berada di depan pintu pemeriksaan. Berkali-kali Grey mengembuskan napas panjang saking gugupnya. Hingga kemudian pintu terbuka.

Dokter wanita dan Stefhani keluar. Blue dan Grey serentak berdiri dan menunggu pernyataan dokter dengan wajah tegang.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan.... “

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   8. Jangan Macam-Macam!

    “Kamu?! Aku pikir Blue.”Tubuh Stefhani terlonjak ketika melihat Darla sudah berdiri dengan angkuh di depan pintu apartemen Blue. Berarti Darla tau password unit Blue ini.“Selamat pagi, Nona Darla,” sapa Stefhani ramah. Di hadapannya, Darla menatap Stefhani dengan tatapan sengit. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini di kediaman tunanganku?”“Mm… hanya mengecek Tuan Blue saja karena semalam kan mabuk.” Stefhani mencoba untuk tetap tenang. “Oh, sok perhatian sekali.” Darla mendekat selangkah, mencoba semakin mengintimidasi Stefhani. “Kamu tahu kan, konsekuensi seperti apa yang akan kamu dapatkan kalau sampai aku melapor ke kantormu? Bahwa kamu menggoda atasanmu?”“Aku tidak melakukan apa pun yang kamu pikirkan.”Darla tersenyum tipis. “Mungkin lebih tepatnya, belum. Aku tahu pasti, kamu mencoba memanfaatkan kondisi Blue yang mabuk semalam”Darla hendak membuka mulut lagi ketika sebuah suara berat terdengar dari belakang. “Stefhani membantuku. Justru aku yang memanfaatkannya.”Blue berdi

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   7. Mabuk

    “Apa maksudmu, Blue?”Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar. “Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.Blue benar-benar mabuk.Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu. Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara. Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang d

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   6. Pesta Bujang

    Sabtu malam, Grey dibuat terpukau oleh pesta bujang yang diatur Stefhani. Seharusnya Blue yang urus, tapi lelaki itu terlalu malas dan menyerahkannya pada Stefhani dengan iming-iming uang tambahan yang besar.Dan, di sinilah mereka sekarang… sebuah bar eksekutif yang salah satu ruangannya telah dibooked untuk acara pesta bujang Grey.Minuman-minuman mahal dan langka, pilihan musik yang sesuai selera, hingga penari-penari striptease yang Stefhani seleksi sendiri, siap menghibur teman-teman Grey yang diundang ke acara ini.“Kerjamu luar biasa, Stefhani!” Grey memujinya untuk kesekian kali.Stefhani tersenyum. Ia senang karena jerih payahnya tampak begitu memuaskan di mata Grey.“Tentu. Aku tidak akan mengecewakan. Tuan Blue sudah membayarku mahal untuk ini,” sahut Stefhani.“Blue, Kerja sekretarismu mengagumkan!” puji Grey lagi, kali ini tertuju untuk Blue yang tetap diam sedari masuk ke ruangan ini.Di antara semua lelaki yang datang memenuhi bar eksekutif ini, hanya ada satu lelaki ya

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   5. Semakin Dekat

    “Bukankah ini keputusan yang gegabah, Tuan? Tuan pasti tahu kalau ini bisa memicu kecemburuan internal.” Kepala HRD berusaha berkata dengan hati-hati.Stefhani terdiam. Ia tak berani berkomentar, sementara belasan pasang mata kini tengah menatap ke arahnya.“Kamu butuh alasan?” tanya Blue. “Aku mengenalnya sejak lama. Stefhani adalah teman Grey. Bukan begitu, Grey?” lempar Blue pada kembarannya.Beruntung, Grey cepat beradaptasi. “Ya, benar. Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu.”Pria yang punya wajah identik dengan Blue itu bahkan memberikan kedipan mata ke arah Stefhani. Gadis itu memberikan senyuman santai, mendukung pernyataan Grey.Kepala HRD berdeham pelan. “Kalau begitu … tentu kami menghargai penilaian Tuan,” putusnya, meski nada suaranya masih terdengar keberatan. “Namun saya harap Nona Stefhani bisa beradaptasi dengan cepat. Tanggung jawab sekretaris CEO bukan hal ringan.”“Saya paham,” jawab Stefhani tenang. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Saya aka

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   4. Bukti Baru

    “Anda masih perawan.”Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia ban

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   3. Bukan Aku

    “Menikahimu? ulang Blue. Detik berikutnya, rahang lelaki itu mengeras. “Itu... tidak mungkin.”“Dan aku akan memaksamu.” Stefhani mengambil selembar kertas di meja yang belum disentuh Blue. “Kamu sudah menodaiku.”Blue mengerutkan kening membaca apa yang tertera di kertas. Berkali-kali lelaki itu mengembuskan napas berat. Lalu, ia mengangkat ponselnya dan memberi perintah melalui benda komunikasi itu.“Ke ruanganku. Sekarang!”Stefhani bingung. Ia mulai tidak sabar kala Blue hanya diam dan tampak melamun.“Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aku juga tau kamu mengenaliku karena kamu langsung berhenti saat aku menyebutkan nomer kamar hotel itu.”“Bukan aku yang bersamamu malam itu.” Blue menggeleng kesal.Kalimat itu pelan, hampir tak terdengar. Meski begitu, telinga Stefhan masih menangkap ucapan itu.“Terus saja menyangkal! Aku sudah memperbanyak dokumen-dokumen ini dan.... “Pintu terbuka. Stefhani menoleh dan ternganga melihat siapa yang masuk. Seorang lelaki berwajah sama dengan Blue y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status