Share

4. Bukti Baru

Penulis: ReyNotes
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 12:34:00

“Anda masih perawan.”

Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”

Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?

Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.

Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.

“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.

Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.

“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.

Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia bangun melihat sosok Blue untuk pertama kali.

“Kenapa aku? Apa tujuannya?” tanya Stefhani lebih kepada dirinya sendiri.

Blue mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Bukankah itu tugasmu untuk mencari tahu?” Pria itu melipat dua lengan di depan dada.

Di belakang Blue, sang kembaran menganggukkan kepala tanda setuju. “Betul itu! Masalah di antara kita bertiga sudah selesai. Dan seharusnya kamu meminta maaf pada kami karena telah salah menuduh!”

Beberapa detik, pikiran Stefhani bertarung. Perasaan tak terima karena diusir dan dibuang mendominasi. Tangan gadis itu mengepal di samping tubuh.

“Kalian benar,” sahut Stefhani pada akhirnya. “Aku harus kembali dan membuktikan kebenarannya pada keluargaku!”

Kemudian, tanpa banyak kata Stefhani berjalan keluar ruangan. Di tangannya, ia membawa sebuah map yang berisi hasil pemeriksaan keperawanannya yang baru.

Dalam langkah tegapnya, ia benar-benar bertekad akan membuat si penyebar fitnah bungkam dan malu. Siapa pun dalang di balik fitnah murahan yang telah mencoreng nama baiknya, akan ia hadapi.

Di belakang Stefhani, dua pasang mata pria masih menatap langkah wanita itu.

Blue mengamati dalam diam dan pandangan sulit ditebak, sedang Grey dengan decakan yang terus terdengar mengutuk sikap Stefhani. “Angkuh sekali gadis itu. Dia bahkan belum meminta maaf pada kita, Blue!”

**

Sudah beberapa jam ini umpatan tak berhenti keluar dari bibir Stefhani. Tak terhitung sudah, berapa kali upayanya menelepon semua orang yang ia kenal di negara asalnya, tapi tak satu pun dari usahanya berbuah hasil.

Belum lagi, saat monitor di hadapannya terus memunculkan notifikasi gagal booking tiket pesawat.

“Sial! Pasti ada yang salah!”

Wanita itu terus mengotak-atik ponsel dan laptopnya bergantian. Matanya sudah merah karena lelah mencari kesalahan penginputan.

DATA PENUMPANG TIDAK VALID!

GAGAL MEMPROSES PESANAN. SILAKAN CEK IDENTITAS ANDA.

Kalimat sejenis selalu muncul usai ia mengisi kolom identitas diri. Sudah dipastikan ia tak mungkin salah input namanya, pasti ada alasan lain yang tak ia ketahui. Dengan intuisinya, Stefhani menjelajah jejaring sosial guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hasil pencarian keluar, membuat Stefhani membeku di depan layar. Identitasnya telah diblokir. Dengan kata lain, Stefhani tak mungkin bisa keluar dari negara ini.

“Jadi, aku benar-benar dibuang?” lirihnya.

Tubuh Stefhani melemas. Ia meremas rambutnya kasar. Air matanya meluruh deras. Untuk kali pertama setelah kejadian itu, Stefhani menangis dengan menahan sakit di hati.

Pupus sudah usahanya untuk memulihkan nama baik dan kembali ke negara asal. Sekarang, Stefhani benar-benar hanya bisa hidup di negara ini, seorang diri.

Stefhani bukan gadis yang berlarut dalam kesedihan. Setelah menangis beberapa jam semalam, pagi keesokan harinya ia memutuskan kembali bekerja. Malang, baru saja ingin masuk ke ruangannya, kepala HRD sudah menyetop langkah Stefhani.

“Hey, anak baru! Kamu pikir bisa seenak jidat meninggalkan kantor?!” ucap Ibu HRD bertampang sangar itu. “Ke mana saja kamu kemarin? Kenapa telepon saya tidak diangkat?”

Gadis itu menunduk sesaat. Ia merasa bersalah karena lupa meminta izin, padahal kemarin adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan ini.

“Maaf, Bu. Kemarin ada hal urgent yang mengharuskan saya pergi ke rumah sakit,” jujur Stefhani.

“Jangan coba-coba mengelabui saya!” Mata Ibu HRD itu mendelik, memindai tubuh Stefhani dari atas sampai bawah. “Kamu bahkan tidak terlihat sakit dilihat dari mana pun!”

Saat Stefhani terus diceramahi oleh HRD judes itu, sosok Blue melintas. Langkah tegap pria itu berhenti kala mendengar suara seseorang yang ia pikir sudah tak akan terlihat lagi batang hidungnya di sini.

Lelaki di belakang Blue berbisik-bisik. Blue mengangguk mengerti saat menerima informasi itu. Bersama Grey, pria itu kemudian mendekat. “Saya yang memberikan dia izin kemarin.”

Pernyataan itu sontak membuat heboh. Bukan hanya kepala HRD yang tak percaya, Bahkan Grey mengangkat kedua alisnya. Belum lagi semua orang yang menyaksikan kejadian itu keheranan melihat sikap CEO mereka.

Blue, CEO mereka yang terkenal irit bicara, sangat menjaga jarak dan komunikasi dari siapa pun kini membela Stefhani yang hanya karyawan baru?!

“O-oh, kenapa kamu tidak bilang, Nona!” Kepala HRD itu menahan malu, mencoba tersenyum dengan menahan gemeretak gigi secara bersamaan. “Mohon maaf, Tuan, saya tidak tahu.”

Stefhani menatap Blue, sementara pria itu tetap dengan ekspresi tak terbacanya.

“Satu lagi. Mulai hari ini, Stefhani akan menjadi sekretaris saya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yiming
untung ternyata beneran stef gak diapa2in sm grey
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   8. Jangan Macam-Macam!

    “Kamu?! Aku pikir Blue.”Tubuh Stefhani terlonjak ketika melihat Darla sudah berdiri dengan angkuh di depan pintu apartemen Blue. Berarti Darla tau password unit Blue ini.“Selamat pagi, Nona Darla,” sapa Stefhani ramah. Di hadapannya, Darla menatap Stefhani dengan tatapan sengit. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini di kediaman tunanganku?”“Mm… hanya mengecek Tuan Blue saja karena semalam kan mabuk.” Stefhani mencoba untuk tetap tenang. “Oh, sok perhatian sekali.” Darla mendekat selangkah, mencoba semakin mengintimidasi Stefhani. “Kamu tahu kan, konsekuensi seperti apa yang akan kamu dapatkan kalau sampai aku melapor ke kantormu? Bahwa kamu menggoda atasanmu?”“Aku tidak melakukan apa pun yang kamu pikirkan.”Darla tersenyum tipis. “Mungkin lebih tepatnya, belum. Aku tahu pasti, kamu mencoba memanfaatkan kondisi Blue yang mabuk semalam”Darla hendak membuka mulut lagi ketika sebuah suara berat terdengar dari belakang. “Stefhani membantuku. Justru aku yang memanfaatkannya.”Blue berdi

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   7. Mabuk

    “Apa maksudmu, Blue?”Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar. “Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.Blue benar-benar mabuk.Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu. Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara. Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang d

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   6. Pesta Bujang

    Sabtu malam, Grey dibuat terpukau oleh pesta bujang yang diatur Stefhani. Seharusnya Blue yang urus, tapi lelaki itu terlalu malas dan menyerahkannya pada Stefhani dengan iming-iming uang tambahan yang besar.Dan, di sinilah mereka sekarang… sebuah bar eksekutif yang salah satu ruangannya telah dibooked untuk acara pesta bujang Grey.Minuman-minuman mahal dan langka, pilihan musik yang sesuai selera, hingga penari-penari striptease yang Stefhani seleksi sendiri, siap menghibur teman-teman Grey yang diundang ke acara ini.“Kerjamu luar biasa, Stefhani!” Grey memujinya untuk kesekian kali.Stefhani tersenyum. Ia senang karena jerih payahnya tampak begitu memuaskan di mata Grey.“Tentu. Aku tidak akan mengecewakan. Tuan Blue sudah membayarku mahal untuk ini,” sahut Stefhani.“Blue, Kerja sekretarismu mengagumkan!” puji Grey lagi, kali ini tertuju untuk Blue yang tetap diam sedari masuk ke ruangan ini.Di antara semua lelaki yang datang memenuhi bar eksekutif ini, hanya ada satu lelaki ya

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   5. Semakin Dekat

    “Bukankah ini keputusan yang gegabah, Tuan? Tuan pasti tahu kalau ini bisa memicu kecemburuan internal.” Kepala HRD berusaha berkata dengan hati-hati.Stefhani terdiam. Ia tak berani berkomentar, sementara belasan pasang mata kini tengah menatap ke arahnya.“Kamu butuh alasan?” tanya Blue. “Aku mengenalnya sejak lama. Stefhani adalah teman Grey. Bukan begitu, Grey?” lempar Blue pada kembarannya.Beruntung, Grey cepat beradaptasi. “Ya, benar. Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu.”Pria yang punya wajah identik dengan Blue itu bahkan memberikan kedipan mata ke arah Stefhani. Gadis itu memberikan senyuman santai, mendukung pernyataan Grey.Kepala HRD berdeham pelan. “Kalau begitu … tentu kami menghargai penilaian Tuan,” putusnya, meski nada suaranya masih terdengar keberatan. “Namun saya harap Nona Stefhani bisa beradaptasi dengan cepat. Tanggung jawab sekretaris CEO bukan hal ringan.”“Saya paham,” jawab Stefhani tenang. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Saya aka

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   4. Bukti Baru

    “Anda masih perawan.”Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia ban

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   3. Bukan Aku

    “Menikahimu? ulang Blue. Detik berikutnya, rahang lelaki itu mengeras. “Itu... tidak mungkin.”“Dan aku akan memaksamu.” Stefhani mengambil selembar kertas di meja yang belum disentuh Blue. “Kamu sudah menodaiku.”Blue mengerutkan kening membaca apa yang tertera di kertas. Berkali-kali lelaki itu mengembuskan napas berat. Lalu, ia mengangkat ponselnya dan memberi perintah melalui benda komunikasi itu.“Ke ruanganku. Sekarang!”Stefhani bingung. Ia mulai tidak sabar kala Blue hanya diam dan tampak melamun.“Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aku juga tau kamu mengenaliku karena kamu langsung berhenti saat aku menyebutkan nomer kamar hotel itu.”“Bukan aku yang bersamamu malam itu.” Blue menggeleng kesal.Kalimat itu pelan, hampir tak terdengar. Meski begitu, telinga Stefhan masih menangkap ucapan itu.“Terus saja menyangkal! Aku sudah memperbanyak dokumen-dokumen ini dan.... “Pintu terbuka. Stefhani menoleh dan ternganga melihat siapa yang masuk. Seorang lelaki berwajah sama dengan Blue y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status