Masuk“Anda masih perawan.”
Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”
Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?
Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.
Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.
“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.
Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.
“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.
Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia bangun melihat sosok Blue untuk pertama kali.
“Kenapa aku? Apa tujuannya?” tanya Stefhani lebih kepada dirinya sendiri.
Blue mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Bukankah itu tugasmu untuk mencari tahu?” Pria itu melipat dua lengan di depan dada.
Di belakang Blue, sang kembaran menganggukkan kepala tanda setuju. “Betul itu! Masalah di antara kita bertiga sudah selesai. Dan seharusnya kamu meminta maaf pada kami karena telah salah menuduh!”
Beberapa detik, pikiran Stefhani bertarung. Perasaan tak terima karena diusir dan dibuang mendominasi. Tangan gadis itu mengepal di samping tubuh.
“Kalian benar,” sahut Stefhani pada akhirnya. “Aku harus kembali dan membuktikan kebenarannya pada keluargaku!”
Kemudian, tanpa banyak kata Stefhani berjalan keluar ruangan. Di tangannya, ia membawa sebuah map yang berisi hasil pemeriksaan keperawanannya yang baru.
Dalam langkah tegapnya, ia benar-benar bertekad akan membuat si penyebar fitnah bungkam dan malu. Siapa pun dalang di balik fitnah murahan yang telah mencoreng nama baiknya, akan ia hadapi.
Di belakang Stefhani, dua pasang mata pria masih menatap langkah wanita itu.
Blue mengamati dalam diam dan pandangan sulit ditebak, sedang Grey dengan decakan yang terus terdengar mengutuk sikap Stefhani. “Angkuh sekali gadis itu. Dia bahkan belum meminta maaf pada kita, Blue!”
**
Sudah beberapa jam ini umpatan tak berhenti keluar dari bibir Stefhani. Tak terhitung sudah, berapa kali upayanya menelepon semua orang yang ia kenal di negara asalnya, tapi tak satu pun dari usahanya berbuah hasil.
Belum lagi, saat monitor di hadapannya terus memunculkan notifikasi gagal booking tiket pesawat.
“Sial! Pasti ada yang salah!”
Wanita itu terus mengotak-atik ponsel dan laptopnya bergantian. Matanya sudah merah karena lelah mencari kesalahan penginputan.
DATA PENUMPANG TIDAK VALID!
GAGAL MEMPROSES PESANAN. SILAKAN CEK IDENTITAS ANDA.
Kalimat sejenis selalu muncul usai ia mengisi kolom identitas diri. Sudah dipastikan ia tak mungkin salah input namanya, pasti ada alasan lain yang tak ia ketahui. Dengan intuisinya, Stefhani menjelajah jejaring sosial guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Hasil pencarian keluar, membuat Stefhani membeku di depan layar. Identitasnya telah diblokir. Dengan kata lain, Stefhani tak mungkin bisa keluar dari negara ini.
“Jadi, aku benar-benar dibuang?” lirihnya.
Tubuh Stefhani melemas. Ia meremas rambutnya kasar. Air matanya meluruh deras. Untuk kali pertama setelah kejadian itu, Stefhani menangis dengan menahan sakit di hati.
Pupus sudah usahanya untuk memulihkan nama baik dan kembali ke negara asal. Sekarang, Stefhani benar-benar hanya bisa hidup di negara ini, seorang diri.
Stefhani bukan gadis yang berlarut dalam kesedihan. Setelah menangis beberapa jam semalam, pagi keesokan harinya ia memutuskan kembali bekerja. Malang, baru saja ingin masuk ke ruangannya, kepala HRD sudah menyetop langkah Stefhani.
“Hey, anak baru! Kamu pikir bisa seenak jidat meninggalkan kantor?!” ucap Ibu HRD bertampang sangar itu. “Ke mana saja kamu kemarin? Kenapa telepon saya tidak diangkat?”
Gadis itu menunduk sesaat. Ia merasa bersalah karena lupa meminta izin, padahal kemarin adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan ini.
“Maaf, Bu. Kemarin ada hal urgent yang mengharuskan saya pergi ke rumah sakit,” jujur Stefhani.
“Jangan coba-coba mengelabui saya!” Mata Ibu HRD itu mendelik, memindai tubuh Stefhani dari atas sampai bawah. “Kamu bahkan tidak terlihat sakit dilihat dari mana pun!”
Saat Stefhani terus diceramahi oleh HRD judes itu, sosok Blue melintas. Langkah tegap pria itu berhenti kala mendengar suara seseorang yang ia pikir sudah tak akan terlihat lagi batang hidungnya di sini.
Lelaki di belakang Blue berbisik-bisik. Blue mengangguk mengerti saat menerima informasi itu. Bersama Grey, pria itu kemudian mendekat. “Saya yang memberikan dia izin kemarin.”
Pernyataan itu sontak membuat heboh. Bukan hanya kepala HRD yang tak percaya, Bahkan Grey mengangkat kedua alisnya. Belum lagi semua orang yang menyaksikan kejadian itu keheranan melihat sikap CEO mereka.
Blue, CEO mereka yang terkenal irit bicara, sangat menjaga jarak dan komunikasi dari siapa pun kini membela Stefhani yang hanya karyawan baru?!
“O-oh, kenapa kamu tidak bilang, Nona!” Kepala HRD itu menahan malu, mencoba tersenyum dengan menahan gemeretak gigi secara bersamaan. “Mohon maaf, Tuan, saya tidak tahu.”
Stefhani menatap Blue, sementara pria itu tetap dengan ekspresi tak terbacanya.
“Satu lagi. Mulai hari ini, Stefhani akan menjadi sekretaris saya.”
Luna semakin memberengut. “Kak Blue nggak percaya dia ngomong gitu? Biar nggak sejenius Kak Blue, Kak Grey dan Sky, aku juga punya ingatan yang bagus.”“Eits…jangan ngambek. Oke, Kak Blue percaya.” Blue mengusak kepala Luna. “Terus? Tadi kalian ngobrolin apa?”“Dia minta maaf. Aku maafin tapi masih….” Luna berhenti bicara dan merintih sambil memegangi perutnya.“Luna!” Blue langsung panik dan memegangi sang adik. “Sakit lagi perutnya?”Tidak langsung menjawab, Luna berusaha mengatur pernapasannya. Blue hanya bisa mengusap punggung Luna sambil menunggu.“Sudah lebih baik?” Blue mengamati ekspresi Luna yang mulai tenang.Kepala Luna mengangguk. “Tiba-tiba saja terasa nyeri. Padahal tadi baik-baik saja.”“Ya sudah. Berbaring dulu.” Blue mengatur bantal untuk Luna agar lebih nyaman posisi tidurnya. “Kak Blue temenin sampai kamu tidur.”“Nggak usah.” Luna menggeleng keras. “Kak Blue kan lagi honeymoon. Luna nggak mau Kak Blue di sini.”Blue menghela napas sejenak. Lalu tiba-tiba mendapat i
Theodore mengetuk pintu dengan pelan."...Masuk," jawab suara Luna dari dalam, terdengar mengantuk.Theodore mengintip sebelum pintu perlahan. Luna berbaring miring dengan mata terpejam. Sepertinya tidak sadar siapa yang masuk—mungkin mengira hanya salah satu keluarganya.Dengan langkah pelan, Theodore masuk. Tidak ingin membuat suara yang mengganggu. Ia melihat stetoskopnya tergeletak di meja samping tempat tidur, persis seperti yang ia ingat.Ia meraih stetoskopnya dengan hati-hati, lalu berbalik untuk pergi. Tapi kemudian suara Luna membuatnya berhenti."Kak Theo?" Luna bangun dan terduduk."Iya?" jawab Theodore dengan hati-hati. “Maaf, aku cuma mau ambil ini.” Theo mengangkat stetoskop di tangannya.Luna terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan kata-katanya. "Oke.”Theodore tersenyum kecil, melangkah sedikit lebih dekat—tidak terlalu dekat, masih menjaga jarak yang profesional. "Kamu… k
Pintu kamar terbuka perlahan. Theodore masuk dengan tas kulitnya, diikuti oleh Grey, Blue, Stefhani, dan Daddy Geo yang ingin melihat perkembangan kondisi Luna. Mommy Bianca dan Sky berdiri di samping tempat tidur.Luna duduk bersandar di tumpukan bantal, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Pipinya bahkan sudah sedikit berwarna merah muda kembali. Matanya yang tadi sempat sayu kini sudah lebih fokus, meskipun masih terlihat lelah."Luna, sayang, dokter sudah datang untuk cek kondisimu," ucap Bianca dengan lembut sambil mengusap rambut putrinya.Luna mengangguk pelan, matanya melirik Theodore yang mendekat dengan senyum profesional."Halo, Luna. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Theodore sambil meletakkan tasnya di meja samping tempat tidur."Lebih baik," jawab Luna dengan suara yang masih sedikit serak tapi jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Tidak mual lagi. Perut juga tidak sakit.""Bagus sekali." Theodore tersenyum, mengeluarkan stetoskop dari tasnya. "Aku akan periksa detak jantu
Tidak tega rasanya Blue mengatakan Luna adalah anak yang ringkih dan sering sakit sejak kecil. Sementara itu, Theo menunggu Blue melanjutkan kalimatnya.“Paling… unik di antara kami berempat.” Blue menyelesaikan kalimatnya. “Maklum, anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Bungsu pula.”Theo mengangguk mengerti. “Lalu, sejak kapan Luna sensitif pencernaannya?”“Sejak kecil suka tiba-tiba sakit saat makan sesuatu yang menurut kami makanan normal saja.”“Oh ya?”Sedikit, Blue menceritakan masa kecil Luna yang sering demam jika salah makan. Keluarga berpikir seiring waktu berjalan, sakit itu akan hilang. Nyatanya sampai saat ini, pencernaan Luna masih sensitif.Itu pula sebabnya Daddy Geo dan Mommy Bianca memutuskan untuk tidak memiliki bayi lagi meskipun ingin. Mereka merasa perlu merawat dan mendampingi Luna pada saat-saat rapuhnya seperti ini.“Kalau kalian mau, aku akan melakukan beberapa tes untuk Luna. Siapa tau kita bisa identifikasi zat apa saja yang tubuh Luna tidak bisa to
Grey langsung mendongak, menatap Theodore dengan bingung. "Bertemu kembali?"Tapi Theodore tidak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju pintu. "Aku akan kembali dua jam lagi untuk memeriksa kondisinya."Luna yang masih sangat lemah tidak merespons ucapan Theodore. Matanya tetap terpejam, tubuhnya terlalu letih untuk bahkan menyadari ada yang berbicara padanya.Blue yang menangkap keanehan dalam ucapan Theodore langsung angkat bicara. "Dokter, biar aku antar ke bawah.""Terima kasih."Blue berjalan berdampingan dengan Theodore. Ketika mereka sampai di tangga dan cukup jauh dari kamar Luna, Blue akhirnya angkat bicara."Dokter Theodore," mulai Blue dengan hati-hati. "Tadi... kamu bilang 'senang bertemu kembali' pada Luna. Kalian pernah bertemu?"Theodore berhenti melangkah, berbalik menatap Blue dengan ekspresi yang agak terkejut—seperti tidak menyangka ucapannya didengar. Ia terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan
Luna keracunan makanan." Suara Grey terdengar panik—sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Blue, aku butuh kamu di sini. Sekarang."Wajah Blue langsung tegang. "Aku segera ke sana."“Luna kenapa?” Stefhani bicara sambil Bersiap pergi."Keracunan makanan," jawab Blue sambil cepat-cepat mengenakan celana jeans. "Kondisinya parah. Grey butuh kita di villa mereka sekarang.""Oh, Tuhan!" Stefhani tergesa meraih tasnya. "Luna... dia kan sensitif dengan obat-obatan. Aku ingat kamu pernah cerita soal itu.""Exactly." Blue sudah mengenakan sepatunya. "Makanya Grey panik. Ayo, Stef. Cepat."Lima menit kemudian, mereka sudah di mobil rental menuju villa keluarga Wilson yang berjarak sekitar 15 menit berkendara.Begitu mereka tiba, suasana di villa terasa sangat tegang."Di mana dia?" tanya Blue langsung pada Grey yang menyambutnya."Kamar atas. Kimmy sedang menjaganya." Grey memimpin mereka naik tangga dengan cepat. "Kondisinya semakin memburuk, Blue. Demamnya mencapai 39 derajat. Dia hampir tidak







