Share

6. Pesta Bujang

Author: ReyNotes
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-26 13:02:17

Sabtu malam, Grey dibuat terpukau oleh pesta bujang yang diatur Stefhani. Seharusnya Blue yang urus, tapi lelaki itu terlalu malas dan menyerahkannya pada Stefhani dengan iming-iming uang tambahan yang besar.

Dan, di sinilah mereka sekarang… sebuah bar eksekutif yang salah satu ruangannya telah dibooked untuk acara pesta bujang Grey.

Minuman-minuman mahal dan langka, pilihan musik yang sesuai selera, hingga penari-penari striptease yang Stefhani seleksi sendiri, siap menghibur teman-teman Grey yang diundang ke acara ini.

“Kerjamu luar biasa, Stefhani!” Grey memujinya untuk kesekian kali.

Stefhani tersenyum. Ia senang karena jerih payahnya tampak begitu memuaskan di mata Grey.

“Tentu. Aku tidak akan mengecewakan. Tuan Blue sudah membayarku mahal untuk ini,” sahut Stefhani.

“Blue, Kerja sekretarismu mengagumkan!” puji Grey lagi, kali ini tertuju untuk Blue yang tetap diam sedari masuk ke ruangan ini.

Di antara semua lelaki yang datang memenuhi bar eksekutif ini, hanya ada satu lelaki yang tampak tak bergembira. Ia bahkan cenderung kesal melihat betapa bar-bar teman-teman Grey, yang sebagian besar juga ia kenal.

“Jangan jauh-jauh dariku,” titah pria itu sambil menenggak minumannya.

Dialah Blue, lelaki yang malam ini memakai kemeja putih panjang yang lengannya sudah digulung sampai siku, menampakkan otot-otot lengannya yang keras. Wajah pria itu tampak bersungut-sungut, tak bisa menikmati pesta ini.

“Aku tidak akan hilang, kamu tenang saja.” Stefhani menyahut santai.

Mata biru milik Blue mendelik. “Aku akan mengawasimu,” imbuhnya protektif.

Alih-alih menikmati pesta bujang seperti tamu lain, Blue justru tampak bosan. Stefhani yang perempuan saja bahkan tampak tertarik melihat bagaimana gadis-gadis muda itu bergoyang mengelilingi tiang dengan gerakan yang menggoda.

Stefhani mengamati Blue dan Grey. Wajah mereka memang sama hanya berbeda pada mata biru dan abu-abu—sesuai nama mereka. Tetapi, yang jelas, sifat keduanya bertolak-belakang.

Blue hanya bersosialisasi dengan orang-orang dengan kepentingan bisnis. Sementara Grey memiliki pergaulan luas dan sangat ramah di mana pun ia berada. 

Di tengah tontonan yang mengundang tawa, juga lenguhan para lelaki–kecuali Blue, tiba-tiba seorang wanita muda datang dan langsung berdiri di depan Blue, menghalangi tatapan mata lelaki itu pada pemandangan wanita-wanita muda yang sedang menari erotis.

Tubuh wanita itu tinggi, cantik dan berpenampilan elegan.

“Blue…” sapa wanita itu.

Blue mendongak. Tampak sedikit terkejut, lalu mengangguk. “Darla. Kamu di sini? Kapan tiba?”

“Surprise.” Wanita bernama Darla itu duduk di samping Blue dengan punggung tegak dan mata menatap tajam pada striptease di depannya. “Aku baru mendarat dan mendapat kabar kamu di sini.”

“Oh.” Blue mengangguk singkat. “Ini pesta bujang. Wanita tidak seharusnya di sini.”

Nama Darla bukan nama yang asing di telinga Stefhani. Beberapa kali Stefhani dengar Grey ataupun Blue menyebut namanya ketika sedang menelepon. Bahkan, beberapa kali juga Darla sempat menelepon ke kantor, karena Blue tak mengacuhkan panggilan atau pesannya.

Darla—adalah wanita yang menurut rumor akan menikah dengan Blue. Selama ini belajar di luar negeri dan akhirnya ia bisa melihat langsung sosok tersebut.

“Kenapa aku tidak boleh di sini? Aku kan tunanganmu.”

Telinga Stefhani menangkap kalimat itu. Tahu diri, Stefhani bangkit. Ia berencana akan ke backstage saja, menemui gadis-gadis striptease tadi.

“Mau ke mana kamu?” Sebelum Stefhani melangkah, Blue memegang pergelangan tangan gadis itu.

Di sebelah Blue, Darla menunjukkan raut tak suka.

“Aku hanya ingin memastikan pertunjukan berikutnya,” jawab Stefhani, beradu dengan suara musik EDM.

“Panggil staf laki-laki,” perintah Blue. “Kamu tetap di sini!”

“Siapa dia?” Darla mengamati Stefhani dari ujung rambut hingga kaki. “Bukankah ini pesta bujang? Wanita tidak seharusnya di sini.”

Stefhani mencetak senyum. Ia menyambut uluran tangan itu. “Aku Stefhani, sekretaris Tuan Blue. Aku yang mengatur pesta ini. Beberapa kali kita pernah bicara di telepon. Senang bertemu denganmu, Nona Darla.”

Perlahan, tangan Darla terangkat dan membalas uluran tangan Stefhani, tetap tanpa senyum. Intuisi Stefhani sebagai sesama wanita menebak jika Darla sedang memberikannya penekanan, kepemilikan atas Blue.

“Sekretaris baru?” Darla mengalihkan tatapannya dari Stefhani ke mata Blue.

“Hem.” Blue menjawab singkat.

“Kamu nggak cerita punya sekretaris baru, Blue.”

Stefhani tak buta. Aura terbakar api cemburu sangat tercium di balik kata-kata yang meluncur dari bibir Darla. Stefhani baru akan mundur teratur saat Darla kembali menatapnya.

“Apa motivasimu bekerja di BlueVortex?” tanya Darla ketika Blue mengabaikan pertanyaannya.

“Mencari uang,” jujur Stefhani.

Mata Darla memicing, kembali menatap Stefhani dari ujung kepala hingga kaki. “Dan mencoba peruntungan untuk merayu bosmu?”

Sebuah tawa lolos dari bibir Stefhani. “Kamu tidak perlu takut, Nona. Mau aku telanjang sekalipun, agaknya Tuan Blue tidak akan tertarik padaku.”

Terdengar Blue menghela napas berat. Wajah Darla yang semula tegang, perlahan mengendur usai mendengar ucapan Stefhani.

Tentu saja Stefhani mengambil jawaban aman. Ia bukan wanita yang tak percaya diri. Stefhani tahu betul ia punya paras yang cantik, tubuh yang mungil dengan lekuk yang ideal. Hanya saja untuk saat ini, di situasi hidupnya yang sekarang, akan lebih baik jika ia menghindari masalah.

“Bagus kalau kamu sadar diri!” jawab Darla puas. “Biar kuperingati sekarang, jangan coba-coba terlalu dekat dengan tunanganku, atau kamu akan menghilang dari muka bumi ini!”

Stefhani hanya meresponsnya dengan senyum. Akhirnya ia bisa pergi setelah beralasan akan ke kamar mandi, kemudian duduk santai di bar.

Satu jam kemudian, ponsel Stefhani berbunyi. Sebuah panggilan telepon masuk.

Mata Stefhani memicing lagi ketika membaca nama kontak “Bos” terpampang di layar ponsel Stefhani.

“Ya? Baik, aku akan ke sana,” jawab Stefhani sigap.

Saat tiba, tubuh Blue tampak tak berdaya. Dua tangannya terenggang di sisi pundaknya. Mata lelaki itu memejam, seiring kepalanya tergeletak lemah di bahu sofa.

Bukannya tadi dia baik-baik saja? Stefhani berdecak dalam hati.

Darla tampak khawatir. Ia menepuk-nepuk pipi Blue pelan. “Kamu mabuk, Blue. Ayo, biar kuantar pulang.”

Lelaki itu menggeleng, menepis tangan Darla yang coba meraihnya. “Stef-fhani! Antarkan aku pulang!”

Mendengar namanya dipanggil, Stefhani mendekat. Namun, Darla memberikan pelototan tajam. “Kenapa kamu lebih memilih dia, Blue? Aku tunanganmu!”

Sambil memijat kepalanya, tampak mata Blue sedikit membuka. “Berisik!” protesnya. “Siapa yang setuju bertunangan denganmu?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (13)
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Blue lebih nyaman sama Stefani
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Darla kasian deh lo, Blue aslinya gak mau sama kamu kwkwk
goodnovel comment avatar
Ziana Anindya
ihiyy ihiyy .. viks sama blue ya inimah, mak lampir udah nongol soalnya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   142. Segalanya

    Secara rutin keluarga Willson berkunjung ke kastil Ravenclaw di mana Stefhani, Blue dan anak-anaknya tinggal. Atau sebaliknya, Blue yang memboyong keluarganya berkunjung ke mansion The Willson.Larry semakin sehat dengan adanya cucu-cucu. Mike bahkan tidak selalu berada di sampingnya sekarang. Ia lebih sering mengurus aset bangsawan mewakili Larry.Sementara Gloria kini lebih perhatian. Ia yang merawat Larry dengan tulus.Hari ini, Ballroom kastil mewah disiapkan khusus untuk perayaan ulang tahun kedua si kembar. Dekorasinya sangat meriah.Setengah ruangan dengan tema "Princess Wonderland" dengan dominasi warna pink, ungu, dan emas, lengkap dengan kastil mini, balon-balon berbentuk mahkota dan kupu-kupu, serta meja dessert yang penuh dengan kue bertingkat dan cupcakes dengan topper princess.Setengah ruangan lainnya dengan tema "Little Businessman Empire" dengan dominasi warna hitam, silver, dan biru navy, dihias dengan miniatur gedung-gedung pencakar langit, meja-meja kerja mini, bahk

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   141. Kelahiran Dua Kembar

    Dr. Hassan yang mendengar ucapan Blue tersenyum geli. Ia sudah sangat sering mendengar suami-suami yang bilang hal yang sama di ruang bersalin dan kemudian dua tahun kemudian, mereka kembali lagi dengan kehamilan kedua.Mommy mondar-mandir sejak pagi dan sekarang kakinya mulai pegal, tapi ia tidak bisa berhenti. Dari kamar Kimmy yang sudah pembukaan sembilan, ke kamar Stefhani yang pembukaan tujuh, lalu kembali lagi.Daddy Geo mencoba menariknya untuk duduk. "Bianca, sayang, kamu harus istirahat. Kamu sudah mondar-mandir seharian.""Aku tidak bisa istirahat!" jawab Mommy Bianca dengan cemas. "Kedua menantuku sedang kesakitan melahirkan cucu-cucuku! Bagaimana aku bisa tenang?!""Dengan duduk dan bernapas," jawab Daddy Geo dengan lembut tapi tegas, menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. "Kamu tidak akan bisa bantu siapa pun kalau kamu pingsan karena kelelahan."Larry juga terlihat sangat Lelah. Sejak pagi, ia sudah di rumah sakit dan menolak untuk pulang meski Gloria sudah menyuru

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   140. Kepanikan Blue dan Grey

    Bianca memberikan satu piring kecil kue lemon pada Gloria. “Silahkan. Ini salah satu menu favorit keluarga.”“Terima kasih.” Gloria menunduk sambil menerima piring itu. Ia mencicipi dan tertegun sejenak.“Bagaimana?” tanya Bianca.“Enak sekali. Pantas saja menjadi favorit.” Gloria mengamati tekstur kue. “Sangat lembut dan ringan sekali dimakan.”Bianca menceritakan bahwa semua makanan di mansion memang dibuat dengan bahan-bahan khusus yang ramah untuk penderita alergi seperti Luna. Mau tidak mau, semua anggota keluarga makan apa pun yang Luna bisa makan.“Tapi dengan begitu kalian jadi fit karena makanannya selalu sehat.” Gloria menyimpulkan.“Benar.”Mereka terdiam kemudian. Gloria meletakkan piringnya dan mengambil serbet. Mengelap ujung bibirnya dengan sikap elegan, kemudian setelah selesai menatap Bianca.“Aku mau minta tolong padamu.”Bianca mengerutkan kening. “Minta tolong apa?”“Aku… sadar selama ini tidak baik pada Stefhani dan terlalu memanjakan Margie. Melihatmu sukses meng

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   139. Jadi Rebutan

    “Sudah jangan merengut begitu.” Blue menasehati kembarannya. “Kalau masih mau protes, sana ngomong sama Tuhan.”Grey menghela napas panjang. “Iyaa. Cuma aku tuh masih kepikiran kalau punya kembar lelaki dan perempuan kaya Sky dan Luna kan hemat. Sekali aja hamil udah punya sepasang.”“Maksudnya, kamu nggak mau Kimmy hamil lagi?”“Tadinya begitu. Kayanya kasihan aku sama Kimmy. Lemes banget dia selama hamil.”Keduanya spontan mengamati istri-istri mereka. Kimmy sedang duduk bersama orang tuanya. Demikian juga dengan Stefhani yang mengobrol dengan Larry dan Gloria.“Meski begitu, Kimmy tampak bahagia kok.”Grey mengangguk. “Dokter memang bilang trimester kedua, kesehatan Kimmy akan lebih baik. Tapi kenyataannya nggak tuh."“Mungkin karena anak yang di rahim Kimmy perempuan, bawaannya malas dan lemas. Jadi pengennya cuma rebahan.” Blue memberikan analisanya.Spontan Grey menoleh pada Blue. “Bisa jadi begitu, ya. Soalnya, Stefhani meski mual dan muntah tetap aktif. Pasti karena dia hamil

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   138. Jenis Kelamin Bayi-Bayi

    “Margie melahirkan anak perempuan.” Stefhani berkata pada suaminya yang sedang bekerja online.“Oh, oke.” Blue hanya membalas singkat. Tetapi, kemudian kepalanya mendongak dan menatap sang istri yang duduk termenung di sofa.Akhirnya Blue bangun dari kursi kerjanya dan menghampiri sang istri. Bibirnya mencium puncak kepala Stefhani sementara tangannya mengusap lembut perut yang mulai menonjol itu.“Kenapa? Kamu mau ke kastil Margie?”Stefhani menggeleng. “Kurasa Margie masih istirahat. Aku hanya kasihan pada Margie.”“Karena?”“Kedudukannya semakin terpuruk karena melahirkan anak perempuan sementara istri pertama Prince Axel telah memiliki dua putra.”Blue tidak mau berkomentar. Karena jika ia membuka mulut, maka ia yakin tidak bisa mengontrol kata-kata kasar yang akan keluar.Baginya para bangsawan itu memang sudah seharusnya terbuka pikirannya. Anak lelaki dan perempuan setara dan tidak adil rasanya terus-terusan mendeskriminasikan anak perempuan.Selang beberapa hari, pesta penyamb

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   137. Berubah Lebih Baik

    Setelah insiden Gloria dan Margothie tersesat, keduanya memang langsung berubah. Mereka bersikap lebih baik tanpa menonjolkan diri. Terutama Gloria.Ancaman akan diceraikan merupakan pukulan telak baginya. Seorang putri bangsawan yang dicerai karena mempermalukan suami adalah tindakan sangat tercela di kalangan mereka.Bahkan jika itu terjadi, bisa jadi seorang putri bangsawan akan dikucilkan. Tentu Gloria tidak ingin hal tersebut menimpanya.Pesta kehamilan Stefhani dan Kimmy berlangsung meriah—meski hanya keluarga dekat saja yang hadir.“Aku berharap Stefhani melahirkan di kastil.” Larry berkata pada Geo.Mereka sedang mengamati sesi foto para ibu hamil dan suami-suami mereka. Blue yang biasanya berwajah datar, hari ini banyak tersenyum.Sementara Grey yang terlihat paling bahagia. Keinginannya agar istrinya dan istri Blue hamil berbarengan tercapai.“Aku mengerti keinginanmu. Tetapi, di sini fasilitas kesehatan lebih canggih.” Geo memberi saran, “Lagipula, biarkan Blue dan Stefhani

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   65. Dijemput

    Setelah pembicaraan tentang kepulangan Stefhani selesai, Blue berdiri. Ia mengeluarkan dua gelas kristal dan anggur dari dalam lemari kaca. Lalu, mengambil tempat es.“Blue! Kamu sudah mulai mabuk.” Stefhani lebih khawatir sekarang. “Sudah cukup minumnya.”Blue malah menuangkan alkohol ke dalam gel

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   70. Pemandangan di Balkon

    Stefhani berdiri tegang di depan taman, satu tangan menopang ponsel, tangan lainnya mengelus dada untuk meredakan debaran jantung yang menguat. Di luar, cahaya matahari semakin terik, tapi Stefhani tidak menghiraukan sinar matahari yang menyilaukan itu.Layar ponselnya menyala.Blue sedang mengetik

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   66. Saat Tak Bersama

    Larry Langdon tampak jauh lebih rapuh dari terakhir kali Stefhani melihatnya. Rambutnya memutih hampir seluruhnya, kulitnya mengendur, dan napasnya terdengar berat. Lelaki yang dulu mengusirnya tanpa ragu kini harus bersandar pada bantal tebal hanya untuk duduk tegak.Stefhani menunduk, sopan, sepe

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   60. Mendadak Pergi

    Geo kembali bersama keluarganya. Setelah diam-diam memperlihatkan Stefhani melalui saluran video call, Mike percaya. Lalu, Geo meminta Mike mengatur pertemuannya dengan Laven.“Bagaimana, Dad?” Blue yang paling dulu merespons kala sang daddy kembali duduk.“Laven sedang tidak bisa menerima telepon.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status