LOGIN“Bukankah ini keputusan yang gegabah, Tuan? Tuan pasti tahu kalau ini bisa memicu kecemburuan internal.” Kepala HRD berusaha berkata dengan hati-hati.
Stefhani terdiam. Ia tak berani berkomentar, sementara belasan pasang mata kini tengah menatap ke arahnya.
“Kamu butuh alasan?” tanya Blue. “Aku mengenalnya sejak lama. Stefhani adalah teman Grey. Bukan begitu, Grey?” lempar Blue pada kembarannya.
Beruntung, Grey cepat beradaptasi. “Ya, benar. Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu.”
Pria yang punya wajah identik dengan Blue itu bahkan memberikan kedipan mata ke arah Stefhani. Gadis itu memberikan senyuman santai, mendukung pernyataan Grey.
Kepala HRD berdeham pelan. “Kalau begitu … tentu kami menghargai penilaian Tuan,” putusnya, meski nada suaranya masih terdengar keberatan. “Namun saya harap Nona Stefhani bisa beradaptasi dengan cepat. Tanggung jawab sekretaris CEO bukan hal ringan.”
“Saya paham,” jawab Stefhani tenang. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Saya akan bekerja profesional.”
Grey tersenyum tipis, sementara Blue memberikan isyarat dari mata agar Stefhani mengikutinya.
“Refleksmu bagus,” ujar Grey tiba-tiba ketika mereka berjalan keluar berdampingan. “Kebanyakan orang mungkin akan langsung gugup.”
Stefhani hanya menanggapi dengan senyum malas. “Anda juga lihai berpura-pura.”
“Heh? Aku hanya mendukung pernyataan Blue!” Grey mendengus pelan.
Saat sudah berada di dalam ruang kerja Blue, Grey langsung protes. “Apa-apaan ini, Blue? Dia.... “Jari Grey menunjuk Stefhani. “Kenapa tiba-tiba dia jadi sekretarismu?”
Dengan santai Blue bercerita bahwa saat itu, Tandy—asistennya berbisik bahwa Stefhani tidak bisa pulang ke negaranya hingga mau tak mau tetap bekerja.
“Lagipula kamu tau sekretarisku baru resign.”
Blue juga berbisik pada sang kembaran. “Dia masih punya foto-fotomu di ranjang. Kalau tidak kita bantu, dia bisa menyebarkannya.”
“Ck, benar juga alasanmu. Artinya, kita harus berbaik-baik dengannya sampai ia bisa pulang?”
“Sepertinya begitu lebih aman.”
Stefhani mengerutkan dahi melihat CEO kembar di depannya saling bicara pelan. Saat dua lelaki tampan itu menatapnya, ia balas menatap dengan ekspresi datar.
Lalu, Grey menghampiri dan menjulurkan tangan. “Selamat bekerja, sekretaris baru.”
Setelah hari itu, Stefhani resmi memulai pekerjaannya sebagai sekretaris CEO. Hari-hari awalnya dipenuhi dengan belajar. Apalagi Blue tipikal atasan yang jarang sekali bicara panjang. Jadilah Stefhani harus lebih mengamati sang atasan dengan cermat.
Untungnya, Stefhani punya kepintaran di atas rata-rata. Tak butuh waktu lama sampai ia mahir mengatur jadwal, menghafal makanan dan minuman favorit Blue, sampai tahu apa yang disukai dan tak disukai Blue.
Banyak klien yang memuji Stefhani, dan bahkan meminta Blue melepas gadis itu untuk menjadi sekretaris mereka.
Seperti sore ini, ketika mereka tengah menghadiri rapat terbatas dengan calon rekanan.
“Kamu pintar mencari sekretaris, Blue. Stefhani tidak hanya cantik, tapi juga pintar,” puji bos perusahaan kolega. Usianya 40-an, tapi masih tampak prima.
Reaksi Stefhani tetap sama, hanya tersenyum ramah. Sementara Blue, lebih sering memberikan lirikan atau decakan kasar dari mulutnya.
“Kamu ada acara setelah ini, Nona? Mau makan malam denganku?” tawar pria itu lagi.
“Stefhani terlalu sibuk untuk meladeni ajakanmu.” Bukan Stefhani, tapi kata-kata menusuk itu justru keluar dari Blue.
Berbeda dengan Blue, Stefhani tersenyum. Ia menjawab dengan ramah, “Terima kasih untuk ajakannya. Mungkin lain kali?”
Baru saja klien pria mereka akan membalas lagi kalimat Stefhani, Blue sudah lebih dulu bangkit dan menyuruh sang sekretaris mengikutinya.
“Kamu tidak perlu meladeni pujian berlebihan. Cukup lakukan pekerjaanmu dengan baik,” katanya ketika mereka sudah berada di lift, menuju ke lantai mereka lagi.
Mulanya, Stefhani mengernyit, heran. Tak biasanya Blue memberi ultimatum apa-apa yang harus ia lakukan. Namun, gadis itu tetap menjawab dengan tenang, “Itu yang kulakukan, Tuan.”
“Bagus,” ucap Blue akhirnya.
Pintu lift terbuka, mereka berdua berjalan berdampingan. Stefhani sampai lebih dulu di mejanya. Blue ikut berhenti di depan meja Stefhani, membuat gadis itu menatap sang atasan. “Ada hal yang perlu aku lakukan lagi, Tuan?”
“Sabtu malam, kosongkan agendamu.”
“Apa ini urusan pekerjaan?” tanya Stefhani hati-hati.
Blue mengedik. “Bisa ya, bisa tidak. Persiapkan saja dirimu.”
“Mana bisa begitu?” Stefhani berdecak. “Masa akhir minggu aku nggak libur?”
Blue menatapnya singkat. Tatapan itu tidak panas, tidak lembut—justru datar seperti garis penggaris. Namun entah kenapa, Stefhani merasakan ada peringatan di sana.
“Kalau kamu mau bertahan di sini,” kata Blue pelan, suaranya rendah namun tegas. “Kamu akan belajar membedakan mana yang bisa kamu tolak, dan mana yang sebaiknya kamu jalani dulu."
Stefhani mengerjap. Kalimat itu terdengar seperti nasihat… tapi juga bisa dibaca sebagai ancaman halus. Ia menelan ludah, menahan komentar yang hampir meluncur dari mulutnya. Di kantor seperti ini, berdebat dengan CEO sama saja dengan menyalakan api di atas bensin.
Blue berbalik pergi, langkahnya tenang seolah barusan tidak mengatakan apa-apa.
Namun efeknya langsung terasa.Dua karyawan yang baru keluar dari pantry berhenti sekejap saat melihat Blue berdiri di depan meja Stefhani. Mereka saling sikut, lalu berjalan cepat sambil menunduk—tapi jari mereka sudah sibuk mengetik di ponsel.
Beberapa menit kemudian, bisik-bisik menjalar seperti asap. Dari meja ke meja. Dari grup chat ke grup chat. Ketika Stefhani mengangkat kepala, ia melihat banyak mata pura-pura sibuk, padahal sedang mengawasinya.
“Tuan Blue mengajak sekretarisnya kencan Sabtu malam?”
Luna semakin memberengut. “Kak Blue nggak percaya dia ngomong gitu? Biar nggak sejenius Kak Blue, Kak Grey dan Sky, aku juga punya ingatan yang bagus.”“Eits…jangan ngambek. Oke, Kak Blue percaya.” Blue mengusak kepala Luna. “Terus? Tadi kalian ngobrolin apa?”“Dia minta maaf. Aku maafin tapi masih….” Luna berhenti bicara dan merintih sambil memegangi perutnya.“Luna!” Blue langsung panik dan memegangi sang adik. “Sakit lagi perutnya?”Tidak langsung menjawab, Luna berusaha mengatur pernapasannya. Blue hanya bisa mengusap punggung Luna sambil menunggu.“Sudah lebih baik?” Blue mengamati ekspresi Luna yang mulai tenang.Kepala Luna mengangguk. “Tiba-tiba saja terasa nyeri. Padahal tadi baik-baik saja.”“Ya sudah. Berbaring dulu.” Blue mengatur bantal untuk Luna agar lebih nyaman posisi tidurnya. “Kak Blue temenin sampai kamu tidur.”“Nggak usah.” Luna menggeleng keras. “Kak Blue kan lagi honeymoon. Luna nggak mau Kak Blue di sini.”Blue menghela napas sejenak. Lalu tiba-tiba mendapat i
Theodore mengetuk pintu dengan pelan."...Masuk," jawab suara Luna dari dalam, terdengar mengantuk.Theodore mengintip sebelum pintu perlahan. Luna berbaring miring dengan mata terpejam. Sepertinya tidak sadar siapa yang masuk—mungkin mengira hanya salah satu keluarganya.Dengan langkah pelan, Theodore masuk. Tidak ingin membuat suara yang mengganggu. Ia melihat stetoskopnya tergeletak di meja samping tempat tidur, persis seperti yang ia ingat.Ia meraih stetoskopnya dengan hati-hati, lalu berbalik untuk pergi. Tapi kemudian suara Luna membuatnya berhenti."Kak Theo?" Luna bangun dan terduduk."Iya?" jawab Theodore dengan hati-hati. “Maaf, aku cuma mau ambil ini.” Theo mengangkat stetoskop di tangannya.Luna terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan kata-katanya. "Oke.”Theodore tersenyum kecil, melangkah sedikit lebih dekat—tidak terlalu dekat, masih menjaga jarak yang profesional. "Kamu… k
Pintu kamar terbuka perlahan. Theodore masuk dengan tas kulitnya, diikuti oleh Grey, Blue, Stefhani, dan Daddy Geo yang ingin melihat perkembangan kondisi Luna. Mommy Bianca dan Sky berdiri di samping tempat tidur.Luna duduk bersandar di tumpukan bantal, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Pipinya bahkan sudah sedikit berwarna merah muda kembali. Matanya yang tadi sempat sayu kini sudah lebih fokus, meskipun masih terlihat lelah."Luna, sayang, dokter sudah datang untuk cek kondisimu," ucap Bianca dengan lembut sambil mengusap rambut putrinya.Luna mengangguk pelan, matanya melirik Theodore yang mendekat dengan senyum profesional."Halo, Luna. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Theodore sambil meletakkan tasnya di meja samping tempat tidur."Lebih baik," jawab Luna dengan suara yang masih sedikit serak tapi jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Tidak mual lagi. Perut juga tidak sakit.""Bagus sekali." Theodore tersenyum, mengeluarkan stetoskop dari tasnya. "Aku akan periksa detak jantu
Tidak tega rasanya Blue mengatakan Luna adalah anak yang ringkih dan sering sakit sejak kecil. Sementara itu, Theo menunggu Blue melanjutkan kalimatnya.“Paling… unik di antara kami berempat.” Blue menyelesaikan kalimatnya. “Maklum, anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Bungsu pula.”Theo mengangguk mengerti. “Lalu, sejak kapan Luna sensitif pencernaannya?”“Sejak kecil suka tiba-tiba sakit saat makan sesuatu yang menurut kami makanan normal saja.”“Oh ya?”Sedikit, Blue menceritakan masa kecil Luna yang sering demam jika salah makan. Keluarga berpikir seiring waktu berjalan, sakit itu akan hilang. Nyatanya sampai saat ini, pencernaan Luna masih sensitif.Itu pula sebabnya Daddy Geo dan Mommy Bianca memutuskan untuk tidak memiliki bayi lagi meskipun ingin. Mereka merasa perlu merawat dan mendampingi Luna pada saat-saat rapuhnya seperti ini.“Kalau kalian mau, aku akan melakukan beberapa tes untuk Luna. Siapa tau kita bisa identifikasi zat apa saja yang tubuh Luna tidak bisa to
Grey langsung mendongak, menatap Theodore dengan bingung. "Bertemu kembali?"Tapi Theodore tidak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju pintu. "Aku akan kembali dua jam lagi untuk memeriksa kondisinya."Luna yang masih sangat lemah tidak merespons ucapan Theodore. Matanya tetap terpejam, tubuhnya terlalu letih untuk bahkan menyadari ada yang berbicara padanya.Blue yang menangkap keanehan dalam ucapan Theodore langsung angkat bicara. "Dokter, biar aku antar ke bawah.""Terima kasih."Blue berjalan berdampingan dengan Theodore. Ketika mereka sampai di tangga dan cukup jauh dari kamar Luna, Blue akhirnya angkat bicara."Dokter Theodore," mulai Blue dengan hati-hati. "Tadi... kamu bilang 'senang bertemu kembali' pada Luna. Kalian pernah bertemu?"Theodore berhenti melangkah, berbalik menatap Blue dengan ekspresi yang agak terkejut—seperti tidak menyangka ucapannya didengar. Ia terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan
Luna keracunan makanan." Suara Grey terdengar panik—sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Blue, aku butuh kamu di sini. Sekarang."Wajah Blue langsung tegang. "Aku segera ke sana."“Luna kenapa?” Stefhani bicara sambil Bersiap pergi."Keracunan makanan," jawab Blue sambil cepat-cepat mengenakan celana jeans. "Kondisinya parah. Grey butuh kita di villa mereka sekarang.""Oh, Tuhan!" Stefhani tergesa meraih tasnya. "Luna... dia kan sensitif dengan obat-obatan. Aku ingat kamu pernah cerita soal itu.""Exactly." Blue sudah mengenakan sepatunya. "Makanya Grey panik. Ayo, Stef. Cepat."Lima menit kemudian, mereka sudah di mobil rental menuju villa keluarga Wilson yang berjarak sekitar 15 menit berkendara.Begitu mereka tiba, suasana di villa terasa sangat tegang."Di mana dia?" tanya Blue langsung pada Grey yang menyambutnya."Kamar atas. Kimmy sedang menjaganya." Grey memimpin mereka naik tangga dengan cepat. "Kondisinya semakin memburuk, Blue. Demamnya mencapai 39 derajat. Dia hampir tidak







