Masuk“Apa maksudmu, Blue?”
Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar.
“Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.
Blue benar-benar mabuk.
Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu.
Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”
Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”
“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.
“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara.
Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”
Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang dingin. “Aku tidak pernah mencintaimu, Darla. Berhenti mengaku sebagai tunanganku!”
Wajah Darla membeku. “Kamu… bilang apa?”
“Aku sudah bilang sejak lama,” lanjut Blue sambil memijat pelipisnya. “Aku tidak mencintaimu. Tidak akan pernah.”
Sekuat apa pun Stefhani menulikan telinga, ia tetap saja bisa mendengar pengakuan Blue yang menyakitkan untuk Darla. Ia hanya bisa menahan tubuh besar Blue sekuat tenaga agar lelaki itu tak jatuh.
Darla tertawa kecil. “Kamu mabuk berat, Blue. Kamu tidak sadar apa yang kamu ucapkan.” Ia mencoba menghibur dirinya, meski sedetik kemudian air mata yang coba ia tahan akhirnya jatuh.
“Argh, sial! Kepalaku semakin pusing,” keluh Blue. Ia menaruh kepalanya di pundak Stefhani.
“Kamu bisa menyetir kan, Stef?” tanya Grey. Ketika Stefhani menganggukkan kepala, lelaki itu melemparkan kunci mobilnya. “Bagus! Aku percayakan mobilku padamu. Antarkan Blue. Kembaranku itu cupu, tidak bisa menyetir!”
“Tapi, Nona Darla…” ucap Stefhani. Ia tak enak hati.
“Dia juga tidak bisa menyetir karena ikut konsumsi alkohol!” Grey menatap cepat Darla. “Gadis ini biar aku yang urus.”
Beberapa menit kemudian, Stefhani sudah duduk di kursi kemudi. Tangannya menggenggam setir dengan mantap, sementara Blue duduk di kursi penumpang.
Selama menyetir, tak henti-hentinya Stefhani menoleh ke arah Blue. Lelaki itu tampak sedikit berbeda jika sedang mabuk. Ia menjadi lebih cerewet, kendati masih tetap mengeluarkan aura mendominasi.
“Aku tahu kamu memperhatikanku,” gumam Blue tiba-tiba.
Jantung Stefhani serasa melompat dari tempatnya. Ia terkejut, tetapi berusaha tenang. “Aku baru tau seorang Blue tidak bisa menyetir,” ledeknya.
Blue terkekeh. Matanya masih tertutup rapat. “Kamu akan tahu hal lainnya… kalau kamu beruntung.”
"Seperti toleransi alkohol anda yang rendah? Aku rasa Tuan tidak minum terlalu banyak barusan, kan?"
"Uuumm... aku mabuk dan pusing juga karena ada Darla. Itu salahmu karena tidak berada di dekatku!"
Stefhani mengerutkan dahi, tapi Blue sudah lebih dulu tertidur. Gerakan dadanya sudah teratur. Bahkan hingga mereka tiba di apartemen lelaki itu, Blue masih memejamkan mata.
Tubuh mungil Stefhani susah payah membawa badan Blue yang tinggi-tegap menuju unitnya di lantai paling atas. Pintu dengan smart lock itu terbuka ketika Stefhani menempelkan jari Blue di panel pintu.
Embusan napas panjang terdengar ketika akhirnya Stefhani berhasil mengantarkan Blue tertidur di kasurnya. Tanpa bersusah-susah membuka sepatu atau pakaian Blue, ia berbalik badan, berniat langsung pulang. Tetapi begitu ia mencoba membuka pintu apartemen Blue… ia menyadari satu hal!
Pintu itu terkunci, dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari sang pemilik!
Stefhani panik. Ia mencoba menekan-nekan angka ulang tahun Blue, yang barangkali dijadikan Blue sebagai kode keamanan pintu ini. Namun, percobaan Stefhani malah berujung pintu itu mengeluarkan sebuah peringatan, sebelum akhirnya mati total.
“Oh, God, Stefhani!” Gadis itu mengaduh. Ia kini terkurung di apartemen mewah itu.
Jika sudah begini, tak ada cara lain selain membangunkan Blue yang sudah terbang ke alam mimpi.
“Blue, bangun! Bukakan pintunya dulu untukku!” Stefhani mengguncang-guncang tubuh lelaki itu. Namun ia tetap bergeming.
“Blue, aku mau pulang!” ulangnya lagi.
Lalu tanpa terduga, tubuh mungil Stefhani ditarik lelaki itu. Sebelum wanita itu sempat memberontak, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh Blue dengan ciuman yang lembut dan dalam.
Mata lelaki itu tetap terpejam, tapi bibir, lidah, juga tangannya terus bergerilya ke sekujur tubuh Stefhani. Rengkuhan tangan Blue di pinggul, juga posisi mereka yang sekarang berada di atas ranjang king size milik Blue membuat Stefhani tak punya kekuatan lebih untuk sekadar menambah jarak.
“Blue, ini…”
“Diamlah,” bisik Blue parau di sela ciumannya. “Kumohon, jangan pergi--"
Setelah itu, pelukan Blue mengerat, membuat Stefhani sulit melarikan diri hingga ia pun ikut tertidur.
Pagi harinya, Stefhani bangun dengan waspada penuh. Mengintip dari celah kelopak mata, ia mengembuskan napas lega begitu mengetahui Blue masih terlihat pulas. Tangan lelaki itu masih melingkupi pinggangnya, merengkuhnya erat seperti semalam.
Perlahan, Stefhani memindahkan tangan lelaki itu, lalu bergegas pergi sebelum Blue sadar jika dirinya menginap di sini semalam! Menuju pintu apartemen, Stefhani mencoba membukanya kembali dan…
Pintu terbuka dengan mudah! Tanpa sidik jari dan pin! “Aneh?” batin Stefhani.
Tak punya banyak waktu untuk berpikir, Stefhani bergegas keluar dari apartemen Blue. Ketika pintu itu terbuka sempurna, suara seseorang terdengar, membuat Stefhani menegang.
“Sudah bangun?”
“Paman Nael!” panggil Stefhani.Lelaki yang dipanggil Stefhani menoleh. Bola mata lelaki itu melebar sempurna. Ekspresi terkejutnya tak bisa disembunyikan, meski beberapa detik berikutnya lelaki itu memeluk Stefhani.“Stefhani?! Kamu di sini? Paman mencarimu ke mana-mana!” ungkapnya. “Kenapa tidak pernah menghubungi keluarga?”Senyum Stefhani terbit. Ia menatap Paman Nael dengan pandangan rindu yang menggebu. “Aku tidak bisa mengabari siapa pun, Paman. Aku bahkan tidak bisa memesan tiket untuk pulang.”Paman Nael mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”“Sepertinya mereka memblokir identitasku,” jelas Stefhani lemah.“Itu tidak mungkin. Tidak pernah kudengar soal pemblokiran aksesmu.” Paman Nael menepuk pundak keponakannya itu.Dari jauh, mata biru milik Blue terlihat awas memperhatikan interaksi antara Stefhani dan seorang pria yang tidak ia kenal. Blue langsung menduga lelaki itu adalah tamu undangan dari keluarga pengantin wanita.Di sisi lelaki itu, Darla yang sedari tadi memantau teru
“Kamu?! Aku pikir Blue.”Tubuh Stefhani terlonjak ketika melihat Darla sudah berdiri dengan angkuh di depan pintu apartemen Blue. Berarti Darla tau password unit Blue ini.“Selamat pagi, Nona Darla,” sapa Stefhani ramah. Di hadapannya, Darla menatap Stefhani dengan tatapan sengit. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini di kediaman tunanganku?”“Mm… hanya mengecek Tuan Blue saja karena semalam kan mabuk.” Stefhani mencoba untuk tetap tenang. “Oh, sok perhatian sekali.” Darla mendekat selangkah, mencoba semakin mengintimidasi Stefhani. “Kamu tahu kan, konsekuensi seperti apa yang akan kamu dapatkan kalau sampai aku melapor ke kantormu? Bahwa kamu menggoda atasanmu?”“Aku tidak melakukan apa pun yang kamu pikirkan.”Darla tersenyum tipis. “Mungkin lebih tepatnya, belum. Aku tahu pasti, kamu mencoba memanfaatkan kondisi Blue yang mabuk semalam”Darla hendak membuka mulut lagi ketika sebuah suara berat terdengar dari belakang. “Stefhani membantuku. Justru aku yang memanfaatkannya.”Blue berdi
“Apa maksudmu, Blue?”Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar. “Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.Blue benar-benar mabuk.Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu. Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara. Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang d
Sabtu malam, Grey dibuat terpukau oleh pesta bujang yang diatur Stefhani. Seharusnya Blue yang urus, tapi lelaki itu terlalu malas dan menyerahkannya pada Stefhani dengan iming-iming uang tambahan yang besar.Dan, di sinilah mereka sekarang… sebuah bar eksekutif yang salah satu ruangannya telah dibooked untuk acara pesta bujang Grey.Minuman-minuman mahal dan langka, pilihan musik yang sesuai selera, hingga penari-penari striptease yang Stefhani seleksi sendiri, siap menghibur teman-teman Grey yang diundang ke acara ini.“Kerjamu luar biasa, Stefhani!” Grey memujinya untuk kesekian kali.Stefhani tersenyum. Ia senang karena jerih payahnya tampak begitu memuaskan di mata Grey.“Tentu. Aku tidak akan mengecewakan. Tuan Blue sudah membayarku mahal untuk ini,” sahut Stefhani.“Blue, Kerja sekretarismu mengagumkan!” puji Grey lagi, kali ini tertuju untuk Blue yang tetap diam sedari masuk ke ruangan ini.Di antara semua lelaki yang datang memenuhi bar eksekutif ini, hanya ada satu lelaki ya
“Bukankah ini keputusan yang gegabah, Tuan? Tuan pasti tahu kalau ini bisa memicu kecemburuan internal.” Kepala HRD berusaha berkata dengan hati-hati.Stefhani terdiam. Ia tak berani berkomentar, sementara belasan pasang mata kini tengah menatap ke arahnya.“Kamu butuh alasan?” tanya Blue. “Aku mengenalnya sejak lama. Stefhani adalah teman Grey. Bukan begitu, Grey?” lempar Blue pada kembarannya.Beruntung, Grey cepat beradaptasi. “Ya, benar. Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu.”Pria yang punya wajah identik dengan Blue itu bahkan memberikan kedipan mata ke arah Stefhani. Gadis itu memberikan senyuman santai, mendukung pernyataan Grey.Kepala HRD berdeham pelan. “Kalau begitu … tentu kami menghargai penilaian Tuan,” putusnya, meski nada suaranya masih terdengar keberatan. “Namun saya harap Nona Stefhani bisa beradaptasi dengan cepat. Tanggung jawab sekretaris CEO bukan hal ringan.”“Saya paham,” jawab Stefhani tenang. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Saya aka
“Anda masih perawan.”Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia ban







