Share

7. Mabuk

Author: ReyNotes
last update publish date: 2026-01-09 16:05:42

“Apa maksudmu, Blue?”

Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar. 

“Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.

Blue benar-benar mabuk.

Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu. 

Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”

Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”

“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.

“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara. 

Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”

Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang dingin. “Aku tidak pernah mencintaimu, Darla. Berhenti mengaku sebagai tunanganku!”

Wajah Darla membeku. “Kamu… bilang apa?”

“Aku sudah bilang sejak lama,” lanjut Blue sambil memijat pelipisnya. “Aku tidak mencintaimu. Tidak akan pernah.”

Sekuat apa pun Stefhani menulikan telinga, ia tetap saja bisa mendengar pengakuan Blue yang menyakitkan untuk Darla. Ia hanya bisa menahan tubuh besar Blue sekuat tenaga agar lelaki itu tak jatuh.

Darla tertawa kecil. “Kamu mabuk berat, Blue. Kamu tidak sadar apa yang kamu ucapkan.” Ia mencoba menghibur dirinya, meski sedetik kemudian air mata yang coba ia tahan akhirnya jatuh.

“Argh, sial! Kepalaku semakin pusing,” keluh Blue. Ia menaruh kepalanya di pundak Stefhani.

“Kamu bisa menyetir kan, Stef?” tanya Grey. Ketika Stefhani menganggukkan kepala, lelaki itu melemparkan kunci mobilnya. “Bagus! Aku percayakan mobilku padamu. Antarkan Blue. Kembaranku itu cupu, tidak bisa menyetir!”

“Tapi, Nona Darla…” ucap Stefhani. Ia tak enak hati.

“Dia juga tidak bisa menyetir karena ikut konsumsi alkohol!” Grey menatap cepat Darla. “Gadis ini biar aku yang urus.”

Beberapa menit kemudian, Stefhani sudah duduk di kursi kemudi. Tangannya menggenggam setir dengan mantap, sementara Blue duduk di kursi penumpang. 

Selama menyetir, tak henti-hentinya Stefhani menoleh ke arah Blue. Lelaki itu tampak sedikit berbeda jika sedang mabuk. Ia menjadi lebih cerewet, kendati masih tetap mengeluarkan aura mendominasi.

“Aku tahu kamu memperhatikanku,” gumam Blue tiba-tiba. 

Jantung Stefhani serasa melompat dari tempatnya. Ia terkejut, tetapi berusaha tenang. “Aku baru tau seorang Blue tidak bisa menyetir,” ledeknya. 

Blue terkekeh. Matanya masih tertutup rapat. “Kamu akan tahu hal lainnya… kalau kamu beruntung.”

"Seperti toleransi alkohol anda yang rendah? Aku rasa Tuan tidak minum terlalu banyak barusan, kan?"

"Uuumm... aku mabuk dan pusing juga karena ada Darla. Itu salahmu karena tidak berada di dekatku!"

Stefhani mengerutkan dahi, tapi Blue sudah lebih dulu tertidur. Gerakan dadanya sudah teratur. Bahkan hingga mereka tiba di apartemen lelaki itu, Blue masih memejamkan mata.

Tubuh mungil Stefhani susah payah membawa badan Blue yang tinggi-tegap menuju unitnya di lantai paling atas. Pintu dengan smart lock itu terbuka ketika Stefhani menempelkan jari Blue di panel pintu.

Embusan napas panjang terdengar ketika akhirnya Stefhani berhasil mengantarkan Blue tertidur di kasurnya. Tanpa bersusah-susah membuka sepatu atau pakaian Blue, ia berbalik badan, berniat langsung pulang. Tetapi begitu ia mencoba membuka pintu apartemen Blue… ia menyadari satu hal!

Pintu itu terkunci, dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari sang pemilik! 

Stefhani panik. Ia mencoba menekan-nekan angka ulang tahun Blue, yang barangkali dijadikan Blue sebagai kode keamanan pintu ini. Namun, percobaan Stefhani malah berujung pintu itu mengeluarkan sebuah peringatan, sebelum akhirnya mati total.

“Oh, God, Stefhani!” Gadis itu mengaduh. Ia kini terkurung di apartemen mewah itu.

Jika sudah begini, tak ada cara lain selain membangunkan Blue yang sudah terbang ke alam mimpi.

“Blue, bangun! Bukakan pintunya dulu untukku!” Stefhani mengguncang-guncang tubuh lelaki itu. Namun ia tetap bergeming.

“Blue, aku mau pulang!” ulangnya lagi.

Lalu tanpa terduga, tubuh mungil Stefhani ditarik lelaki itu. Sebelum wanita itu sempat memberontak, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh Blue dengan ciuman yang lembut dan dalam.

Mata lelaki itu tetap terpejam, tapi bibir, lidah, juga tangannya terus bergerilya ke sekujur tubuh Stefhani. Rengkuhan tangan Blue di pinggul, juga posisi mereka yang sekarang berada di atas ranjang king size milik Blue membuat Stefhani tak punya kekuatan lebih untuk sekadar menambah jarak.

“Blue, ini…”

“Diamlah,” bisik Blue parau di sela ciumannya. “Kumohon, jangan pergi--"

Setelah itu, pelukan Blue mengerat, membuat Stefhani sulit melarikan diri hingga ia pun ikut tertidur.

Pagi harinya, Stefhani bangun dengan waspada penuh. Mengintip dari celah kelopak mata, ia mengembuskan napas lega begitu mengetahui Blue masih terlihat pulas. Tangan lelaki itu masih melingkupi pinggangnya, merengkuhnya erat seperti semalam. 

Perlahan, Stefhani memindahkan tangan lelaki itu, lalu bergegas pergi sebelum Blue sadar jika dirinya menginap di sini semalam! Menuju pintu apartemen, Stefhani mencoba membukanya kembali dan…

Pintu terbuka dengan mudah! Tanpa sidik jari dan pin! “Aneh?” batin Stefhani. 

Tak punya banyak waktu untuk berpikir, Stefhani bergegas keluar dari apartemen Blue. Ketika pintu itu terbuka sempurna, suara seseorang terdengar, membuat Stefhani menegang.

“Sudah bangun?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
grey apa darla ini yang datang
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
lah gimana ceritanya,,,yg mabok siapa,,,yg di salahin siapa..... emang si blue ni agak" ya,,,,nyalahin Stefhanie karena GK di deketnya,,,,,
goodnovel comment avatar
bian cilla
apa memang blue sengaja mengunci pintu apartemennya ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   142. Segalanya

    Secara rutin keluarga Willson berkunjung ke kastil Ravenclaw di mana Stefhani, Blue dan anak-anaknya tinggal. Atau sebaliknya, Blue yang memboyong keluarganya berkunjung ke mansion The Willson.Larry semakin sehat dengan adanya cucu-cucu. Mike bahkan tidak selalu berada di sampingnya sekarang. Ia lebih sering mengurus aset bangsawan mewakili Larry.Sementara Gloria kini lebih perhatian. Ia yang merawat Larry dengan tulus.Hari ini, Ballroom kastil mewah disiapkan khusus untuk perayaan ulang tahun kedua si kembar. Dekorasinya sangat meriah.Setengah ruangan dengan tema "Princess Wonderland" dengan dominasi warna pink, ungu, dan emas, lengkap dengan kastil mini, balon-balon berbentuk mahkota dan kupu-kupu, serta meja dessert yang penuh dengan kue bertingkat dan cupcakes dengan topper princess.Setengah ruangan lainnya dengan tema "Little Businessman Empire" dengan dominasi warna hitam, silver, dan biru navy, dihias dengan miniatur gedung-gedung pencakar langit, meja-meja kerja mini, bahk

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   141. Kelahiran Dua Kembar

    Dr. Hassan yang mendengar ucapan Blue tersenyum geli. Ia sudah sangat sering mendengar suami-suami yang bilang hal yang sama di ruang bersalin dan kemudian dua tahun kemudian, mereka kembali lagi dengan kehamilan kedua.Mommy mondar-mandir sejak pagi dan sekarang kakinya mulai pegal, tapi ia tidak bisa berhenti. Dari kamar Kimmy yang sudah pembukaan sembilan, ke kamar Stefhani yang pembukaan tujuh, lalu kembali lagi.Daddy Geo mencoba menariknya untuk duduk. "Bianca, sayang, kamu harus istirahat. Kamu sudah mondar-mandir seharian.""Aku tidak bisa istirahat!" jawab Mommy Bianca dengan cemas. "Kedua menantuku sedang kesakitan melahirkan cucu-cucuku! Bagaimana aku bisa tenang?!""Dengan duduk dan bernapas," jawab Daddy Geo dengan lembut tapi tegas, menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. "Kamu tidak akan bisa bantu siapa pun kalau kamu pingsan karena kelelahan."Larry juga terlihat sangat Lelah. Sejak pagi, ia sudah di rumah sakit dan menolak untuk pulang meski Gloria sudah menyuru

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   140. Kepanikan Blue dan Grey

    Bianca memberikan satu piring kecil kue lemon pada Gloria. “Silahkan. Ini salah satu menu favorit keluarga.”“Terima kasih.” Gloria menunduk sambil menerima piring itu. Ia mencicipi dan tertegun sejenak.“Bagaimana?” tanya Bianca.“Enak sekali. Pantas saja menjadi favorit.” Gloria mengamati tekstur kue. “Sangat lembut dan ringan sekali dimakan.”Bianca menceritakan bahwa semua makanan di mansion memang dibuat dengan bahan-bahan khusus yang ramah untuk penderita alergi seperti Luna. Mau tidak mau, semua anggota keluarga makan apa pun yang Luna bisa makan.“Tapi dengan begitu kalian jadi fit karena makanannya selalu sehat.” Gloria menyimpulkan.“Benar.”Mereka terdiam kemudian. Gloria meletakkan piringnya dan mengambil serbet. Mengelap ujung bibirnya dengan sikap elegan, kemudian setelah selesai menatap Bianca.“Aku mau minta tolong padamu.”Bianca mengerutkan kening. “Minta tolong apa?”“Aku… sadar selama ini tidak baik pada Stefhani dan terlalu memanjakan Margie. Melihatmu sukses meng

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   139. Jadi Rebutan

    “Sudah jangan merengut begitu.” Blue menasehati kembarannya. “Kalau masih mau protes, sana ngomong sama Tuhan.”Grey menghela napas panjang. “Iyaa. Cuma aku tuh masih kepikiran kalau punya kembar lelaki dan perempuan kaya Sky dan Luna kan hemat. Sekali aja hamil udah punya sepasang.”“Maksudnya, kamu nggak mau Kimmy hamil lagi?”“Tadinya begitu. Kayanya kasihan aku sama Kimmy. Lemes banget dia selama hamil.”Keduanya spontan mengamati istri-istri mereka. Kimmy sedang duduk bersama orang tuanya. Demikian juga dengan Stefhani yang mengobrol dengan Larry dan Gloria.“Meski begitu, Kimmy tampak bahagia kok.”Grey mengangguk. “Dokter memang bilang trimester kedua, kesehatan Kimmy akan lebih baik. Tapi kenyataannya nggak tuh."“Mungkin karena anak yang di rahim Kimmy perempuan, bawaannya malas dan lemas. Jadi pengennya cuma rebahan.” Blue memberikan analisanya.Spontan Grey menoleh pada Blue. “Bisa jadi begitu, ya. Soalnya, Stefhani meski mual dan muntah tetap aktif. Pasti karena dia hamil

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   138. Jenis Kelamin Bayi-Bayi

    “Margie melahirkan anak perempuan.” Stefhani berkata pada suaminya yang sedang bekerja online.“Oh, oke.” Blue hanya membalas singkat. Tetapi, kemudian kepalanya mendongak dan menatap sang istri yang duduk termenung di sofa.Akhirnya Blue bangun dari kursi kerjanya dan menghampiri sang istri. Bibirnya mencium puncak kepala Stefhani sementara tangannya mengusap lembut perut yang mulai menonjol itu.“Kenapa? Kamu mau ke kastil Margie?”Stefhani menggeleng. “Kurasa Margie masih istirahat. Aku hanya kasihan pada Margie.”“Karena?”“Kedudukannya semakin terpuruk karena melahirkan anak perempuan sementara istri pertama Prince Axel telah memiliki dua putra.”Blue tidak mau berkomentar. Karena jika ia membuka mulut, maka ia yakin tidak bisa mengontrol kata-kata kasar yang akan keluar.Baginya para bangsawan itu memang sudah seharusnya terbuka pikirannya. Anak lelaki dan perempuan setara dan tidak adil rasanya terus-terusan mendeskriminasikan anak perempuan.Selang beberapa hari, pesta penyamb

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   137. Berubah Lebih Baik

    Setelah insiden Gloria dan Margothie tersesat, keduanya memang langsung berubah. Mereka bersikap lebih baik tanpa menonjolkan diri. Terutama Gloria.Ancaman akan diceraikan merupakan pukulan telak baginya. Seorang putri bangsawan yang dicerai karena mempermalukan suami adalah tindakan sangat tercela di kalangan mereka.Bahkan jika itu terjadi, bisa jadi seorang putri bangsawan akan dikucilkan. Tentu Gloria tidak ingin hal tersebut menimpanya.Pesta kehamilan Stefhani dan Kimmy berlangsung meriah—meski hanya keluarga dekat saja yang hadir.“Aku berharap Stefhani melahirkan di kastil.” Larry berkata pada Geo.Mereka sedang mengamati sesi foto para ibu hamil dan suami-suami mereka. Blue yang biasanya berwajah datar, hari ini banyak tersenyum.Sementara Grey yang terlihat paling bahagia. Keinginannya agar istrinya dan istri Blue hamil berbarengan tercapai.“Aku mengerti keinginanmu. Tetapi, di sini fasilitas kesehatan lebih canggih.” Geo memberi saran, “Lagipula, biarkan Blue dan Stefhani

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   13. Cerita Tentang Kecelakaan

    “Ma—Maaf.” Stefhani berbalik badan, hendak kembali keluar.“Eh, Kak Stef.”Cepat, Stefhani menoleh. Lalu bibirnya menyunggingkan sedikit senyum. Ternyata Luna yang duduk santai di pangkuan Blue.Ia jadi teringat cerita Grey. Sky dan Luna manja pada kakak pertama mereka. Padahal tadinya ia sempat be

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   12. Menginap Lagi

    Stefhani menyeringai. “Duh, maaf. Kayanya aku memang masih ngantuk. Jadi nggak ngeh belum tekan tombol buka lift.”Sementara Blue memandang sekretarisnya sambil mendengus kasar dan menggeleng samar. Sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam lift, Stefhani tersenyum pada Denny.

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   14. Pelanggaran Etika

    “Paling dibelain lagi sama CEO kita.”“Apalagi sekarang sering terlihat berdua, ternyata mereka sudah serumah!”“Alah, tidak perlu heran… kamu pikir kenapa dia cara cepat naik jabatan?!”Jika dulu hanya ada segelintir yang menggunjin

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   8. Jangan Macam-Macam!

    “Kamu?! Aku pikir Blue.”Tubuh Stefhani terlonjak ketika melihat Darla sudah berdiri dengan angkuh di depan pintu apartemen Blue. Berarti Darla tau password unit Blue ini.“Selamat pagi, Nona Darla,” sapa Stefhani ramah. Di hadapannya, Darla menatap Stefhani dengan tatapan sengit. “Apa yang kamu l

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status