Share

5. Mr. and Mrs. Wijayanto

last update Last Updated: 2025-10-26 23:49:45

Seolah tidak pernah terjadi huru-hara di hatinya, pagi ini Mita kembali menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga seperti biasanya, meski tubuhnya kurang fit karena semalam tidak bisa tidur.

Pram yang baru pulang subuh, sudah berangkat lagi, berdalih ada pertemuan mendadak di luar kota. Kebohongan yang kini terasa sangat menjijikkan bagi Mita.

Setelah Samudra berangkat sekolah, Mita duduk di meja makan, mencoba menenangkan diri sambil menyeruput kopi, tapi tenggorokannya menolak. Ia terdiam menatap layar ponsel di hadapannya, seolah menimbang-nimbang sesuatu.

Mita menekan nomor Gara.

“Halo, Gar. Maaf mengganggu pagi-pagi begini.” Suara Mita terdengar datar dan dingin, tapi terkontrol, seperti atasan yang akan membahas pekerjaan.

“Ada apa, Tan?” Suara Gara langsung berubah serius.

Ada hela napas panjang penuh keraguan. “Aku ingin memastikan, apakah suamiku benar-benar cek in di hotel semalam.”

Meski sudah berusaha tegar, tapi air mata Mita kembali luruh saat mengingat kejadian semalam.

“Tapi aku tidak tahu caranya.” Mita menutup mata, menahan frustrasi.

Hening sejenak, mungkin Gara sedang berpikir, kala Mita menenangkan hatinya.

“Bagaimana kalau kita ke Red Orchid lagi?” tanya Gara akhirnya. “Kita bisa bertemu dengan bagian manajemen.”

“Bagaimana kalau mereka menolak seperti semalam?”

“Kita coba dulu… tapi Tante harus tenang, jangan seperti semalam.”

“Hmmm.” Mita mengangguk.

Setelah pembicaraan berakhir, Mita segera bersiap-siap. Sekali lagi dia berkaca, dipastikannya riasan cantik di wajahnya cukup untuk menutupi hatinya yang memprihatinkan.

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil sport berhenti mulus di depan gerbang rumah. Mita terlihat rapi dengan kemeja silk berwarna netral dan celana panjang yang elegan.

Gara berdiri bersandar pada mobil, aura percaya diri itu membuat pemuda itu tampak gagah dan mempesona. Dia mengenakan kaus oblong hitam polos yang memamerkan lengan berotot yang semalam mendekapnya.

“Sudah siap, Tan?” Gara menegakkan tubuh, tatap matanya memindai Mita dari ujung rambut hingga kaki. Meski terpesona, tapi tak ada tatapan nakal, dia hanya ingin memastikan Mita baik-baik saja.

“Mamamu nggak marah, kamu pakai mobilnya?”

“Mama ada urusan di luar kota.” Gara langsung membuka pintu untuk Mita. “Ayo, Tan!”

Tak ingin membiarkan pikiran liar tentang suaminya terus mengganggu, Mita bergegas masuk berharap bisa segera menuntaskan masalah. Mita sadar kebenaran yang dia cari bisa saja membawanya ke dalam kehancuran yang lain.

Setelah keduanya berada di mobil, Gara menatap Mita sekali lagi ingin memastikan atasannya siap dengan segala kemungkinan yang akan mereka dapatkan.

Tangan Gara terangkat, ibu jarinya merapikan anak rambut Mita yang jatuh di pelipis. Sentuhan itu singkat, tapi terasa layaknya sengatan yang berbahaya bagi Mita.

“Tante harus tetap tenang,” bisik Gara, suaranya rendah dan sedikit serak. “Kita hanya memastikan kebenaran, agar Tante bisa mengambil keputusan yang tepat.”

Mita terkesiap. Sentuhan itu, dan kata-kata yang mendesak itu, menghantam Mita pada dua sisi, luka pengkhianatan dan rasa tak wajar yang muncul pada pemuda di hadapannya.

Mita refleks meraih tangan Gara yang berada di pelipisnya, berniat menyingkirkan sentuhan yang terasa terlalu intim. Tapi saat Mita akan melepasnya, Gara justru menggenggam jemari Mita dengan lebih erat, membiarkan telapak tangan Mita yang dingin menyentuh kulitnya yang hangat.

Genggaman Gara semakin mengencang. “Tante harus kuat.”

Gara tersenyum melihat anggukan samar Mita. Pemuda itu langsung menyalakan mesin, dan mobil pun melaju meninggalkan rumah Mita.

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di hotel. Tak ingin membuang waktu, mereka melangkah bersama menuju lobi, kembali ke tempat Mita mengalami kehancuran emosional semalam.

Setibanya di meja resepsionis, Mita merasakan nyeri di dada, teringat amarahnya yang tak terkendali semalam.

Meski di luar cukup tenang, Gara tahu suasana hati Mita sedang tidak baik-baik saja, sehingga dia mengambil inisiatif bicara.

“Selamat pagi,” sapa Gara, senyumnya formal. “Saya Gara, dari… Sadewa Construction. Kami ingin memastikan keberadaan Bapak Pramudya Wijayanto. Apakah beliau menginap di sini semalam?”

Resepsionis muda itu ragu, matanya melirik ke arah Mita sejenak. “Mohon maaf, Bapak. Kami tidak diizinkan memberikan informasi data tamu tanpa izin yang bersangkutan.”

Gara mempertahankan senyumnya, tetapi nada suaranya berubah menjadi lebih dingin.

“Ini adalah masalah mendesak yang melibatkan kelanjutan kerja sama dua perusahaan besar. Pramudya Wijayanto adalah partner penting kami. Jika Anda tidak bisa memberikan informasi, tolong panggil atasan Anda sekarang juga. Saya perlu berbicara dengan Manager.”

Mita menoleh ke Gara. Ia menatap pemuda itu dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Gara yang ia kenal adalah anak teman yang suka iseng, tapi yang ini adalah profesional muda yang tajam.

Gara terlalu berani mencatut nama besar Sadewa Construction untuk membuka pintu yang tertutup rapat. Seingat Mita, perusahaan Pram pernah mendapat sub-kontrak dari Sadewa Construction.

Melihat ketegasan Gara dan kemeja sutra mahal yang dikenakan Mita, resepsionis itu tidak berani membantah.

“Tunggu sebentar, Bapak.”

Tak lama kemudian, seorang Manager berpakaian rapi datang. Gara mengulangi narasi cerdasnya, menekankan urgensi bisnis dan potensi kerugian jika komunikasi dengan Pram terputus.

Mita hanya diam, membiarkan pesona Gara yang dewasa mengambil alih. Ia menyadari betapa kuatnya koneksi Amara, yang seolah diwariskan kepada putranya.

Manager itu menghela napas, menilai risiko. Konflik bisnis lebih menakutkan daripada melanggar kebijakan privasi kecil.

“Baik, Pak Gara. Kami akan memeriksa sebentar.” Manager itu mengecek sistem.

Tidak butuh waktu lama, informasi yang diinginkan pun meluncur dari mulut sang manager. “Kemarin memang ada billing dan pendaftaran tamu di kamar Suite Eksekuti atas nama Pramudya Wijayanto, lengkap dengan detail perusahaan Wijaya Konstruksi sebagai penjamin pembayaran.”

Fakta yang sangat menusuk bagi Mita. Pram tidak hanya selingkuh, tapi ia tidak repot-repot menyembunyikannya dari catatan resmi hotel, bahkan menggunakan nama dan perusahaan mereka.

“Check-in sekitar pukul 18.00, dan check-out hari ini pukul 07.00 pagi.” Manager itu melanjutkan informasinya.

Mita mencatat detail itu di otaknya, Pram berbohong tentang rapat subuh. Ia baru check-out dan langsung bergegas pulang untuk berganti pakaian.

“Wanita yang bersamanya?” Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari bibir Mita.

“Mereka mendaftar sebagai Mr. and Mrs. Wijayanto, Bu. Sesuai prosedur hotel, tidak ada nama lain yang tercatat,” jawab sang manager, menuntaskan informasinya.

Ada keheningan panjang di antara mereka. Mita tidak perlu drama lagi, karena fakta sudah berbicara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   101. Kesempatan Kedua

    Pram berdiri di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus. Ada sisa lebam yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap Mita lama, seolah mencari celah.Mita bangkit berdiri. Jarak beberapa meter di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. Kehadiran Pram membawa aura pekat yang membuat dada Mita sesak."Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Mas?" Suara Mita dingin, memangkas semua basa-basi.Pram melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu dengan pelan namun terasa mengancam."Aku ingin bicara tentang rumah tangga kita," jawab Pram cepat, suaranya serak. "Tentang Samudra. Tentang semua yang…"Pram tidak melanjutkan kalimatnya, terlihat bingung mau bicara apa lagi. Sikap tak acuh Mita kala menyambutnya, sudah menjadi petunjuk, tak mudah untuk mengubah keputusan istrinya itu.Pram menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tahu aku salah.""Mengaku salah setelah ketahuan?" sahut Mita ketus.Pram maju selangkah. Mita tidak mundur, namun bahunya menegang kaku."Aku tidak

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   100. Masa Lalu

    "Ternyata selingkuh bukan sekadar khilaf, tapi sudah jadi tabiat Papa sejak muda," suara Gara rendah, namun memukul hati Sadewa dengan keras.Pikirannya melayang pada lembar-lembar kaku berkas perceraian Mita yang baru saja ia baca. Angka-angka di sana menari mengejeknya. Selisih usia Gara dan Mita, sahabat SMA Amara, adalah empat belas tahun. Logika paling bodoh sekalipun tahu, tidak mungkin Amara melahirkannya saat masih mengenakan seragam SMP."Jadi Mama mengalami baby blues karena tahu Papa selingkuh dengan anak sekolah?" Gara menoleh, matanya berkilat menuntut."Gar..." Sadewa mencoba meraih lengan putranya.Gara menepisnya kasar. "Aku butuh penjelasan, bukan pembelaan. Papa mau jujur atau bohong tidak akan bisa mengubah masa lalu.”Sadewa menarik napas panjang, bahunya merosot seolah beban puluhan tahun mendadak menindihnya. "Papa dijebak, Gar."Gara tersenyum menyeringai sambil menggelengkan kepala. Apa yang diucapkan Sadewa adalah alasan klise bagi orang yang sudah terpojok ke

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   99. Selingkuhan Papa

    Sadewa menelan ludah. Bahunya merosot dengan tatap mata yang goyah. Rahasia yang selama ini dia simpan, sampai pada titik menunjukkan kebenarannya.Seolah seluruh tubuhnya ikut menyerah, akhirnya Sadewa mengangguk lemah“Kita bicarakan di dalam,” ucap Sadewa dengan suara lirih.Sadewa berbalik lebih dulu, lalu dengan langkah gontai menuju ke ruang kerja. Dan Gaa mengikuti, tak ingin melepaskan kesempatan untuk mengetahui yang sebenarnya.Sementara itu di ruang tamu lampu menyala setengah. Marina muncul dari ujung lorong. Wajahnya pucat. Monic berdiri di belakangnya, memeluk diri sendiri.“Ada apa, Pa?” Monic bertanya pelan, mencoba menarik perhatian ayah dan kakak tirinya.Sadewa tidak menjawab, mengabaikan Monic begitu saja.Gara melirik mereka sekilas. Tatapannya dingin. Tajam. Seolah baru sadar selama ini ia hidup di tengah orang-orang asing.Marina membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Dari sorot mata Sadewa, dia paham suaminya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saj

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   98. Jati Diri

    Gara mematung.Kata demi kata yang terlontar dari mulut Amara seperti beban berta yang langsung di jatuhkan di atas kepalanya dengan begitu tiba-tiba.“Ibu kandungmu…” Kata itu masih berdengung di kepalanya.Selama ini yang Gara tahu, Amara adalah ibu kandungnya, Amara adalah perempuan yang melahirkannya. Tapi apa yang baru saja dia dengar seperti sebuah pukulan yang tak pernah Gara duga.Selama dua puluh lima tahun, Amara adalah poros dunianya. Perempuan itu adalah dekapan saat ia bermimpi buruk, tangan yang mengusap air matanya, dan sosok yang ia puja sebagai malaikat tanpa sayap. Kini, malaikat itu baru saja menanggalkan topengnya.Amara menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Selama ini kamu pikir aku apa?”Gara membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Ia hanya bisa menatap bayangan dirinya di bola mata Amara, sosok pria dewasa yang tiba-tiba merasa sekecil debu.Amara mendekat selangkah. “Waktu ibu kandungmu dirawat di rumah sakit jiwa, papamu sibuk main perempuan di luar. Kamu masi

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   97. Ibu Kandung

    Rumah mewah itu sunyi saat pintu terbuka keras.Amara yang semula berdiri di depan cermin tersenyum refleks. Senyum yang biasa ia pakai saat Gara datang. Senyum ibu yang yakin masih punya kuasa atas putranya.Namun, senyum itu runtuh seketika saat Gara melangkah masuk ke dalam cahaya lampu kristal. Putranya tampak seperti orang asing.Sorot matanya segelap badai, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di wajahnya menegang. Tidak ada sapaan. Tidak ada hangat yang biasanya menyambut Amara.Amara menurunkan tangannya perlahan. Bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang sangat salah."Kenapa Mama ikut campur sampai sidang perceraian Tante Mita ditunda?" suara Gara keluar pelan, namun dinginnya terasa mengiris kulit.Amara terdiam sesaat, seolah sedang menimbang-nimbang reaksi apa untuk menanggapi putranya. Ia terkekeh pendek, suara yang dipaksakan untuk menutupi detak jantungnya yang mulai tak beraturan."Kamu marah sama mama karena Tante Mita, Sayang?""Jawab, Ma. Jangan bersandi

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   96. Salah Strategi

    Ruang sidang yang semula tenang berubah tegang saat pengacara dari pihak Pram berdiri. Map cokelat dibuka. Satu per satu lembaran dikeluarkan dengan gerakan terukur.Mita menegakkan punggung. Ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.​“Yang Mulia,” suara pengacara Pram memecah keheningan, berat dan penuh otoritas yang dipaksakan. “Klien kami, Saudara Pramudya Wijayanto, saat ini dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk hadir dan menjalani persidangan.”Pengacara lalu menyerahkan berkas.“Ini surat keterangan dari pihak rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan beberapa tulang rusuk klien kami mengalami fraktur. Kondisinya masih dalam pemulihan dan membutuhkan istirahat total.”Mita menghela napas pelan. Tangannya mengepal di pangkuan.Adnan berdiri. “Yang Mulia, kami menghormati kondisi kesehatan termohon. Namun perlu dicatat, ketidakhadiran ini bukan yang pertama. Kami memohon agar proses tetap berjalan.”Hakim menerima berkas. Membacanya saksama. Kacamata diturunkan sedik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status