Compartir

Terjerat Cinta Duda Menyebalkan
Terjerat Cinta Duda Menyebalkan
Autor: PRS Familly

bab 1 prewedding

Autor: PRS Familly
last update Última actualización: 2025-12-18 14:20:07

Pria pemilik perusahaan besar itu tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya bersama sang tunangan, Indah. Hari ini, ia dan Indah akan melakukan prewedding – yang sudah dua kali mereka tunda karena kondisi kesehatan sang wanita. Alvian melihat cermin mobil, menyusun kembali dasi hitamnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di meja meja kantornya, tumpukan berkas kontrak perusahaan menunggu, tapi hari ini ia hanya fokus pada satu hal: membuat hari ini menjadi hari paling bahagia bagi Indah.

“Jangan terburu-buru ya, sayang,” ujar Indah dari kursi belakang, tangannya pelan menyentuh bagian bawah perutnya. Ia sudah mengenakan baju kasual yang longgar agar tidak terasa sesak, meskipun sebenarnya ia sudah ingin sekali mengenakan gaun adat yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Alvian menoleh sebentar, senyumnya sedikit terpaksa. “Cuma mau cepat selesai aja, biar kamu bisa istirahat lebih banyak. Dokter bilang kamu perlu hati-hati.” Sepanjang perjalanan, musik yang biasanya mereka dengarkan bersama terdengar sunyi di dalam mobil. Senyum Alvian terasa berat di wajahnya. Di dasbor, ada amplop putih yang belum terbuka – hasil dari pemeriksaan terakhir Indah kemarin. Ia berusaha menyembunyikannya dengan buku panduan lokasi foto, takut tunangannya melihat.

Sebelum mereka berangkat dari rumah Indah, Alvian masih ingat jelas bagaimana ibu Indah melihatnya dengan mata penuh kekhawatiran. “Al, tolong jaga dia dengan baik ya,” ujarnya pelan sambil memberikan bungkus makanan yang sudah disiapkan. “Dia selalu bilang kamu adalah orang terbaik yang pernah datang dalam hidupnya. Jangan biarkan dia menangis sendirian.” Kata-kata itu terus mengganggu pikirannya sepanjang jalan.

Sesampainya di lokasi pemotretan yang terletak di lereng bukit dengan pemandangan sawah yang luas, Alvian turun dengan hati-hati lalu membuka pintu untuk Indah. Wanita cantik itu berdiri dengan sedikit kesusahan, tapi segera menyembunyikannya dengan senyum lebar. Udara pagi yang segar membuatnya sedikit merasa lega, meskipun sesak di dadanya masih tetap ada.

“Mas, tunggu sebentar ya,” ucap fotografer Ari sambil mengatur kamera dan tempat duduk yang sudah disiapkan. “Mbak Ana lagi siapin make up untuk mbak Indah. Kami sudah siapkan area yang teduh agar tidak terlalu panas.” Ari adalah teman lama Alvian, yang rela menyesuaikan jadwal hanya untuk mereka berdua.

Alvian mengangguk, tapi matanya tidak bisa lepas dari tangan Indah yang mulai menunjukkan bintik-bintik memar tak jelas asalnya. Saat mereka duduk di bangku tunggu yang dilapisi kain merah, Indah menarik tangannya perlahan dan memeluknya erat.

“Al, kamu khawatir kan?” tanyanya lembut, menyadari bagaimana pandangan Alvian selalu tertuju pada bagian tubuhnya yang tidak nyaman.

“Enggak kok. Cuma mikir, kita sudah lewatin banyak hal bareng kan?” Alvian mengerucutkan alisnya, mengingat bagaimana orang tua Indah sempat menolaknya karena latar belakang ekonomi yang jauh berbeda. “Orang tua kamu yang tidak setuju, orang tua saya yang memaksa aku menikahi anak teman bisnis mereka, bahkan saat kamu hampir pindah kerja ke luar kota karena proyek perusahaanmu… Semua kita atasi bersama.”

“Iya, tapi kalau suatu hari nanti aku tidak ada lagi, kamu akan baik-baik saja kan?” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Indah, membuat Alvian langsung membeku. Ia melihat wajah tunangannya yang sudah mulai memucat, tapi senyumnya tetap lembut seperti biasa.

Alvian langsung memeluknya erat, kepalanya menyandar di bahu Indah. “Jangan omong kosong! Kamu akan sehat dan kita akan menikah, punya anak-anak yang akan kita ajari naik sepeda di taman, sampai tua bersama!” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia tahu Indah sering merasa cemas belakangan ini, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa...yang ia sembunyikan dari pria itu sudah tidak bisa lama lagi. Sejak tiga bulan yang lalu, dia mulai merasakan nyeri yang tak tertahankan di seluruh tubuh. Saat pertama kali diperiksa, dokter sudah memberitahukan kondisinya dengan suara penuh kesedihan. "Mbak Indah, ini adalah kasus yang sangat langka. Kita akan berusaha semaksimal mungkin, tapi harapan hidupmu tidak terlalu lama." Sejak saat itu, Indah memutuskan untuk menyembunyikannya dari Alvian – ia tidak ingin pria yang dicintainya terganggu dalam menjalankan bisnisnya, apalagi melihatnya dalam kesusahan.

“Saya sudah siap, mas,” ucap Ana dengan senyum ramah saat membawa perlengkapan make up. Ia melihat Indah dengan pandangan penuh perhatian, langsung menyadari bahwa kondisi wanita itu tidak baik-baik saja. “Mari kita lakukan dengan cepat ya, mbak, agar kamu tidak terlalu capek.”

Indah mengangguk dan duduk di kursi make up yang sudah disiapkan. Sementara Ana merapikan rambutnya, Alvian keluar sebentar untuk mengambil botol air mineral dari mobil. Saat ia membuka pintu, amplop putih yang sebelumnya tersembunyi di balik buku panduan tiba-tiba terjatuh ke tanah. Lembaran kertas di dalamnya terbang keluar dan terbuka sendirinya oleh hembusan angin.

Di atas kertas putih dengan stempel rumah sakit, tulisan dokter jelas terbaca:

“Hasil Pemeriksaan Medis – Indah Kusumawati

Diagnosis: Kanker darah stadium akhir

Harapan hidup maksimal 3 bulan lagi

Saran: Hindari aktivitas berat, lakukan terapi penunjang untuk kenyamanan pasien.”

Alvian berhenti sejenak, matanya menatap kertas itu dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tubuhnya merasa lemah, seolah seluruh kekuatan dalam dirinya tiba-tiba hilang. Ia sudah curiga bahwa kondisi Indah tidak sesederhana yang dikatakan wanita itu, tapi tidak pernah menyangka bahwa kenyataannya bisa begitu pahit.

“Saya sudah tahu kamu akan melihatnya,” suara lembut Indah terdengar di belakangnya. Alvian menoleh dan melihat tunangannya berdiri di dekat pintu mobil, tangan Ana yang menopangnya dengan lembut. “Maafin ya, sayang… Aku tidak tega membuatmu sedih sebelum kita bisa melaksanakan impian kita menikah. Aku hanya ingin merasakan menjadi calon istri kamu sebentar saja, melihatmu mengenakan baju adat yang sudah kita pilih bersama, dan mengambil foto yang bisa kamu simpan sebagai kenangan nanti.”

Air mata Alvian mulai menetes deras. Ia menghampiri Indah dan menggendong tubuhnya yang sudah sangat kurus dengan hati-hati. “Kenapa kamu tidak bilang padaku, Indah? Kita bisa menghadapinya bersama kan? Aku tidak peduli dengan bisnis, dengan uang, dengan apa pun – yang penting kamu baik-baik saja!”

“Kamu sudah terlalu banyak mengorbankan diri untuk aku, Al,” ujar Indah sambil mengelus pipi Alvian dengan lembut. Jari jemari yang tipis itu terasa sangat dingin di kulitnya. “Orang tua kamu sudah tidak menyukai aku karena mereka bilang aku hanya mencari kekayaanmu. Aku tidak ingin mereka lebih membenci aku karena membuatmu terganggu dengan penyakitku yang tidak bisa disembuhkan.”

Ari yang melihat kejadian itu mendekat dengan langkah pelan. “Maaf ya, mas Alvian. Mbak Indah sudah memberitahuku tentang kondisinya beberapa hari yang lalu. Dia memintaku untuk tetap diam dan membantu menyelesaikan sesi foto ini agar bisa membuatmu bahagia.” Pria itu menghela nafas dalam-dalam. “Dia sangat mencintaimu, mas. Semua yang dia lakukan hanyalah untukmu.”

Alvian menatap wajah Indah yang sudah mulai melemah. Meskipun wajahnya tampak pucat, keindahannya tetap ada – seperti bunga yang sedang mekar meskipun tahu bahwa musimnya akan segera berlalu. Ia mengangkat badan tunangannya dengan lebih erat, lalu berjalan menuju area tempat foto akan diambil.

“Kita tetap akan melanjutkan sesi ini, sayang,” ujar Alvian dengan suara yang sudah mulai tenang meskipun hatinya sedang hancur. “Kamu bilang ingin membuat kenangan kan? Maka dari itu, mari kita buat hari ini menjadi hari paling indah dalam hidup kita berdua. Dan setelah ini, kita akan menikah sesegera mungkin – tidak peduli apa yang terjadi, aku ingin kamu menjadi istriku secara sah dan resmi.”

Indah menutup mata, air mata bahagia mengalir di pipinya. Ia mengangguk pelan dan menyandarkan kepalanya di bahu Alvian. Saat mereka tiba di lokasi foto yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga warna merah dan putih, matahari mulai muncul dari balik awan, menyinari wajah mereka berdua dengan cahaya hangat.

“Ayo, mari kita mulai ya,” ucap Ari dengan suara lembut sambil mengatur kamera. Ia menyesuaikan sudut agar bisa menangkap momen indah antara pasangan itu. “Cukup senyum saja, mas dan mbak. Biarkan kamera menangkap cinta yang kalian miliki.”

Alvian menyandarkan pipinya di dahi Indah, sambil memegang tangannya erat-erat. Ia tersenyum dengan segenap hati, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa waktu yang mereka miliki bersama sudah tidak banyak lagi. Indah juga tersenyum lebar, dengan mata yang penuh cinta pada pria yang telah mencintainya tanpa syarat. Saat kamera mulai berbunyi klik-klik-klik, menangkap setiap momen kebahagiaan mereka, angin sepoi-sepoi bertiup dan membawa aroma bunga yang harum.

Di kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti sebentar. Orang di dalamnya melihat ke arah Alvian dan Indah dengan pandangan yang sulit ditebak, lalu melaju lagi meninggalkan lokasi itu. Tak seorang pun menyadari keberadaan mobil itu termasuk Alvian yang sedang fokus pada satu-satunya hal yang penting baginya saat itu

memberikan kebahagiaan terakhir pada wanita yang dicintainya sebelum ia harus kehilangan dia selamanya.

****

 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   bab 5 persiapan Pernikahan

    Setelah menemukan surat ancaman di mobilnya, Alvian langsung memutuskan untuk bertindak cepat. Ia mengantar Rania pulang dengan aman, lalu segera pergi ke kantor perusahaan untuk melakukan penyelidikan sendiri. Ia tahu bahwa dia tidak bisa mempercayai siapapun lagi – setidaknya sampai dia menemukan siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas semua ini.Ketika tiba di kantor pusat yang terletak di pusat kota, Alvian langsung masuk ke ruang kerjanya dan membuka semua berkas yang berkaitan dengan hubungan bisnis perusahaan nya dengan perusahaan kosmetik tersebut. Ia menghabiskan seluruh malam untuk membaca dan menganalisis setiap detail dengan seksama. Sampai pagi hari, dia akhirnya menemukan sesuatu yang mengejutkannya.Di dalam berkas rahasia yang tersembunyi di bawah tumpukan berkas lain, ada catatan lengkap tentang kesepakatan yang dilakukan oleh salah satu direktur utama perusahaan nya – Bapak Herman – dengan perusahaan kosmetik tersebut. Catatan itu menunjukkan bahwa Bapak Herman

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   bab 4 DR. Reza

    Setelah mendengar kata-kata Dr. Reza Wijaya, Alvian merasa tubuhnya menjadi kaku seketika. Ia menatap wajah pria itu dengan mata penuh keraguan dan rasa penasaran yang luar biasa. Di sisi nya, Rania juga tampak tidak nyaman dan mulai menggenggam tangan Alvian dengan erat. “Informasi penting tentang Indah? Apa maksudnya, dokter?” tanya Alvian dengan suara yang tegas meskipun hatinya sudah mulai berdebar kencang. Dr. Reza menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab. “Mari kita masuk ke kedai kopi lagi saja ya, mas Alvian. Ini adalah cerita yang panjang dan mungkin akan sangat menyakitkan untuk kamu dengar.” Mereka kembali masuk ke kedai kopi yang sudah mulai ramai dengan pelanggan pagi hari. Setelah duduk di sudut yang lebih tenang, Dr. Reza mulai menceritakan semuanya dengan suara yang penuh kesedihan dan rasa tanggung jawab. “Saya pertama kali bertemu dengan Indah sekitar setahun yang lalu, ketika dia datang ke rumah sakit saya untuk pemeriksaan rutin,” ujar Dr. Reza sambil menat

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   bab 3 Surat Terakhir

    Setelah mendengar kata-kata wanita yang mengaku sebagai kakak kandung Indah, Alvian merasa tubuhnya sedikit gemetar. Ia menatap wajah wanita itu dengan cermat – memang ada sedikit kemiripan dengan wajah Indah yang pernah ia cintai, terutama pada bentuk mata dan bibirnya.“Kakak kandung Indah? Tapi kenapa aku tidak pernah mendengarnya dari Indah?” tanya Alvian dengan suara penuh keraguan. Selama bertahun-tahun bersama, Indah selalu mengatakan bahwa dia adalah anak tunggal dari orang tuanya. Tidak pernah ada cerita tentang saudara kandung apapun.Wanita yang bernama Rania itu menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab. “Karena adikmu menyembunyikannya dari semua orang, termasuk kamu, mas Alvian. Mari kita duduk saja di tempat yang lebih tenang ya, agar saya bisa menjelaskannya dengan jelas.”Mereka berdua pergi ke kedai kopi kecil dekat pemakaman. Tempat itu sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk berjauhan. Rania memesan dua gelas teh hangat, lalu mulai menceritakan dengan suara

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   bab 2 Pernikahan singkat

    Setelah kejadian di lokasi prewedding, tidak ada lagi yang bisa menyembunyikan kondisi Indah dari Alvian. Dalam sehari saja, pria itu telah mengatur segala sesuatu dari mengundurkan diri sementara dari posisi CEO perusahaan untuk fokus pada tunangannya, hingga mengajukan permohonan pernikahan cepat ke keluarga Indah.“Kamu tidak perlu melakukan ini, Al,” ujar ibu Indah dengan suara bergetar saat menerima lamaran resmi dari Alvian. Wanita itu menatap wajah pria muda itu yang penuh tekad, lalu melihat putrinya yang sedang duduk dengan tubuh yang semakin lemah di sofa ruang tamu. “Kita semua tahu bahwa waktu yang dimiliki Indah tidak banyak. Kamu masih muda, punya karir yang sukses – kamu tidak perlu terikat dengan pernikahan yang hanya akan menyakitkan hatimu nantinya.”“Bu, saya mencintai Indah dengan segenap hati saya,” jawab Alvian dengan tegas, mengambil tangan Indah dan memeluknya erat. “Saya tidak peduli berapa lama waktu yang kita miliki bersama. Yang penting, saya ingin memberi

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   bab 1 prewedding

    Pria pemilik perusahaan besar itu tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya bersama sang tunangan, Indah. Hari ini, ia dan Indah akan melakukan prewedding – yang sudah dua kali mereka tunda karena kondisi kesehatan sang wanita. Alvian melihat cermin mobil, menyusun kembali dasi hitamnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di meja meja kantornya, tumpukan berkas kontrak perusahaan menunggu, tapi hari ini ia hanya fokus pada satu hal: membuat hari ini menjadi hari paling bahagia bagi Indah.“Jangan terburu-buru ya, sayang,” ujar Indah dari kursi belakang, tangannya pelan menyentuh bagian bawah perutnya. Ia sudah mengenakan baju kasual yang longgar agar tidak terasa sesak, meskipun sebenarnya ia sudah ingin sekali mengenakan gaun adat yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.Alvian menoleh sebentar, senyumnya sedikit terpaksa. “Cuma mau cepat selesai aja, biar kamu bisa istirahat lebih banyak. Dokter bilang kamu perlu hati-hati.” Sepanjang perjalanan, musik yang biasanya mereka dengarkan bers

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status