INICIAR SESIÓN
Setelah menemukan surat ancaman di mobilnya, Alvian langsung memutuskan untuk bertindak cepat. Ia mengantar Rania pulang dengan aman, lalu segera pergi ke kantor perusahaan untuk melakukan penyelidikan sendiri. Ia tahu bahwa dia tidak bisa mempercayai siapapun lagi – setidaknya sampai dia menemukan siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas semua ini.Ketika tiba di kantor pusat yang terletak di pusat kota, Alvian langsung masuk ke ruang kerjanya dan membuka semua berkas yang berkaitan dengan hubungan bisnis perusahaan nya dengan perusahaan kosmetik tersebut. Ia menghabiskan seluruh malam untuk membaca dan menganalisis setiap detail dengan seksama. Sampai pagi hari, dia akhirnya menemukan sesuatu yang mengejutkannya.Di dalam berkas rahasia yang tersembunyi di bawah tumpukan berkas lain, ada catatan lengkap tentang kesepakatan yang dilakukan oleh salah satu direktur utama perusahaan nya – Bapak Herman – dengan perusahaan kosmetik tersebut. Catatan itu menunjukkan bahwa Bapak Herman
Setelah mendengar kata-kata Dr. Reza Wijaya, Alvian merasa tubuhnya menjadi kaku seketika. Ia menatap wajah pria itu dengan mata penuh keraguan dan rasa penasaran yang luar biasa. Di sisi nya, Rania juga tampak tidak nyaman dan mulai menggenggam tangan Alvian dengan erat. “Informasi penting tentang Indah? Apa maksudnya, dokter?” tanya Alvian dengan suara yang tegas meskipun hatinya sudah mulai berdebar kencang. Dr. Reza menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab. “Mari kita masuk ke kedai kopi lagi saja ya, mas Alvian. Ini adalah cerita yang panjang dan mungkin akan sangat menyakitkan untuk kamu dengar.” Mereka kembali masuk ke kedai kopi yang sudah mulai ramai dengan pelanggan pagi hari. Setelah duduk di sudut yang lebih tenang, Dr. Reza mulai menceritakan semuanya dengan suara yang penuh kesedihan dan rasa tanggung jawab. “Saya pertama kali bertemu dengan Indah sekitar setahun yang lalu, ketika dia datang ke rumah sakit saya untuk pemeriksaan rutin,” ujar Dr. Reza sambil menat
Setelah mendengar kata-kata wanita yang mengaku sebagai kakak kandung Indah, Alvian merasa tubuhnya sedikit gemetar. Ia menatap wajah wanita itu dengan cermat – memang ada sedikit kemiripan dengan wajah Indah yang pernah ia cintai, terutama pada bentuk mata dan bibirnya.“Kakak kandung Indah? Tapi kenapa aku tidak pernah mendengarnya dari Indah?” tanya Alvian dengan suara penuh keraguan. Selama bertahun-tahun bersama, Indah selalu mengatakan bahwa dia adalah anak tunggal dari orang tuanya. Tidak pernah ada cerita tentang saudara kandung apapun.Wanita yang bernama Rania itu menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab. “Karena adikmu menyembunyikannya dari semua orang, termasuk kamu, mas Alvian. Mari kita duduk saja di tempat yang lebih tenang ya, agar saya bisa menjelaskannya dengan jelas.”Mereka berdua pergi ke kedai kopi kecil dekat pemakaman. Tempat itu sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk berjauhan. Rania memesan dua gelas teh hangat, lalu mulai menceritakan dengan suara
Setelah kejadian di lokasi prewedding, tidak ada lagi yang bisa menyembunyikan kondisi Indah dari Alvian. Dalam sehari saja, pria itu telah mengatur segala sesuatu dari mengundurkan diri sementara dari posisi CEO perusahaan untuk fokus pada tunangannya, hingga mengajukan permohonan pernikahan cepat ke keluarga Indah.“Kamu tidak perlu melakukan ini, Al,” ujar ibu Indah dengan suara bergetar saat menerima lamaran resmi dari Alvian. Wanita itu menatap wajah pria muda itu yang penuh tekad, lalu melihat putrinya yang sedang duduk dengan tubuh yang semakin lemah di sofa ruang tamu. “Kita semua tahu bahwa waktu yang dimiliki Indah tidak banyak. Kamu masih muda, punya karir yang sukses – kamu tidak perlu terikat dengan pernikahan yang hanya akan menyakitkan hatimu nantinya.”“Bu, saya mencintai Indah dengan segenap hati saya,” jawab Alvian dengan tegas, mengambil tangan Indah dan memeluknya erat. “Saya tidak peduli berapa lama waktu yang kita miliki bersama. Yang penting, saya ingin memberi
Pria pemilik perusahaan besar itu tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya bersama sang tunangan, Indah. Hari ini, ia dan Indah akan melakukan prewedding – yang sudah dua kali mereka tunda karena kondisi kesehatan sang wanita. Alvian melihat cermin mobil, menyusun kembali dasi hitamnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di meja meja kantornya, tumpukan berkas kontrak perusahaan menunggu, tapi hari ini ia hanya fokus pada satu hal: membuat hari ini menjadi hari paling bahagia bagi Indah.“Jangan terburu-buru ya, sayang,” ujar Indah dari kursi belakang, tangannya pelan menyentuh bagian bawah perutnya. Ia sudah mengenakan baju kasual yang longgar agar tidak terasa sesak, meskipun sebenarnya ia sudah ingin sekali mengenakan gaun adat yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.Alvian menoleh sebentar, senyumnya sedikit terpaksa. “Cuma mau cepat selesai aja, biar kamu bisa istirahat lebih banyak. Dokter bilang kamu perlu hati-hati.” Sepanjang perjalanan, musik yang biasanya mereka dengarkan bers







