共有

bab 2 Pernikahan singkat

作者: PRS Familly
last update 最終更新日: 2025-12-19 18:57:14

Setelah kejadian di lokasi prewedding, tidak ada lagi yang bisa menyembunyikan kondisi Indah dari Alvian. Dalam sehari saja, pria itu telah mengatur segala sesuatu dari mengundurkan diri sementara dari posisi CEO perusahaan untuk fokus pada tunangannya, hingga mengajukan permohonan pernikahan cepat ke keluarga Indah.

“Kamu tidak perlu melakukan ini, Al,” ujar ibu Indah dengan suara bergetar saat menerima lamaran resmi dari Alvian. Wanita itu menatap wajah pria muda itu yang penuh tekad, lalu melihat putrinya yang sedang duduk dengan tubuh yang semakin lemah di sofa ruang tamu. “Kita semua tahu bahwa waktu yang dimiliki Indah tidak banyak. Kamu masih muda, punya karir yang sukses – kamu tidak perlu terikat dengan pernikahan yang hanya akan menyakitkan hatimu nantinya.”

“Bu, saya mencintai Indah dengan segenap hati saya,” jawab Alvian dengan tegas, mengambil tangan Indah dan memeluknya erat. “Saya tidak peduli berapa lama waktu yang kita miliki bersama. Yang penting, saya ingin memberikan pada dia gelar sebagai istri saya – sesuatu yang sudah kita janjikan satu sama lain. Saya tidak ingin dia pergi dengan merasa belum mendapatkan apa yang kita impikan bersama.”

Mendengar kata-kata itu, Indah menutup mata dan menghela nafas dalam-dalam. Rasa sakit yang terus menerus menyerangnya membuatnya sulit untuk bernapas dengan normal, tapi dia berusaha tetap kuat. Ia tahu bahwa Alvian sedang berjuang lebih keras dari biasanya untuknya, dan itu membuat hatinya merasa hangat sekaligus sakit hati – dia tidak ingin menjadi beban bagi pria yang dicintainya.

Dalam waktu seminggu saja, persiapan pernikahan digelar dengan cepat namun tetap meriah. Keluarga Alvian yang awalnya tidak menyetujui hubungan mereka akhirnya memberikan restu setelah melihat betapa sungguhnya Alvian dan bagaimana kondisi kesehatan Indah sungguh memprihatinkan. Ayah Alvian datang sendiri ke rumah Indah untuk meminta maaf. “Aku salah, anak,” ujarnya sambil menepuk bahu Alvian. “Cinta yang kamu miliki untuknya lebih berharga dari semua kekayaan yang aku miliki. Lakukan apa yang terbaik untuk dia.”

Hari pernikahan tiba pada hari Minggu pagi. Lokasi pernikahan diadakan di sebuah vila kecil dekat pantai tempat pertama kali mereka bertemu lima tahun yang lalu. Pada saat itu, Alvian sedang terjebak ban bocor di tengah jalan hujan deras, dan Indah yang lewat dengan sepeda motornya mau membantu dia. Saat itu pula hati Alvian terpikat pada wanita cantik dengan senyum hangat yang tidak peduli kotornya bajunya karena membantu orang asing.

“Kamu masih ingat kan, bagaimana kita pertama kali bertemu?” tanya Alvian saat ia membantu Indah mengenakan gaun pengantin putih yang sudah disesuaikan dengan bentuk tubuhnya yang semakin kurus. Gaun itu dihiasi dengan bunga mawar merah muda – bunga kesukaan Indah.

“Tentu saja saya ingat,” jawab Indah dengan senyum lembut. “Kamu terlihat sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya berpikir, ‘Wah, pria tampan tapi tidak bisa mengganti ban mobil sendiri ya?’” Kata-katanya membuat Alvian sedikit tertawa, meskipun air mata sudah menggenang di sudut matanya.

“Saat itu saya merasa seperti mendapatkan anugerah dari langit,” ujar Alvian pelan, mengangkat tangan Indah dan menciumnya dengan lembut. “Sampai sekarang pun saya merasa begitu beruntung bisa mengenalmu, mencintaimu, dan sekarang akan menjadi suamimu.”

Sesaat kemudian, prosesi pernikahan dimulai. Musik alat musik tradisional Jawa yang lembut mengiringi langkah Indah yang ditopang oleh ayahnya menuju pelaminan. Mata semua tamu yang datang – hanya keluarga dekat dan teman-teman terpercaya – penuh dengan haru melihat pasangan muda yang sedang menjalani momen paling bahagia dalam hidup mereka, meskipun semua orang tahu bahwa kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama.

“Saya menerimamu, Indah Kusumawati, menjadi istri saya,” ucap Alvian dengan suara yang jelas dan penuh emosi saat berdiri di depan pemimpin acara. Ia melihat mata Indah yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan, serta sedikit kesedihan yang tersembunyi di dalamnya.

“Saya menerima mu, Alvian Pratama, menjadi suami saya,” jawab Indah dengan suara yang sedikit lemah tapi tetap tegas. Saat cincin pernikahan dipasangkan pada jarinya, ia merasakan getaran yang kuat di dalam dirinya – rasa bahagia yang luar biasa sekaligus rasa takut kehilangan yang semakin dalam.

Setelah prosesi selesai, tamu-tamu berkumpul untuk memberikan ucapan selamat dan makan bersama. Meskipun makanannya tidak sebanyak pernikahan mewah pada umumnya, tapi setiap hidangan disiapkan dengan cinta khusus untuk pasangan baru itu. Indah berusaha untuk tetap kuat dan bersenyum pada setiap tamu yang datang, tapi semakin lama, tubuhnya semakin tidak kuat untuk menahannya.

“Saya perlu istirahat sebentar, sayang,” bisik Indah pada Alvian saat mereka sedang berdiri bersama untuk foto bersama keluarga. Tubuhnya sudah mulai gemetar, dan wajahnya semakin pucat. Alvian langsung mengangguk dan membawanya ke kamar tidur yang sudah disiapkan di vila tersebut.

Setelah meletakkan Indah di atas ranjang yang lembut, Alvian duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangannya erat. “Kamu baik-baik saja kan, sayang?” tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran.

Indah mengangguk pelan dan menarik tangan Alvian agar mendekat ke wajahnya. “Al, aku sangat bahagia hari ini,” ujarnya dengan suara yang sangat lembut. “Aku sudah bisa merasakan menjadi istri mu, bahkan jika hanya untuk waktu yang singkat. Jangan pernah merasa menyesal telah menikahiku ya. Jangan pernah lupakan aku. Tapi juga, jangan biarkan dirimu terjebak dalam kesedihan selamanya. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan lagi nantinya.”

“Jangan omong kosong lagi,” ujar Alvian dengan suara bergetar, air mata mulai menetes deras ke pipinya. “Kamu akan sembuh, kita akan menjalani hidup bersama seperti yang kita impikan. Kita akan pergi berbulan madu ke Italia seperti yang kamu mau, kita akan melihat matahari terbenam di atas menara Pisa, kita akan…”

“Shhh… cukup saja, sayang,” ucap Indah dengan jari jemari yang lembut menutupi bibir Alvian. “Sekarang, cukup peluk aku saja ya. Biarkan aku merasakan kehangatan tubuhmu untuk terakhir kalinya.”

Alvian segera memeluknya erat, kepalanya menyandar di bahu Indah. Ia bisa merasakan denyut nadi wanita itu yang semakin lemah dan sulit di rasakan. Di luar kamar, matahari mulai terbenam, menyebarkan warna jingga dan merah di langit pantai yang indah – sama seperti warna langit pada hari pertama mereka bertemu.

Beberapa saat kemudian, tubuh Indah menjadi rileks di pelukan Alvian. Tangannya yang sebelumnya masih memegang bajunya perlahan terlepas dan jatuh ke sisi ranjang. Suara napasnya yang sudah sangat lemah akhirnya berhenti sama sekali. Alvian merasakan seluruh dunia di sekelilingnya tiba-tiba menjadi sunyi. Hanya suara ombak pantai yang terus menerus menyapu pasir dan suara tangisnya sendiri yang terdengar dalam kamar yang tenang.

“Aku cinta kamu, Indah,” ucap Alvian dengan suara penuh kesedihan, mencium dahi istri barunya yang sudah tidak lagi bernapas. “Selamanya dan selama-lamanya aku akan mencintaimu.”

Beberapa hari kemudian, pemakaman Indah digelar dengan sederhana di pemakaman keluarga. Alvian berdiri sendirian di depan nisan kecil yang bertuliskan nama istri yang baru di nikahinya, tangannya masih memegang foto prewedding mereka yang telah diframkan dengan baik. Di dalam kantong jasnya, ada surat yang diberikan oleh Ana beberapa jam sebelum pemakaman berlangsung.

“Mas Alvian, mbak Indah memintaku untuk memberimu surat ini setelah dia pergi. Dia bilang, kamu harus membacanya ketika kamu sudah bisa lebih tenang.”

Dengan tangan yang gemetar, Alvian membuka amplop kecil berwarna biru muda. Di dalamnya ada selembar kertas dengan tulisan tangan Indah yang rapi:

“Untuk sayangku tercinta, Alvian…

Jika kamu sedang membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sisi mu lagi. Jangan menangis terlalu banyak ya, sayang. Aku sudah bahagia bisa menjadi bagian dari hidupmu. Aku tahu kamu akan merasa kesepian dan sakit hati, tapi jangan biarkan itu menghalangi kamu untuk hidup dengan bahagia lagi. Ada seseorang yang akan datang dalam hidupmu nanti – seseorang yang akan membuatmu tersenyum lagi, yang akan mencintaimu dengan sepenuh hati seperti yang aku lakukan. Jangan menutup hatimu untuk cinta baru, karena aku akan selalu merawatmu dari surga. Ingat selalu bahwa aku mencintaimu, sekarang dan selamanya.

Dengan cinta sebesar-besarnya,

Istri mu yang selalu mencintaimu, Indah.”

Air mata Alvian kembali menetes deras, tapi kali ini ada rasa lega sedikit di dalam hatinya. Ia menyimpan surat itu dengan hati-hati ke dalam dompetnya, lalu menatap langit yang biru dengan senyum yang penuh haru. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi tanpa Indah, tapi ia juga tahu bahwa dia harus terus hidup – seperti yang istri barunya mau.

Saat ia berjalan pergi dari pemakaman, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Jendela mobil terbuka, dan seorang wanita dengan wajah cantik tapi tampak serius muncul. “Permisi, mas Alvian?” ujarnya dengan suara lembut. “Saya adalah Rania, kakak kandung Indah. Ada sesuatu yang perlu saya ceritakan padamu tentang adikku… sesuatu yang dia sembunyikan dari mu selama ini.”

Alvian berhenti sejenak, matanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran. Apa lagi yang bisa jadi rahasia dari Indah yang belum ia ketahui? Dan siapakah wanita ini yang datang dengan pesan penting dari istri yang sudah tiada?

 

*****

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB15: Memberi Makan Joni Yang Kelaparan

    Alvian tak pulang ke rumah orang tua nya itu. Ia memilih pulang ke apartemen milik nya sendiri, dan sesampainya Alvian di dalam kamar, ia pun langsung menjatuhkan bobot tubuh nya itu di atas tempat tidur yang lembut. "Haduh... Hari sial banget dah, mimpi apa ya yang membuat gue bisa ketemu Clara lagi seperti ini." Ujar Alvian dengan nada kesal. Ia pun mulai menscroll layar ponsel nya itu perlahan, kemudian membuka sebuah video rekaman dirinya bersama Ani. Melihat wajah Ani di layar, Alvian pun secara perlahan tersenyum... "Kalau melihat dia seperti ini, rasanya gue seperti melihat Indah. Sungguh jadi sangat kangen sama Indah." Ucap nya dengan suara lirih yang penuh dengan rasa rindu. Setelah itu, Alvian pun kembali membuka video rekaman yang lain di galeri ponsel nya. Ia pun kembali sekali lagi tersenyum lebar melihatnya... "Ini cewe memang binal juga ya, tapi gaya nya bikin gue suka banget." Ucap nya sambil tersenyum. Lalu Alvian pun kembali fokus dengan memperhatikan video itu

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB16: kemarahan Alvian

    Di ruang tertutup yang lembap, Clara mencengkeram lengan Alvian dengan kekuatan luar biasa. Matanya yang kemerahan memancarkan hasrat dan dendam, membuat Alvian kesulitan bernapas. Dengan keberanian terakumulasi, ia menendang perut Clara dan melepaskan diri dari cengkramannya. Ia segera keluar ruangan dan langsung menarik kerah baju Rafka. "Kurang ajar lo, ka. Bugh..." Alvian memberikan pukulan langsung ke rahang sahabatnya. "Lo kenapa?" tanya Rafka terkejut. "Lo yang kenapa? Lo jebak gue lagi? Sekarang apa yang lo lakukan?" bentak Alvian penuh emosi. "Tenang dulu bro, gue bisa jelaskan," ucap Rafka dengan nada memohon. "Jelaskan apa? Gue benar-benar kecewa sama lo. Gue kira lo sahabat yang baik, ternyata gue salah. Mulai sekarang, lo gue pecat!" ucap Alvian sebelum keluar meninggalkan Rafka. Rafka tercengang dengan keputusan bosnya, lalu mengejar Alvian sampai ke parkiran. "Ayo bos, masa cuma segitu aja langsung pecat?" pinta Rafka. "Lo sudah keterlaluan! Lo bilang cew

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB14: Bertemu Clara

    Dua sahabat menyisir setiap sudut pemakaman—tempat pertama Alvian bertemu gadis yang kini menjadi buruan hatinya. Bersama Rafka, ia telusuri setiap lorong sempit, setiap gundukan tanah, setiap batu nisan, tapi jejak gadis itu seperti hanyut di angin, tak ada jejak yang tersisa. Mata Alvian sudah merah karena menatap terlalu lama, kaki nya pegal karena berjalan jauh, tapi harapan untuk menemukannya semakin surut. Tak kunjung ketemu, Alvian memutuskan berziarah ke makam istri tercinta sebelum meninggalkan TPU. Di hadapan gundukan tanah yang baru beberapa bulan istri nya, Indah, meninggal—ia bersimpuh, air mata menetes membasahi batu nisan yang bertuliskan nama mendiang istrinya, indah. Ingatan tentang malam yang salah—ketika ia terjebak dalam pelukan wanita bayaran setelah pesta kerja yang terlalu banyak minuman—menghantui, menyisakan rasa bersalah yang menusuk hati terhadap mendiang Indah. Rasa bersalah itu seolah-olah rantai yang mengikat leher nya, membuat nafas tersesak. “Sayang…

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB13: Di Palak Rafka

    Sesampainya di rumah, Alvian langsung disambut hangat oleh maminya yang tercinta."Sayang... Dari mana kamu? Kok semalam tidak pulang?" tanya Mami Bunga."Hmm... Anu mi, aku nginep di rumah teman," bohong Alvian. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa baru saja tidur bersama wanita bayaran – bisa saja dianggap tidak pantas dan membuat orang tuanya kecewa, pikirnya."Mi, Alvian masuk kamar dulu ya, mau mandi," pamitnya."Iya sayang," jawab Mami Bunga.Alvian pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah masuk, ia langsung menjatuhkan badannya ke ranjang dan menatap langit-langit kamar. Adegan panas dirinya bersama Ani masih jelas terngiang-ngiang, seakan menari-nari di depan matanya. Alvian pun tersenyum...."Bener apa kata Rafka, hidup harus dinikmati. Buat apa kerja keras kalau hasilnya tidak dinikmati?" gumamnya. Ia kemudian mengambil ponsel dan melihat rekaman adegan panas itu – rekaman yang sengaja ia buat untuk mengingat bahwa kehilangan perjakaannya terjadi karena Ani. Setelah puas

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB12: Rasa Bersalah

    Di pagi hari, Alvian terkejut saat membuka mata—badannya tak bersentuhan dengan sehelai kain pun. Ia dengan hati-hati mengangkat ujung selimut untuk melihat kondisi dirinya."Ya ampun... Apa yang terjadi?" gumam Alvian, sambil menyisir rambutnya dengan kasar. Lalu pandangannya melirik ke sisi tempat tidur. Seketika, ia melompat dari ranjang saat melihat seorang wanita yang hanya bergelut selimut sedang terlelap tenang di sebelahnya."Apa yang gue buat kemarin malam?" bisik Alvian dalam hati, mencoba menggaruk ingatan tentang peristiwa semalam. Namun kepalanya yang masih pusing membuatnya tak bisa mengingat apa-apa. Ia segera mengambil boxer miliknya, mengenakannya dengan tergesa-gesa, lalu duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Matanya tak bisa lepas dari sosok wanita yang masih tertidur pulas."Apa yang gue lakukan dengan dia?" gumamnya pelan, menyandarkan kepala ke sandaran sofa."Ponsel gue... Dimanakah ponsel gue?"Alvian langsung mencari benda pipih itu di sekitar kamar. Setelah

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB 11: Terbayang Akan Indah

    Tok… Tok… Tok…“Masuk…”Suara itu terdengar berat keluar dari bibir Alvian. Dia menghembuskan napas panjang sambil menatap jendela kantornya, sebelum akhirnya menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka. Rafka, asisten sekaligus sahabatnya yang sudah bersama sejak lama, masuk dengan langkah ringan dan langsung menepuk bahunya.“Lo kenapa bro?” tanya Rafka dengan nada khawatir.“Pusing,” jawab Alvian dengan singkat, matanya masih terpaku pada kejauhan.“Lo pusing mikirin apa ya?”Alvian menghela nafas lagi, kemudian mengambil sebuah sepatu wanita yang terletak di sudut meja. Dia mengangkatnya perlahan, mata terpaku pada barang itu. “Lo bayangin aja, gue masih belum bisa lupakan kejadiannya. Tadi pagi, gue di tabrak sama seorang gadis yang sangat kasar. Bukannya minta maaf, malah dia yang keluarin kata-kata kasar sama gue. Dan nih…” Alvian mengangkat sepatunya lebih tinggi, “Sepatunya yang sekarang ada di sini.”“Hah? Kok bisa sampai lo bawa ke kantor?” Rafka mengerutkan dahi.“Dia mau

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status