Share

21. Ada yang baru

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-01-31 10:21:42

'Selamat pintu portal melebar hingga 75%!'

Aku seketika tersentak, berita ini bagai angin segar menerpa wajahku yang lelah. Satu keajaiban datang secara bertubi masih dalam satu waktu. Ini keberuntungan atau kebuntungan?

Peristiwa pertentangan dan perebutan justru membawa manfaat buatku, sungguh di luar perkiraan. Andai aku tahu sebelumnya, mungkin tidak perlu bersusah payah mencari bukti kematian ibu dari pemilik tubuh ini.

Mungkin ini sudah digariskan dan aku tidak akan ingkar untuk janji ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   96.

    Aku menyeruput cangkir yang terbuat dari keramik dengan ukuran khas Blambangan yaitu burung bangau. Pandanganku jauh ke seberang pada hutan yang sudah mulai jarang ditumbuhi rumput liar.Udara pagi yang mulai menghangat akibat sinar matahari mulai menyeruak menembus ranting pohon dimana aku duduk saat ini. Iya, aku sedang duduk santai di belakang pondok yang semalam kutinggali.Saat tengah malam, pintu kamar diketuk oleh beberapa dayang dan mereka membawaku ke pondok ini. Pagi buta, Nyai Daksima datang untuk mengajak aku berbincang mengenai sikapnya semalam.Saat ini, kutelaah lagi apa yang tadi baru saja diungkap oleh wanita senja itu. Mengapa harus dibisukan semua pelayan di sini? Memang ada apa di balik istana itu?"Jangan terlalu dipikirkan, Nyai. Semua pasti akan lebih baik, bukankah itu tujuanmu datang ke Blambangan?"Tanpa ada suara langkah kaki mendekat, suara khas suamiku sudah kudengar dan bahkan deru napasnya pun telah menyentuh leherku. Saat itu juga aku tersentak kaget, m

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   95.

    Hingga tengah malam aku masih belum bisa memejamkan mata. Pikiranku menerawang pada peristiwa awal aku datang hingga munculnya Nyai Daksima. Ada kejanggalan yang tersirat dari sorot matanya dan cara dia menyampaikan lisannya.Tidurku tidak nyaman, bukan karena ranjangnya melainkan karena pikiran yang berkelana tanpa ujung. Gerakan ku yang gelisah membuat Ranggalawe bangkit dan duduk menyandar pada dinding ranjang.Lengannya yang kekar meraih kepalaku lalu diletakkan pada dadanya. Dia menunduk dan menatapku dalam."Pasti pikiranmu penuh tanya, Sayang?" tanyanya sambil membelai bibirku. "Lebih baik kita bercinta saja daripada memikirkan hal yang tak pasti itu," lanjutnya dengan senyum entah."Ish, mesum.""Jelas dong, aku suamimu baik dalam dunia ini maupun duniaku. Dengan bercinta pasti pikiranmu bisa terbuka."Kutatap wajah mesum itu, dahi berkerut mendengar kalimatnya. Bagaimana bisa usai bercinta pikiran langsung terbuka. Aneh.Tanpa menunggu jawaban dariku, tubuhku sudah berada dal

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   94.

    Aku masih terdiam tanpa suara menatap wajah lelakiku itu. Ranggalawe pun juga sama, kamu saling tatap untuk waktu yang cukup lama hingga suara Nyai Daksima terdengar lembut di ujung telingaku."Ternyata kau datang, Cah Ayu. Kenapa tanpa kabar?" ujarnya sambil menyentuh bahuku. "Jangan biasa lakukan hal itu, nanti akan menguras energimu."Aku menghela napas dalam dan menoleh ke sumber suara. Wanita yang sudah memasuki usia senja itu tersenyum menampilkan gigi putih yang utuh dan rapi.Kemudian, dia berpaling ke samping kananku dimana suamiku berdiri dengan kedua tangan terliipat di belakang. Sikap seorang prajurit yang siaga penuh."Inikah sosok legendaris itu, Empu? Pria yang digadang sebagai penguasa putri Blambangan?"Aku tersentak, bukan karena apa melainkan heran saja dengan ungkapan Nyai Daksima. Dari kalimat itu seakan mereka berdua sudah lama mengenal sosok suamiku dan jalan hidupku.Sedangkan aku? Ini sungguh tidak pernah aku tahu dan perhitungkan. Dulu saat pertama kali melih

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   93.

    "Empu," panggilku saat kami sudah duduk di ruang utama padepokan Sekar Galuh milik pribadi Empu Sukmabiru. Untuk sesaat pria tua itu berdiri saja dengan tatapan menerawang jauh. Ada duka dan luka yang tersirat dari sorot mata itu, tetapi bibirnya berusaha untuk menghadirkan senyum menyambut kedatanganku. Sementara Ranggalawe berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Pria itu melihat sekeliling padepokan yang tampak sepi dan sunyi. "Apakah selalu seperti ini keadaan padepokan kala senja hadir, Empu?" tanya Ranggalawe dengan nada rendah dan tanpa berpaling menatap pada sang empu. Beliau menghela napas panjang, Embu Sukmabiru tidak langsung menjawab, dia justru melangkah mendekat pada meja kayu jati berukiran naga. Di sana tersedia kendi khusus dengan ukiran unik dan ada sejak dulu saat aku masih kecil. Tangan keriputnya bergerak menuangkan cairan dari dalam kendi yang berwarna cokelat terang dan beraroma khas. Setelah menyediakan dua cangkir dan ditata pada baki kayu juga, dia melangka

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   92.

    Prajurit itu tampak serba salah. "Maafkan kami, Putri. Kami hanya menjalankan perintah."Aku menghela napas panjang. Tidak ada gunanya melampiaskan kemarahan kepada mereka, karena itu sudah menjadi kewajiban untuk menjalankan tugas.Pada akhirnya aku memilih menunggu. Di depan gerbang, duduk di kereta dengan ditemani suamiku—Ranggalawe aka Samuel Ortega. Di tempat yang seharusnya menjadi rumahku sendiri, aku terusir secara halus. Entah mengapa waktu pun seolah tidak memihak padaku, mereka memilih berjalan sangat lambat hingga perlahan matahari bergerak turun ke ufuk barat. "Apakah perlu aku dobrak tatanan yang merugikan ini, Nyai?" tanya Ranggalawe dengan kedua tangan mengepal menahan emosi. "Tidak usah, aku masih kuat menunggu meskipun sampai tujuh hari ke depan," jawabku. Satu per satu pelayan dan prajurit yang melintas mulai melirik ke arah kami dengan rasa ingin tahu. Tidak hanya mereka saja, melainkan para warga sekitar. Mereka mulai berbisik-bisik. Dan aku tetap diam, tetap

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   91.

    Perjalanan menuju Blambangan berlangsung jauh lebih lancar daripada yang kubayangkan. Jantungku terus berdetak lebih cepat dari biasanya dan ini membuat aku selalu salah tingkah. Ranggalawe benar-benar menepati janjinya. Dia mengantarku sendiri, ini membuat otakku berkelana dan berbagai pertanyaan muncul di otakku. Bukan hanya itu, pasukan bayangan yang selama ini menjadi kebanggaannya juga ikut mengawal perjalanan kami dari kejauhan. Mereka bergerak nyaris tanpa terlihat, tetapi keberadaan mereka dapat kurasakan setiap saat.Beberapa kali kami melewati perbatasan wilayah dan pos penjagaan kerajaan.Setiap kali para prajurit melihat panji Senopati Utama Balai Kambang berkibar di atas kereta kami, mereka langsung memberi jalan tanpa berani mengajukan banyak pertanyaan.Aku duduk di dalam kereta sambil sesekali menyingkap tirai. Hanya untuk memastikan jalan yang diambil tidak keliru. "Jangan khawatir, aku pasti antar kamu sesuai dengan janji, Gendhis. Nyai tidak perlu takut," ujarnya

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   10. Bertemu

    Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian di danau itu dan aku selama itu pula tidak pernah bertemu lagi dengan Ortega. Bukan tidak bertemu tetapi lebih menghindar darinya, aku belum siap jika harus kembali mengulang kisah yang sama.Saat ini aku ingin fokus untukmmebuka portal itu agar segera kembali

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   11. Rusak

    Ledakan kecil dan asap keluar dari layar laptopku. Untuk sesaat aku termangu, mengapa bisa terjadi? Tiba-tiba kudengar suara tawa terkikik dan mencekik tepat di ujung telinga kananku, aku menoleh. Menatapnya tajam."Habis, wajahmu begitu lucu saat berwarna hitam seperti itu," ujar Ortega.Mendengar

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   9. Datang juga dia

    Hari makin malam, lampu taman mulai menyala dan kami masih berada di danau. Ortega sama sekali tidak melepaskan keempat tamu yang tidak kuundang itu. Sedangkan aku, asyik menikmati makan malam yang disediakan oleh priaku.Sesekali kulihat sosok mereka berempat, tubuh mereka terlihat loyo dan lemah

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   7. Info Apa Ini?

    Aku menatap dingin dan datar pada kedua pria itu, tanganku mengepal kuat, lalu menghempaskan kanvas yang telah selesai. Mereka tidak heran, tetapi justru tertawa puas. Tubuhku bergetar akibat menahan emosi yang berlebih."Apakah seorang bisu bisa marah? Semakin kau emosi maka akan semakin seru," ka

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status