Share

Bab 4

Author: Hopefulen
last update Last Updated: 2025-06-30 11:01:50

“Ka-kau … pembunuh?”

“Boleh dibilang begitu.”

“Maksudnya?”

“Banyak bicara kamu.”

Natasha menelan ludahnya sulit apalagi saat melihat tatapan pria itu yang sangat menusuk dan mengerikan bagi dirinya. Tatapan tajam bagaikan pisau yang bisa kapan saja menghunus dirinya sekarang juga membuat Natasha ingin mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut, tapi bukan namanya ‘Natasha sih banyak tanya’ jika dia tidak menemukan jawaban yang melegakan untuk dirinya.

“Kau membunuh siapa?”

Pria itu menghela napas berat dengan pertanyaan Natasha. Dia ingin tenang, dia butuh kedamaian tapi yang ada malah masuk ke dalam rumah burung kakak tua.

“Hei … aku bertanya dari tadi tidak dijawab, kau membunuh siapa?”

“Kau.”

“Hah??”

“Aku akan membunuhmu jika mulutmu tidak bisa diam, atau paling tidak akan aku hilangkan pita suaramu sekarang juga jika kau banyak tanya.”

Wajah Natasha memucat, jantungnya seperti akan lepas bahkan tidak terasa tangannya berkeringat pertanda dia takut. Natasha berusaha bernapas pelan dan biasa seperti dia tidak takut pada pria yang sekarang ini sedang bersender dan menutup matanya, dia berusaha tidak terdengar tersengal-sengal karena jujur mungkin sekarang jantungnya seperti orang yang terkena gagal jantung.

Gadis itu menutup matanya terlihat pasrah namun sebenarnya dia sedang berpikir caranya bisa melepaskan diri dan lari dari manusia setengah psikopat yang sedang menyanderanya saat ini.

"Ohh God ... kenapa Engkau pertemukan aku dengan pria ini?! Ahhhh … jendela!! Ehh … jendelanya sudah ditutup oleh Kak Nara. Akkhhhh!! Kakak gara-gara pemikiranmu aku jadi terjebak seperti ini, seandainya masih ada jendela itu pasti aku sudah bebas sekarang." 

“Hei … Nona ….”

Natasha membuka matanya perlahan dan menatap pria itu dengan tatapan datar walaupun dalam hati dia berdoa semoga dia tidak disakiti.

“Kenapa diam saja?”

“Tadi aku disuruh diam.”

“Siapa namamu?”

“Kenapa tanya-tanya?”

“Supaya kau tidak diam saja dan otakmu tidak berpikir caranya melarikan diri.”

Natasha diam saja namun dari sorot matanya pria itu bisa tahu apa yang dia tebak benar adanya. Pria itu menegakkan tubuhnya dengan tatapan datar namun mematikan dan seperti bisa membaca pikiran Natasha, sedangkan gadis itu menelan air liurnya sulit karena bisa-bisanya pria itu seperti paranormal bisa membaca isi pikirannya.

“Siapa namamu?”

Natasha melirik sekilas pria itu. “Nat.”

“Nat? Nat siapa?”

“Ck … Natasha.”

“Natasha siapa?”

“Natasha saja.”

“Jangan bohong, Nona.”

Natasha melihat pria itu yang menatapnya dengan tatapan tajam dan seperti mengintimidasi membuat gadis itu takut sendiri.

“Natasha Calsine.”

“Calsine? Kau dari keluarga Calsine? Kau apanya Abraham Calsine?”

Natasha terbelalak kaget bisa-bisanya pria psikopat ini mengenal ayahnya, siapa pria ini? Apakah karena ayahnya orang konglomerat dan dokter ternama mangkannya semua orang tahu. Bahaya, jangan sampai pria ini menghubungi ayahnya untuk minta tebusan bisa-bisa dia diseret oleh sang kakak kembali ke sangkar emas itu.

“Abraham Calsine yang dokter dan pemilik rumah sakit itu ya? Ohh … aku bukan apa-apanya, ibuku hanya pengagumnya saja mangkannya aku diberi nama Natasha Calsine.”

Pria itu berdiri dan menghampiri Natasha lalu berjongkok di hadapan gadis itu dengan masih mempertahankan mimik wajah datar dengan sorot mata elangnya.

Natasha yang melihat itu langsung kaku ketakutan tapi dia tidak mau memperlihatkannya sehingga gadis itu sekarang seperti tikus kecil yang sok berani di hadapan kucing besar. Jantung Natasha rasanya sudah pindah ke perut dan lama-lama dia berpikir mungkin akan terkena serangan jantung.

“Seperti yang aku katakana tadi, aku tidak butuh uang atau harta yang aku butuhkan hanya tempat bersembunyi dan tempat aman untuk hidup, jadi katakan yang sejujurnya kau apanya Abraham Calsine.”

“Bukan apa-apanya.”

Pria itu menghela napas berat merasa gadis yang dihadapannya ini sangat keras kepala, tapi dia tidak menyalahkan Natasha karena pasti gadis mud aini sedang ketakutan atau juga mungkin tidak mau memberi tahu takut akan diminta tebusan.

“Nona Nara bagaimana kabarnya? Oh iya Nyonya Veronica bagaimana kabarnya? Aku merindukan pie nanas buatannya.”

Natasha terbelalak kaget bagaimana bisa pria psikopat ini mengenal kakak dan ibunya bahkan tahu ibunya sangat suka membuat pie nanas. Banyak pikiran jelek dan rasa curiga timbul semakin besar dari apakah pria ini tahu dia siapa sehingga menyanderahnya? Hingga apa mungkin dia memang kenal keluarganya dan dia disuruh kakaknya atau ibunya untuk meneror Natasha.

“Dari ekspresi wajahmu kau pasti keluarga inti Abraham Calsine, jujur saja.”

“Kalau aku jujur kau mau apa?”

“Mungkin akan aku pertimbangkan perlakuanku padamu, ya, contohnya tidak jadi melubangi tenggorokanmu.”

Natasha hanya memutar bola matanya jengah tapi dalam hati ada sedikit pemikiran mungkin ada benarnya juga jika dia mengaku bahwa dirinya anak dari Abraham tapi di sisi lain dia takut pengakuannya akan menjadi boomerang bagi dirinya.

“Tidak perlu dijawab aku tahu kau putri Abraham Calsine.”

“Jangan peras ayahku, kalau kau mau uang masuk kamarku ambil kunci di tas dan buka laci meja kerjaku di sana adab uku tabunganku ambil semua dan jangan ganggu keluargaku.”

“Aku tidak butuh uangmu aku ulangi aku tidak butuh uangmu,” ucap pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Natasha hingga hanya bisikkan saja Natasha bisa dengar.

“Kalau tidak butuh uang kau hanya butuh tempat sembunyi saja begitu? Lalu bagaimana bisa kau hidup jika tidak butuh uang? Aku tidak mau memberimu makan terus menerus dan hidup di sini menumpang secara gratis. Aku juga hidupnya keras bahkan-”

Bukkk ….

Mata Natasha membulat dan bahkan jika bukan ciptakan Tuhan mungkin sekarang bola mata gadis itu sudah melompat keluar.

“Ka-kau psikopat kaya ya?”

“Menurutmu?”

Natasha hanya mengangguk sebagai jawaban pertanyaan pria itu. Mata Natasha membulat sempurna saat melihat uang dollar yang bukan lembaran tetapi berjumlah gebokkan yang berarti bukan hanya seratus atau dua ratus dollar saja mungkin bisa dibilang puluhan ribu dollar.

“Itu bisa buat hidup setahunan jika hemat paling tidak berbulan-bulan kalau boros.”

“Bagaimana kalau kita berkerja sama, Nona Calsine?”

“Aku dapat apa? Uang?”

“Jika kau mau.”

“Berapa uang yang aku terima jika kita bekerja sama?”

“Semua biaya hidupmu selama aku tinggal di sini akan aku tanggung, ya … walaupun mungkin uangku masih terbatas tapi aku janji hidupmu akan lebih baik.”

Natasha diam sesaat ada rasa yakin tidak yakin tapi melihat uang yang ada di meja paling tidak dia tidak perlu makan makanan dari bahan yang hampir kadaluarsa lagi.

“Kau tidak akan membunuhku’kan?”

“Tergantung kalau kita bisa bekerja sama aku pastikan kau akan aman bersamaku bahkan goresan saja tidak, tapi jika kau melanggar aku tidak perduli kau anak Abraham Calsine atau anak presiden sekali pun aku pastikan tubuhmu akan terkubur di bawah lantai rumah ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 13

    "Sudah-sudah jangan bahas itu, Nat tolong jelaskan mereka siapa? karena ini masih rumahku dan kamu masih menyewanya jadi kamu harus bertanggung jawab dengan siapa saja yang keluar masuk rumah ini.”Natasha diam sesaat menatap dalam gadis berkulit tan itu dengan wajah penuh pertimbangan. Bukan—bukannya dia tidak percaya pada teman-temannya itu tapi dia hanya takut Jasper akan marah.“Sebentar.” Natasha meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Jasper.“Jas, boleh aku memberi tahu mereka berdua? Hmmm … itu—aku tidak mungkin tidak menjelaskannya pada mereka karena—”“Lakukan,” potong pemuda itu cepat.“Yakin?”Jasper menatap sepenuhnya pada Natasha dengan tatapan menusuk membuat gadis itu langsung menciut takut.“Kamu bilang harus menjelaskan pada mereka, bukan? Aku sudah memberi izin dan dirimu masih mempertanyakannya lagi?”Natasha menggeleng ribut dan langsung berbalik menuju kedua sahabatnya. Gadis itu menarik keduanya menuju dapur seperti akan membicarakan sesuatu yang penting.“D

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 12

    Kleekkk … kleeekkk ….Keempatnya langsung melihat ke arah pintu. Wajah Natasha sudah memucat bahkan dia reflek berdiri sambil mendorong kecil lengan Jasper yang terlihat santai-santai saja.“Tenanglah Nat.”“Mana bisa tenang, bagaimana kalau itu kakakku atau –”“Benar itu kuncinya?”“Benar.”“Kenapa tidak bisa dibuka?”“Yang punya rumah siapa?“Kamu.”“Ya sudah, tunggu aku sedang berusaha membukanya.”“Ya Tuhan, ini lebih parah dari kakakku. Kenapa mereka ke sini malam-malam, aduh aku harus apa? Ohhh … kalian sembunyi di kamarku cepat-cepat.”“Tidak mau.”“Kau gila ya, bagaimana kalau mereka melihat kalian bertiga—aku harus menjelaskannya bagaimana?!”“Tidak perlu dijelaskan, mereka juga kalau berani bicara tinggal dihabisi.”“Kau gila!” teriak Natasha tanpa sadar dan langsung gadis itu membekap mulutnya sendiri.Jasper tertawa kecil melihat wajah panik Natasha. Baginya yang harusnya panik itu dia bukan gadis ini, tapi Natasha benar-benar sepanik itu sampai-sampai berteriak tanpa sadar

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 11

    “Nat,” panggil Jasper membuat Natasha kembali dari imajinasinya“Hmmm? Apa?”“Kenapa kamu bilang aku bodoh?”“Ya memang kamu bodoh, kalau tidak bodoh mana mungkin kamu menyakiti dirimu sendiri.”Jasper menatap Natasha lekat seperti melihat betapa beraninya gadis ini menyebutnya bodoh, padahal selama ini tidak ada yang berani menyebutnya bodoh bahkan menatap matanya langsung saja banyak yang tidak berani kecuali tunangannya dan seseorang.“Kau boleh marah aku tidak melarang, kau boleh melampiaskan rasa marah dan emosimu pada hal apapun itu tapi ingat untuk tidak menyakiti diri sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku, tapi aku tahu bukan kau yang membunuh tunanganmu.”Jasper tersenyum mengejek seperti menganggap Natasha tahu apa. “Kau tahu apa Nona Calsine.”Natasha menatap Jasper dengan tatapan cuek tapi ada rasa kasihan pada pria yang ada di hadapannya ini. Natasha merasa Jasper itu tidak sekuat itu, ada sisi lemah yang pria itu tutu

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 10

    Sebuah rumah bernuansa hitam dan merah dengan lampu remang-remang terasa mengerikan dan misterius bagi siapa saja yang melihatnya. Seorang pria dengan setelan jas perlente berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan hamparan pohon pinus yang berjejer rapi mengeluarkan bau lembab khas hutan basah.“Tuan, kami sudah menemukan makam tunangan Jasper Bravinson, kami harus apakan selanjutnya?”“Biarkan saja dulu, aku ingin melihat apa yang akan dilakukan Jasper selanjutnya.”“Baik Tuan.”“Tunggu Marlon, kalian sudah tahu di mana Jasper bersembunyi?” Pria itu berbalik berjalan ke sisi kursi kebesarannya."Belum Tuan.”"Charlie dan Hactor juga tidak kalian temukan?”“Maaf Tuan belum juga.”Prangg..."Cari mereka bertiga, bunuh mereka bawa kepala mereka padaku, jika tidak berhasil kepala kalian yang akan aku jadikan pajangan di rumah ini. Pergi!!" teriak marah pria itu."Siap Tuan!!"Pria itu menatap foto Jasper dan Victoria yang tertempel di papan dart arrow dan sudah sedikit sobek bek

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 9

    “Tidak Tuan jangan begitu, sejak kami anda angkat menjadi pengawal anda kami sudah bertekad akan selalu melayani dan melindungi anda apapun yang terjadi, bahkan kami rela menyerahkan nyawa kami asalkan anda baik-baik saja,” Hactor menatap Jasper dengan tatapan serius bahkan bagi pria itu tatapan Hactor benar-benar langka.Charlie hanya diam manatap Jasper dengan tatapan tenang namun ada rasa sedih yang dia tutupi saat melihat wajah atasannya itu. Pria yang lebih tua tiga tahun dari Jasper itu melihat guratan lelah, sedih, marah, dan frustasi yang tertutupi dengan wajah dingin dan kaku Jasper. Tidak ada senyum atau candaan yang selama ini keluar dari mulut Jasper pada para bawahannya, atau tatapan bersahabat dan ramah yang biasanya ditampilkan Jasper pada sekutu-sekutunya atau orang-orang terdekatnya. Semuanya hilang terganti dengan Jasper yang kaku dan dingin layaknya balok es besar yang susah mencair.“Tuan, kami dulu hanya sampah bahkan kami adalah kotoran tidak berguna yang anda an

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 8

    “Hmmm … maaf Tuan, it-”Jasper mengernyit saat mata salah satu anak buahnya melihat ke arah belakang tubuhnya. Jasper diam sejenak dan saat itulah dia sadar apa yang mereka lihat.“Keluarlah,” ucap Jasper pelan.Natasha hanya melongok sedikit melihat kedua anak buah Jasper yang menatapnya datar bahkan mereka tanpa sadar masih menggenggam senjata api mereka.“Hmmm … maaf … ap-apa ka-kalian akan te-tetap menggenggam it-itu?”Jasper sadar kalau mereka masih menggenggam pistol, pantas Natasha takut.“Masukkan pistol kalian,” perintah Jasper pada keduanya.“Tapi Tuan—dia.”“Kalian tidak mau menuruti perintahku?”Keduanya menunduk hormat dan langsung mematuhi perintah atasannya. Jasper dan kedua anak buahnya memasukkan kembali senjata api mereka ke kantong sehingga Natasha sudah tidak melihat senjata-senjata mereka lagi.“Kau boleh keluar, tidak apa-apa mereka bawahanku mereka yang menolongku.”Natasha mengintip sedikit melihat ke arah kedua pria berbadan tegap dan kekar sama seperti Jasper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status