Masuk“Diego! Bagaimana dengan lamaran-”
Jorge menyambut dengan suara riang ketika melihat Diego membuka pintu apartemen mereka. Namun, kata-katanya terhenti mendadak.
Diego berdiri di ambang pintu dalam kondisi basah kuyup, tubuhnya menggigil halus, dan wajahnya... sudah menjawab segalanya.
Tak ada senyum. Tak ada semangat. Hanya kehampaan yang tergambar jelas.
Jorge menatapnya sejenak. Tidak perlu penjelasan. Ia hanya bisa menghela napas pendek.
“Kamu sebaiknya mandi dan ganti pakaian,” ucapnya akhirnya. Suaranya pelan, tapi cukup jelas.
“Setelah itu, langsung istirahat. Besok kita punya kerjaan baru. Lumayan, bisa bikin kamu lupa sejenak.”
Diego tak menjawab. Hanya melangkah pelan menuju kamar mandi, meninggalkan jejak air di lantai. Jorge menatap punggung sahabatnya, mengerti sepenuhnya bahwa malam ini akan jadi malam panjang bagi pria itu.
Air hangat mengalir di atas tubuhnya, tapi tidak cukup untuk menghapus rasa dingin dan sakit yang menempel di hatinya.
Diego berdiri lama di bawah pancuran sebelum akhirnya kembali ke kamar, mengenakan pakaian bersih, lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Tangannya menggenggam erat kotak kecil itu. Cincin yang semestinya menjadi awal dari kebahagiaan, kini hanya simbol dari penolakan yang menyayat diam-diam.
Tangisnya pecah tanpa suara. Matanya memejam, tubuhnya meringkuk. Tapi kenangan tentang Valentina tak mau enyah.
Setiap senyum, setiap tatapan, kembali datang seperti hantaman berulang. Ia berharap waktu bisa ditarik mundur, atau minimal dipercepat agar semuanya segera berlalu.
**
Pagi harinya, tepat pukul delapan, Diego dan Jorge sudah berdiri di lobi apartemen. Mereka berpakaian rapi, tapi hanya satu dari mereka yang tampak siap menyambut hari baru.
Jorge melirik ke arah Diego. Wajah sahabatnya pucat, kantung mata tampak jelas, dan langkahnya sedikit lambat.
Tanpa banyak bicara, Jorge mengambil kacamata hitam dari saku dan menyodorkannya.
“Pakai ini. Matamu... terlalu jujur,” gumamnya dengan senyum tipis.
Diego hanya mengangguk, menerima kacamata itu, lalu memakainya. Rasa pedih masih lekat, tapi dia tahu hidup harus tetap berjalan. Jorge sudah memberinya jalan baru, dan untuk itu saja, dia patut bersyukur.
Taksi datang tak lama kemudian. Tujuannya, Stasiun Madrid Atocha, lalu rumah Sergio Ortiz, pengusaha berpengaruh yang kini jadi atasan baru mereka.
Perjalanan berlangsung tanpa banyak obrolan. Jorge sesekali memeriksa ponsel, sedangkan Diego hanya diam, menatap keluar jendela. Pikirannya masih belum sepenuhnya kembali.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Sergio. Diego terdiam saat turun dari mobil.
Apa yang dilihatnya seperti lukisan hidup, bangunan megah dengan pilar besar, fasad elegan bergaya klasik Spanyol, dan halaman luas yang terawat sempurna.
Jorge tertawa kecil melihat ekspresi Diego yang melongo.
“Jo... Jorge,” gumam Diego pelan, tak percaya. “Ini rumah Tuan Sergio?”
“Yup. Ayo, masuk. Biar aku kenalkan,” jawab Jorge santai, lalu berjalan ke arah pos penjagaan.
Setelah memperkenalkan Diego pada dua petugas keamanan, mereka melangkah masuk melewati taman depan yang seperti miniatur kebun raya.
Pohon palem berjajar rapi, dan suara angin yang menerpa dedaunan terdengar seperti bisikan alam yang damai.
Diego menyeka keringat dari dahinya. Ukuran rumah ini... lebih besar dari bayangannya. Dan jarak dari gerbang ke bangunan utama pun terasa seperti satu lintasan maraton.
“Itu garasi,” ujar Jorge, menunjuk. “Yang itu bangunan utama, tempat tinggal Tuan Sergio dan istrinya. Nah, yang di sisi sana, itu mes untuk para karyawan.”
Diego menatap semua arah dengan mata yang tak berkedip. Rasanya seperti tersesat di dunia lain. Megah. Mewah. Tak terbayangkan sebelumnya.
Mereka melangkah melewati bangunan utama. Saat itulah Diego menoleh ke atas dan pandangannya tertahan.
Di lantai dua, pada sebuah balkon dengan pagar besi berukir, berdiri seorang wanita. Rambutnya panjang, gelombangnya jatuh lembut melewati bahu.
Kimono merah yang membalut tubuhnya tampak ringan ditiup angin. Kaki kanannya sedikit terekspos dari belahan kain, menampilkan kulit pucat bersih yang menyilaukan di bawah sinar pagi.
Diego terpaku.
Wanita itu memandang ke halaman, tidak sadar sedang diamati. Tapi kemudian, matanya bertemu dengan mata Diego. Dan dia tersenyum.
Sebuah senyum singkat, ramah tapi menembus dada.
Diego buru-buru menunduk, pipinya panas. Langkahnya semakin cepat, berusaha menyusul Jorge yang masih terus bicara... entah tentang apa, dan-
Brak!
Diego menabrak punggung Jorge yang tiba-tiba berhenti. Tubuh mereka berdua terhempas ke lantai. Diego mendesis pelan.
“Duh, bro, kamu kenapa?” Jorge mengeluh, mengusap lengannya yang terbentur.
“Ma... maaf. Aku...” Diego terdiam. Kepalanya menoleh lagi ke atas. Wanita di balkon menutup mulut dengan tangannya, tertawa pelan melihat kekonyolan itu.
Jorge mengikuti arah pandangnya, lalu ikut tersenyum. Ia berdiri dan membungkuk hormat ke arah wanita itu. Sang wanita membalas dengan anggukan dan senyum kecil.
“Siapa dia?” tanya Diego, suaranya setengah berbisik.
“Itu Nyonya Ariana. Istrinya Tuan Sergio,” jawab Jorge. “Majikan kita.”
Diego tercekat. Kepalanya segera menunduk, rasa malu bercampur terkejut tergambar di wajahnya.
Mereka segera menuju mes karyawan. Di sana, Diego diperkenalkan secara singkat kepada beberapa orang, sebelum Jorge mengantarnya ke kamar barunya, kamar yang bersebelahan dengan milik Jorge sendiri.
“Seragam kamu ada di lemari. Ganti sekarang, sebentar lagi kamu ketemu atasan langsung kita. Namanya Tuan Andrew. Orang kepercayaannya Tuan Sergio,” jelas Jorge sambil menepuk bahu Diego.
Diego masuk, menatap kamarnya sejenak. Jauh dari ekspektasi. Bersih, rapi, bahkan nyaman. Setelah berganti seragam, ia keluar dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri menunggunya di depan pintu.
“Aku Andrew. Ayo, ikut,” ucap pria itu singkat.
Diego mengangguk dan berjalan di belakangnya. Mereka menyusuri jalan kecil di samping rumah, menuju taman belakang. Udara di sana terasa lebih segar, tapi Diego justru merasa makin tegang.
Langkah Andrew berhenti di tengah taman yang tenang.
“Nyonya, ini karyawan baru kita,” ucapnya dengan suara sopan.
Diego mendongak. Sosok wanita itu duduk santai di kursi taman, kini terlihat lebih jelas dalam cahaya pagi.
Ariana.
Wajahnya seperti pahatan. Matanya biru cerah, bening, memancarkan wibawa sekaligus keanggunan.
Lesung pipinya muncul ketika ia tersenyum, dan bibir tipisnya tampak menawan dengan lipstik merah menyala.
Diego membeku. Rasanya seperti berdiri di hadapan aktris dari film, bukan wanita nyata.
Ariana berdiri, melangkah perlahan ke arahnya. Senyum di wajahnya tetap terjaga, namun sorot matanya mengamati Diego dengan seksama.
“Jadi... siapa namamu?” tanyanya, suaranya hangat.
Diego menatapnya. Wajahnya... Senyumnya... Suaranya....
Tanpa sadar, mulutnya bergumam, “Cantik.”
Ariana menaikkan alis, sedikit terkejut. “Cantik?”
Diego menelan ludah, baru sadar akan kata yang lolos begitu saja. “Iya... Anda sangat cantik.”
“Pffft! Hahaha!”
Ariana tertawa pelan, menutup mulutnya dengan tangan. Tatapannya masih melekat pada Diego, dan untuk pertama kalinya sejak semalam, pria itu lupa pada luka yang begitu menyakitkan semalam.
Bersambung...
Terima Kasih sudah membaca ✌😊
Lima tahun kemudian.Matahari sore di Sevilla tidak pernah berubah, ia tetap menggantung rendah di ufuk barat, menumpahkan cahaya oranye keemasan yang memeluk kota tua itu dengan hangat. Namun, wajah kota di bawahnya telah berubah drastis.Di antara bangunan-bangunan klasik bergaya Moor dan Gotik, kini menyembul sabuk hijau yang membelah kota. Panel surya berkilauan di atap-atap gedung baru, taman-taman vertikal menghiasi dinding beton yang dulunya kusam, dan distrik industri yang dulu kumuh kini telah bertransformasi menjadi pusat inovasi ramah lingkungan.Di lantai teratas Gedung OBC, di balik dinding kaca yang menjulang dari lantai ke langit-langit, seorang pria berdiri diam menikmati pemandangan itu.Diego Martin tidak lagi mengenakan seragam cleaning service yang lusuh atau kemeja yang sedikit kebesaran. Tubuhnya kini dibalut setelan jas navy blue tiga bagian, dijahit khusus oleh penjahit terbaik di Madrid.Potongan rambutnya rapi, menampakkan uban tipis yang mulai muncul di peli
Pintu ganda kamar utama Mansion Ortiz terbuka lebar dengan satu dorongan bahu yang kuat.Diego melangkah masuk sambil menggendong Ariana dalam dekapannya. Tawa Ariana meledak, renyah dan bebas, memantul di dinding-dinding kamar yang tinggi. Ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berlapis-lapis menyapu lantai, memenuhi ambang pintu seperti ombak putih yang berbuih.“Diego! Hati-hati, gaun ini berat!” seru Ariana di sela tawanya, melingkarkan lengan di leher suaminya.“Bagiku kamu seringan kapas, Nyonya Martin,” balas Diego sambil menyeringai.Ia membawa Ariana ke tengah ruangan, lalu perlahan menurunkannya. Kaki Ariana menyentuh karpet tebal yang empuk, namun tubuhnya masih menempel rapat pada Diego.Suasana di dalam kamar itu telah berubah total. Andrew dan tim rumah tangga rupanya telah bekerja dalam diam saat pesta berlangsung.Cahaya lampu utama dimatikan, digantikan oleh puluhan lilin aroma terapi yang diletakkan di setiap sudut, menciptakan pendar keemasan yang hangat dan romant
Dua bulan kemudian...Udara di ruang ganti pria terasa padat, bukan karena sempit, melainkan karena ketegangan dua pria yang biasanya tak kenal takut menghadapi preman atau rapat direksi, kini justru gemetar menghadapi cermin.Diego berdiri kaku, jemarinya yang biasanya cekatan menandatangani kontrak miliaran kini kesulitan menyimpul dasi kupu-kupu sederhana."Sial," gumamnya pelan, menarik ujung kain sutra itu untuk ketiga kalinya.Di sebelahnya, Jorge tidak lebih baik. Pria kekar itu mondar-mandir di ruang terbatas, mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke celana bahan mahalnya. Wajahnya pucat, seolah darahnya tersedot habis ke kaki."Bro... aku mau muntah," keluh Jorge, menyandarkan keningnya ke dinding yang dingin. "Serius. Perutku mulas. Apa aku bisa kabur lewat jendela?"Diego menoleh, menahan tawa melihat sahabatnya yang tampak seperti narapidana menjelang eksekusi mati."Kalau kamu kabur, Adele akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan mematahkan kakimu, Jorge. Dan aku a
Mobil Rolls-Royce itu meluncur masuk ke halaman Mansion Ortiz. Bukan ke lobi utama yang megah, melainkan memutar ke jalan samping yang mengarah ke taman belakang.Ariana turun dari mobil dengan wajah bertanya-tanya. "Taman belakang? Diego, ada apa?"Diego tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, mengajak Ariana berjalan. Ia melepaskan jasnya, menyampirkannya di lengan, membiarkan kemeja putihnya terkena angin sore yang hangat.Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang diapit oleh tanaman perdu yang rapi. Aroma rumput yang baru dipotong memenuhi udara, aroma yang sangat familiar bagi Diego."Kamu ingat tempat ini?" tanya Diego sambil memandang sekeliling.Ariana tertawa kecil. "Tentu saja. Ini rumahku.""Bukan itu maksudku," Diego tersenyum, matanya menerawang."Maksudku... ingat saat pertama kali kita bertemu di sini?"Langkah Ariana melambat. Ia melihat ke sekeliling, dan memori itu kembali."Ah..." Ariana menutup mulutnya, terkekeh geli."Waktu itu... kamu dan Jorge.
Dua minggu telah berlalu sejak konfrontasi Diego dengan Javier. Waktu seolah berjalan dengan ritme yang lebih lambat, lebih tenang, memberikan ruang bagi kota itu untuk bernapas kembali.Mesin Rolls-Royce Phantom hitam itu menderu halus saat memasuki gerbang besi tempa Cementerio de San Fernando. Ini bukan kunjungan bisnis, bukan pula pamer kekuatan.Hari ini, Diego menyetir sendiri, tanpa sopir, tanpa pengawalan ketat. Hanya dia dan Ariana. Roda mobil melindas jalanan berkerikil dengan bunyi krak yang ritmis, memecah keheningan kompleks pemakaman elit yang dipenuhi pepohonan cypress tua yang menjulang tinggi.Sinar matahari pagi menyelinap di antara dedaunan, menciptakan pola cahaya yang menari di atas kap mobil.Ariana duduk di kursi penumpang, memandang ke luar jendela. Wajahnya tenang, tidak ada lagi gurat kecemasan yang selama berbulan-bulan menjadi topeng sehari-harinya. Ia mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan, senada dengan setelan jas hitam Diego yang tanpa dasi.Mobil
Valentina menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan isak tangis yang masih tersisa di tenggorokannya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu dengan langkah gemetar namun penuh harap, ia mendekati pria yang duduk membelakangi pintu itu.Punggung tegap itu. Bahu lebar itu. Kemeja putih yang sedikit kusut itu. Semuanya seakan meneriakkan nama Diego."Diego..." panggilnya lirih, suaranya bergetar antara rindu dan putus asa. "Aku... aku tahu kamu masih-"Pria itu berhenti bergerak. Perlahan, ia memutar tubuhnya.Valentina menahan napas, senyum manis sudah ia siapkan di bibirnya.Namun, saat wajah pria itu sepenuhnya terlihat, dunia Valentina runtuh untuk kedua kalinya malam ini.Itu bukan Diego.Wajah pria itu biasa saja. Hidungnya sedikit bengkok, matanya sayu, dan ada bekas jerawat di pipinya. Sama sekali tidak memiliki ketajaman dan karisma yang dimiliki Diego saat ini. Pria itu menatap Valentina dengan kening berkerut bingung, mulutnya sedikit terbuka konyol."Maaf? Non







