Home / Romansa / Terjerat Cinta Majikan Seksi / Bab 1 Kenyataan Pahit

Share

Terjerat Cinta Majikan Seksi
Terjerat Cinta Majikan Seksi
Author: VILNOCTE

Bab 1 Kenyataan Pahit

Author: VILNOCTE
last update Last Updated: 2024-10-24 03:37:52

Diego Martin duduk tenang di sudut sebuah kafe kecil di jantung kota Madrid. Tangannya menggenggam sebuah kotak mungil, dibungkus rapi dengan kertas emas mengilap.

Sesekali ia menatapnya, senyum perlahan mengembang di wajahnya, senyum yang lahir dari harapan, dari kerja keras yang tak henti, dan dari keyakinan bahwa cinta, pada akhirnya, akan memihaknya.

Di dalam kotak itu, sebuah cincin. Bukan sekadar perhiasan, tapi simbol dari janji, komitmen, dan keberanian yang dikumpulkannya selama setahun terakhir.

Cincin itu akan ia serahkan kepada Valentina, wanita yang telah mengisi hari-harinya tanpa peduli bahwa dirinya hanyalah seorang Cleaning Service, dengan gaji yang sangat kecil.

Bagi Diego, Valentina adalah anomali. Cantik, hangat, dan tak memandangnya dengan mata yang sama seperti dunia memandang kelas sosial. Atau, setidaknya, itulah yang ia percaya selama ini.

Suara percakapan memenuhi udara kafe, tawa-tawa ringan bersahutan di antara denting gelas dan piring. Namun semua itu bagai latar kabur di belakang layar. Fokus Diego hanya tertuju pada satu hal, satu momen yang akan mengubah hidupnya.

Pintu kafe terbuka. Angin sejuk musim semi menyelusup masuk bersamaan dengan sosok yang langsung membuat jantungnya berdegup.

Valentina. Mengenakan dress marun yang jatuh anggun di tubuhnya. Wajahnya bersinar, senyumnya merekah cerah seperti biasa. Ada cahaya dalam dirinya yang selalu membuat Diego lupa caranya bernapas.

“Diego!” sapanya sambil melambaikan tangan kecilnya. Suaranya ringan, lembut, dan selalu berhasil membuat Diego merasa nyaman.

Ia segera bangkit, menarik kursi di seberangnya, lalu menatap wanita itu dengan sorot penuh rasa.

“Silakan duduk, sayang,” ucapnya pelan. Nadanya sedikit gemetar, dan ia tak bisa menyembunyikannya.

Valentina tersenyum, mengangguk kecil sambil duduk. Diego tak melepaskan pandangannya.

Setelah beberapa detik membiarkan keheningan membungkus mereka, Diego memanggil pelayan dan memesan makanan. Pilihannya sederhana.

Ia tahu Valentina tak pernah menuntut kemewahan, dan itu salah satu hal yang membuat Diego semakin mencintai Valentina. Setelah pelayan pergi, ia kembali menatap wajah sang kekasih.

“Bagaimana harimu, sayang?” tanyanya, bibirnya tetap melengkung dalam senyum yang tulus.

“Baik. Aku baru menyelesaikan proyek di kantor,” jawab Valentina dengan binar di matanya. “Bagaimana denganmu?”

“Aku sangat baik. Sebenarnya...” Diego menarik napas, menahan gugup yang menggeliat di perutnya.

“Aku ada sesuatu untukmu.” Tangannya mengulur, meletakkan kotak kecil di depan Valentina.

Wanita itu mengangkat alis, lalu membuka kotak tersebut. Mata indahnya membulat, melihat kilau cincin perak yang sederhana namun elegan.

Kekaguman sempat terpancar di wajahnya, tapi hanya sesaat. Ada sesuatu yang berubah. Senyumnya melemah, dan matanya kehilangan sorot hangatnya.

Diego masih tersenyum, mencoba membaca ekspresi itu. Tapi dadanya mulai terasa berat.

Valentina menarik napas pelan, matanya menatap cincin itu dengan tatapan yang lebih rumit dari sekadar kebingungan.

“Ada apa?” tanya Diego, suaranya menurun, ragu. Dalam hati ia bertanya, apakah cincinnya tidak cukup indah?

Valentina bersandar ke kursi, menyilangkan tangan di dada. Ekspresinya berubah, jauh dari kelembutan yang tadi mengawali pertemuan mereka.

“Diego, sepertinya kamu salah paham,” ucapnya tenang.

Diego mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Tatapan Valentina mengeras. Tidak marah, tapi dingin, hampir tanpa emosi.

“Aku bersamamu karena aku tertarik dengan ketampananmu. Tapi aku tak pernah berniat membawa hubungan ini ke arah yang serius. Pernikahan? Tidak pernah terlintas.”

Sejenak, segalanya berhenti.

Diego mematung. Kata-kata itu seperti batu yang dilemparkan ke wajahnya tanpa peringatan. Dia menatap wanita yang selama ini ia cintai, berharap ada tawa, lelucon, atau keisengan kecil seperti biasa.

“Tunggu… kamu bercanda, kan?” tanyanya, senyum canggung muncul di wajahnya yang mulai pucat.

Valentina tidak menjawab. Hanya diam, menatapnya datar. Lalu ia berdiri, meraih tas kecilnya dari meja.

“Aku ke toilet dulu. Nanti kita bicarakan lagi,” ucapnya singkat, sebelum melangkah pergi tanpa menoleh.

Diego tak bisa berkata-kata. Tubuhnya tetap duduk kaku, hanya kepalanya yang mengikuti gerak Valentina sampai hilang di belokan menuju toilet.

Ia menunduk, meraih kotak cincin yang masih terbuka di meja. Menatap benda kecil itu dengan tatapan kosong, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi panjang dan menemukan kenyataan tak seindah harapan.

Sepuluh menit berlalu. Makanan yang tadi mereka pesan tak tersentuh. Diego masih duduk di tempatnya, sesekali melirik ke arah toilet. Rasa waswas mulai tumbuh.

“Kenapa Valentina belum kembali? Apa dia sakit?” pikirnya sambil mengetuk-ngetukkan jari ke meja.

Akhirnya ia bangkit, berjalan cepat ke arah toilet wanita. Ia berhenti di depan pintu, kebingungan.

Tak mungkin seorang pria masuk sembarangan ke toilet wanita. Saat melihat petugas kebersihan melintas, Diego langsung menghampiri.

“Permisi, kekasih saya tadi masuk ke toilet, tapi belum kembali. Dia pakai dress merah marun. Bisa bantu cek ke dalam? Saya khawatir,” ucapnya dengan nada hampir putus asa.

Petugas itu mengangguk, masuk tanpa banyak bertanya.

Diego menunggu di luar, gelisah. Ia menggigiti bibir bawahnya, berdiri mematung dengan kepala dipenuhi pikiran buruk. Lalu-

Ting!

Notifikasi dari ponsel memecah keheningan. Diego mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan masuk. Nama pengirimnya membuat darahnya berdesir dingin.

[Diego, maaf, aku pergi duluan. Aku jijik melihat cincin murahan pemberianmu. Kamu itu hanya tukang bersih-bersih, dan tak punya masa depan. Jangan pernah bermimpi lebih dengan pekerjaan rendahanmu itu. Lagipula, bulan depan aku akan menikah dengan Javier Torres. Dibanding kamu, dia jauh lebih bisa menjamin masa depanku.]

Dunia Diego hancur dalam satu tarikan napas. Pandangannya kabur, matanya tak berkedip menatap layar. Jantungnya tak sekadar sakit tapi seperti berhenti berdetak.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Diego benar-benar merasa sendirian.

Bersambung...

VILNOCTE

Terima kasih sudah membaca ✌😊

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 62 Harga Sebuah Kehormatan

    Tiga hari yang lalu...Andrew berdiri di depan cermin panjang di apartemennya yang sunyi. Pagi itu hening, hanya ada suara detak jam dinding antik yang seolah menghitung mundur sisa harga dirinya.Tangannya yang biasanya stabil saat memecat direktur korup atau menyusun strategi akuisisi, kini bergerak lambat saat menyimpulkan dasi. Ia menarik ujung kain sutra itu, merapikan kerahnya hingga presisi milimeter. Sempurna. Kaku. Dingin.Ia menatap pantulan dirinya. Rambutnya yang mulai memutih di pelipis menjadi saksi puluhan tahun ia mengabdi pada Sergio Ortiz. Ia dikenal sebagai "Anjing Penjaga" sosok yang tak pernah menunduk, tak pernah memohon, dan hanya menggigit saat diperintah.Namun hari ini berbeda."Ini bukan untukmu, Andrew," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin. "Ini untuk masa depan yang Sergio inginkan."Ia menarik napas panjang, mengancingkan jasnya, lalu berbalik meninggalkan apartemen. Hari ini, sang Anjing Penjaga harus belajar caranya mengemis.***Langkah kaki An

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 61 Vonis Tinta Merah

    Jam dinding digital di sudut meja menunjukkan pukul 23.45.Hening.Lantai eksekutif Gedung OBC yang biasanya sibuk kini terasa seperti makam marmer yang dingin. Hanya dengung halus dari mesin pendingin udara sentral yang mengisi kekosongan, menemani Diego yang duduk sendirian di balik meja kerjanya yang luas.Lampu utama ruangan sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Hanya cahaya kuning redup dari lampu meja yang menerangi wajah Diego, menciptakan bayangan-bayangan tajam di sekitar matanya yang cekung.Di hadapannya, bukan lagi tumpukan kertas, melainkan gunung persoalan.Diego melepas kacamata bacanya, aksesori baru yang ia pakai untuk membantu fokus, ia lalu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut."Gila..." desisnya pelan. Suaranya serak, tertelan oleh kesunyian ruangan.Data di hadapannya bukan sekadar angka merah. Ini adalah bangkai. Semakin dalam ia menggali laporan keuangan lima tahun terakhir, semakin ia sadar bahwa OBC, raksasa konstruksi yang disegani di Sevilla, sebenarnya se

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 60 Gonggongan Anjing di Pinggir Jalan

    Pagi itu, sinar matahari Sevilla yang biasanya hangat terasa menusuk dingin saat Diego melangkah masuk ke lobi Gedung Pusat OBC. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua, potongan rambutnya rapi, dan tas kerja kulit hitam tergenggam mantap di tangan kanannya.Namun, ada yang salah dengan udara di lobi itu.Kemarin, saat ia berjalan melintasi marmer mengkilap ini, ia merasakan tatapan hormat, atau setidaknya rasa segan dari para karyawan. Tapi hari ini, atmosfernya berubah drastis. Udara terasa berat, lengket oleh kecurigaan.Suara langkah sepatu pantofelnya terdengar menggema, seolah menjadi satu-satunya suara yang berani memecah keheningan ganjil tersebut.Para staf resepsionis yang biasanya menyapa dengan senyum lebar kini buru-buru menundukkan kepala begitu melihatnya. Di sudut lobi dekat lift, sekelompok karyawan dari divisi pemasaran tampak berkerumun.Mata mereka terpaku pada layar ponsel masing-masing, jemari mereka bergerak lincah menggulir layar, lalu sesekali mendongak, melirik

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 59 Langkah Pertama di Tanah Berlumpur

    Malam setelah rapat itu, Diego tak bisa tidur. Ia duduk di balkon Mansion Ortiz hingga dini hari, menatap cakrawala kota yang tak pernah benar-benar gelap.Kata-kata Vargas, “dari cleaning service langsung ke kursi rapat terus berputar di kepalanya, bukan sebagai ejekan, tapi sebagai pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri: Apa aku benar-benar layak?Andrew bilang itu baru pemanasan. Tapi tubuh Diego masih menegang seperti habis bertarung. Ia tahu, mulai besok, setiap langkahnya akan diawasi, setiap keputusannya akan dipelintir. Dan satu-satunya cara untuk membungkam mereka bukan dengan berbicara, tapi dengan bertindak.Sayangnya, keyakinan itu belum cukup kuat untuk mengusir rasa asing yang menyelinap saat melihat pantulan dirinya di cermin pagi ini.Cahaya pagi menerobos masuk melalui jendela besar Mansion Ortiz, memantul pada permukaan cermin setinggi tubuh di sudut kamar. Diego berdiri kaku di sana. Setelan jas bespoke berwarna charcoal itu membalut tubuhnya dengan presisi

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 58 Benturan Perdana Di Meja Rapat

    Dua hari kemudian...Mobil hitam Andrew meluncur mulus ke depan hotel bintang lima. Ban berhenti tepat di bawah kanopi besar yang menahan cahaya matahari pagi.Dua petugas valet yang sigap segera bergegas, salah satunya membukakan pintu untuk Ariana, sementara yang lain menyambut Andrew dan Diego.Begitu kaki mereka menjejak lantai marmer yang licin, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyapu kulit. Lobi hotel itu berkilau, marmer mengkilap di bawah lampu gantung kristal besar, musik piano lembut mengalun dari sudut lounge, dan aroma kopi mahal bercampur samar dengan wangi parfum para tamu.Diego mengangkat kepalanya, matanya menyapu sekeliling. Ada beberapa wajah asing yang ia tangkap, sebagian mengangguk tipis, sebagian lagi hanya memandangi dari jauh sambil berbisik.Ariana berjalan di sampingnya, bahunya tegak, blazer putih membingkai tubuhnya, dress biru tua jatuh rapi hingga lutut. Perpaduan keanggunan dan ketegasan seorang CEO.

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 57 Gerak Pertama Dua Kubu

    Ban mobil berdecit ringan saat Diego memutar kemudi, memasuki area parkir basement kantor pusat Grup Ortiz.Aroma khas beton lembap dan suara gema mesin pendingin mengisi ruang. Mereka bertiga keluar dari mobil tanpa banyak bicara, langkah kaki berpacu menuju lift pribadi di sudut ruangan.Begitu pintu lift tertutup, ruangan kecil itu hanya diisi suara dengung mesin dan napas yang berjarak. Diego berdiri di sisi kanan, sesekali melirik Ariana lewat pantulan kaca pintu lift.Perempuan itu memandang lurus ke depan, seperti sedang menimbang langkah berikutnya. Andrew berdiri di belakang mereka, matanya terpejam sebentar.Pintu terbuka di lantai eksekutif. Lorong di sini terasa berbeda, hening, bersih, dan berlapis karpet tebal yang meredam suara langkah. Lampu sorot memantulkan kilau di gagang pintu kaca besar bertuliskan nama Ariana.Begitu pintu ruang kerja dibuka, aroma kopi hitam pekat langsung menyambut. Andrew berjalan masuk duluan, meletakkan map hitam di meja tamu sebelum menjatuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status