LOGINTerima kasih sudah membaca ✌😊 Instagram @vilnocte
Lampu kristal di ruang ganti Mansion Ortiz memantulkan cahaya redup pada setelan tuksedo hitam pekat yang terhampar di atas meja beludru. Kain itu terlihat menyerap cahaya, dingin, dan mengintimidasi.Andrew berdiri di sampingnya, mengusap bahu jas itu seolah sedang membersihkan debu imajiner. Wajahnya serius, seperti seorang jenderal yang sedang mempersiapkan prajurit terbaiknya sebelum garis depan."Ini bukan sekadar pakaian mahal, Diego," ucap Andrew, suaranya rendah namun menggema di ruangan yang sunyi itu. "Ini adalah seragam perangmu."Diego menatap pantulan dirinya di cermin besar. Kemeja putih yang ia kenakan sudah pas di badan, tapi ia masih merasa ada beban tak kasat mata di pundaknya."Mereka akan menelanjangiku dengan tatapan mereka, bukan begitu, Tuan Andrew?" tanya Diego tanpa menoleh.Andrew mengambil tuksedo itu dan memutarnya, memberi isyarat agar Diego memasukkan lengannya."Mereka akan mencoba," jawab Andrew tenang saat Diego mengenakan jas itu."Di Círculo de Sevill
Matahari pagi menembus kaca jendela lantai eksekutif, namun tidak ada kehangatan yang menyertainya. Diego melangkah keluar dari ruangannya, membawa tumpukan map hitam tebal di tangan kanannya. Langkahnya tidak lagi ragu seperti saat pertama kali ia mengenakan jas mahal itu, langkahnya kini berat, penuh tujuan, dan mematikan.Ia berhenti tepat di depan meja Elisa Marquez. Sekretaris itu mendongak, dan senyum sopan di wajahnya seketika luntur saat melihat ekspresi Diego. Datar. Dingin. Seperti permukaan danau beku.*BRUK.*Diego menjatuhkan tumpukan map itu ke atas meja Elisa. Suaranya tidak keras, namun di ruangan yang hening, bunyi itu terdengar seperti ledakan."Selamat pagi, Tuan Diego. Ini..." Elisa menelan ludah, matanya menatap nanar tumpukan map yang seolah memancarkan aura kelam."Surat pemutusan hubungan kerja," jawab Diego singkat. Nadanya tidak mengizinkan pertanyaan. "Siapkan stempel perusahaan. Distribusikan ke nama-nama yang tertera di sampul. Sekarang."Tangan Elisa gemet
Tiga hari yang lalu...Andrew berdiri di depan cermin panjang di apartemennya yang sunyi. Pagi itu hening, hanya ada suara detak jam dinding antik yang seolah menghitung mundur sisa harga dirinya.Tangannya yang biasanya stabil saat memecat direktur korup atau menyusun strategi akuisisi, kini bergerak lambat saat menyimpulkan dasi. Ia menarik ujung kain sutra itu, merapikan kerahnya hingga presisi milimeter. Sempurna. Kaku. Dingin.Ia menatap pantulan dirinya. Rambutnya yang mulai memutih di pelipis menjadi saksi puluhan tahun ia mengabdi pada Sergio Ortiz. Ia dikenal sebagai "Anjing Penjaga" sosok yang tak pernah menunduk, tak pernah memohon, dan hanya menggigit saat diperintah.Namun hari ini berbeda."Ini bukan untukmu, Andrew," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin. "Ini untuk masa depan yang Sergio inginkan."Ia menarik napas panjang, mengancingkan jasnya, lalu berbalik meninggalkan apartemen. Hari ini, sang Anjing Penjaga harus belajar caranya mengemis.***Langkah kaki An
Jam dinding digital di sudut meja menunjukkan pukul 23.45.Hening.Lantai eksekutif Gedung OBC yang biasanya sibuk kini terasa seperti makam marmer yang dingin. Hanya dengung halus dari mesin pendingin udara sentral yang mengisi kekosongan, menemani Diego yang duduk sendirian di balik meja kerjanya yang luas.Lampu utama ruangan sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Hanya cahaya kuning redup dari lampu meja yang menerangi wajah Diego, menciptakan bayangan-bayangan tajam di sekitar matanya yang cekung.Di hadapannya, bukan lagi tumpukan kertas, melainkan gunung persoalan.Diego melepas kacamata bacanya, aksesori baru yang ia pakai untuk membantu fokus, ia lalu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut."Gila..." desisnya pelan. Suaranya serak, tertelan oleh kesunyian ruangan.Data di hadapannya bukan sekadar angka merah. Ini adalah bangkai. Semakin dalam ia menggali laporan keuangan lima tahun terakhir, semakin ia sadar bahwa OBC, raksasa konstruksi yang disegani di Sevilla, sebenarnya se
Pagi itu, sinar matahari Sevilla yang biasanya hangat terasa menusuk dingin saat Diego melangkah masuk ke lobi Gedung Pusat OBC. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua, potongan rambutnya rapi, dan tas kerja kulit hitam tergenggam mantap di tangan kanannya.Namun, ada yang salah dengan udara di lobi itu.Kemarin, saat ia berjalan melintasi marmer mengkilap ini, ia merasakan tatapan hormat, atau setidaknya rasa segan dari para karyawan. Tapi hari ini, atmosfernya berubah drastis. Udara terasa berat, lengket oleh kecurigaan.Suara langkah sepatu pantofelnya terdengar menggema, seolah menjadi satu-satunya suara yang berani memecah keheningan ganjil tersebut.Para staf resepsionis yang biasanya menyapa dengan senyum lebar kini buru-buru menundukkan kepala begitu melihatnya. Di sudut lobi dekat lift, sekelompok karyawan dari divisi pemasaran tampak berkerumun.Mata mereka terpaku pada layar ponsel masing-masing, jemari mereka bergerak lincah menggulir layar, lalu sesekali mendongak, melirik
Malam setelah rapat itu, Diego tak bisa tidur. Ia duduk di balkon Mansion Ortiz hingga dini hari, menatap cakrawala kota yang tak pernah benar-benar gelap.Kata-kata Vargas, “dari cleaning service langsung ke kursi rapat terus berputar di kepalanya, bukan sebagai ejekan, tapi sebagai pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri: Apa aku benar-benar layak?Andrew bilang itu baru pemanasan. Tapi tubuh Diego masih menegang seperti habis bertarung. Ia tahu, mulai besok, setiap langkahnya akan diawasi, setiap keputusannya akan dipelintir. Dan satu-satunya cara untuk membungkam mereka bukan dengan berbicara, tapi dengan bertindak.Sayangnya, keyakinan itu belum cukup kuat untuk mengusir rasa asing yang menyelinap saat melihat pantulan dirinya di cermin pagi ini.Cahaya pagi menerobos masuk melalui jendela besar Mansion Ortiz, memantul pada permukaan cermin setinggi tubuh di sudut kamar. Diego berdiri kaku di sana. Setelan jas bespoke berwarna charcoal itu membalut tubuhnya dengan presisi







