Share

Kencan Manis

last update Petsa ng paglalathala: 2024-12-14 18:44:01

"Gimana? Udah siap?"

Nilam melihat ke arah Jean sebentar dan menggangguk. Rasanya dia sudah siap untuk meluncur.

"Pegang tanganku!" titah Jean. Setelah Nilam melakukannya, Jean pun dengan hati-hati menarik tubuh Nilam untuk ikut berseluncur pelan. Posisi keduanya sekarang saling berhadapan satu sama lain dengan saling menggenggam.

"Liat aku aja, Nilam! Kalau kamu liat ke bawah, kamu malah nggak bakal fokus!"

Nilam mengangkat kepalanya setelah mendengar arahan Jean. Walaupun kesulitan tapi gadis
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Watiaza Watiaza
nah Lo Nilam,,sabar,,,sabar,,,sabar,,,ok Thor lnjuuut. ,sehat slll thor
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Happy Ending

    “Minum dulu, Mas Jean.” Jean menoleh. Elisha berdiri di sampingnya sambil menyodorkan gelas berisi jus jeruk dingin. Gaun putih yang ia kenakan menjuntai anggun, rambutnya masih tertata rapi meski wajahnya mulai terlihat lelah. Tapi senyumnya—senyum itu masih sama tulusnya seperti dulu. Jean mengambil gelas itu dan mengangguk singkat. “Makasih, Sha.” Elisha ikut menatap ke arah Qila dan Nilam di kejauhan. "Qila bahagia banget kayaknya." “Jelas dia bahagia,” jawab Jean pelan, menyesap minumannya. “Sebab, dia punya dua rumah yang penuh cinta sekarang.” Elisha mengangguk pelan. “Itu juga karena kamu.” Jean menoleh, sedikit heran. Elisha menarik napas sebelum melanjutkan, suaranya jujur dan tenang, “Meskipun dulu kita gak berhasil sebagai suami istri, kamu tetap ada buat aku. Gak semua orang bisa lakuin itu setelah berpisah. Bahkan setelah apa yang aku lakukan dulu.” Jean menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan kembali ke arah putrinya. Ia tersenyum kecil. “Kita pernah sama

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Hari Bahagia

    Di depan ballroom hotel yang elegan, lampu-lampu kristal berkilau menyambut setiap tamu yang datang. Karpet merah terbentang hingga ke dalam ruangan, sementara musik lembut mengalun dari arah panggung kecil tempat band memainkan lagu romantis. Aroma bunga segar menyebar di udara—kombinasi mawar putih dan lily yang tertata indah di setiap sudut ruangan.Jean memarkir mobil, lalu turun dan segera membuka pintu untuk Nilam. Ia menggandeng tangan istrinya dengan hati-hati, lalu menurunkan Qila dari jok belakang. Anak kecil itu langsung melompat kecil kegirangan begitu melihat pintu besar hotel yang terbuka lebar.“Waaah… rame ya, Pa!” seru Qila dengan mata berbinar.Jean mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Sayang. Hari ini Mama kan nikah sama Om Dion.”Nilam melirik Jean pelan. “Aku masih gak percaya sih Mba Elisha akhirnya menikah. Dulu dia sempat cerita takut gak akan pernah nemu orang yang bisa terima masa lalunya.”Jean mengangguk. “Dan lihat dia sekarang. Berdiri di panggung sama oran

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Tidak Ada Yang Cocok

    Setahun kemudian…Di sebuah apartemen, suara gerutuan kecil terdengar dari kamar utama. Dan itu berasal dari si pemilik kamar. Siapa lagi kalau bukan Nilam.Wanita itu berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi kesal. Lemari sudah setengah terbuka, isinya berantakan. Beberapa baju tergeletak di ranjang jelas ia sudah mencoba beberapa tapi tak ada yang cocok di matanya.“Kenapa semua baju kelihatan aneh sih di badan aku?” gerutunya pelan, menatap pantulan dirinya sendiri dengan frustasi. Tangannya memegang perutnya yang mulai membuncit—kehamilannya baru masuk bulan kelima, tapi Nilam merasa dirinya sudah seperti bola berjalan.Jean, yang dari tadi sibuk mengancingkan kemeja, akhirnya menoleh. Ia tersenyum kecil melihat istrinya yang gelisah sendiri. Tanpa banyak bicara, Jean berjalan pelan, memeluk Nilam dari belakang dengan kedua tangannya yang hangat.“Kenapa cemberut?” bisiknya di telinga Nilam.Nilam mendesah panjang, menyandarkan kepala ke dada Jean. “Baju aku gak ada yang coco

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Mencari Restu

    Begitu Dion membuka pintu, Elisha langsung mencium aroma khas rumah tua. Hangat… tapi asing. Ia nyaris menelan ludah ketika matanya menangkap sosok wanita paruh baya yang berdiri tegak di ambang ruang tamu. Usianya mungkin sekitar enam puluh, rambutnya disanggul rapi, dan sorot matanya… tajam. Tegas. Seperti semua desas-desus yang pernah Elisha dengar.“Selamat siang, Nek,” sapa Dion dengan nada ringan, seolah tak merasa terintimidasi sama sekali.“Hm,” jawab si Nenek, sekilas menatap cucunya lalu langsung mengarahkan pandangan dinginnya pada Elisha.Sejenak, Elisha terpaku.“Ini Elisha,” Dion memperkenalkan dengan santai. “Orang yang aku ceritain kemarin.”Nenek Dion tidak langsung bicara. Tatapannya menyapu Elisha dari atas sampai bawah, menilai tanpa kata. Elisha nyaris merasa ingin kabur dari rumah itu.“Masuk,” ucap si Nenek akhirnya, nada suaranya datar. “Ayo duduk!"Elisha otomatis mengikuti Dion melangkah masuk. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Elisha berusaha menyembunyikan t

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Semakin Serius

    Dion menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.“Boleh aku jujur malam ini?”Elisha diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.“Aku serius sama kamu, El.” Suara Dion terdengar tenang, tapi sorot matanya jelas. “Aku suka kamu. Udah lama. Sejak kita ketemu lagi di rumah sakit… perasaan itu makin jelas.”Elisha tertegun. Ia tidak langsung menjawab.Dion melanjutkan, nadanya pelan namun penuh keyakinan. “Aku gak minta jawaban sekarang. Tapi aku gak mau pura-pura lagi.”Elisha menggigit bibirnya. Lama. Tangannya mengepal di atas meja, napasnya terdengar berat.“Dion… aku…” suaranya nyaris berbisik. “Aku gak yakin.”“Gak yakin soal aku?” tanya Dion lembut.Elisha menggeleng cepat. “Bukan soal kamu. Kamu terlalu baik.”Dion mengernyit.“Aku yang merasa gak pantas.” Suara Elisha bergetar. “Aku ini mantan napi, seorang janda, punya anak. Masa laluku terlalu kelam. Gimana sama pendapat orang-orang? Jujur, aku merasa takut."“Kalau cuma karena masa lalu, kamu g

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Berawal Dari Kerja Sama

    Begitu sampai di sebuah kafe kecil dekat rumah sakit, Dion membukakan pintu untuk Elisha dengan sopan. Mereka memilih duduk di pojokan, sedikit terpisah dari pengunjung lain. Suasana cukup tenang, ditemani alunan musik jazz ringan yang membuat udara pagi terasa lebih santai.Elisha masih terlihat kaku. Sesekali ia mengusap telapak tangan ke celana jeans-nya sendiri, mencoba menyembunyikan kegugupan yang sebenarnya tidak perlu.Tak lama, setelah mereka memesan minuman, Dion langsung masuk ke topik tanpa basa-basi.“Aku ajak kamu ketemuan bukan buat ngobrolin masa lalu,” katanya sambil menatap Elisha langsung. “Bukan juga buat… urusan pribadi.”Elisha mengangguk cepat. “Iya. Aku paham kok.”Dion tersenyum tipis. “Tapi ada satu hal yang aku ingat soal kamu, El.”Elisha mengerutkan kening. “Apa?”“Kamu kan jago masak.”Elisha tertegun. “…hah?”“Aku masih inget tiap ada acara kecil di lapas, kamu yang paling sibuk di dapur. Kadang suka ngasih aku nasi goreng atau cemilan waktu aku keliling

  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Fokus Ke Diri Sendiri Dulu

    Suasana di dalam mobil terasa hening. Hanya suara mesin yang mengisi kekosongan di antara mereka. Lampu-lampu jalan menari pelan di kaca jendela, seolah mengiringi perasaan gundah yang masih menyelimuti hati Nilam. Tangan Jean memegang kemudi, sementara tatapannya sesekali mencuri-curi pandang ke a

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Ada Apa Sih Mba?

    "Jangan-jangan kamu mau resign ya Mba?" tebak Nilam dengan asal.Talita buru-buru menggeleng, terlalu cepat malah, sampai rambutnya ikut bergoyang. “Enggak! Bukan itu, bukan... aku gak mau resign, kok.”Rina dan Nilam sama-sama saling pandang. Keduanya makin curiga. Nilam menyandarkan tubuhnya ke s

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Aku Takut

    "Dikta..." "Kamu cukup kasih info aja Talita," sela Dikta sebelum perempuan itu selesai bicara. "Biar aku yang urus semuanya." Talita menghela napas panjang, menatap Dikta dengan ekspresi penuh pertimbangan. "Dikta, serius, aku beneran takut kamu bertindak gegabah." Dikta menyilangkan tangan di

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
  • Terjerat Gairah Pembantu Cantik   [S2] Hari-Hari Di Penjara

    Di dalam sel yang sunyi, hanya ada suara detak jam dinding tua yang menggema di lorong. Elisha duduk di sudut ranjang sempitnya, punggungnya bersandar pada dinding dingin yang mulai retak. Cahaya lampu redup di luar sel menyinari sebagian wajahnya, memperlihatkan garis-garis kelelahan yang semakin

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status