Share

SALAH PAHAM

Author: Anonara
last update Last Updated: 2025-12-26 16:39:58

"Aakh...!" ringis Jasmine, memegang kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.

Matanya terbuka perlahan. Pandangannya sempat buram sebentar sebelum akhirnya bisa benar-benar fokus.

Deg!

Ia mengenali tempat yang didominasi warna gelap ini. Sprei dan selimut selembut sutera, begitu hangat dan hati-hati bergesekan dengan kulitnya, furniture dengan warna netral yang mahal. Ranjang ini bahkan sangat besar dan empuk.

Tirai tebal menjuntai yang membiarkan celah tipis yang membuat Jasmine bisa melihat jelas, jendela kaca besar ruangan itu cukup buram karena air hujan.

Aroma maskulin yang sangat familiar di penciuman Jasmine, juga membuatnya yakin bahwa ini benar-benar tempat pria itu.

Kamar Damian.

"Kok aku bisa di sini?" gumam Jasmine merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia berakhir di tempat pria yang ia hindari tiga hari ini?

Bahu Jasmine melorot seketika. Ia seharusnya tidak nekat mengajak Anya ke bar semalam. Lebih gilanya, ia justru memesan minuman beralkohol. Tubuhnya yang belum perna
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   SENTUHAN MENENANGKAN

    Damian mengangkat wajahnya. Jasmine terhenyak saat melihat Damian dalam mode seperti ini. Matanya tidak setajam biasa, cenderung sayu. Terlihat sekali Damian sedang tidak baik-baik saja. Menyadari kehadiran Jasmine, Damian pun menurunkan kakinya.Jasmine semakin mendekat dengan lututnya. Saat Jasmine sudah berada di depan Damian, tepatnya di antara kedua kaki panjang Damian, gadis itu terdiam sebentar. Tak perlu menunggu Damian menjawab, Jasmine langsung menegakkan tubuhnya. Lalu meraih Damian untuk ia sandarkan di dadanya. "Mas Damian bisa peluk aku kalau memang mau." Jasmine menepuk pelan bahu Damian. Damian tidak banyak protes. Ia tetap menuruti Jasmine. "Aku akan nemenin Mas Damian malam ini," ucap Jasmine memeluk Damian yang masih diam itu.Tanpa adanya pemaksaan, Jasmine mengusap lembut rambut Damian lalu memeluk pria itu agar tidak merasa sendirian. Tangan Damian perlahan terangkat. Lalu melingkar di pinggang ramping Jasmine. Matanya terpejam, mencari kenyamanan di dalam

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   SISI LAIN DAMIAN

    "Tumben banget Mas Pierre nggak ada di bawah. Mas Damian juga kenapa malah tiba-tiba minta aku ke Amartha, ya? Katanya ke apart." Jasmine melangkah menaiki tangga menuju ruangan Damian dengan santai. Ia yang sudah dikenal baik oleh dua penjaga di bawah, membuatnya lebih mudah saat ingin ke ruangan Damian atau pun Renan. Ruangan yang dipenuhi dengan cahaya hangat dengan nuansa keemasan itu membuat wajah Jasmine ikut bersinar. Jika dulu ia menapaki tangga dengan gugup, malam ini tidak lagi.Langkahnya lebih tenang dan terukur. Tak terasa, beberapa saat Jasmine pun sampai di ruang atas-tepatnya di depan ruang pribadi Damian. Pintu besar dengan warna hitam mengkilap itu masih sama dengan yang ia lihat beberapa bulan yang lalu. Hanya saja sekarang ia tidak lagi merasa terintimidasi dengan benda kokoh itu. Tangan Jasmine baru saja menyentuh gagang pintu. Saat dorongan perlahan pintu tersebut ia lakukan, gerakannya tertahan. Suara penuh amarah seorang wanita lebih dulu menginterupsi di

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   SINGA BIRAHI

    "Aku nggak nyangka bakalan kerja di sini lagi! Bahagia banget, Kaak!" Anya langsung memeluk Jasmine begitu melihat Jasmine datang. Jasmine ikut senang. Bahkan rasanya seperti mimpi saat Damian mengatakan hal ini beberapa hari yang lalu. Yang lebih membuat Jasmine terkejut adalah kondisi galeri sama persis dengan saat ia kelola dulu.Mata Jasmine menatap Flo Art dengan takjub. Siapa yang sudah memindahkan beberapa lukisannya ke tempat ini? Rasanya ia seperti melihat sosok ibunya juga berdiri di tempat ini. Menatap galeri dengan penuh bangga dan kebahagiaan.Lukisan adalah salah satunya hal yang paling mengingatkan dirinya dengan sang ibu. Wanita yang sudah mengorbankan nyawa demi melahirkan dirinya itu seakan sedang tersenyum menawan pada Jasmine. "Jadi mirip dengan yang lama ya, Kak? Padahal pas sama Nyonya Stella, nuansa galerinya sangat berbeda." Anya pun ikut berkomentar. "Iya. Kamu benar." Jasmine mengangguk setuju. "Jasmine!" Damian muncul dengan membawakan buket bunga besar

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   MASIH KECEWA

    "Jasmine? Udah bangun belum?" Jasmine mendengar samar-samar seseorang meneriaki namanya dari luar. Bukannya langsung terbangun, Jasmine malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya dan kembali melanjutkan tidurnya. Setelah semalaman menangisi kisah cintanya yang jauh dari kata bagus, Jasmine baru bisa tidur saat jam 2 dini hari. Alhasil, pagi ini matanya masih sangat mengantuk. "Jasmine? Ayo bangun dulu!" Panggilan itu kembali terdengar. Namun, Jasmine benar-benar malas kali ini. Seperti ada lem yang melekatkan matanya hingga sulit terbuka. Namun, tidurnya yang damai tiba-tiba saja terganggu dengan suara Renan yang semakin menjadi-jadi. Padahal seingat Jasmine, semalam Damian mengatakan bahwa Renan ada pertemuan. Biasanya kakaknya itu akan menginap di hotel ataupun tempat lain. "Jasmine?" Jasmine tetap pada keputusannya. Malas sekali harus bangun pagi-pagi begini. Di saat Jasmine sedang berusaha terlelap kembali, suara pintu terbuka terdengar. "Saya tahu kamu sudah bangun

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   HATI YANG LELAH

    Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Langit yang sepanjang hari tampak membiru cerah, kini sudah berganti gelap pekat. Tak ada matahari, melainkan taburan bintang-bintang serta bulan yang tak malu menunjukkan cahayanya. Motor vespa Sean dengan warna unik itu berhenti tepat di depan pagar rumah Jasmine. Tawa mereka berdua terus berderai, beradu dengan suara kendaraan yang berlalu lalang. Kebetulan rumah Jasmine memang berada di komplek perumahan yang penghuninya memang aktif beraktivitas jika masih jam segini. Jasmine segera turun dari jok belakang. Kemudian lekas melepaskan helmnya untuk segera diberikan kepada Sean. "Makasih, ya. Kamu hari ini udah mau nemenin aku jalan-jalan." Sean menerima helm yang diulurkan Jasmine. Tawa kecil lolos dari bibirnya. "Santai. Besok kalau masih mau jalan-jalan kabarin aja. Nggak usah sungkan." Jasmine mendengus geli. Jemarinya bergerak pelan merapikan rambut panjangnya. "Nagih ya jadi ojek online?" Mata Sean melengkung selaras dengan bibi

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   ES KRIM MOODBOOSTER

    "Mau nangis juga nggak apa-apa. Di sini juga sepi. Jadi aman!" kekeh Sean setelah meletakkan semangkok es krim di hadapan Jasmine. Jasmine buru-buru memalingkan wajahnya ke arah taman kanak-kanak yang tidak jauh dari kedai es krim bernuansa biru dan merah muda ini. Ia tentu tidak akan menunjukkan kesedihannya ke hadapan Sean. Seperti yang tadi Sean katakan, letak meja yang dipilih pria itu letaknya di sudut outdoor kedai. Tidak terlalu ramai dibandingkan dengan di dalam kedai.Taman kanak-kanak yang justru menjadi titik pandangan Jasmine juga sudah sepi sebab sudah jadwal pulang. "Es krimnya ngambek loh kalau kamu anggurin begitu." Suara Sean masih terdengar. Jasmine tidak kunjung bersuara. Namun, ia menoleh pada sosok yang selalu menunjukkan raut bahagianya ini. Kemudian, pandangan Jasmine teralihkan ke depan meja. Meski tidak langsung tersenyum, tapi raut sedih Jasmine perlahan menguap. Tergantikan ekspresi yang tertahan untuk tidak tertawa saat melihat mangkok ukuran sedang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status