LOGINSudut Pandang Rosie:Hari Rabu, aku sampai di rumah pukul 4.30 sore.Hari ini sebenarnya biasa saja. Pagi tadi aku mengajar tiga kelas, lalu sorenya ada rapat staf yang berlangsung jauh lebih lama dari seharusnya untuk membahas hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat email.Dalam perjalanan pulang, aku sempat mampir ke toko kelontong di kompleks untuk membeli roti dan yogurt kesukaan Lucy. Yogurt ini sepertinya hanya dijual di toko itu. Dari toko sampai ke gedung apartemenku hanya butuh waktu sekitar empat menit jika berjalan kaki.Aku sudah menempuh jalan itu ratusan kali. Namun, kali ini aku tahu ada sesuatu yang tidak beres bahkan sebelum mencapai pintu apartemenku.Awalnya, aku sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa. Hanya saja, rasanya berbeda. Ada sesuatu pada suasana di tangga. Ketenangan lorong yang sudah kukenal terasa terusik. Bertahun-tahun hidup dalam kewaspadaan membuatku belajar memercayai firasat semacam ini.Namun, belakangan aku akhirnya mulai menurunkan kewaspa
Sudut Pandang Aiden:"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya."Soal Lucy ....""Bukan soal Lucy," potongnya. "Aku sudah tahu apa yang kamu inginkan dari Lucy. Gimana dengan Rosie, apa yang kamu inginkan darinya?"Aku menunduk menatap cangkir kopi.Sebenarnya aku bisa saja mengambil jalan aman. Memilih kata-kata dengan hati-hati, memberinya jawaban yang penuh pertimbangan yang mengakui betapa rumitnya semua ini, menghargai perasaan semua orang, sekaligus mengakui bahwa situasinya masih sangat rapuh.Jawaban itu sebenarnya sudah kusiapkan. Jauh di lubuk hati, aku tahu pertanyaan ini akan datang. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menjawabnya jauh sebelum aku mau mengakuinya kepada diriku sendiri.Namun kali ini, aku membuang semua jawaban yang sudah kusiapkan."Aku ingin mendapatkan kembali hak untuk bertanya, apa dia bersedia mengizinkanku menjadi bagian dari hidupnya lagi," kataku. "Itu saja."Aku menatap matanya. "Aku nggak akan memaksanya. Aku nggak akan terburu-buru, nggak akan menjadika
Sudut Pandang Aiden:Jeffery mengirimiku pesan pada Jumat pagi. Pesannya singkat.[ Restoran Marsh. Siang. Kalau kamu mau. ]Kata terakhir itu, "kalau kamu mau", mengubah segalanya. Ada garis tak kasatmata yang membedakan sebuah perintah dengan sebuah ajakan. Begitulah caranya mengajak. Aku sudah mengenalnya selama 15 tahun.Aku tahu persis bagaimana caranya bertindak. Singkat, tak ada kata-kata yang tidak perlu. Cukup samar untuk memberinya kesempatan mundur tanpa kehilangan harga diri kalau aku menolak.Aku membalas pesannya.[ Aku akan ke sana. ]Restoran itu sudah menempati sudut jalan yang sama selama 30 tahun dan mungkin belum pernah dicat ulang setidaknya selama 20 tahun terakhir.Meja-meja Formica, sofa bilik berlapis vinil yang retak dan ditambal dengan potongan selotip tebal, bar panjang dengan deretan bangku, serta mesin kopi tua yang seolah tetap menyala hanya karena keras kepala.Saat jam makan siang, tempat itu penuh sesak, sama seperti restoran-restoran lainnya. Para pel
Sudut Pandang Rosie:Aku menatap meja di depanku."Sulit dipercaya," ucapku."Aku tahu.""Semua itu nggak akan menghapus apa yang sudah dia lakukan.""Aku setuju." Nada bicara Jeffery menjadi lebih hati-hati. Dia menimbang setiap kata, seperti yang selalu dilakukannya saat berusaha bersikap jujur dan adil.Itu sesuatu yang selalu terasa lebih berat baginya, tetapi tidak pernah dia tunjukkan. "Aku nggak memintamu mengubah pandanganmu tentang dia. Aku juga nggak menyuruhmu memaafkannya. Aku cuma menceritakan apa yang kulihat."Aku kembali mengangkat cangkir teh."Aku nggak tahu gimana caranya memaafkan dia," kataku. Entah kenapa, mengucapkannya keras-keras sekarang terasa lebih mudah. Bahkan aku sendiri kaget mendengar betapa jelasnya kata-kata itu saat dilontarkan."Aku nggak tahu seperti apa bentuk memaafkan itu. Aku nggak tahu apa yang harus dilakukan untuk sampai ke sana. Nggak ada buku petunjuk untuk hal seperti ini.""Aku juga nggak tahu," sahut Jeffery."Dia sudah menyakitiku samp
Sudut Pandang Rosie:Jeffery sudah tiga minggu berada di kota ini dan belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi.Menurutnya, dia mengambil cuti karena sudah mengumpulkan terlalu banyak jatah libur dan tidak punya tempat lain untuk dituju.Dia baru saja bertemu dengan keponakan yang nyaris tidak dia ketahui keberadaannya, juga seorang adik yang sudah hampir tujuh tahun tidak benar-benar dia ajak bicara.Rupanya, atasannya cukup memahami situasi keluarganya yang tidak biasa itu. Atau mungkin Jeffery memang tahu persis apa yang harus dikatakan agar atasannya mengizinkannya. Mungkin juga dua-duanya.Apa pun alasannya, dia tetap di sini. Dia menumpang tidur di sofa apartemenku, yang sebenarnya kependekan untuk tubuhnya meski dia tidak pernah mau mengakuinya. Selebihnya, dia sibuk menguras persediaan makanan di dapurku, seolah bertahun-tahun hidup dari jatah ransum tentara harus ditebus sekarang juga.Lucy bilang dia merasa sangat senang dengan keberadaan Jeffery. Jeffery pun jelas merasa be
"Terima kasih sudah meneleponku.""Kamu memang sedang menunggu teleponku," balasnya. Nada bicaranya sama sekali tak terdengar menuduh. Dia hanya menyampaikan kenyataan."Ya." Aku mengakuinya.Suasana hening sejenak. Keheningan itu sudah begitu familier di antara kami. Dulu mungkin akan terasa canggung, tetapi sekarang kami tak lagi merasa harus mengisinya dengan kata-kata."Kalau nanti kamu ingin bicara, telepon aku lagi," ucapku."Ya, mungkin," gumamnya sebelum menutup telepon.Aku masih duduk di kursi. Ponsel yang sudah tak bersuara masih menempel di telingaku.Akhirnya, aku mengakhiri panggilan dan mengalihkan pandangan ke "Kepulangan". Dalam benakku, aku kembali memikirkan semua yang masih harus kulakukan. Rosie sudah memenangkan pertarungannya. Sekarang, giliranku memulai pertarunganku.Orang pertama yang kuhubungi adalah detektif swastaku. Setelah dia mengangkat telepon, aku langsung menjelaskan apa yang kuinginkan.Aku membutuhkan laporan investigasi lengkap tentang Elena yang d







