MasukKanara membeku. Dadanya bergolak antara marah, jijik, dan rasa tidak percaya. Namun, di balik amarahnya, dia juga sadar. Arga tampan, terlalu tampan bahkan. Tapi semua itu tak ada artinya kalau isinya busuk. Laki-laki itu, di matanya, tetap brengsek, seindah apa pun tampilan luarnya.
Kedua tangan Kanara mengepal di sisi tubuhnya. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena amarah yang dia tahan mati-matian. Dia datang ke rumah ini bukan untuk dipermainkan, bukan untuk direndahkan oleh orang-orang sok berkuasa yang minim akhlak, yang merasa uang bisa membeli segalanya, termasuk harga diri manusia. “Brengsek,” desis Kanara dingin, sebelum akhirnya berbalik, melangkah pergi meninggalkan Arga. Namun belum sempat dia menjauh, genggaman kuat menahan lengannya. Arga menariknya pelan, memaksanya berbalik menghadapi tatapan laki-laki itu lagi. “Kau masih merasa bisa sombong, Kanara?” suara Arga terdengar lebih rendah, lebih tajam. “Ibumu mungkin sudah tidak tertolong saat kau sampai di sana.” Kalimat itu seperti pukulan telak ke dada Kanara. Napasnya tercekat, emosi meledak. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat tangannya, menampar pipi Arga dengan keras. “Jaga mulutmu!” serunya, suaranya bergetar antara marah dan luka. Tapi Arga hanya tertawa. Bukannya tersinggung, dia malah mengangguk kecil, seperti pria yang sudah memperkirakan semua reaksi Kanara. “Mungkin kau butuh waktu,” ucap Arga santai, senyumnya kembali mengembang. “Ranjangku siap menunggumu untuk dihangatkan… kapanpun kau siap.” Tanpa menunggu balasan, Arga menyerahkan payung hitam besar itu ke tangan Kanara. Jemarinya menyentuh jemari Kanara sekilas, dingin… namun penuh kesan menguasai. Lalu dia pergi, meninggalkan Kanara berdiri sendiri di bawah hujan, bersama harga diri yang remuk dan pilihan yang makin sempit. *** Kanara sampai di rumah sakit dengan pakaian yang masih setengah basah. Tubuhnya menggigil, entah karena dingin, hujan, atau karena hidupnya yang terasa semakin kosong. Langkahnya terhenti di depan pintu ruang perawatan. Dari balik kaca kecil di pintu itu, dia melihat ibunya terbaring lemah. Wajah pucat, tubuh yang makin kurus, selang infus terpasang di pergelangan tangan, dan alat medis yang terus memantau detak jantungnya. Dadanya langsung sesak. Napasnya tercekat. Semua beban seolah menindihnya dalam satu waktu. Tanpa sadar, lutut Kanara melemah. Tubuhnya jatuh, merosot perlahan ke lantai dingin koridor rumah sakit. Punggungnya bersandar di dinding, lututnya ditarik ke dada, seluruh tubuhnya gemetar. Tangis itu akhirnya pecah, tak terbendung lagi. Namun Kanara buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba meredam isakannya agar tak terdengar. Dia tidak mau orang lain melihatnya hancur, tidak mau ibunya mendengar tangis putus asa putrinya di luar sana. Tapi rasanya… menyakitkan. Terlalu menyakitkan. Hatinya seperti dicabik-cabik. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Tidak tahu harus bertahan dengan cara apa. Semua pintu seolah tertutup, semua pilihan terasa menghina harga dirinya. "Tuhan… aku harus bagaimana?" bisiknya dalam hati, suara hatinya nyaris tak terdengar di tengah kekacauan emosinya sendiri. "Aku tidak punya siapa-siapa. Aku tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Aku… lelah." Tangannya mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya. Tapi semakin dia mencoba kuat, semakin besar keputusasaan itu menelannya. "Apa ini ujungnya? Aku cuma mau Ibu sembuh… cuma itu. Tapi kenapa jalannya sesempit ini?" "Apa aku harus serendah itu? Apa aku harus menerima tawaran Arga, jual diri sendiri… demi biaya rumah sakit?" Tangisnya tertahan di tenggorokan, membentuk gumpalan yang sakitnya bukan main. "Kalau aku menerima… apa aku masih bisa lihat wajah Ibu tanpa rasa malu? Apa aku bisa tetap menghargai diriku sendiri?" Tapi di benaknya, bayang-bayang Arga masih mengendap. Tatapan laki-laki itu, kata-katanya yang menghina… namun kini perlahan terdengar seperti satu-satunya jalan keluar. Sialnya… dia mulai berpikir tentang itu. Dan itu saja sudah cukup membuatnya muak pada dirinya sendiri.Rumah itu kembali tenang. Sarah tidak lagi tinggal bersama di rumah ini, dia di jemput pulang oleh suaminya Riko. Setelah semua kebohongan, manipulasi, dan drama yang Sarah buat terbongkar, udara di dalam rumah terasa jauh lebih ringan. Seperti satu beban besar akhirnya tersingkirkan.Luna sedang mengganti bunga di vas ruang tengah ketika pintu utama terbuka. Athalla masuk, menutup pintu pelan, seolah tidak ingin merusak ketenangan yang baru stabil.Luna menoleh. Athalla berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan sorot mata yang sudah lama tidak ia lihat hangat, teduh, penuh ketulusan yang dulu membuat Luna jatuh cinta tanpa pikir panjang."Kau sudah pulang," ucap Luna lirih."Aku sudah pulang," jawab Athalla, langkahnya mendekat perlahan. Luna berhenti merapikan bunganya. "Bagaimana Sarah?""Dia kembali bersama suaminya. Mereka akan memperbaiki semuanya," jawab Athalla. “Dan aku sudah membatasi diriku. Tidak akan mencampuri urusan mereka lagi.”Ada kelegaan kecil yang muncul di dada
Athalla pulang lebih cepat setelah Bu Asih menelponnya dan mengatakan bahwa Sarah sakit. Luna sedang pergi ke butiknya, jadi Athalla memutuskan segera pulang.Di kamar, Sarah terbaring lemah. Begitu Athalla masuk, Sarah langsung berusaha bangkit. Athalla refleks menahan bahu perempuan itu dan membantu mendudukannya.“Kita ke dokter,” ucap Athalla tegas.Sarah cepat-cepat meraih tangannya, menggenggam erat seolah takut Athalla akan pergi begitu saja. “Thal, sudah cukup.” Suaranya lirih namun penuh tuntutan. “Kau berhasil membuatku sadar bahwa aku juga mencintaimu. Kalau tujuanmu menikah hanya untuk membuatku cemburu, kau berhasil. Aku akan mengurus surat cerai secepatnya…”“Sarah…” Athalla menatapnya tidak percaya. Dugaan itu jauh dari apa pun yang ia bayangkan. Ia tidak mungkin melangkah sejauh menikahi Luna hanya untuk permainan kecil seperti itu. “Aku benar-benar mencintai Luna.”“Stop, Athalla.” Sarah memotong, wajahnya berubah getir. “Aku tidak ingin mendengar omong kosong itu.”A
Sarah berdiri kaku di depan pintu kamar tamu, jari-jarinya menggenggam gagang pintu sampai memutih. Suara-suara itu terdengar jelas. Terlalu jelas. Dinding rumah Athalla tidak cukup tebal untuk menutupi apa yang sedang terjadi di kamar pengantin baru itu.Napasnya tercekat ketika Luna menyebut nama Athalla dengan suara yang tak berusaha disembunyikan, bahkan seolah sengaja meninggikan nada di beberapa bagian. Setiap desah, setiap helaan napas, seperti pukulan telak yang mendarat di dada Sarah tanpa ampun.Sarah tidak tahu apakah Luna sengaja atau memang mereka sedang terlalu larut. Tapi dari cara Luna menyebut nama Athalla tidak ada keraguan lagi. Itu provokasi. Pamer kekuasaan. Pengingat kalau Athalla bukan miliknya sejak lama dan kini tidak akan pernah jadi miliknya.Sarah mundur selangkah, lalu bersandar ke dinding, menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tidak terdengar. Dadanya naik turun cepat, bukan hanya karena malu tapi karena marah. Panas. Tersinggung. Terkhianati oleh
Mobil berhenti di halaman rumah. Begitu Athalla menoleh, Luna sudah tertidur di kursi penumpang dengan napas teratur.Athalla turun lebih dulu, lalu membukakan pintu samping. Ia merunduk, melepas sabuk pengaman Luna dengan hati-hati sebelum menyelipkan satu tangan ke bawah tubuh Luna untuk mengangkatnya.Gerakan Athalla terhenti ketika lengan luna melingkar di lehernya. Mata luna yang semula terpejam kini menatapnya dengan penuh godaan, napasnya hangat menyentuh pipi Athalla yang masih menunduk.“Luna...” suara Athalla melemah, antara terkejut dan tak berdaya dibuatnya. “Kau pura-pura tidur?”Luna tersenyum kecil, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan tawa. “Siapa bilang pura-pura tidur? Aku hanya menunggu kau menggendongku.”Athalla hendak menarik diri, tapi luna menahan tengkuknya, menarik wajah mereka semakin dekat. Sentuhan itu membuat dada Athalla mengencang, seolah sinyal tubuhnya langsung bereaksi tanpa bisa ia cegah.“Apa kau ingin mencobanya di dalam mobil, hm?” goda
“Ikutlah makan malam disini, Thal.” Ucap Arga mengusulkan.Athalla yang sejak tadi memperhatikan Luna yang berjalan naik tangga bersama Kanara akhirnya menoleh. Ekspresinya datar, tapi ada kegelisahan yang tidak berhasil ia sembunyikan.Arga mengamati perubahan kecil itu. “Kau sedang ada masalah dengan Luna?” tanyanya langsung.Athalla terdiam sesaat.Arga menghela napas pelan. “Pengantin baru tidak seharusnya saling menghindar. Luna memang gampang tersinggung kalau menyangkut orang yang dia sayang, tapi kau tahu sendiri, dia bucin setengah mati denganmu.” Nada Arga lembut, bukan menghakimi. “Dan aku tahu kau juga begitu, hanya saja kau sering terlihat dingin. Luna tidak akan bilang apa-apa. Kau yang harus peka.”Athalla tidak membalas, tapi caranya mengeraskan rahang sudah cukup menjadi jawaban.***Malam itu, mereka berempat makan bersama di meja makan Arga. Kanara sibuk mengatur piring Hiroshi yang terus mengulurkan tangan ingin mencicipi makanan dari piring mamanya. Arga menggendo
Setelah pulang bekerja, Athalla tidak langsung menuju rumah. Pikiran yang sejak pagi memberatkan kepalanya membuat pria itu memutar kemudi ke arah lain, rumah Arga.Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan di ruang kerja Arga. Pintu ditutup, percakapan yang selama ini tertunda akhirnya menemukan waktunya.Arga membuka berkas yang sudah ia siapkan. “Aku sudah pikirkan ini lama,” ucapnya, suaranya tenang namun jelas membawa beban. “Ayah punya saham cukup besar di perusahaan. Dan, Thal kau juga berhak atas itu sama seperti aku.”Athalla terdiam. “Arga—”“Tunggu dulu.” Arga mengangkat tangan, menghentikan bantahan yang sudah terlihat dari ekspresi saudaranya. “Aku cuma ingin semuanya jelas sejak awal. Kita keluarga. Aku tidak ingin urusan harta nanti malah jadi api untuk anak-anak atau cucu kita. Ayah mungkin punya caranya sendiri, tapi aku tidak mau kita mengikuti pola yang sama.”Athalla menarik napas panjang, menatap meja sebentar sebelum mengangkat wajah. Ada sesuatu







