Masuk“Well… Thank you. Sekarang tolong jawab saja pertanyaannya,” sahut pria itu, seringai menyebalkan masih terpampang nyata diwajahnya.
Sungguh, aku tidak akan pernah merasa sedikitpun terintimidasi oleh pertanyaannya yang sama sekali tidak berguna. Jika saja matanya itu tidak terlalu mempesona, aku pasti sudah mencoloknya dengan pena yang ada di saku kemejaku sekarang juga. Astaga, aku tidak bisa berkelit ketika aku menyadari seberapa besar pengaruh kedua mata pria itu terhadapku. Ia berhasil membuatku tidak nyaman, dan merasa … panas? “Sekarang bisakah kita langsung bicarakan saja soal pekerjaan saja, Pak? Saya kemari bukan sebagai teman bicara tetapi sebagai asistenmu dan saya harus memastikan naskahmu cukup bagus dan selesai dalam batas waktu yang telah diberikan,” kataku yang mencoba mengalihkan pikiranku sendiri dan membawa pria itu langsung to the point terhadap topiknya. Senang rasanya bisa memberi tahu orang congkak itu bahwa aku disini semata-mata untuk urusan bisnis. Ia mengangkat alis, tatapannya kini tertuju padaku dan memberikanku sebuah definisi akan sarkasme lewat gesture tubuhnya. “Oh pikirmu asistenku hanya bekerja seperti itu? Kalau sudah setuju dibayar tiga kali lipat mestinya kau cukup tahu diri dengan bersedia memasak untukku, membersihkan rumah, dan menghiburku saat aku sedang bosan. Bukankah itu yang dinamakan dengan pekerjaan seorang asisten?” Aku hanya menatapnya dengan rasa yang kompleks. Namun yang paling dominan kurasakan adalah amarah dan juga terhina. Seluruh rasa itu bergemuruh di dalam lubuk hatiku. Sekarang aku tahu alasan kenapa ada banyak orang yang tidak betah bekerja dengannya, karena barangkali dia adalah sosok bajingan yang paling parah yang pernah hidup di dunia dan tidak bersikap seperti manusia normal pada umumnya. “Berarti yang kau butuhkan adalah seorang pembantu dan bukan aku. Kalau itu yang kau mau dariku, aku pergi dari sini!” sahutku seraya menghentak kaki dengan keras untuk memperlihatkan seberapa marahnya aku saat diremehkan. Aku jadi tidak peduli lagi kalau-kalau Bu Soraya menggangguku soal si Jarrel sialan ini. Aku merasa masih bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain meskipun memang tidak sepadan dengan gaji yang bisa aku dapatkan dengan menjadi asisten pria gila ini. Aku bekerja sebagai asisten seorang penulis dan bukan untuk menjadi pembantu pribadi bagi mereka. “Sialan!” aku bergumam seraya meraih kenop pintu, hendak membukanya ketika sebuah tangan besar tiba-tiba saja menahan pergerakan tubuhku dari belakang. Aku bisa merasakan kehadiran Jarrel yang memabukan dari belakang tubuhku. Aku memutar kepala untuk melotot kepadanya dan terkejut bukan kepalang ketika aku menyadari seberapa dekat wajahnya dengan wajahku. Ini terlalu dekat! Apa dia sudah gila dan otaknya tidak berfungsi dengan benar? “Apa-apaan ini?!” sergahku emosi mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi hasilnya malah semakin sulit bagiku untuk keluar dari jeratannya. Ia melingkarkan tangannya di pinggangku dengan cara yang sungguh posesif bahkan seolah tidak mendengar teriakanku dia malah menarik diriku untuk lebih mendekat pada tubuhnya. Punggungku langsung membentur dadanya yang keras dan membuatku menggigil karena sesuatu yang sulit untuk dapat di jelaskan. Pria ini dan maskulinitasnya membuatku tidak berkutik. Dia sungguh berbahaya. Bahkan hanya dalam waktu yang terbilang singkat dan entah bagaimana mulanya, Jarrel kemudian mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat lagi denganku sehingga kami benar-benar merapat satu sama lain, saat itulah pikiranku tiba-tiba saja keluar dari kepala. Apalagi ketika aku menyadari tangannya yang semula berada di pinggangku secara lembut dan perlahan-lahan mulai menelusuri diriku dan kini tepat berada di area pribadiku. Dia … Oh tidak! mati aku! Saat aku berpikir Jarrel benar-benar akan menyentuh area itu, rupanya pria itu malah menarik dan menyeretku untuk kembali ke ruang tamu. Apa udara di rumah ini membuat isi kepalaku mudah kotor? Kurasa begitu, karena sebelumnya aku bukan tipe perempuan yang gampang terdistraksi oleh hal-hal gila macam ini. “Apa sih yang sedang kau perbuat? Lepaskan aku dasar bajingan! Ini pelecehan!” Aku memprotes apa yang ia lakukan sambil berusaha untuk melepaskan diri dan mencoba menjauh darinya sebisa mungkin. Kulitnya yang telanjang membuatku merasa panas dan aroma yang menguar dari sana seolah memiliki daya pikat yang membuat kepalaku terasa pusing. Aku tidak menyukainya sama sekali, apalagi ketika menyadari bahwa aku nyaris terhipnotis oleh sesuatu yang sederhana semacam itu. Sungguh, ini pengalaman baru yang menyebalkan dibandingkan dengan apa pun juga. Persetan! “Ya, kupikir aku tidak bisa membiarkanmu pergi dengan begitu mudah untuk yang kedua kalinya setelah di upaya pertama kau kubiarkan lari. Kau adalah asistenku sekarang, dan kau akan membantuku suka atau pun tidak karena itu adalah perjanjiannya. Aku juga sudah keluar uang untuk merekrutmu,” sahut Jarrel seolah tidak ambil pusing atas seluruh pemberontakan yang aku lakukan. Ia malah dengan sangat mudah menyeret tubuhku bersamanya seolah aku hanyalah boneka kapas biasa yang bisa dia pindahkan sesuka hati dan tanpa daya sama sekali. Begitu tiba di ruang tamu, tanpa tedeng aling-aling Jarrel melemparkan tubuhku ke atas sofa dengan kedua mata yang memandangku seolah aku adalah manusia paling rendah di muka bumi. Lengan berototnya bersilang di … sial! kenapa aku malah salah fokus dan berpikir bahwa dadanya yang bidang dan keras sangat menggoda keimanan dan bisa-bisanya aku menatapnya dengan pandangan lapar? Aku memberengut pada orang itu, kesal dan marah jelas adalah ekspresi pertama yang bisa aku perlihatkan pada si pria sombong yang sedang berdiri setengah telanjang tanpa malu di hadapanku sekarang. Sebagian dari diriku ingin sekali menghajarnya. Karena jujur saja, biasanya memang itu adalah upaya pertama yang akan aku lakukan bila mana berhadapan dengan seorang pria kurang ajar di mana pun aku berada. Tetapi untuk kasus ini, sebagian dari diriku seolah menahan diri agar tidak salah kaprah dan memberiku peringatan bahwa hal itu kurang bagus untuk dilakukan. Jarrel hanyalah tipe pria yang sepertinya tidak suka ditentang, jadi alih-alih memberontak maka aku memutuskan untuk menjadi anak baik bertipe damai dalam menghadapinya. “Persetan! Aku sudah bilang kalau aku berhenti!” kataku pada akhirnya setengah berteriak. Dia cuma menyeringai, matanya yang berwarna biru tampak dipenuhi dengan seluruh ketertarikan aneh yang tidak terdefinisi. “Tidak boleh berkata kasar, Manis. Kalau kau seperti itu terus aku bisa kehilangan kendali dan menyerangmu,” katanya yang membuatku seketika kaku. Lalu ia menatapku dengan serius setelahnya. “Aku juga sudah bilang padamu bahwa kau tidak bisa lari atau pun berhenti. Kau sudah menyetujui dan menandatangani kontraknya. Bersikaplah tahu diri karena kau sudah aku bayar.” Aku hanya bisa melotot, berdebat dengan bajingan ini hanya buang waktu dan energi saja. Dia keras kepala dan aku bisa jamin bahwa tekadnya bahkan bisa jadi jauh lebih besar daripada yang aku miliki. Tetapi kontradiksi dari logikau tentangnya makin berbenturan. Semakin aku melihat dirinya dari sudut ini semakin membuatku berpikir bahwa ia pria yang seksi. Kedua matanya yang tajam bak elang dilengkapi dengan tubuh tinggi besar menambah estetika dari tubuh seorang pria dewasa. Dan Oh—tunggu! Apa yang baru saja aku pikirkan? Merasa kalah dengan visual yang luar biasa darinya, aku menyilangkan kedua tanganku dan mengalihkan pandanganku dari tubuhnya. “Whatever,” sahutku. Aku mungkin memang sudah ditakdirkan untuk bekerja dengannya meskipun hal ini akan membuatku setengah gila, tetapi segala sesuatu bukankah memang layak untuk dicoba?Ia hanya menertawakanku, mengabaikan tatapanku yang mematikan dan menyeretku menuju Jacuzzi di mana sebotol anggur merah dan dua gelas kosong telah menunggu. Jadi ia mengajakku untuk minum dulu sebelum melakukannya? itu bagus sekali. Karena aku memang merasa perlu alkohol ditubuh untuk menghilangkan kegugupan bodoh yang saat ini bersemayam di dalam dadaku.“Ayo kemari,” ajaknya sambil melepaskan kemeja dan celananya sendiri. Membuangnya ke lantai secara sembarangan. Kemudian dia juga melepaskan sandalnya dan membuat kekacauan kecil ketika ia dengan santainya melepas satu-satunya kain yang menempel di bagian bawah tubuhnya, memperlihatkan kejantanannya yang sudah setengah keras dan pantatnya yang bulat. Tenggorokanku mendadak terasa kering dan kurasa jantungku akan melompat keluar dari tenggorokanku, kurasa ekspresiku sekarang sudah seperti ikan yang keluar dari dalam air. Kalau Jarrel? Jangan ditanya. Ia malah dengan santainya masuk ke jacuzzi, duduk di tepi sambil menatapku penuh har
Kami keluar dari keluar dari jacuzzi setelah dua jam berlalu untuk kembali ke kamar kami. Jarrel bilang ia sudah meminta pada pihak dapur membuatkan sesuatu untuk makan malam yang rencananya akan digelar di sun deck. Aku rasa pikiran laki-laki itu sudah terpusat pada seks menyenangkan di jacuzzi tepat di bawah sinar rembulan dan bintang malam hari, alih-alih menikmati makan malam romantis seperti pasangan pada umumnya.Namun, tentu saja sebelum itu betul-betul terjadi aku sudah mengatakan padanya bahwa itu sangat konyol dan aku tidak mau melakukannya di ruang terbuka. Meski ya, jauh di lubuk hati aku sedikit berdebar-debar membayangkan bahwa hal itu akan betul-betul terjadi. Terlepas dari apakah Jarrel akan menurutiku untuk tidak melakukannya atau akan memaksakan kehendaknya seperti biasa dengan aku yang akan berpasrah terhadap keadaan kami berdua nantinya. Lagipula aku memang pembohong yang buruk dan Jarrel tahu itu.Setibanya di kamar pria itu memilih langsung berbaring di ranjang.
Jeda beberapa saat sampai ekspresinya berubah seakan ia baru menyadari sesuatu dan seringai khasnya kembali terbit membuat bulu kudukku berdiri. “Don’t tell me that you really are,” ujarnya jahil.Aku bisa merasakan seluruh wajahku terbakar karena malu dan berusaha untuk menghindari tatapannya. “T—tidak, aku tidak! aku hanya terkejut karena kau belum memberitahuku soal itu. Maksudku, yang kau lakukan hanyalah bersikap manis dan romantis ketika kau ingin bercinta dan kau menunjukan emosimu dengan tindakan tanpa kata-kata. Asal kau tau saja, aku terkadang selalu bertanya-tanya tentang motifmu. Kau harus mengatakannya juga, karena aku memerlukan itu. Karena kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tentu saja aku jadi punya kekhawatiranku sendiri. Aku sering mengatakan kalau aku mencintaimu tetapi aku tidak pernah mendengarnya dari mulutmu dan umm…” Ah, tidak … aku mulai tergagap. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan dan disaat yang sama aku malah bertingkah se
“Maafkan aku, Yaya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud menutupi ataupun berbohong padamu,” jelasnya, dari suaranya aku bisa mend begitu kental dengan rasa bersalah yang mendalam, sejenis nada yang tidak pernah aku dengar dari dia sebelumnya. “Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangatlah egois dan aku adalah lelaki brengsek yang menyembunyikannya darimu padahal kau berhak tahu. Tapi sungguh, Yaya, aku tidak pernah punya niat untuk menyakitimu sama sekali. Aku sungguh berpikir bahwa hal seperti ini tidak perlu kau ketahui karena hanya akan merusak hubungan kita. Lagipula aku sejak awal tidak pernah peduli tentang itu dan aku juga tidak suka mengetahui kalau kau mencemaskan hal yang aku tidak pernah pikirkan.”Aku sungguh dibuat terkejut oleh seluruh argument yang ia katakan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil sikap seperti ini. Memberiku penjelasan sembari memelukku seraya menyiramiku dengan penuh kasih sayang dengan cara bicaranya y
“Yaya?”Shit.Aku berbalik dan menyeka air mata sialan ini dari pipiku. Apa yang baru saja aku perbuat? Tiba-tiba saja aku malah menangis seperti orang bodoh didepannya, cara yang bagus untuk merusak moment di hari ulang tahunnya. Sekaligus menggagalkan rencanaku untuk tetap tegar hingga akhir. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredakan seluruh amarah dan perasaan yang terlanjur menyeruak ke dalam dada. Ketegangan yang aku tahan-tahan kembali berputar di dalam diriku, padahal sejak aku tahu aku sudah cukup baik untuk menghindari gejolaknya. Ini semua salah Aiden. Jika saja aku tidak bertemu dengan dia tadi, dan dia tidak mengatakan hal-hal buruk kepadaku, aku pasti bisa … ah sial!“Ada apa? kenapa kau menangis?” Jarrel bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, kekhawatiran serta keterkejutannya terlihat begitu jelas dan dalam.“Tidak, ada sesuatu dimataku tadi,” ungkapku mencoba berbohong sebisa mungkin, seiring dengan kuhapusnya air mata yang membuat mataku memerah untuk mem
Setelah mendapatkan teguran dariku, akhirnya kedua mata Aiden kembali menatap wajahku, senyuman ramah tamahnya masih menempel di sana tanpa tahu malu. “Oh, aku tidak sadar kalau aku menatapmu terlalu lama, Nona Leiya. Tidak kukira kau akan cukup berani berkeliaran hanya dengan memakai pakaian dalam. Tapi jujur saja, aku menyukai apa yang sedang aku lihat darimu.”Kontan aku merasakan wajahku memanas dan perutku terasa mual. Shit! Pria itu benar-benar menyebalkan. Pantas saja Jarrel cepat panas dan banyak memakinya, rupa-rupanya karakter Aiden memang mengesalkan. Alih-alih bercengkrama dengannya lebih lama dan membuat emosiku kian meledak. Aku maju tanpa merasa perlu berbalik untuk segera membuka pintu suite-ku. Namun ketika aku hendak masuk ke dalam, sialnya sebuah tangan menempel dibahuku dan hal itu tentu menghentikan langkahku untuk kian masuk ke dalam kamar.Aku berbalik dan melihat Aiden berdiri begitu dekat denganku. Keterkejutan yang luar biasa langsung membuat seluruh indera d







