LOGINJarrel tiba-tiba saja sudah membungkukan tubuhnya dan menjilati anggur ia tumpahkan pada tubuhku, mulai dari pusar hingga ke tulang selangkaku. Napasku tertahan dalam ekstasi ketika aku merasakan lidahnya menyapu dadaku, bibirnya mulai bermain dibelahannya, dan terhenti hingga menutupi puncak dadaku yang telah mengeras. Lelaki liar itu menjulurkan lidahnya dan dengan lamban memutarnya disekitar areola yang tersiram alkohol dan menghisapnya kuat-kuat, membuat erangan keluar dari mulutku. Tak sampai disitu, ia juga mengalihkan perhatiannya pada sisi yang lain dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya dengan penuh semangat, mempermainkanku sedemikian rupa dengan permainan lidah yang luar biasa panas dan memabukan. Punggungku melengkung dari lantai dengan mataku yang terpejam dengan kenikmatan. Pria itu sungguh konsisten, ia sengaja melambatkan permainan, tidak tergesa-gesa dan terkesan sedang menyiksaku dengan kesabaran saat aku ingin dia menjadi cepat dan kasar. Ia hanya menyentuhk
Ia hanya menertawakanku, mengabaikan tatapanku yang mematikan dan menyeretku menuju Jacuzzi di mana sebotol anggur merah dan dua gelas kosong telah menunggu. Jadi ia mengajakku untuk minum dulu sebelum melakukannya? itu bagus sekali. Karena aku memang merasa perlu alkohol ditubuh untuk menghilangkan kegugupan bodoh yang saat ini bersemayam di dalam dadaku.“Ayo kemari,” ajaknya sambil melepaskan kemeja dan celananya sendiri. Membuangnya ke lantai secara sembarangan. Kemudian dia juga melepaskan sandalnya dan membuat kekacauan kecil ketika ia dengan santainya melepas satu-satunya kain yang menempel di bagian bawah tubuhnya, memperlihatkan kejantanannya yang sudah setengah keras dan pantatnya yang bulat. Tenggorokanku mendadak terasa kering dan kurasa jantungku akan melompat keluar dari tenggorokanku, kurasa ekspresiku sekarang sudah seperti ikan yang keluar dari dalam air. Kalau Jarrel? Jangan ditanya. Ia malah dengan santainya masuk ke jacuzzi, duduk di tepi sambil menatapku penuh har
Kami keluar dari keluar dari jacuzzi setelah dua jam berlalu untuk kembali ke kamar kami. Jarrel bilang ia sudah meminta pada pihak dapur membuatkan sesuatu untuk makan malam yang rencananya akan digelar di sun deck. Aku rasa pikiran laki-laki itu sudah terpusat pada seks menyenangkan di jacuzzi tepat di bawah sinar rembulan dan bintang malam hari, alih-alih menikmati makan malam romantis seperti pasangan pada umumnya.Namun, tentu saja sebelum itu betul-betul terjadi aku sudah mengatakan padanya bahwa itu sangat konyol dan aku tidak mau melakukannya di ruang terbuka. Meski ya, jauh di lubuk hati aku sedikit berdebar-debar membayangkan bahwa hal itu akan betul-betul terjadi. Terlepas dari apakah Jarrel akan menurutiku untuk tidak melakukannya atau akan memaksakan kehendaknya seperti biasa dengan aku yang akan berpasrah terhadap keadaan kami berdua nantinya. Lagipula aku memang pembohong yang buruk dan Jarrel tahu itu.Setibanya di kamar pria itu memilih langsung berbaring di ranjang.
Jeda beberapa saat sampai ekspresinya berubah seakan ia baru menyadari sesuatu dan seringai khasnya kembali terbit membuat bulu kudukku berdiri. “Don’t tell me that you really are,” ujarnya jahil.Aku bisa merasakan seluruh wajahku terbakar karena malu dan berusaha untuk menghindari tatapannya. “T—tidak, aku tidak! aku hanya terkejut karena kau belum memberitahuku soal itu. Maksudku, yang kau lakukan hanyalah bersikap manis dan romantis ketika kau ingin bercinta dan kau menunjukan emosimu dengan tindakan tanpa kata-kata. Asal kau tau saja, aku terkadang selalu bertanya-tanya tentang motifmu. Kau harus mengatakannya juga, karena aku memerlukan itu. Karena kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tentu saja aku jadi punya kekhawatiranku sendiri. Aku sering mengatakan kalau aku mencintaimu tetapi aku tidak pernah mendengarnya dari mulutmu dan umm…” Ah, tidak … aku mulai tergagap. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan dan disaat yang sama aku malah bertingkah se
“Maafkan aku, Yaya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud menutupi ataupun berbohong padamu,” jelasnya, dari suaranya aku bisa mend begitu kental dengan rasa bersalah yang mendalam, sejenis nada yang tidak pernah aku dengar dari dia sebelumnya. “Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangatlah egois dan aku adalah lelaki brengsek yang menyembunyikannya darimu padahal kau berhak tahu. Tapi sungguh, Yaya, aku tidak pernah punya niat untuk menyakitimu sama sekali. Aku sungguh berpikir bahwa hal seperti ini tidak perlu kau ketahui karena hanya akan merusak hubungan kita. Lagipula aku sejak awal tidak pernah peduli tentang itu dan aku juga tidak suka mengetahui kalau kau mencemaskan hal yang aku tidak pernah pikirkan.”Aku sungguh dibuat terkejut oleh seluruh argument yang ia katakan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil sikap seperti ini. Memberiku penjelasan sembari memelukku seraya menyiramiku dengan penuh kasih sayang dengan cara bicaranya y
“Yaya?”Shit.Aku berbalik dan menyeka air mata sialan ini dari pipiku. Apa yang baru saja aku perbuat? Tiba-tiba saja aku malah menangis seperti orang bodoh didepannya, cara yang bagus untuk merusak moment di hari ulang tahunnya. Sekaligus menggagalkan rencanaku untuk tetap tegar hingga akhir. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredakan seluruh amarah dan perasaan yang terlanjur menyeruak ke dalam dada. Ketegangan yang aku tahan-tahan kembali berputar di dalam diriku, padahal sejak aku tahu aku sudah cukup baik untuk menghindari gejolaknya. Ini semua salah Aiden. Jika saja aku tidak bertemu dengan dia tadi, dan dia tidak mengatakan hal-hal buruk kepadaku, aku pasti bisa … ah sial!“Ada apa? kenapa kau menangis?” Jarrel bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, kekhawatiran serta keterkejutannya terlihat begitu jelas dan dalam.“Tidak, ada sesuatu dimataku tadi,” ungkapku mencoba berbohong sebisa mungkin, seiring dengan kuhapusnya air mata yang membuat mataku memerah untuk mem







