Share

Pria Nakal

Author: Rucaramia
last update Last Updated: 2026-02-18 22:03:35

Ia terkekeh begitu aku terlihat pasrah, tampaknya dia merasa menang banyak karena aku melebarkan bendera putih sebagai balasan. Ia menatapku dengan seringai penuh arti sebelum akhirnya ia menghilang dari ruang tamu menuju ke satu ruangan yang aku yakin adalah kamar tidur pribadinya. Aku sendiri tidak bergerak sama sekali dan hanya bisa memandang dari sudut ini sampai pintu ruangan itu tertutup sempurna. Sambil menghela napas berat, aku menyeka butiran keringat yang entah sejak kapan telah terbentuk di dahiku dengan tangan. Sekali lagi mencoba memaksakan kapasitas diri untuk tetap tenang.

Oke, jadi aku rasa aku tidak punya pilihan selain menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dan mencoba yang terbaik seperti biasanya. Aku disini untuk melakukan pekerjaanku dan bila suatu saat dia melakukan sesuatu yang tidak aku sukai aku bisa membunuhnya. Bukankah itu lebih simple dibandingkan harus drama sana sini?

“Kau bisa melakukannya, Leiya!” ujarku pada diri sendiri sebagai bentuk afirmasi positif. Meski sulit rasanya untuk tetap positif di lingkungan yang negatif.

Tidak lama setelah kepergian pria itu ke kamarnya, Jarrel menghadirkan dirinya lagi ke ruang tamu. Syukurlah akhirnya ia berpenampilan dengan normal bukan hanya handuk kecil yang tidak mampu menutupi tubuhnya yang tinggi besar kecuali … ehm … kau pasti tahu maksudku kan? melihat ia yang tidak mengenakan apa-apa selain handuk adalah pemandangan yang paling mengganggu tapi juga indah—

Ah sial! tapi terlepas dari itu semakin aku bersamanya semakin aku merasa muak. Lihat bagaimana cara ia berjalan sambil menatapku dengan seringainya yang menyebalkan di wajahnya yang tampan. Tanpa perlu basa basi pria itu kemudian menjatuhkan bokongnya di atas bantalan sofa empuk miliknya.

“Berhenti menatapku seolah kau orang psycho!” komentarku pedas ketika ia telah berada di posisinya yang nyaman. “Itu mengangguku dan terlihat seperti sedang menggoda.”

“Mau bagaimana lagi? beginilah caraku melihat orang,” sahutnya dengan kasual yang entah mengapa malah membuatku semakin terganggu atas tingkah polahnya. Aku rasa ia hanya sedang mencoba menjahiliku saja.

“Kalau begitu ubah kebiasaanmu itu!” timpalku lagi mencoba untuk berlaku biasa seperti yang dia lakoni.

“Make me,” ejeknya.

Tanpa kata kuacungkan jari tengahku padanya. Demi Tuhan, aku benar-benar sulit untuk bisa bersabar saat berada disekitarnya. Aku bahkan tidak ingat berapa kali aku mengumpat padahal aku bahkan belum satu jam berada di ruangan ini bersamanya. Orang itu cuma tertawa saja, dia mungkin berpikir bahwa aku ini adalah seorang pelawak alih-alih asisten barunya.

“Kurasa sekarang kau sudah lebih santai, tidak seperti gadis membosankan yang menggunakan bahasa formal,” celetuknya dengan nada menyindir yang kentara.

Situasi ini tidak akan ada ujungnya jika aku terus berpaku pada setiap penggalan kata yang memicu perdebata. Aku memutar otak cepat, lalu secara sadar mengubah topik pembicaraan. “Anyway, mari kita langsung ke urusan pekerjaan. Bu Soraya bilang kau membuat sebuah novel dengan genre historical romance sekarang. Selain itu aku juga dapat informasi bahwa tenggat waktu yang tersisa bagimu untuk menyelesaikannya adalah tinggal satu bulan saja. Bisa kau beri tahu aku perkembangannya? Apakah kau sudah nyaris merampungkan novel itu?”

Mendengar aku membicarakan soal pekerjaan mendadak ekspresi muka Jarrel mendadak bosan, ia hanya mengangkat bahunya ketika aku sedang bersungguh-sungguh menunggu jawaban darinya. “Tidak,” sahutnya setelah agak lama bahkan ia juga menguap lebar di depanku tanpa merasa berdosa. “Aku bahkan belum sampai setengahnya, cerita sialan!” tambahnya kemudian yang makin mematik amarahku.

Oke, kurasa ia betul-betul bermaksud untuk menguji kesabaranku. Jika begini terus apa bedanya ia punya asisten atau tidak? semua orang menantikan karya barunya tapi orang ini malah bersantai-santai dan tidak berbuat apa-apa selain membuatku kesal.

Memang dasar bajingan sialan!

“Bagaimana bisa kau mengatakannya seolah-olah kau tidak merasa terganggu sama sekali? Kau ini punya tenggat waktu! Sampai kapan mau bermain-main?!” Aku berteriak padanya dengan emosi. Ya, aku tahu kalau seharusnya ia yang bisa bersikap seperti itu padaku mengingat role-nya yang adalah atasan dalam situasi ini.

Tetapi melihat dia bermalas-malasan dan seolah tidak punya niat, membuatku mau tidak mau jadi sebal padanya. Saat aku kesulitan mencari uang untuk hidupku dengan berbagai cara. Orang ini malah bersantai ria tapi uang mengalir deras ke rekening banknya. Siapa yang tidak akan kesal?

Aku iri dan aku mengakui hal itu. Apalagi sekarang. Bagaimana pun juga tugasku disini adalah untuk memastikan dia menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Bila aku tidak bisa maka yang akan kena semprot adalah aku juga. Dia tidak akan kena marah dari penerbit mengingat ia punya popularitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan uang.

“Aku tahu, tapi aku kehilangan inspirasi dan sekarang aku sedang tidak semangat sama sekali,” sahutnya dengan nada bicara yang terdengar malas dan tak peduli. “Kau pasti tahu kalau penulis itu bekerja dengan hati dan tidak mudah untuk menulis kalau kau tidak mood sama sekali.”

Aku hanya bisa menatap nanar pada pria itu. Aku tahu memang terkadang para penulis berada di situasi writer block dan biasanya sepengalamanku sebagai asisten, aku selalu mencoba membantu mereka dengan memberikan beberapa masukan dan dorongan sehingga para penulis itu bisa kembali bekerja menyelesaikan karya mereka. Tetapi dengan orang ini … aku tidak yakin apakah itu akan berhasil dengan cara yang normal kulakukan.

Dari cara berpikirnya saja ia tidak se-template seperti kebanyakan orang yang biasa aku tangani.

Aku menghela napas dan merenggut padanya. “Kalau begitu coba lakukan sesuatu yang bisa membuatmu mendapatkan kembali inspirasi,” sahutku memberi saran meski nada suaranya terdengar agak dingin.

Pria itu menggelengkan kepala lalu malah tidur-tiduran di atas lantai. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?” Aku menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat. Ingin sekali ku tempeleng mukanya yang songong itu sekarang juga. Tapi aku harus menahan diri.

“Karena kau belum melakukan apa pun untuk dapat memberikanku inspirasi,” jawabnya, dan aku bersumpah bisa melihat adanya kilatan mesum di kedua bola mata pria itu.

“Excuse me?” sahutku yang tidak mengerti maksud dari kata-katanya. Untuk beberapa alasan deretan kalimat yang dia lontarkan terdengar ambigu.

“Kau harus melakukan sesuatu untuk dapat memberikanku inspirasi, itulah yang sebagian besar dari asistenku lakukan untuk mendongkrak kembali imajinasiku,” jelasnya sambil angkat bahu dan menatapku dengan cara yang sama.

Entah kenapa tatapan matanya membuat aku agak sedikit takut, tetapi aku tidak bisa dengan mudah memberitahu dengan jelas apa yang aku rasakan padanya saat ini. Terutama karena aku tidak ingin terlihat ketakutan di depan orang macam ini. Sebab katanya, semakin menunjukan kelemahan maka musuh akan semakin berani mengambil keuntungan. Dan aku percaya sekali dengan pepatah itu.

Sembari menghela napas panjang aku pun menatapnya dengan serius. “Kalau begitu bagaimana cara mereka melakukannya?”

Dia mengubah posisi menyamping kearahku sambil memperlihatkan seringai. “Dengan cara memuaskanku, seperti yang kamu lihat saat pertama kali kita bertemu…”

Dia benar-benar sudah sinting!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Kejutan Baru Lagi

    Kedua mata kontan terbelalak lebar karena terlalu terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Segalanya begitu cepat hingga aku tak kuasa melakukan apapun untuk menghindar. Rasa dari bibirnya yang lembut menempel di bibirku berikut pula dengan seberapa besar kekuatannya yang berusaha melesak ke dalam mulutku. Lidahnya memasukiku dengan mudah, menjelajah, mengecap, terlalu membuai.Hal pertama yang muncul di dalam pikiranku adalah aku harus melarikan diri dari situasi ini, menjauh darinya sebisa mungkin dan bersembunyi. Tetapi sesungguhnya aku tidak mampu, ciumannya melumpuhkan seluruh anggota gerak tubuhku dalam sunyi. Aku hanya bisa diam dan membiarkan dia menciumi. Aku kehilangan ciuman pertama yang telah aku jaga selama ini. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak menyangka ciuman pertamaku akan direnggut oleh bosku sendiri seperti ini. Situasi dimana kondisinya saja sekarang aku tidak punya pilihan selain dari pada merasakannya dengan berat hati.Meski memang ciuman itu awalanya dipaksaka

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   What The Hell?!

    Setelah kurang lebih dua puluh menit bolak balik naik turun tangga sambil membawa barang-barangku sendiri, akhirnya aku bisa bernapas lega lantaran berhasil membawa semuanya ke kamar yang diperuntukan pria gila itu untukku. Sejujurnya ruangan tersebut jauh lebih besar dari milikku dirumah ibu. Bahkan dilengkapi dengan interior dan furniture yang mirip dengan fasilitas bintang lima yang terlalu takut untuk aku impikan dahulu.Tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan semua ini meski aku tahu betul bahwa aku seharusnya tidak merasa demikian. Namun faktanya danya sebuah dorongan kecil yang memaksaku mencipta senyuman. Sebuah ekspresi penuh kejujuran yang meski aku mencoba untuk tidak mengakui, tetapi jika dengan fasilitas begini aku bisa kerasan. Walau begitu, dengan rasa gengsi yang melebihi kejujuran. Aku masih punya sedikit sisa harga diri meski telah disogok gaji tiga kali lipat oleh si Jarrel yang mesum untuk tidak tergoda dengan semua yang pria itu berikan. Intinya adalah aku tidak bol

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Pemaksaan

    Apa?Apa yang baru saja di tanyakan?Aku tahu bahwa cepat atau lambat pria kurang ajar ini akan mengatakan sesuatu yang tidak etis. Tapi aku betul-betul tidak mengira bahwa ia akan mengatakannya terlalu cepat seolah itu adalah kata magnetis. Sungguh, rasanya ingin sekali aku menarik cangkir kopi yang baru saja aku letakan kemudian aku guyurkan benda panas itu ke muka tampan Jarrel yang saat ini malah nyengir tak jelas. Sejujunya aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaannya, dan aku yakin tidak perlu. Lagi pula tidak ada alasan bagiku atas hal itu.Tapi…Jika pria ini tahu bahwa aku belum pernah tersentuh oleh pria mana pun, sudah jelas bagaimana girangnya muka ia nanti. Maka dibandingkan menjawabnya dengan jujur, aku lebih suka memberi dia pelototan demi harga diri. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh semacam itu,” sahutku sambil dengan cepat segera keluar dari ruang kerjanya. Aku bisa mendengar ia tertawa di dalam sana. Jenis tawa yang sama ketika ia mengolok-olok diriku dal

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Are You Virgin?

    “Berhenti bercanda!” sahutku sambil membeliakan mata, berharap ia berhenti mengatakan sesuatu yang tak pantas sebagai candaan. Namun anehnya, biar pun aku terus menatapnya dengan pandangan horror, Jarrel justru malah menatapku balik dengan sinar mata tertentu yang tidak dapat aku definisikan. Seolah dia super serius dengan apa yang ia katakan barusan.“Aku tidak bercanda,” sahutnya mantap dan lugas. Sialan betul!Oke, sepertinya ide soal bekerja satu bulan untuk mendapatkan 3 kali lipat gaji tidaklah sepadan. Akan lebih bijak bila aku keluar dari sini sekarang tanpa harus menyesel di masa depan. Apakah dia serius menyarankan aku melakukan hal-hal seperti itu untuk mendapatkan inspirasi? Bukankah hal itu malah memperlihatkan seberapa tidak bermoral dirinya, meskipun karya yang ia hasilkan memang selalu terdepan. Tidak peduli seberapa besar impact-nya, sebagai seorang penulis romansa populer yang waras melakukan hal-hal tak bermoral betulan. Rasanya terlalu… yah, tapi aku juga harus sa

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Pria Nakal

    Ia terkekeh begitu aku terlihat pasrah, tampaknya dia merasa menang banyak karena aku melebarkan bendera putih sebagai balasan. Ia menatapku dengan seringai penuh arti sebelum akhirnya ia menghilang dari ruang tamu menuju ke satu ruangan yang aku yakin adalah kamar tidur pribadinya. Aku sendiri tidak bergerak sama sekali dan hanya bisa memandang dari sudut ini sampai pintu ruangan itu tertutup sempurna. Sambil menghela napas berat, aku menyeka butiran keringat yang entah sejak kapan telah terbentuk di dahiku dengan tangan. Sekali lagi mencoba memaksakan kapasitas diri untuk tetap tenang.Oke, jadi aku rasa aku tidak punya pilihan selain menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dan mencoba yang terbaik seperti biasanya. Aku disini untuk melakukan pekerjaanku dan bila suatu saat dia melakukan sesuatu yang tidak aku sukai aku bisa membunuhnya. Bukankah itu lebih simple dibandingkan harus drama sana sini?“Kau bisa melakukannya, Leiya!” ujarku pada diri sendiri sebagai bentuk afirmasi posit

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Aku dan Jarrel

    “Well… Thank you. Sekarang tolong jawab saja pertanyaannya,” sahut pria itu, seringai menyebalkan masih terpampang nyata diwajahnya.Sungguh, aku tidak akan pernah merasa sedikitpun terintimidasi oleh pertanyaannya yang sama sekali tidak berguna. Jika saja matanya itu tidak terlalu mempesona, aku pasti sudah mencoloknya dengan pena yang ada di saku kemejaku sekarang juga. Astaga, aku tidak bisa berkelit ketika aku menyadari seberapa besar pengaruh kedua mata pria itu terhadapku. Ia berhasil membuatku tidak nyaman, dan merasa … panas?“Sekarang bisakah kita langsung bicarakan saja soal pekerjaan saja, Pak? Saya kemari bukan sebagai teman bicara tetapi sebagai asistenmu dan saya harus memastikan naskahmu cukup bagus dan selesai dalam batas waktu yang telah diberikan,” kataku yang mencoba mengalihkan pikiranku sendiri dan membawa pria itu langsung to the point terhadap topiknya. Senang rasanya bisa memberi tahu orang congkak itu bahwa aku disini semata-mata untuk urusan bisnis.Ia mengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status