FAZER LOGINIa terkekeh begitu aku terlihat pasrah, tampaknya dia merasa menang banyak karena aku melebarkan bendera putih sebagai balasan. Ia menatapku dengan seringai penuh arti sebelum akhirnya ia menghilang dari ruang tamu menuju ke satu ruangan yang aku yakin adalah kamar tidur pribadinya. Aku sendiri tidak bergerak sama sekali dan hanya bisa memandang dari sudut ini sampai pintu ruangan itu tertutup sempurna. Sambil menghela napas berat, aku menyeka butiran keringat yang entah sejak kapan telah terbentuk di dahiku dengan tangan. Sekali lagi mencoba memaksakan kapasitas diri untuk tetap tenang.
Oke, jadi aku rasa aku tidak punya pilihan selain menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dan mencoba yang terbaik seperti biasanya. Aku disini untuk melakukan pekerjaanku dan bila suatu saat dia melakukan sesuatu yang tidak aku sukai aku bisa membunuhnya. Bukankah itu lebih simple dibandingkan harus drama sana sini? “Kau bisa melakukannya, Leiya!” ujarku pada diri sendiri sebagai bentuk afirmasi positif. Meski sulit rasanya untuk tetap positif di lingkungan yang negatif. Tidak lama setelah kepergian pria itu ke kamarnya, Jarrel menghadirkan dirinya lagi ke ruang tamu. Syukurlah akhirnya ia berpenampilan dengan normal bukan hanya handuk kecil yang tidak mampu menutupi tubuhnya yang tinggi besar kecuali … ehm … kau pasti tahu maksudku kan? melihat ia yang tidak mengenakan apa-apa selain handuk adalah pemandangan yang paling mengganggu tapi juga indah— Ah sial! tapi terlepas dari itu semakin aku bersamanya semakin aku merasa muak. Lihat bagaimana cara ia berjalan sambil menatapku dengan seringainya yang menyebalkan di wajahnya yang tampan. Tanpa perlu basa basi pria itu kemudian menjatuhkan bokongnya di atas bantalan sofa empuk miliknya. “Berhenti menatapku seolah kau orang psycho!” komentarku pedas ketika ia telah berada di posisinya yang nyaman. “Itu mengangguku dan terlihat seperti sedang menggoda.” “Mau bagaimana lagi? beginilah caraku melihat orang,” sahutnya dengan kasual yang entah mengapa malah membuatku semakin terganggu atas tingkah polahnya. Aku rasa ia hanya sedang mencoba menjahiliku saja. “Kalau begitu ubah kebiasaanmu itu!” timpalku lagi mencoba untuk berlaku biasa seperti yang dia lakoni.“Make me,” ejeknya. Tanpa kata kuacungkan jari tengahku padanya. Demi Tuhan, aku benar-benar sulit untuk bisa bersabar saat berada disekitarnya. Aku bahkan tidak ingat berapa kali aku mengumpat padahal aku bahkan belum satu jam berada di ruangan ini bersamanya. Orang itu cuma tertawa saja, dia mungkin berpikir bahwa aku ini adalah seorang pelawak alih-alih asisten barunya. “Kurasa sekarang kau sudah lebih santai, tidak seperti gadis membosankan yang menggunakan bahasa formal,” celetuknya dengan nada menyindir yang kentara. Situasi ini tidak akan ada ujungnya jika aku terus berpaku pada setiap penggalan kata yang memicu perdebata. Aku memutar otak cepat, lalu secara sadar mengubah topik pembicaraan. “Anyway, mari kita langsung ke urusan pekerjaan. Bu Soraya bilang kau membuat sebuah novel dengan genre historical romance sekarang. Selain itu aku juga dapat informasi bahwa tenggat waktu yang tersisa bagimu untuk menyelesaikannya adalah tinggal satu bulan saja. Bisa kau beri tahu aku perkembangannya? Apakah kau sudah nyaris merampungkan novel itu?” Mendengar aku membicarakan soal pekerjaan mendadak ekspresi muka Jarrel mendadak bosan, ia hanya mengangkat bahunya ketika aku sedang bersungguh-sungguh menunggu jawaban darinya. “Tidak,” sahutnya setelah agak lama bahkan ia juga menguap lebar di depanku tanpa merasa berdosa. “Aku bahkan belum sampai setengahnya, cerita sialan!” tambahnya kemudian yang makin mematik amarahku. Oke, kurasa ia betul-betul bermaksud untuk menguji kesabaranku. Jika begini terus apa bedanya ia punya asisten atau tidak? semua orang menantikan karya barunya tapi orang ini malah bersantai-santai dan tidak berbuat apa-apa selain membuatku kesal. Memang dasar bajingan sialan! “Bagaimana bisa kau mengatakannya seolah-olah kau tidak merasa terganggu sama sekali? Kau ini punya tenggat waktu! Sampai kapan mau bermain-main?!” Aku berteriak padanya dengan emosi. Ya, aku tahu kalau seharusnya ia yang bisa bersikap seperti itu padaku mengingat role-nya yang adalah atasan dalam situasi ini. Tetapi melihat dia bermalas-malasan dan seolah tidak punya niat, membuatku mau tidak mau jadi sebal padanya. Saat aku kesulitan mencari uang untuk hidupku dengan berbagai cara. Orang ini malah bersantai ria tapi uang mengalir deras ke rekening banknya. Siapa yang tidak akan kesal? Aku iri dan aku mengakui hal itu. Apalagi sekarang. Bagaimana pun juga tugasku disini adalah untuk memastikan dia menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Bila aku tidak bisa maka yang akan kena semprot adalah aku juga. Dia tidak akan kena marah dari penerbit mengingat ia punya popularitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan uang. “Aku tahu, tapi aku kehilangan inspirasi dan sekarang aku sedang tidak semangat sama sekali,” sahutnya dengan nada bicara yang terdengar malas dan tak peduli. “Kau pasti tahu kalau penulis itu bekerja dengan hati dan tidak mudah untuk menulis kalau kau tidak mood sama sekali.” Aku hanya bisa menatap nanar pada pria itu. Aku tahu memang terkadang para penulis berada di situasi writer block dan biasanya sepengalamanku sebagai asisten, aku selalu mencoba membantu mereka dengan memberikan beberapa masukan dan dorongan sehingga para penulis itu bisa kembali bekerja menyelesaikan karya mereka. Tetapi dengan orang ini … aku tidak yakin apakah itu akan berhasil dengan cara yang normal kulakukan. Dari cara berpikirnya saja ia tidak se-template seperti kebanyakan orang yang biasa aku tangani. Aku menghela napas dan merenggut padanya. “Kalau begitu coba lakukan sesuatu yang bisa membuatmu mendapatkan kembali inspirasi,” sahutku memberi saran meski nada suaranya terdengar agak dingin. Pria itu menggelengkan kepala lalu malah tidur-tiduran di atas lantai. “Aku tidak bisa.” “Kenapa?” Aku menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat. Ingin sekali ku tempeleng mukanya yang songong itu sekarang juga. Tapi aku harus menahan diri. “Karena kau belum melakukan apa pun untuk dapat memberikanku inspirasi,” jawabnya, dan aku bersumpah bisa melihat adanya kilatan mesum di kedua bola mata pria itu.“Excuse me?” sahutku yang tidak mengerti maksud dari kata-katanya. Untuk beberapa alasan deretan kalimat yang dia lontarkan terdengar ambigu. “Kau harus melakukan sesuatu untuk dapat memberikanku inspirasi, itulah yang sebagian besar dari asistenku lakukan untuk mendongkrak kembali imajinasiku,” jelasnya sambil angkat bahu dan menatapku dengan cara yang sama. Entah kenapa tatapan matanya membuat aku agak sedikit takut, tetapi aku tidak bisa dengan mudah memberitahu dengan jelas apa yang aku rasakan padanya saat ini. Terutama karena aku tidak ingin terlihat ketakutan di depan orang macam ini. Sebab katanya, semakin menunjukan kelemahan maka musuh akan semakin berani mengambil keuntungan. Dan aku percaya sekali dengan pepatah itu. Sembari menghela napas panjang aku pun menatapnya dengan serius. “Kalau begitu bagaimana cara mereka melakukannya?” Dia mengubah posisi menyamping kearahku sambil memperlihatkan seringai. “Dengan cara memuaskanku, seperti yang kamu lihat saat pertama kali kita bertemu…” Dia benar-benar sudah sinting!Berhari-hari, hari masuk ke minggu, dan minggu masuk ke hitungan bulan. Chris secara berkala kerap mengunjungi Leiya di rumah sakit dan setiap kali ia datang menjenguk ia selalu menemukan Jarrel disana. Pria itu tampak sangat berbeda dari setiap kunjungan yang ia lakukan. Ia tampak seperti seorang pria putus asa yang melupakan caranya mengurus diri sendiri. Rambutnya sudah sangat panjang, dengan janggut tipis dan kumis yang tampaknya tak lagi dicukur sejak Leiya masuk ke rumah sakit. Ia benar-benar kehilangan semangat hidup. Seakan keberadaan Leiya di ranjang rumah sakit dalam kondisi ini sama dengan mematahkan arti hidup untuknya hingga ia kebingungan menentukan arah hidupnya sendiri.“Kau masih disini?” tanya pembuka yang seketika membuat pria itu melirik ke arahnya yang berada di ambang pintu. Rona matanya terlihat menerawang dan ekspresi wajahnya terlihat kuyu.“Kau datang lagi,” sahutnya lalu kembali menatap Leiya yang masih terbaring, Chris mendekat dan mendapati tangan pria itu
Ada pepatah bilang bahwa dunia itu berputar. Ada hal baik dan ada hal buruk. Serta yang buruk tak selamanya buruk, begitu pun sebaliknya. Dan kini… Chris mengalami sendiri arti dari perumpaan yang selalu ia anggap sebagai omong kosong belakang dahulu. Dibalik hal baik dalam urusan pribadinya (perkembangan hubungan romansanya dengan Bu Soraya) di sudut lain ternyata sahabatnya Leiya justru mengalami hal yang buruk. Ia mendapat kabar bahwa wanita itu mengalami kecelakaan. Bu Soraya adalah orang memberi tahunya tentang hal itu sehingga mereka berdua pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan sebenarnya.Mereka tiba di rumah sakit dengan Jarrel yang terlihat sangat terpukul. Pria itu duduk bersandar di ruang tunggu dekat ruangan tempat operasi sedang berlangsung. Kedua matanya menerawang dan ada jejak air mata yang tak kunjung mengering. Barangkali pria itu menangis berulang kali. Bu Soraya pun berupaya mengajaknya bicara tetapi lelaki itu tetap saja urung mengelu
Memahami jalan pikiran Bu Soraya sangatlah sulit. Setidaknya setelah insiden wanita itu mengaku cemburu atas pernyataan cinta yang ia dapati dari teman SMA-nya dahulu sama sekali tidak mempermudah apapun. Wanita itu masih saja misterius dan sulit ditebak. Walaupun begitu, Chris tetap bersyukur sebab ia sedikit tahu apa yang wanita itu rasakan terhadapnya. Ditengah hiruk pikuk kehidupan yang cukup sibuk dengan banyak hal, Bu Soraya merupakan wanita yang integritasnya terjaga. Yah, saking tingginya integritas yang ia miliki untuk perusahaannya, ia lupa menyisakan kejujuran untuk dirinya sendiri, pikir Chris.Bukan dengan sembarang Chris menyimpulkan hal tersebut, melainkan karena kehidupan Bu Soraya yang ia ketahui hanyalah kesibukan saat ia berada dikantor, dan sesekali memanggilnya untuk menghilangkan penat. Ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan pribadi wanita itu. Ya, kalau dipikir-pikir sih memang mereka tidak pernah berbagi kisah soal kehidupan.Meski dibeberapa kesempatan sej
Intan tak tahu pasti apa yang membuatnya secara nekat mendadak mengungkapkan hal yang selama ini ia rahasiakan. Mungkin karena ia tak tahan lagi karena selama ia mengenal Chris, ia hanya menjadi sosok pemerhati yang tak pernah cukup mendapatkan kesempatan memiliki atensi. Mungkin. Tapi… kemungkinan terbesar yang mendorongnya mengambil keputusan mendadak begini barangkali hanya karena ia melihat senyuman yang pemuda itu berikan kepadanya. Senyuman yang selalu membuatnya bersemangat untuk pergi ke sekolah. Senyuman dari seorang pria baik yang kerap menghiasi mimpi indahnya dulu… maupun sekarang.Beberapa saat berlalu begitu saja, seolah waktu hilang dan terbuang sia-sia. Keheningan melingkupi sekitar. Bahkan pemuda yang mendengar pengakuannya pun masih diam mematung di tempatnya. Tampak urung memberikan reaksi. Barangkali terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Satu tarikan napas—…ummmhh--dan sebuah suara maskulin terdengar memecah keheningan yang ada, keheningan yang beg
Chris dan Bu Soraya tidak pernah terikat dalam hubungan apapun. Camkan itu. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor dan juga saling memberi keuntungan dalam pemuasan hasrat. Sebata situ. Tidak lebih dari itu, meskipun pemikiran Chris kerap kali menggodanya untuk mengubah hal tersebut. Mau seberapa sering teman-temannya yang pernah memergoki ia dan Soraya keluar bersama menggodanya. Mau seberapa banyak rekan kerja di kantor mulai bertanya-tanya soal hubungan bos cantik mereka dengan Chris. Ia dan Bu Soraya tetap hanya dalam hubungan itu.Tidak lebih, tidak kurang. Itulah yang dikatakan oleh Bu Soraya kepadanya.Sekalipun ketika ada satu waktu ketika Chris memutuskan mengambil cuti, dan ibunya bertanya mau kemana ia dengan komentar tumben sekali pagi-pagi sudah rapi yang cuma bisa ia jawab dengan kekehan sambil lalu bahwa ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda, ia dan Bu Soraya tetap saja berada dalam hubungan itu. Ibunya sendiri hanya mampu menggelengkan kepala
Pemeriksaan pun dilakukan, semua tak banyak yang dikatakan oleh dokter tersebut tapi untuk beberapa alasan Chris merasa bahwa Jarrel mengenal dokter yang ia panggil untuk memeriksa kondisinya. Selagi menunggu pemeriksaan, tiba-tiba Chris mendapati ada pesan masuk dari Bu Soraya yang memintanya untuk bertemu.“Aku ingin lebih lama disini, tapi sepertinya ada panggilan mendadak yang perlu aku selesaikan,” ujar Chris sambil mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana.“Tumben sekali, siapa yang memanggilmu?”“Bu Soraya.”“Jawaban yang tak terduga. Kupikir itu cuma akal-akalanmu saja supaya bisa menghindar dari introgasi lanjutan,” timpal Leiya sambil mendengus, Chris cuma bisa terkekeh.“Pikirkan sesukamu,” jawabnya pula sambil bangkit dari kursi diikuti dengan Dr. Ilya yang juga keluar dari kamar Jarrel.“Sudah bubar?” kata dokter tampan berkacamata tersebut yang membuat ia maupun Leiya langsung melirik padanya.“Oh sudah selesai? Bagaimana hasilnya?” ungkap Leiya yang bersungguh-sungg
Kami buru-buru masuk ke dalam mobil jaguar milik Jarrel yang tak jauh dari tempat kami, begitu pun juga Zayel yang kembali ke mobilnya sendiri. Ada riak gelombang kecil antara tuan dan anak buah untuk beberapa saat sebelum mereka berpisah untuk tujuan masing-masing. Zayel bilang ia perlu kembali ke
“Aku tahu betapa seriusnya masalah ini, Yaya. Hanya saja tidak sepertimu, aku menolak untuk terlihat seperti seseorang menusuk pantataku meski aku sama khawatirnya denganmu. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak peduli kalau orang disekitarku tahu kalau aku bertunangan atau tidak. Sebab yang pas
“Terima kasih banyak, sobat. Aku berhutang banyak padamu,” ungkapku begitu menerima tas berisi barang belanjaan dari Chris. Kami saat ini sedang berada di depan pintu, dan sobat kentalku di kantor penerbit itu tiba di kediaman Jarrel dua jam setelah kupanggil ia untuk berbelanja kebutuhan kami. Ten
“Senang bertemu denganmu lagi, Nona Leiya,” sapanya dengan suara yang dalam dan rendah seperti biasa.Ada beribu pertanyaan hinggap dikepala terutama tentang bagaimana ia menemukanku atau bagaimana aku bisa berakhir duduk di dalam mobilnya meski memang secara tidak sengaja. Aku tidak tahu berapa la







