Teilen

Terpaksa 'Yes'

last update Veröffentlichungsdatum: 18.02.2026 21:55:22

Alih-alih membalas perkataannya, aku memilih berbalik secepat mungkin. Bila mana ia menganggap tawarannya sekadar gurauan, aku justru merasa terhina. Aku tidak sudi bekerja di bawah instruksi pria seperti dia; bajingan sombong yang berpikir bisa menaklukkan seribu wanita dalam genggamannya.

Meski enggan, aku harus mengakui kejadian tadi cukup memantik gairahku. Namun, bukan berarti aku menikmatinya! Dengan badan gemetar, aku berhasil keluar dari sana, menulikan pendengaran meski ia memanggilku berulang kali.

Aku tidak peduli lagi pada apa yang akan dikatakan Bu Soraya, orang yang menjembataniku dengan Jarrel. Yang jelas, aku tidak mau bekerja dengan manusia gila itu lagi!

Di balik kemudi, dengan napas tersenggal, ponselku berbunyi. Aku mengerang sebelum menjawabnya. "Halo?"

“Hei, Leiya sayang. Apa kau sudah bertemu dengan Abraxas Cobalt?” Suara Bu Soraya yang feminin langsung kukenali.

“Ya, aku sudah bertemu dia,” jawabku kaku.

“Baguslah. Aku lupa memperingatkanmu kalau dia sedikit… kau tahu. Aku harap kau bisa sabar—”

“Aku tidak mau bekerja untuknya,” potongku cepat.

“Ha? Kenapa? Apakah pertemuan kalian tidak lancar?”

“Tidak lancar? Aku menyaksikan dia sedang menggagahi seorang perempuan di atas meja dapurnya!” seruku tanpa peduli lagi pada reputasi pria itu. “Bisa Ibu bayangkan? Aku tidak peduli sesukses apa pun dia, aku tidak mau!”

“Tenanglah dulu, Leiya. Kau tidak bisa berhenti begitu saja.”

“Aku bisa! Aku akan menunggu Belliard kembali dari luar negeri saja.”

“Belliard sedang hiatus panjang, Leiya! Oh, jangan merajuk begitu.”

“Aku sudah memutuskannya. Tidak, terima kasih!” Aku memutus panggilan, menarik pedal gas, dan memacu mobilku menjauh dari apartemen si manusia gila itu. Oh, sungguh hari yang luar biasa.

Aku memutuskan mampir ke sebuah kedai kopi aesthetic di pinggir jalan. Aku butuh kafein untuk menenangkan sarafku. Sambil menunggu pesanan, aku merenungkan kembali nasib sial ini.

Semuanya bermula kemarin saat Bu Soraya menawarkanku pekerjaan sementara selama Belliard hiatus. Aku yang sedang menganggur langsung setuju tanpa bertanya siapa bos baruku. Barulah saat berdiri di depan pintu apartemennya tadi, aku sadar aku dalam masalah besar.

Abraxas Cobalt, atau Jarrel, adalah penulis romansa erotis yang sangat populer. Dalam dua tahun, ia sudah menyabet berbagai penghargaan. Namun, ia juga dikenal sebagai 'iblis' bermulut kotor yang baru saja memecat asistennya yang ke-49. Dan sekarang, aku adalah calon asistennya yang ke-50.

Bu Soraya memilihku karena aku dianggap mampu menangani penulis 'sulit' seperti Belliard. Namun bagiku, Belliard yang dingin dan Jarrel yang gila itu adalah dua hal yang berbeda.

“Ini pesanan Anda, Nona,” suara manis pelayan membuyarkan lamunanku. Aku menyeruput kopi hangat itu, merasakan sedikit ketenangan mengalir ke tubuhku. Aku merasa lebih optimis bisa melupakan mimpi buruk hari ini.

Aku tiba di rumah pada sore hari yang sepi. Aku baru saja hendak memejamkan mata di kamar saat telepon rumah berdering. Dengan malas, aku menjawabnya. “Halo?”

“Leiya! Aku tahu kau di rumah!” Suara Bu Soraya menggelegar.

“Bu Soraya…” sahutku lelah.

“Kau harus tanggung jawab, Leiya. Kau sudah menyanggupinya.”

“Aku tidak mau kembali ke rumah si mesum itu. Lebih baik aku membayar denda ketimbang rusak mental!” kataku tegas.

Terdengar jeda dan decakan lidah di seberang sana. “Bagaimana kalau begini; aku akan melipatgandakan gajimu jika kau mau kembali.”

Aku terdiam. Dua kali lipat? Itu cukup untuk membuatku bisa pindah dari rumah ibuku dan hidup mandiri.

“Tetap tidak,” jawabku, mencoba tetap terlihat keras kepala meski jantungku berdesir.

“Kalau tiga kali lipat?” tanya Bu Soraya lagi.

Tiga kali lipat? Aku hampir tersedak. Di ekonomi seperti ini, siapa manusia tolol yang akan menolak gaji tiga kali lipat?

“A—apa Ibu serius?” tanyaku, gagal bersikap tenang.

“Aku selalu serius. Bagaimana? Tergoda?”

Aku menggigit bibir. Bertahan sebulan saja dengan si mesum itu berarti aku mendapat gaji tiga bulan. “Kenapa Ibu sangat bersikeras memaksaku?”

“Karena aku yakin hanya kau yang bisa menanganinya. Lagipula,” Bu Soraya merendahkan suaranya, “Jarrel sendiri yang memintamu. Dia menghubungiku sepuluh menit lalu, mengancam tidak mau bekerja sama jika asistennya bukan kau.”

Aku berkedip, terheran-heran. “Kenapa pria itu mengiginkanku?”

“Entahlah, kenapa tidak kau pastikan sendiri?” sahut Bu Soraya dengan nada nakal.

Aku menarik napas dalam. Kesal, tapi butuh uang. “Kesepakatannya adalah tiga kali lipat. Dan perlu digarisbawahi, aku melakukan ini hanya demi uang. Jika bajingan itu macam-macam, aku akan menghajarnya sebelum keluar.”

“Tentu, lakukan sesukamu. Semoga betah, Leiya,” Bu Soraya terkikik sebelum menutup telepon.

Satu jam kemudian, aku kembali berdiri di depan pintu apartemen Jarrel. Aku mengepalkan tangan yang berkeringat dan menekan bel. Tak butuh waktu lama sebelum pintu terbuka.

Seolah sudah menungguku, pintu itu terbuka lebar dan sekali lagi, aku dibuat terkejut. Di depanku, Jarrel berdiri dengan rambut basah, hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya. Sialan!

“Selamat datang kembali, Manis,” sapa Jarrel dengan seringai nakal.

Aku menelan saliva, berusaha mematikan skenario liar yang mendadak muncul di kepalaku. Bodohnya, aku hanya berdiri ternganga.

“Selamat sore, Pak,” kataku, berusaha formal meski jantungku berpacu.

Ia tersenyum dan membukakan pintu lebih lebar. “Masuklah.”

Aku mengikutinya ke ruang tamu. Diam-diam, aku memperhatikan punggungnya saat ia mengeringkan rambut dengan handuk sambil menatap ke luar jendela. Pemandangan ini sebenarnya indah, jika saja aku bisa menghapus fakta bahwa pria ini tidak bermoral.

“Aku senang Soraya berhasil menyeretmu kembali. Tadi kita belum sempat berbincang karena kau keburu kabur,” katanya sambil berbalik menghadapku.

Tatapannya tajam, seolah sedang mengulitiku. Aku membalasnya dengan tatapan tidak senang. “Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”

“Apakah aku terlihat seksi saat sedang membuka pintu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku ternganga. “Apa?”

“Apakah pendapatku penting? Aku kemari untuk urusan pekerjaan,” kataku berusaha tetap stabil meski wajahku sudah cemberut permanen karena gugup.

“Dasar narsis,” gumamku sebal.

Jarrel justru tertawa lepas. Dia malah tertawa, apa yang lucu disini?

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Realisasi Fantasi Liar

    Ia hanya menertawakanku, mengabaikan tatapanku yang mematikan dan menyeretku menuju Jacuzzi di mana sebotol anggur merah dan dua gelas kosong telah menunggu. Jadi ia mengajakku untuk minum dulu sebelum melakukannya? itu bagus sekali. Karena aku memang merasa perlu alkohol ditubuh untuk menghilangkan kegugupan bodoh yang saat ini bersemayam di dalam dadaku.“Ayo kemari,” ajaknya sambil melepaskan kemeja dan celananya sendiri. Membuangnya ke lantai secara sembarangan. Kemudian dia juga melepaskan sandalnya dan membuat kekacauan kecil ketika ia dengan santainya melepas satu-satunya kain yang menempel di bagian bawah tubuhnya, memperlihatkan kejantanannya yang sudah setengah keras dan pantatnya yang bulat. Tenggorokanku mendadak terasa kering dan kurasa jantungku akan melompat keluar dari tenggorokanku, kurasa ekspresiku sekarang sudah seperti ikan yang keluar dari dalam air. Kalau Jarrel? Jangan ditanya. Ia malah dengan santainya masuk ke jacuzzi, duduk di tepi sambil menatapku penuh har

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Please

    Kami keluar dari keluar dari jacuzzi setelah dua jam berlalu untuk kembali ke kamar kami. Jarrel bilang ia sudah meminta pada pihak dapur membuatkan sesuatu untuk makan malam yang rencananya akan digelar di sun deck. Aku rasa pikiran laki-laki itu sudah terpusat pada seks menyenangkan di jacuzzi tepat di bawah sinar rembulan dan bintang malam hari, alih-alih menikmati makan malam romantis seperti pasangan pada umumnya.Namun, tentu saja sebelum itu betul-betul terjadi aku sudah mengatakan padanya bahwa itu sangat konyol dan aku tidak mau melakukannya di ruang terbuka. Meski ya, jauh di lubuk hati aku sedikit berdebar-debar membayangkan bahwa hal itu akan betul-betul terjadi. Terlepas dari apakah Jarrel akan menurutiku untuk tidak melakukannya atau akan memaksakan kehendaknya seperti biasa dengan aku yang akan berpasrah terhadap keadaan kami berdua nantinya. Lagipula aku memang pembohong yang buruk dan Jarrel tahu itu.Setibanya di kamar pria itu memilih langsung berbaring di ranjang.

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Saling Mencintai

    Jeda beberapa saat sampai ekspresinya berubah seakan ia baru menyadari sesuatu dan seringai khasnya kembali terbit membuat bulu kudukku berdiri. “Don’t tell me that you really are,” ujarnya jahil.Aku bisa merasakan seluruh wajahku terbakar karena malu dan berusaha untuk menghindari tatapannya. “T—tidak, aku tidak! aku hanya terkejut karena kau belum memberitahuku soal itu. Maksudku, yang kau lakukan hanyalah bersikap manis dan romantis ketika kau ingin bercinta dan kau menunjukan emosimu dengan tindakan tanpa kata-kata. Asal kau tau saja, aku terkadang selalu bertanya-tanya tentang motifmu. Kau harus mengatakannya juga, karena aku memerlukan itu. Karena kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tentu saja aku jadi punya kekhawatiranku sendiri. Aku sering mengatakan kalau aku mencintaimu tetapi aku tidak pernah mendengarnya dari mulutmu dan umm…” Ah, tidak … aku mulai tergagap. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan dan disaat yang sama aku malah bertingkah se

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Ketulusan Jarrel

    “Maafkan aku, Yaya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud menutupi ataupun berbohong padamu,” jelasnya, dari suaranya aku bisa mend begitu kental dengan rasa bersalah yang mendalam, sejenis nada yang tidak pernah aku dengar dari dia sebelumnya. “Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangatlah egois dan aku adalah lelaki brengsek yang menyembunyikannya darimu padahal kau berhak tahu. Tapi sungguh, Yaya, aku tidak pernah punya niat untuk menyakitimu sama sekali. Aku sungguh berpikir bahwa hal seperti ini tidak perlu kau ketahui karena hanya akan merusak hubungan kita. Lagipula aku sejak awal tidak pernah peduli tentang itu dan aku juga tidak suka mengetahui kalau kau mencemaskan hal yang aku tidak pernah pikirkan.”Aku sungguh dibuat terkejut oleh seluruh argument yang ia katakan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil sikap seperti ini. Memberiku penjelasan sembari memelukku seraya menyiramiku dengan penuh kasih sayang dengan cara bicaranya y

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Konfrontasi

    “Yaya?”Shit.Aku berbalik dan menyeka air mata sialan ini dari pipiku. Apa yang baru saja aku perbuat? Tiba-tiba saja aku malah menangis seperti orang bodoh didepannya, cara yang bagus untuk merusak moment di hari ulang tahunnya. Sekaligus menggagalkan rencanaku untuk tetap tegar hingga akhir. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredakan seluruh amarah dan perasaan yang terlanjur menyeruak ke dalam dada. Ketegangan yang aku tahan-tahan kembali berputar di dalam diriku, padahal sejak aku tahu aku sudah cukup baik untuk menghindari gejolaknya. Ini semua salah Aiden. Jika saja aku tidak bertemu dengan dia tadi, dan dia tidak mengatakan hal-hal buruk kepadaku, aku pasti bisa … ah sial!“Ada apa? kenapa kau menangis?” Jarrel bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, kekhawatiran serta keterkejutannya terlihat begitu jelas dan dalam.“Tidak, ada sesuatu dimataku tadi,” ungkapku mencoba berbohong sebisa mungkin, seiring dengan kuhapusnya air mata yang membuat mataku memerah untuk mem

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Jangan Terlihat Menyedihkan

    Setelah mendapatkan teguran dariku, akhirnya kedua mata Aiden kembali menatap wajahku, senyuman ramah tamahnya masih menempel di sana tanpa tahu malu. “Oh, aku tidak sadar kalau aku menatapmu terlalu lama, Nona Leiya. Tidak kukira kau akan cukup berani berkeliaran hanya dengan memakai pakaian dalam. Tapi jujur saja, aku menyukai apa yang sedang aku lihat darimu.”Kontan aku merasakan wajahku memanas dan perutku terasa mual. Shit! Pria itu benar-benar menyebalkan. Pantas saja Jarrel cepat panas dan banyak memakinya, rupa-rupanya karakter Aiden memang mengesalkan. Alih-alih bercengkrama dengannya lebih lama dan membuat emosiku kian meledak. Aku maju tanpa merasa perlu berbalik untuk segera membuka pintu suite-ku. Namun ketika aku hendak masuk ke dalam, sialnya sebuah tangan menempel dibahuku dan hal itu tentu menghentikan langkahku untuk kian masuk ke dalam kamar.Aku berbalik dan melihat Aiden berdiri begitu dekat denganku. Keterkejutan yang luar biasa langsung membuat seluruh indera d

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status