LOGINAlih-alih membalas perkataannya, aku memilih berbalik secepat mungkin. Bila mana ia menganggap tawarannya sekadar gurauan, aku justru merasa terhina. Aku tidak sudi bekerja di bawah instruksi pria seperti dia; bajingan sombong yang berpikir bisa menaklukkan seribu wanita dalam genggamannya.
Meski enggan, aku harus mengakui kejadian tadi cukup memantik gairahku. Namun, bukan berarti aku menikmatinya! Dengan badan gemetar, aku berhasil keluar dari sana, menulikan pendengaran meski ia memanggilku berulang kali.
Aku tidak peduli lagi pada apa yang akan dikatakan Bu Soraya, orang yang menjembataniku dengan Jarrel. Yang jelas, aku tidak mau bekerja dengan manusia gila itu lagi!
Di balik kemudi, dengan napas tersenggal, ponselku berbunyi. Aku mengerang sebelum menjawabnya. "Halo?"
“Hei, Leiya sayang. Apa kau sudah bertemu dengan Abraxas Cobalt?” Suara Bu Soraya yang feminin langsung kukenali.
“Ya, aku sudah bertemu dia,” jawabku kaku.
“Baguslah. Aku lupa memperingatkanmu kalau dia sedikit… kau tahu. Aku harap kau bisa sabar—”
“Aku tidak mau bekerja untuknya,” potongku cepat.
“Ha? Kenapa? Apakah pertemuan kalian tidak lancar?”
“Tidak lancar? Aku menyaksikan dia sedang menggagahi seorang perempuan di atas meja dapurnya!” seruku tanpa peduli lagi pada reputasi pria itu. “Bisa Ibu bayangkan? Aku tidak peduli sesukses apa pun dia, aku tidak mau!”
“Tenanglah dulu, Leiya. Kau tidak bisa berhenti begitu saja.”
“Aku bisa! Aku akan menunggu Belliard kembali dari luar negeri saja.”
“Belliard sedang hiatus panjang, Leiya! Oh, jangan merajuk begitu.”
“Aku sudah memutuskannya. Tidak, terima kasih!” Aku memutus panggilan, menarik pedal gas, dan memacu mobilku menjauh dari apartemen si manusia gila itu. Oh, sungguh hari yang luar biasa.
Aku memutuskan mampir ke sebuah kedai kopi aesthetic di pinggir jalan. Aku butuh kafein untuk menenangkan sarafku. Sambil menunggu pesanan, aku merenungkan kembali nasib sial ini.
Semuanya bermula kemarin saat Bu Soraya menawarkanku pekerjaan sementara selama Belliard hiatus. Aku yang sedang menganggur langsung setuju tanpa bertanya siapa bos baruku. Barulah saat berdiri di depan pintu apartemennya tadi, aku sadar aku dalam masalah besar.
Abraxas Cobalt, atau Jarrel, adalah penulis romansa erotis yang sangat populer. Dalam dua tahun, ia sudah menyabet berbagai penghargaan. Namun, ia juga dikenal sebagai 'iblis' bermulut kotor yang baru saja memecat asistennya yang ke-49. Dan sekarang, aku adalah calon asistennya yang ke-50.
Bu Soraya memilihku karena aku dianggap mampu menangani penulis 'sulit' seperti Belliard. Namun bagiku, Belliard yang dingin dan Jarrel yang gila itu adalah dua hal yang berbeda.
“Ini pesanan Anda, Nona,” suara manis pelayan membuyarkan lamunanku. Aku menyeruput kopi hangat itu, merasakan sedikit ketenangan mengalir ke tubuhku. Aku merasa lebih optimis bisa melupakan mimpi buruk hari ini.
Aku tiba di rumah pada sore hari yang sepi. Aku baru saja hendak memejamkan mata di kamar saat telepon rumah berdering. Dengan malas, aku menjawabnya. “Halo?”
“Leiya! Aku tahu kau di rumah!” Suara Bu Soraya menggelegar.
“Bu Soraya…” sahutku lelah.
“Kau harus tanggung jawab, Leiya. Kau sudah menyanggupinya.”
“Aku tidak mau kembali ke rumah si mesum itu. Lebih baik aku membayar denda ketimbang rusak mental!” kataku tegas.
Terdengar jeda dan decakan lidah di seberang sana. “Bagaimana kalau begini; aku akan melipatgandakan gajimu jika kau mau kembali.”
Aku terdiam. Dua kali lipat? Itu cukup untuk membuatku bisa pindah dari rumah ibuku dan hidup mandiri.
“Tetap tidak,” jawabku, mencoba tetap terlihat keras kepala meski jantungku berdesir.
“Kalau tiga kali lipat?” tanya Bu Soraya lagi.
Tiga kali lipat? Aku hampir tersedak. Di ekonomi seperti ini, siapa manusia tolol yang akan menolak gaji tiga kali lipat?
“A—apa Ibu serius?” tanyaku, gagal bersikap tenang.
“Aku selalu serius. Bagaimana? Tergoda?”
Aku menggigit bibir. Bertahan sebulan saja dengan si mesum itu berarti aku mendapat gaji tiga bulan. “Kenapa Ibu sangat bersikeras memaksaku?”
“Karena aku yakin hanya kau yang bisa menanganinya. Lagipula,” Bu Soraya merendahkan suaranya, “Jarrel sendiri yang memintamu. Dia menghubungiku sepuluh menit lalu, mengancam tidak mau bekerja sama jika asistennya bukan kau.”
Aku berkedip, terheran-heran. “Kenapa pria itu mengiginkanku?”
“Entahlah, kenapa tidak kau pastikan sendiri?” sahut Bu Soraya dengan nada nakal.
Aku menarik napas dalam. Kesal, tapi butuh uang. “Kesepakatannya adalah tiga kali lipat. Dan perlu digarisbawahi, aku melakukan ini hanya demi uang. Jika bajingan itu macam-macam, aku akan menghajarnya sebelum keluar.”
“Tentu, lakukan sesukamu. Semoga betah, Leiya,” Bu Soraya terkikik sebelum menutup telepon.
Satu jam kemudian, aku kembali berdiri di depan pintu apartemen Jarrel. Aku mengepalkan tangan yang berkeringat dan menekan bel. Tak butuh waktu lama sebelum pintu terbuka.
Seolah sudah menungguku, pintu itu terbuka lebar dan sekali lagi, aku dibuat terkejut. Di depanku, Jarrel berdiri dengan rambut basah, hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya. Sialan!
“Selamat datang kembali, Manis,” sapa Jarrel dengan seringai nakal.
Aku menelan saliva, berusaha mematikan skenario liar yang mendadak muncul di kepalaku. Bodohnya, aku hanya berdiri ternganga.
“Selamat sore, Pak,” kataku, berusaha formal meski jantungku berpacu.
Ia tersenyum dan membukakan pintu lebih lebar. “Masuklah.”
Aku mengikutinya ke ruang tamu. Diam-diam, aku memperhatikan punggungnya saat ia mengeringkan rambut dengan handuk sambil menatap ke luar jendela. Pemandangan ini sebenarnya indah, jika saja aku bisa menghapus fakta bahwa pria ini tidak bermoral.
“Aku senang Soraya berhasil menyeretmu kembali. Tadi kita belum sempat berbincang karena kau keburu kabur,” katanya sambil berbalik menghadapku.
Tatapannya tajam, seolah sedang mengulitiku. Aku membalasnya dengan tatapan tidak senang. “Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”
“Apakah aku terlihat seksi saat sedang membuka pintu?” tanyanya tiba-tiba.
Aku ternganga. “Apa?”
“Apakah pendapatku penting? Aku kemari untuk urusan pekerjaan,” kataku berusaha tetap stabil meski wajahku sudah cemberut permanen karena gugup.
“Dasar narsis,” gumamku sebal.
Jarrel justru tertawa lepas. Dia malah tertawa, apa yang lucu disini?
Berhari-hari, hari masuk ke minggu, dan minggu masuk ke hitungan bulan. Chris secara berkala kerap mengunjungi Leiya di rumah sakit dan setiap kali ia datang menjenguk ia selalu menemukan Jarrel disana. Pria itu tampak sangat berbeda dari setiap kunjungan yang ia lakukan. Ia tampak seperti seorang pria putus asa yang melupakan caranya mengurus diri sendiri. Rambutnya sudah sangat panjang, dengan janggut tipis dan kumis yang tampaknya tak lagi dicukur sejak Leiya masuk ke rumah sakit. Ia benar-benar kehilangan semangat hidup. Seakan keberadaan Leiya di ranjang rumah sakit dalam kondisi ini sama dengan mematahkan arti hidup untuknya hingga ia kebingungan menentukan arah hidupnya sendiri.“Kau masih disini?” tanya pembuka yang seketika membuat pria itu melirik ke arahnya yang berada di ambang pintu. Rona matanya terlihat menerawang dan ekspresi wajahnya terlihat kuyu.“Kau datang lagi,” sahutnya lalu kembali menatap Leiya yang masih terbaring, Chris mendekat dan mendapati tangan pria itu
Ada pepatah bilang bahwa dunia itu berputar. Ada hal baik dan ada hal buruk. Serta yang buruk tak selamanya buruk, begitu pun sebaliknya. Dan kini… Chris mengalami sendiri arti dari perumpaan yang selalu ia anggap sebagai omong kosong belakang dahulu. Dibalik hal baik dalam urusan pribadinya (perkembangan hubungan romansanya dengan Bu Soraya) di sudut lain ternyata sahabatnya Leiya justru mengalami hal yang buruk. Ia mendapat kabar bahwa wanita itu mengalami kecelakaan. Bu Soraya adalah orang memberi tahunya tentang hal itu sehingga mereka berdua pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan sebenarnya.Mereka tiba di rumah sakit dengan Jarrel yang terlihat sangat terpukul. Pria itu duduk bersandar di ruang tunggu dekat ruangan tempat operasi sedang berlangsung. Kedua matanya menerawang dan ada jejak air mata yang tak kunjung mengering. Barangkali pria itu menangis berulang kali. Bu Soraya pun berupaya mengajaknya bicara tetapi lelaki itu tetap saja urung mengelu
Memahami jalan pikiran Bu Soraya sangatlah sulit. Setidaknya setelah insiden wanita itu mengaku cemburu atas pernyataan cinta yang ia dapati dari teman SMA-nya dahulu sama sekali tidak mempermudah apapun. Wanita itu masih saja misterius dan sulit ditebak. Walaupun begitu, Chris tetap bersyukur sebab ia sedikit tahu apa yang wanita itu rasakan terhadapnya. Ditengah hiruk pikuk kehidupan yang cukup sibuk dengan banyak hal, Bu Soraya merupakan wanita yang integritasnya terjaga. Yah, saking tingginya integritas yang ia miliki untuk perusahaannya, ia lupa menyisakan kejujuran untuk dirinya sendiri, pikir Chris.Bukan dengan sembarang Chris menyimpulkan hal tersebut, melainkan karena kehidupan Bu Soraya yang ia ketahui hanyalah kesibukan saat ia berada dikantor, dan sesekali memanggilnya untuk menghilangkan penat. Ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan pribadi wanita itu. Ya, kalau dipikir-pikir sih memang mereka tidak pernah berbagi kisah soal kehidupan.Meski dibeberapa kesempatan sej
Intan tak tahu pasti apa yang membuatnya secara nekat mendadak mengungkapkan hal yang selama ini ia rahasiakan. Mungkin karena ia tak tahan lagi karena selama ia mengenal Chris, ia hanya menjadi sosok pemerhati yang tak pernah cukup mendapatkan kesempatan memiliki atensi. Mungkin. Tapi… kemungkinan terbesar yang mendorongnya mengambil keputusan mendadak begini barangkali hanya karena ia melihat senyuman yang pemuda itu berikan kepadanya. Senyuman yang selalu membuatnya bersemangat untuk pergi ke sekolah. Senyuman dari seorang pria baik yang kerap menghiasi mimpi indahnya dulu… maupun sekarang.Beberapa saat berlalu begitu saja, seolah waktu hilang dan terbuang sia-sia. Keheningan melingkupi sekitar. Bahkan pemuda yang mendengar pengakuannya pun masih diam mematung di tempatnya. Tampak urung memberikan reaksi. Barangkali terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Satu tarikan napas—…ummmhh--dan sebuah suara maskulin terdengar memecah keheningan yang ada, keheningan yang beg
Chris dan Bu Soraya tidak pernah terikat dalam hubungan apapun. Camkan itu. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor dan juga saling memberi keuntungan dalam pemuasan hasrat. Sebata situ. Tidak lebih dari itu, meskipun pemikiran Chris kerap kali menggodanya untuk mengubah hal tersebut. Mau seberapa sering teman-temannya yang pernah memergoki ia dan Soraya keluar bersama menggodanya. Mau seberapa banyak rekan kerja di kantor mulai bertanya-tanya soal hubungan bos cantik mereka dengan Chris. Ia dan Bu Soraya tetap hanya dalam hubungan itu.Tidak lebih, tidak kurang. Itulah yang dikatakan oleh Bu Soraya kepadanya.Sekalipun ketika ada satu waktu ketika Chris memutuskan mengambil cuti, dan ibunya bertanya mau kemana ia dengan komentar tumben sekali pagi-pagi sudah rapi yang cuma bisa ia jawab dengan kekehan sambil lalu bahwa ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda, ia dan Bu Soraya tetap saja berada dalam hubungan itu. Ibunya sendiri hanya mampu menggelengkan kepala
Pemeriksaan pun dilakukan, semua tak banyak yang dikatakan oleh dokter tersebut tapi untuk beberapa alasan Chris merasa bahwa Jarrel mengenal dokter yang ia panggil untuk memeriksa kondisinya. Selagi menunggu pemeriksaan, tiba-tiba Chris mendapati ada pesan masuk dari Bu Soraya yang memintanya untuk bertemu.“Aku ingin lebih lama disini, tapi sepertinya ada panggilan mendadak yang perlu aku selesaikan,” ujar Chris sambil mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana.“Tumben sekali, siapa yang memanggilmu?”“Bu Soraya.”“Jawaban yang tak terduga. Kupikir itu cuma akal-akalanmu saja supaya bisa menghindar dari introgasi lanjutan,” timpal Leiya sambil mendengus, Chris cuma bisa terkekeh.“Pikirkan sesukamu,” jawabnya pula sambil bangkit dari kursi diikuti dengan Dr. Ilya yang juga keluar dari kamar Jarrel.“Sudah bubar?” kata dokter tampan berkacamata tersebut yang membuat ia maupun Leiya langsung melirik padanya.“Oh sudah selesai? Bagaimana hasilnya?” ungkap Leiya yang bersungguh-sungg
Setelah mengatakan hal itu ia mencengkram pinggangku dan mengangkat pinggulku ke atas, mengarahkan kejantanannya untuk masuk ke dalamku. Aku mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan diriku ketika Jarrel mendorong pinggulku ke bawah dan mengangkat pinggulnya ke atas, ia berhasil menusukku dalam sa
Ia hanya menertawakanku, mengabaikan tatapanku yang mematikan dan menyeretku menuju Jacuzzi di mana sebotol anggur merah dan dua gelas kosong telah menunggu. Jadi ia mengajakku untuk minum dulu sebelum melakukannya? itu bagus sekali. Karena aku memang merasa perlu alkohol ditubuh untuk menghilangka
Kami keluar dari keluar dari jacuzzi setelah dua jam berlalu untuk kembali ke kamar kami. Jarrel bilang ia sudah meminta pada pihak dapur membuatkan sesuatu untuk makan malam yang rencananya akan digelar di sun deck. Aku rasa pikiran laki-laki itu sudah terpusat pada seks menyenangkan di jacuzzi te
Jeda beberapa saat sampai ekspresinya berubah seakan ia baru menyadari sesuatu dan seringai khasnya kembali terbit membuat bulu kudukku berdiri. “Don’t tell me that you really are,” ujarnya jahil.Aku bisa merasakan seluruh wajahku terbakar karena malu dan berusaha untuk menghindari tatapannya. “T—







