LOGIN“Berhenti bercanda!” sahutku sambil membeliakan mata, berharap ia berhenti mengatakan sesuatu yang tak pantas sebagai candaan. Namun anehnya, biar pun aku terus menatapnya dengan pandangan horror, Jarrel justru malah menatapku balik dengan sinar mata tertentu yang tidak dapat aku definisikan. Seolah dia super serius dengan apa yang ia katakan barusan.
“Aku tidak bercanda,” sahutnya mantap dan lugas. Sialan betul! Oke, sepertinya ide soal bekerja satu bulan untuk mendapatkan 3 kali lipat gaji tidaklah sepadan. Akan lebih bijak bila aku keluar dari sini sekarang tanpa harus menyesel di masa depan. Apakah dia serius menyarankan aku melakukan hal-hal seperti itu untuk mendapatkan inspirasi? Bukankah hal itu malah memperlihatkan seberapa tidak bermoral dirinya, meskipun karya yang ia hasilkan memang selalu terdepan. Tidak peduli seberapa besar impact-nya, sebagai seorang penulis romansa populer yang waras melakukan hal-hal tak bermoral betulan. Rasanya terlalu… yah, tapi aku juga harus sadar ukuran moral tidak berlaku lantaran saat ini yang ada dihadapanku adalah si Jarrel. Penulis dengan isi kepala isitimewa.Shit!Aku sama sekali tidak melepaskan pandangan mataku darinya seolah aku orang bodoh yang teradiksi. “Semua asistenmu?” tanyaku meragu. “Ya,” jawabnya sambil tersenyum, jelas menikmati reaksi memalukan dariku. “Terlepas dari apakah mereka laki-laki atau pun perempuan?” Entah kenapa aku malah tergelitik bertanya soal hal itu. Karena tentu saja, ia pernah mengganti asistennya sebagai 49x sebelum bersamaku. “Mau bagaimana lagi, aku memang pria berkharisma yang bisa attract dua gender secara bersamaan,” sahutnya sambil mengangkat bahu acuh tak acuh. Begitu mendengar jawaban darinya yang membuatku merinding. Aku segera berdiri dan menuju ke arah pintu secepat mungkin tanpa perlu bicara. Tepat ketika aku hendak mencapai pintu, aku mendengar suara tawa renyah Jarrel dibelakang sana bergema di seluruh rumah. Aku langsung berhenti, bertanya-tanya dengan apa gerangan yang sedang terjadi kepadanya. “Soraya ternyata benar, menggodamu cukup menginspirasi,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Kesadaran tiba-tiba menamparku, setelah mengalami dilema antara bingung, jijik, dan kesal. Amarah kini menjadi satu-satunya emosi yang paling jelas keluar. Barusan ia cuma menggodaku? Hebat sekali! Apa yang sebenarnya di katakan oleh Bu Soraya dibelakangku pada si bedebah ini? Aku berbalik dan melotot padanya. Berharap harap tatapanku cukup mematikan sehingga bagi orang normal bisa langsung membunuh mereka. Tetapi karena Jarrel si brengsek itu adalah monster, jelas kemarahanku tidak mempan kepadanya. Aku kini bingung antara aku harus pergi atau menendang bokongnya meskipun yang terakhir lebih menarik untuk aku lakukan tentunya. Ia mencoba berhenti tertawa dan kemudian berdiri dari posisinya. “Oke, hahaha … aku terinspirasi sekali sekarang,” katanya sambil berjalan ke arahku dengan santai. Sebagai bentuk antisipasi, aku segera menyingkir untuk menghindarinya meskipun tatapan tajamku masih berusaha untuk menembus dan merobek hatinya. “Bawakan aku kopi, Yaya,” katanya tiba-tiba memerintah ketika dia melewati tubuhku. Yaya? Panggilan macam apa itu? siapa dia berani-beraninya memanggilku dengan nama itu?!“Apa-apaan?!” teriakku sebagai respon.
“Aku akan mulai bekerja jadi aku menunggu kopiku dalam waktu lima menit,” sahutnya seraya masuk ke dalam satu ruang khusus yang tampaknya adalah ruang kerja. Bajingan itu bahkan tidak menatap wajahku, saat memerintah. Seolah ia adalah sang raja dan aku adalah hamba sahaya. Yah, meski menyebalkan tapi suka ataupun tidak memang dia punya hak untuk itu. Mengingat ia berani menggajiku tiga kali lipat. Namun kalau orangnya Jarrel, aku kurang ikhlas melakoni. Hela napas berat keluar begitu saja tatkala tubuhku secara otomatis langsung bergegas ke dapur untuk membuatkannya kopi. Tak bisa dipungkiri, membuatkan secangkir kopi jauh lebih aman dibanding betulan harus melayani saat pria itu birahi. Aku bertanya-tanya apakah dia bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dengan kepribadiannya yang seperti itu? Bagaimana caranya dia bisa menulis kisah romansa yang epik dengan pembawaan mesum macam itu? Apakah akan ada hari dimana aku akan menjadi mangsa empuk berikutnya? Aku bertanya-tanya pula apakah ada setitik kebaikan dari dalam dirinya? dan diatas itu semua yang paling penting adalah mengapa aku merasa terguncang setiap kali ia berada di depanku? Kehadirannya seolah mengobarkan sesuatu yang membuatku kehilangan ketenangan dan kendali atas diriku sendiri. Berdekatan dengannya mungkin bukan ide yang cukup bagus, tetapi dalam situasi ini bagaimana pun juga aku merasa harus melakoninya. Karena ini adalah pekerjaanku dan aku akan mendapatkan penghasilan lebih banyak, demi uang aku harus kuat. Lagipula segalanya akan berlalu dengan cepat tanpa aku sadari. Ya, setidaknya aku harap begitu.***
Aku telah belajar banyak hal lagi tentang Abraxas Cobalt alias Jarrel saat aku membuatkan kopi untuknya. Pertama dapurnya berantakan dan kalau tidak salah benda lengket berwarna putih yang ada di meja dapurnya itu mungkin adalah… Sial! Aku tidak berani berpikir lebih jauh! Sungguh… itu adalah salah satu pemandangan paling menjijikan yang pernah aku lihat.
Kedua, beberapa orang meneleponnya sepanjang waktu. Telepon berdering tiap menit, ketika aku sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menjawabnya, tetapi karena berisik dan Jarrel berteriak padaku untuk menghentikan bunyi telepon. Jadi aku terpaksa menjawab panggilan tersebut meskipun aku tidak mau. Dan faktanya rata-rata yang menelepon adalah wanita.
Kebanyakan tampaknya terkejut dengan suaraku dan berusaha mencari Jarrel. Tak jarang ada yang memakiku sebagai lacur dan sebutan tak pantas lain. Meski agak tersulut karena tudingan mereka. Aku salut pada diri sendiri lantaran bisa memberikan jawaban yang lebih santun dan mengatakan pada mereka bahwa bajingan yang mereka cari sedang sibuk bekerja. Bahkan aku sampai menawarkan untuk menyampaikan pesan dan meminta Jarrel untuk menghubungi kembali. Aku sebetulnya tidak peduli dengan para wanita yang bicara denganku di telepon. Bisa saja salah satu dari mereka adalah si wanita seksi pagi tadi, atau yang lainnya. Masa bodo juga sih, lagipula itu tidak berkaitan sama sekali dengan pekerjaanku. Aku tidak berada disini untuk mengurus masalah pribadi penulisku. Hanya saja kebanyakan dari mereka berdarah panas dan langsung menudingku sebagai perempuan panggilan. Tersinggung? Tentu saja. Karena aku disini bekerja dengan cara yang baik, bukan memberikan tubuhku pada si Jarrel.Setelah memasang kembali gagang telepon di tempatnya, aku hanya bisa merenung lama.
Shit.Tolong, keluarkan aku dari situasi gila ini! demi Tuhan, Jarrel ini binatang yang selalu birahi setiap detik-kah?
Selepas mendengarkan keluh kesah para penelepon itu dan menutup telepon aku hanya bisa berdiri disana dengan ekspresi shock dan jiwaku melayang-layang di udara. Sial, celetukannya tadi betulan dan dia juga banyak dekat dengan orang. Jika ia serius dengan mereka, tentu tidak menutup kemungkinan ia juga bisa melakukan hal yang sama padaku.Lagipula hanya dengan sekali lihat saja aku tahu bahwa Jarrel bukan tipe orang yang membawa serius suatu hubungan. Ia tampaknya menggunakan hubungan badan sebagai cara untuk bersenang-senang. Dan mereka yang menelepon barusan adalah beberapa yang sudah Jarrel pakai untuk menghabiskan waktu luang. Bercinta dengan orang yang berbeda.
Tugas pertama selesai, dan kini aku pergi ke ruangan kerja untuk mengantarkan kopi untuk Jarrel. Pintu terbuka dengan mudah ketika aku mendorongnya, jadi aku masuk ke dalam dan meletakan cangkir yang mengepulkan asap tersebut di atas meja. Ia bahkan tidak repot-repot menatapku dan aku pribadi juga tidak berani melihat padanya. Aku sebetulnya ingin segera keluar dari ruangan itu tapi aku perlu memberi tahu dia soal sesuatu. Aku terbebani oleh janji yang mesti aku tunaikan.
“Kau baru saja mendapatkan telepon dari beberapa orang wanita dan satu orang pria,” kataku dengan suara bosan. “Ya, lalu apa kata mereka?” dia bertanya sambil tetap mengetik dan fokus pada layar laptopnya. “Mayoritas para perempuan bilang dia akan menunggu telepon balik darimu, sementara ….” Aku terdiam untuk beberapa alasan, ada rasa canggung dan malu yang membanjiri ketika aku hendak menyampaikan pesan dari pria terakhir yang menelepon.“Sementara?”
“Kau bisa cari tahu sendiri dengan menghubungi mereka satu persatu,” sahutku cepat, tak ingin kembali memikirkan detik-detik menyebalkan saat bersikap seolah aku adalah costumer service untuknya.
“Kurasa kau harus mulai belajar untuk membiasakan diri dengan itu.” Dengan enteng Jarrel mengujar, tampaknya paham yang aku maksud meski tergagap. Aku sungguh tidak dapat melawan rona merah yang mengotori pipiku saat ini. Aku melirik dengan canggung dan disaat yang sama aku malah mendapati bajingan itu menatapku dengan sorot mata menggoda. “Ya,” sahutku setelah bersusah payah untuk menghindari tatapan bodohnya. Ia langsung menyeringai. “Kau tahu, dia adalah tipe seksi yang pintu depan dan belakangnya sekencang perawan. Jelasnya I can’t stand with clingy type,” jelasnya yang kontan membuatku melongo lantaran ia dengan mudahnya menjelaskan detail tidak perlu yang membuatku merasa jauh lebih malu. Aku memutuskan untuk menenangkan diri alih-alih terpancing ceritanya yang tak bermutu. “Whatever you said. So, Apa ada hal lain yang kau butuhkan?” ujarku memotong ceritanya supaya aku tidak perlu lagi mendengar apa yang tidak ingin aku tahu. Tetapi sialnya itu malah terjadi lagi. Kilatan tertentu di matanya membuatku merasa dia akan mengatakan sesuatu yang buruk lagi. “Tidak juga, tapi aku malah jadi ingin bertanya padamu, Yaya,” sahutnya sambil menunjukan seringai lebar yang membuatku bergidik sendiri. “Apa?” bentakku sambil melotot marah. Diam-diam memperingatkan diri untuk berhati-hati dengan kata-katanya tetapi aku ragu karena pria itu pada dasarnya memang pria bendera merah. “Apa kau masih perawan?”Kedua mata kontan terbelalak lebar karena terlalu terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Segalanya begitu cepat hingga aku tak kuasa melakukan apapun untuk menghindar. Rasa dari bibirnya yang lembut menempel di bibirku berikut pula dengan seberapa besar kekuatannya yang berusaha melesak ke dalam mulutku. Lidahnya memasukiku dengan mudah, menjelajah, mengecap, terlalu membuai.Hal pertama yang muncul di dalam pikiranku adalah aku harus melarikan diri dari situasi ini, menjauh darinya sebisa mungkin dan bersembunyi. Tetapi sesungguhnya aku tidak mampu, ciumannya melumpuhkan seluruh anggota gerak tubuhku dalam sunyi. Aku hanya bisa diam dan membiarkan dia menciumi. Aku kehilangan ciuman pertama yang telah aku jaga selama ini. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak menyangka ciuman pertamaku akan direnggut oleh bosku sendiri seperti ini. Situasi dimana kondisinya saja sekarang aku tidak punya pilihan selain dari pada merasakannya dengan berat hati.Meski memang ciuman itu awalanya dipaksaka
Setelah kurang lebih dua puluh menit bolak balik naik turun tangga sambil membawa barang-barangku sendiri, akhirnya aku bisa bernapas lega lantaran berhasil membawa semuanya ke kamar yang diperuntukan pria gila itu untukku. Sejujurnya ruangan tersebut jauh lebih besar dari milikku dirumah ibu. Bahkan dilengkapi dengan interior dan furniture yang mirip dengan fasilitas bintang lima yang terlalu takut untuk aku impikan dahulu.Tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan semua ini meski aku tahu betul bahwa aku seharusnya tidak merasa demikian. Namun faktanya danya sebuah dorongan kecil yang memaksaku mencipta senyuman. Sebuah ekspresi penuh kejujuran yang meski aku mencoba untuk tidak mengakui, tetapi jika dengan fasilitas begini aku bisa kerasan. Walau begitu, dengan rasa gengsi yang melebihi kejujuran. Aku masih punya sedikit sisa harga diri meski telah disogok gaji tiga kali lipat oleh si Jarrel yang mesum untuk tidak tergoda dengan semua yang pria itu berikan. Intinya adalah aku tidak bol
Apa?Apa yang baru saja di tanyakan?Aku tahu bahwa cepat atau lambat pria kurang ajar ini akan mengatakan sesuatu yang tidak etis. Tapi aku betul-betul tidak mengira bahwa ia akan mengatakannya terlalu cepat seolah itu adalah kata magnetis. Sungguh, rasanya ingin sekali aku menarik cangkir kopi yang baru saja aku letakan kemudian aku guyurkan benda panas itu ke muka tampan Jarrel yang saat ini malah nyengir tak jelas. Sejujunya aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaannya, dan aku yakin tidak perlu. Lagi pula tidak ada alasan bagiku atas hal itu.Tapi…Jika pria ini tahu bahwa aku belum pernah tersentuh oleh pria mana pun, sudah jelas bagaimana girangnya muka ia nanti. Maka dibandingkan menjawabnya dengan jujur, aku lebih suka memberi dia pelototan demi harga diri. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh semacam itu,” sahutku sambil dengan cepat segera keluar dari ruang kerjanya. Aku bisa mendengar ia tertawa di dalam sana. Jenis tawa yang sama ketika ia mengolok-olok diriku dal
“Berhenti bercanda!” sahutku sambil membeliakan mata, berharap ia berhenti mengatakan sesuatu yang tak pantas sebagai candaan. Namun anehnya, biar pun aku terus menatapnya dengan pandangan horror, Jarrel justru malah menatapku balik dengan sinar mata tertentu yang tidak dapat aku definisikan. Seolah dia super serius dengan apa yang ia katakan barusan.“Aku tidak bercanda,” sahutnya mantap dan lugas. Sialan betul!Oke, sepertinya ide soal bekerja satu bulan untuk mendapatkan 3 kali lipat gaji tidaklah sepadan. Akan lebih bijak bila aku keluar dari sini sekarang tanpa harus menyesel di masa depan. Apakah dia serius menyarankan aku melakukan hal-hal seperti itu untuk mendapatkan inspirasi? Bukankah hal itu malah memperlihatkan seberapa tidak bermoral dirinya, meskipun karya yang ia hasilkan memang selalu terdepan. Tidak peduli seberapa besar impact-nya, sebagai seorang penulis romansa populer yang waras melakukan hal-hal tak bermoral betulan. Rasanya terlalu… yah, tapi aku juga harus sa
Ia terkekeh begitu aku terlihat pasrah, tampaknya dia merasa menang banyak karena aku melebarkan bendera putih sebagai balasan. Ia menatapku dengan seringai penuh arti sebelum akhirnya ia menghilang dari ruang tamu menuju ke satu ruangan yang aku yakin adalah kamar tidur pribadinya. Aku sendiri tidak bergerak sama sekali dan hanya bisa memandang dari sudut ini sampai pintu ruangan itu tertutup sempurna. Sambil menghela napas berat, aku menyeka butiran keringat yang entah sejak kapan telah terbentuk di dahiku dengan tangan. Sekali lagi mencoba memaksakan kapasitas diri untuk tetap tenang.Oke, jadi aku rasa aku tidak punya pilihan selain menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dan mencoba yang terbaik seperti biasanya. Aku disini untuk melakukan pekerjaanku dan bila suatu saat dia melakukan sesuatu yang tidak aku sukai aku bisa membunuhnya. Bukankah itu lebih simple dibandingkan harus drama sana sini?“Kau bisa melakukannya, Leiya!” ujarku pada diri sendiri sebagai bentuk afirmasi posit
“Well… Thank you. Sekarang tolong jawab saja pertanyaannya,” sahut pria itu, seringai menyebalkan masih terpampang nyata diwajahnya.Sungguh, aku tidak akan pernah merasa sedikitpun terintimidasi oleh pertanyaannya yang sama sekali tidak berguna. Jika saja matanya itu tidak terlalu mempesona, aku pasti sudah mencoloknya dengan pena yang ada di saku kemejaku sekarang juga. Astaga, aku tidak bisa berkelit ketika aku menyadari seberapa besar pengaruh kedua mata pria itu terhadapku. Ia berhasil membuatku tidak nyaman, dan merasa … panas?“Sekarang bisakah kita langsung bicarakan saja soal pekerjaan saja, Pak? Saya kemari bukan sebagai teman bicara tetapi sebagai asistenmu dan saya harus memastikan naskahmu cukup bagus dan selesai dalam batas waktu yang telah diberikan,” kataku yang mencoba mengalihkan pikiranku sendiri dan membawa pria itu langsung to the point terhadap topiknya. Senang rasanya bisa memberi tahu orang congkak itu bahwa aku disini semata-mata untuk urusan bisnis.Ia mengan







